
Farel sampai sesenggukan bahkan setelah ia selesai mencuci tangannya. Padahal ia sempat memandang seorang Sheilla sebelah mata, tetapi gadis itu malah menolongnya tanpa menyimpan dendam. Gadis itu malah memikirkan kalau dirinya nanti akan diprotes oleh yang lainnya.
"Kenapa ada manusia sebaik dia?" gumam Farel. Mungkin karena lebih dari 1 semester ini ia selalu berinteraksi dengan Thalia and the geng, dan semua musibah yang menimpa keluarganya, sehingga bagi Farel tidak ada manusia yang baik lagi di muka bumi ini.
Farel pun masuk ke dalam kelas dan sempat melirik ke arah Sheilla yang sedang bercanda dengan Reyna di bangkunya. Diam-diam laki-laki itu tersenyum.
'Pemikiran gue emang dangkal, karena cuman menilai orang dari fisik,' batinnya.
'Mungkin kak Alan suka sama Shei karena sifatnya yang sebaik itu,' batin Farel lagi yang tanpa sadar tersenyum. Sayang, ia tidak sadar bahwa diperhatikan oleh teman sebangkunya yang sedang berbincang-bincamg asyik dengan geng kebanggaan.
'Andaikan Shei belum jadi pacar Kak Alan ...' Tiba-tiba Shei menoleh ke arah Farel hingga mata mereka tak sengaja bertemu, Shei malah melempar senyum pafa Farel hingga tanpa sadar, wajah Farel malah bersemu merah. Sontak lelaki itu langsung menunduk. Kedua sudut bibirnya terangkat, tetapi ia segera menggelengkan kepala dengan kuat.
'Apaan, sih! Shei punya Kak Alan. Lagian ngapain gue bawa perasaan. Siapa aja bisa, kok nolong gue!' batin Farel berusaha membangunkan dirinya dari mimpi indah di masa remaja.
Ya, cinta, atau sering disebut jatuh cinta adalah sebuah mimpi indah yang selalu dinantikan oleh para remaja seperti Farel. Namun ia harus sadar, bahwa dirinya tidak ada waktu untuk merasakan hal itu.
"Farel!" Tiba-tiba ada suara seorang gadis yang ketus dari belakangnya. Farel langsung bisa mengenali suara cempreng nan manja gadis itu.
"Farel!! Denger gak, sih!" tekan gadis itu ya g tak sabar, Farel pun berbalik.
"Iya-iya! Gue denger, kok!" balas Farel juga agak ketus, tetapi Thalia tidak memedulikan itu, ia malah membulatkan mata ketika tak sengaja mendapati wajah Farel tang bersemu merah, bahkan telinga lelaki itu juga memerah. Thalia pun menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa muka kamu kayak gini? Kamu kesel sama aku ha? Aku 'kan cuman manggil kamu doang!" bentak Thalia. Sebenarnya ia tahu penyebab wajah lelaki culun ini memerah, tetapi ia tak mau menerimanya.
"Muka gue merah?" Farel malah bingung sambil memegangi wajahnya.
Thalia yang kesal pun mencubit pipi Farel.
"Ih, lihat sini!" perintah Thalia menghadapkan wajah Farel pada wajahnya.
"Lihat wajah aku! Kamu mau lihat kemana?" paksa Thalia. Dada gadis itu tiba-tiba terasa sesak, seolah ada sesuatu yang ingin meledak di dalam dadanya. Namun ia tidak mengerti apa itu.
"Thalia ... sa-sakit ... i-iya, kamu mau apa?" Akhirnya Farel menggunakan senjata andalannya yang pasti akan menjerumuskan dirinya pada kesialan.
Thalia pun melepas cubitannya di pipi lelaki berkacamata tebal itu dan menatapnya sambil merajuk.
Farel hanya bisa mengusap-usap pipinya.
"Cepet bilang, Thalia! Kamu mau apa?" tanya Farel lagi yang masih merintih kesakitan.
Sedangkan Thalia hanya memandang bingung ke arah Farel. Setelah merasakan sesak di dadanya, kini jantungnya malah berdebar-debar.
'Perasaan apa ini?" batin Thalia bingung sendiri.
__ADS_1
"Thalia?"
Sontak panggilan Farel membuat lamuna Thalia pecah. Ia mendongak ke atas karena Farel lwbih tinggi darinya.
"Thalia, kamu mau suruh aku apa lagi?" tanya Farel agak memelas.
Thalia malah melipat bibirnya.
"Ka-kamu .... Kamu kemana tadi?" omel Thalia.
"Aku ..." Belum sempat menjawabnya, Farel malah mengernyitkan dahi, kenapa Thalia tidak tahu dia kemana? Bukankah kedua teman Thalia yang membuang tasnya ke tenpat sampah. Bukankah segala kesialan yang ia dapatkan berasal dari perintah Thalia?
"Kamu yakin gak tahu aku kemana?" tanya Farel memastikan.
Dahi Thalia ikut mengkerut.
"Kenapa aku tahu?" bentak Thalia hingga membuat Farel tersentak.
'Jadi itu inisiatif Vannesa dan Renata?' duga Farel dalam hati sambil diam-diam melirik ke arah 2 sahabat Thalia yang sedang asyik bercanda.
"Harusnya kamu, tuh sadar diri, dong! Kamu itu gak boleh kabur lagi dari aku! Atau kamu akan kena akibat—"
"Iya ..." Tiba-tiba Farel malah tersenyum, membuat tubuh Thalia membeku.
Napas Thalia tercekat, lagi-lagi jantungnya berdebar-debar, tetapi debarannya kali uni lebih cepat. Gadis itu langsung bisa merasakan panas di wajahnya.
"Tapi tadi tasku hilang jadi—"
"Siapa yang peduli kalau tasmu hilang!" potong Thalia ketus yang langsung menghapus senyuman di wajah Farel.
"Pokoknya kamu gak boleh hilang dari pandanganku! Kalau aku mau nyuruh kamu gimana? Atau kamu mau aku hukum lagi?" ancam Thalia.
Farel langsung menggeleng cepat.
"Enggak! Aku gak mau ... makanya aku minta maaf—"
"Udah! Aku gak mau denger maafmu dan ..." atensi Thalia beralih pada totebag warna jingga bergambar bunga yang dari tadi digantungkan di bahu Farel.
"Memangnya tas kamu begitu! Mana tas kamu yang biasanya?" cicit Thalia.
"Ah, ini ... tasku tadi ada di tempat pembuangan akhir, jadi—"
"Kamu habis dari tempat pembuangan akhir?" potong Thalia lalu segera mengambil parfum ruangan di atas meja guru.
__ADS_1
"Iya, Thalia—" Thalia langsung menyemprotkan parfum ruangan di tubuh Farel hingga anak laki-laki itu terbatuk-batuk. Sekali lagi hal itu jadi sorotan para murid di kelas.
"Thalia ... uhuk! Kenapa—uhuk! Uhuk!" Farel tak kuasa dengan baunya yang begitu menyengat.
"Kamu pasti bau! Makanya aku semprot!" ujar Thalia.
"Hey, Thalia! Apa yang kamu lakuin ke Farel?" Tiba-tiba sebuah suara dingin seorang gadis yang kinu familiar di telinga Farel muncul.
Farel pun berusaha mengangkat kepala dan melihatnya.
"Apaan, sih Shei? Kamu gak usah ikut campur!" oceh Thalia.
"Kenapa? Aku lagian gak tahan lihat kamu bertingkah seenaknya sama Farel!" tukas Shei yang langsung membuat anak-anak berbisik-bisik.
Thalia merasa tertohok, tetapi ia malah terkekeh. Ketiga temannya yang juga menyaksikan pun bangkit dan menghampiri Thalia dan Shei yang sedang berseteru.
"Emangnya kenapa kamu gak tahan?" tanya Thalia.
Bukannya menjawab, Shei malah bungkam. Thalia pun maju mendekatinya.
"Emangnya kamu punya hubungan apa sama Farel?" cecar Thalia lagi sambil menunjuk bahu Shei.
"Dari dulu semua orang juga tahu, kalau Farel itu selalu nurut sama aku!" tekan Thalia lagi.
"Jadi terserah aku mau apain dia! Dia juga gak protes, tuh!" ujar Thalia lagi sambil melirik ke arah Farel.
"Farel! Kamu sendiri 'kan yang janji sama aku, mau nurutin semua keinginanku?" Thalia kembali menagih janji.
Farel hanya bisa mengangguk pelan tanpa berani menatap siapapun.
Shei diam-diam berdecak.
"Tapi tetep aja, kamu harusnya gak seenaknya!" Shei masih tidak mau kalah.
Thalia berdesis saking kesalnya. Selama ini tidak ada satu orang pun yang berani menentangnya, tetapi apa-apaan gadis bertubuh besar dan berwajah senga ini?
"Hey, Shei!" Thalia menunjuk wajah Shei sambil berkacak pinggang.
"Memangnya kamu pacarnya Farel?" tukas Thalia yang membuat atensi semua orang tertarik pada perseteruan dua gadis di depan kelas itu.
Sementara Farel berkeluh dalam hati.
'Duh, kenapa jadi begini?' batin Farel.
__ADS_1