
Thalia langsung membanting tubuhnya di atas tempat tidur begitu sampai di rumah. Untungnya Siska sedang belanja, jadi ia tidak harus menambah kepenatanya dengan ocehan wanita ular itu. Ia pun memandang langit-langit kamarnya.
"Oh, iya, Farel!" serunya. Setidaknya, Thalia harus mempertegas tentang hubungannya dengan Farel. Sejujurnya, ia tidak mau benar-benar putus hubungan dengan Cowok Berkacamata itu. Jika tidak bisa berhubungan di sekolah, seharusnya bisa 'kan berhubungan di rumah.
Baru saja jari lentik Thalia ingin menekan tombol hijau di kontak Farel, tiba-tiba muncul sebuah pesan dari ruang obrolan grupnya.
✉️Guys! Hari Sabtu dan Minggu, jalan-jalan ke Villa gue, yuk! Villa gue baru direnov dan ada kolam renangnya! seru Vannessa di ruang obrolannya
✉️Ayo! Gue fix ikut! balas Renata.
✉️ Gue juga! timpal Marina.
Thalia menghela napas panjang membaca pesan dari ketiga sahabatnya. Padahal hanya hari Sabtu dan Minggu ia bisa bertemu Farel dengan leluasa, tetapi ketiga sahabatnya malah mengajak jalan-jalan. Thalia pun melempar ponselnya ke atas tempat tidur.
"Duuh, aku kenapa, sih?" keluh Thalia sambil memijat-mijat keningnya sambil memejamkan mata. Baru kali ini ia merasa malas menghabiskan waktu bersama ketiga sahabatnya. Padahal kebersamaan dengan ketiga sahabatnya dulu selalu menjadi obat bagi kepenatannya yang harus selalu cekcok dengan Siska di rumah.
Thalia pun menggelengkan kepalanya. Atensinya kembali ke ponsel yang tergeletak di sampingnya. Ia langsung menyalakan layarnya. Sontak matanya terbelalak saat melihat sudah ada lima panggilan tak terjawab dari Marina. Thalia pun buru-buru membuka ruang obrolan grupnya.
✉️Thalia? Kalau lu gimana? tanya Renata di sana.
✉️ Iya, Thalia ... Lu gak boleh ada alasan gak ikut, ya! Kapan lagi kita happy-happy kalau bukan sekarang? timpal Vannessa.
✉️Gak mungkin dia gak ikut, sih! sahut Marina.
✉️Tapi, kok gak jawab-jawab? Apa belun sampe? tanya Renata lagi.
✉️Coba gue telepon, ujar Marina.
Tidak selang berapa lama Thalia membaca pesan-pesan dari ketifa sahabatnya, tiba-tiba Marina menelpon lagi. Thalia pun mengangkatnya.
"Iya, Mar, kenapa?" tanya Thalia dengan suara berat.
"Loh? Thal? Lu kenapa? Lu lemes banget suaranya? Lu baik-baik aja 'kan?" panik Marina di sebrang.
"Aku baik-baik aja. Cuman capek aja ..." jawab Thalia seadanya.
__ADS_1
"Oh ... Tapi, lu udah baca chat di grup? Lu gimana? Ikut 'kan?" tanya Marina to the point.
"Ya iyalah, aku ikut. Mana pernah aku absen jalan-jalan sama kalian. Aku baru mau bales," ujar Thalia.
"Yes! Thalia ikut!" girang Marina di seberang membuat seulas senyum terlukis di wajah Thalia.
"Untunglah ... Gue sebenarnya agak khawatir lu gak mau ikut karena tadi kita sempet berantem ..." sesal Marina. Sejak pertama kali mengenal Thalia saat masuk kelas tujuh, ia langsung merasa satu frekuensi dengan sahabatnya yang satu ini. Dia bahkan tidak pernah merasa punya hubungan sedekat ini dengan siapapun.
"Apaan, sih, Mar? Kita 'kan udah baikan," balas Thalia lagi.
"Thanks, ya Thal ..." tutur Marina.
"Iya ... Uhm, kalau gitu, aku mau kabarin anak-anak di grup, ya? Aku tutup dulu," ujar Thalia.
"Oke. Bye Thalia," pamit Marina.
"Bye ..." balas Thalia sambil mengakhiri panggilannya. Ia memandang layar ponselnya cukup lama seraya menghela napas.
"Mungkin bukan minggu ini, tapi masih ada minggu depan, bahkan hari-hari lain. Saat itu, aku akan ajak Farel bicara," tekad Thalia yang langsung membalas pesan di ruang obrolan grupnya.
...****************...
"Segitu doang lu bisa jatuh? Cepat berdiri lagi!" titah Alan agak merendahkan Farel yang kini masih telentang di atas karpet matras. Ini adalah latihan kumite¹ Farel yang kelima setelah berlatih jurus karate selama tiga bulan. Cowok berkacamata yang sedang melepas kacamatanya itu pun bangkit kembali.
"Seharusnya pukulan segitu, gak akan menjatuhkan lu! Fokus!" omel Alan yang kembali memasang kuda-kuda dan siap melayangkan serangannya lagi.
Farel hanya menghela napas kasar dan ikut kembali memasang kuda-kuda. Cowok itu mulai memasang tatapan tajamnya. Darahnya kini semakin mendidih, apalagi, Alan mulai merendahkannya.
"Jangan ... Jangan remehin gue!" gertak Farel yang langsung melayangkan serangan mendadak ke arah wajah Alan, tetapi Alan malah meninju dagunya hingga kepala Farel terlempar dan tubuhnya langsung tersungkur ke karpet matras.
"Wah! Lu ngagetin gue!" seru Alan yang membuat Farel mendelik kesal. Padahal serangannya tadi menguras banyak energi, bahkan menurutnya, itu adalah serangan tercepatnya, tetapi Alan masih bisa membacanya, bahkan menciptakan serangan lain, bukan menghindar.
Farel tahu, kemampuan Farel masih jauh lebih rendah jika dibandingkan Alan yang sudah menguasai tiga jenis bela diri. Namun, hal yang paling menyebalkan adalah reaksi Alan yang mengatakan seolah serangannya adalah candaan.
"Sialan!" gerutu Farel sambil meninju karpet matras.
__ADS_1
"Woy, bangun ..." ujar Alan yang membuyarkan lamunan Farel. Ia pun menoleh dengan sorot mata yang tajam, tetapi Alan malah mengulurkan tangannya.
"Hari ini sampai sini aja ... Dari serangan lu, gue bisa lihat kalau lu lagi gak fokus ..."
Farel mendengus kesal sambil meraih tangan Alan, tetapi sorot matanya tidak berubah.
"Bahkan bukan cuman sekarang, tapi ini udah yang kelima kalinya gue pergokin lu gak fokus ..." tutur Alan sambil menarik Farel berdiri.Cowok itu hanya bisa membuang wajahnya mendengar evaluasi Alan.
"Kalau gini caranya, gue gak tahu, apakah lu bisa berkembang atau enggak ..." Alan bergumam sambil menatap Farel.
"Lu sebenarnya lagi ada masalah apa? Kenapa lu bisa gak fokus? Ini udah lebih dari sebulan kita coba latihan kumite, tapi gerakan lu, serangan lu, sama sekali gak ada perkembangan, malah makin gampang dibaca dan diserang balik. Gimana caranya lu bisa naik tingkat sabuk?" omel Alan lagi.
Farel hanya terdiam. Naik tingkat sabuk adalah targetnya sebelum semester ini berakhir. Dengan begitu, ia akan lebih tenang belajar untuk ujian nasional. Namun, jika begini caranya, ia sendiri tidak bisa menjamin, apakah sampai lulus SMP, ia bisa naik tingkat sabuk. Jika ditanya, kenapa latihannya sama sekali tidak berkembang, ia sendiri juga bingung.
"Woy!" Alan tiba-tiba meninju pundak Farel pelan hingga membuyarkan lamunannya.
"Kayaknya lu stress banget? Lagi galau lu, ya?" tebak Alan yang malah membuat Farel terkekeh.
"Galau apaan? Enggak," kilah Farel sembari menenggak air isotonik yang tersedia di pinggir arena.
"Terus kenapa? Kalau ada masalah, lu bisa diskusiin sama gue ..." Alan menepuk dadanya sendiri.
"Gini-gini, gue juga banyak pengalaman!" sombong Alan yang malah membuat Farel geleng-geleng kepala.
"Woy, beneran, nih! Lu kira, gue bercanda?" Alan agak tersinggung.
Farel hanya melirik Alan sambil meninju pelan pundaknya.
"Gue baik-baik aja," ujar Farel yang malah membuat Alan memicingkan matanya.
"Njir, lu kayak cewek aja! Ditanya kenapa, malah bilang gak apa-apa! Apa jangan-jangan, ini urusan cewek?" tebak Alan yang langsung membuat Farel melotot.
...****************...
¹)Kumite: Latihan tanding dalam karate
__ADS_1