
Thalia mendengarkan alasan Renata menyebut dirinya marah pada Vanessa. Sementara Marina diam saja, menantikan reaksi dan jawaban Thalia.
"A-aku malah gak kepikiran ke sana," ujar Thalia jujur.
Marina sudah bisa menduga. Namun gadis itu masih berusaha menahan diri.
"Tapi, kayaknya Kak Alan gak marah juga sama Aldo. Lagian, kenapa juga dia belain Farel? Bukannya tadi abis itu Kak Alan nyuruh-nyuruh Farel?" tanya Thalia yang begitu tenang seolah tidak ada masalah atau hal aneh.
"Iya juga, sih. Kalau dipikir, Kak Alan ada di pihak kita. Bukan di pihak si culun itu," timpal Renata.
"Udah, kamu tenang aja. Aku yakin sebentar lagi Kak Alan pasti hubungin aku buat nge-date! Dia 'kan udah punya nomorku!" seru Thalia girang sendiri. Renata juga ikut senang mendengarnya, tetapi tidak untuk Marina. Meskipun begitu ia tetap menorehkan senyumannya pada Sang Sahabat.
"Oh, iya, Thal! Tapi acara belajar dandannya gimana? Belum jadi, nih dari kemarin. Katanya mau jadiin si culun itu model ..." Renata terkekeh.
"Gue gak sabar lihat dia di make-up-in! Nanti sekalian gue mau kerjain!"
Mata Thalia langsung melotot dan dahinya mengernyit.
'Dikerjain? Tunggu, nanti dia lihat wajah Farel tanpa kacamata, dong!' seru Thalia dalam hati agak panik.
"Abis itu, nanti gue foto, gue pajang di mading kelas, haha!"
"Jangan!" sontak Thalia yang membuat dua sahabatnya langsung menoleh dan menatapnya dengan penuh tanya.
"Jangan? Maksud lu apa?" selidik Marina yang mulai angkat bicara. Apakah dugaannya akan segera terbukti?
Thalia langsung sadar dengan apa yang keluar dari mulutnya.
'Duh, kenapa aku bilang jangan?' sesalnya dalam hati.
"Lu gak mulai kasihan 'kan sama anak pengkeruk duit kita itu? Dia sekolah dari bayaran sekolah kita loh!" tekan Renata.
Thalia segera memutar otak. Ia harus membuat alasan yang bisa diterima oleh kedua temannya.
"Yah ... maksudnya, jangan tanggungg-tanggung!" ujar Thalia.
"Sekalian aja kita dandanin dia pake baju perempuan!" usul Thalia. Kecurigaan Marina pun agak memudar, mungkin dugaannya memang salah.
"Bagus juga ide lu!" seru Renata.
"Tapi ogah pakai baju gue. Mending kasih baju bekas aja! Pokoknya dia harus mau! Terus pajang fotonya, haha. Gue mau dandanin dia sampe menor, biar tau rasa, tuh! Jijik banget sumpah gue sama dia!" sungut Renata.
"Lu emang hebat banget, Thal! Lu bisa duduk sebangku sama dia. Tahan banget lu!" seru Renata lagi salut.
__ADS_1
"Yah, aku juga mau buru-buru pindah. Lagian dia ganggu juga, pakai kacamatanya pecah lagi, makin ganggu!" gerutu Thalia.
Renata menepuk-nepuk pundak Thalia.
"Pasti nanti ada caranya. Mending kita pulang, yuk!" ajak Renata. Thalia mengiyakannya begitu juga Marina yang dari tadi diam saja. Mereka bertiga pun keluar darinkelas bersama-sama.
***
Belum sempat masuk, tahu-tahu kening Farel sudah menghantam kerangka pintu rumah hingga kepalanya terpelanting ke belakang. Entah sudah berapa kali ia menubruk tiang, tembok dan kerangka pintu, yang pasti kepalanya penuh dengan benjolan. Untung saja poni masih bisa menutupinya.
"Ugh! Rabun jauh itu benar-benar menyulitkan hidup!" keluhnya sambil mengusap-usap keningnya.
Seperti biasa, ketika masuk, suasana rumah sangat lah sepi. Sang Mama baru akan pulang nanti setelah Maghrib, sedangkan ayahnya baru akan pulang akhir bulan karena bekerja di luar kota. Farel pun memulai rutinitasnya, setelah puas belajar di sekolah, ketika di rumah, ia akan mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah termasuk memasak makan malam.
Menjelang waktu Maghrib, Farel akan menghentikan aktivitas pekerjaan rumahnya dan mulai mandi untuk bersiap ke masjid. Hal itu mulai ia lakukan akhir-akhir ini semenjak mendnegar nasihat dari Sang Ayah.
Biasanya ketika ia pulang dari Masjid, Sang Mama sudah akan ada di rumah dan melanjutkan pekerjaan rumah yang belum sempat ia selesaikan.
Farel yang lagi-lagi menubruk kerangka pintu ketika hendak masuk ke rumah setelah pulang dari Masjid mengusap-usap keningnya.
"Assalamualaikum," serunya sambil merintih. Jika ada yang menyahut, itu tandanya Sang Mama sudah ada di rumah.
"Wa alaikum salam, Sayang ...." Terdengar suara dari dapur. Setidaknya, suara lembut Sang Mama bisa menghiasi wajahnya dengan sedikit senyuman.
"Mama, biar Farel—" Anak lelaki itu lagi-lagi menghantam kerangka pintu dapur.
"Ya ampun, Farel? Kamu gak apa-apa, Nak?" panik Sang Mama karena mendengar bunyi dentuman yang keras dan segera menghampiri putranya.
"Gak apa-apa, Kok, Ma ..." sahut Farel sambil mengusap-usap kepalanya yang baru saja membentur kerangka pintu.
Sang Mama langsung menyingkirkan poni putranya untuk melihat keadaan kening Sang Putra. Matanya melotot begitu melihat ada memar di sana.
"Ya ampun, Sayang ... Kamu habis dari mana? Kenapa bisa memar begini?" selidik Sang Mama yang membawa Farel ke meja makan dan menyuruh putranya untuk duduk.
"I-ini ... Tadi Farel gak sengaja membentur tembok dan pintu, Ma. Hehe, tapi gak apa-apa, kok," jelas Farel.
"Kamu, ya malah cengengesan. Jelas-jelas ini tuh kenapa-kenapa!" omel Sang Mama kemudian beranjak dan mengambil batu es di kulkas serta sebuah baskom.
Mama meletakkan baskom air dingin dan segera berlari ke kamar untuk mengambil handuk.
"Mama—" Farel sesungguhnya merasa tidak enak karena membuat Sang Mama khawatir, tetapi apa mau dikata.
Mama kembali sambil merendam handuk kecil di dalam baskom berisi air dingin dan mengompres benjolan Farel.
__ADS_1
"Aw ..." rintih Farel.
"Tahan, ya, Nak ..." hibur Mama, Farel pun hanya bisa merintih tanpa suara.
"Duh, kamu gak hati-hati, ya jalan—" Sang Mama baru sadar bahwa putranya tidak mengebakan kacamata.
"Mana kacamata kamu?" selidik Mama.
"Ah? Uhm ..." Rasa bersalah pada diri Farel semakin bertambah.
"Dimana, Farel? Jangan hanya bergumam saja!" ujar Mama agak memaksa.
Farel pun menundukkan kepalanya.
"Ma-maaf, Ma ... tadi jatuh lalu pecah dan patah," ujar Farel.
"Karena jatuh jadi pecah? Patah? Kamu bohong ya sama Mama?" cecar Mama yang membuat Farel terkesiap.
"Cepat jujur!" paksa Mama.
"Uhm ..." Farel mengangguk.
"Iya, jatuh dan keinjek sama teman Farel," jawabnya berusaha memodifikasi kejadian sebenarnya sehingga menjadi kejadian yang lebih logis.
"Haduh, terus? Temen kamu itu gak mau ganti?" Pertanyaan Mama langsung membuat Farel lemas.
Anak lelaki itu pun mengangkat kepalanya seraya menatap Sang Mama.
"Maaf, Ma ... Tapi Farel yang bilang gak usah diganti," ujarnya berbohong lagi.
Mama hanya bisa menghela napas kemudian menarik kursi dan duduk di sana. Wanita berkepala empat itu memijat-mijat keningnya kemudian memandang wajah putranya.
"Harusnya tidak apa-apa, Farel. Kalau dia mau ganti, kamu minta ganti," ujar Mama.
"Maaf, Ma ..."
Sang Mama berusaha bersabar.
"Baiklah, nanti kalau Mama sudah gajian, Ayah sudah gajian, kita beli kacamata baru, ya. Kamu usahakan bertahan sampai saat itu. Oke?" ujar Mama yang sebenarnya juga tidak yakin, apakah ucapannya itu bisa diwujudkan.
Farel pun hanya menganggukkan kepalanya.
'Maaf dan terima kasih, Mama,' ujarnya dalam hati sambil berkaca-kaca.
__ADS_1
***