Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
Pendekatan Thalia


__ADS_3

Thalia tidak bisa berhenti mengangkat kedua sudut bibirnya sembari memandangi laki-laki tampan di hadapannya yang sedang makan siang.


"Hey, makanan lu nanti dingin," tegur Alvin—anak kelas 9 yang merupakan anggota 3 A dan sedang duduk di samping Alan—Anak kelas 9 yang dianggap sebagai pemimpin 3 A dan paling populer.


Alan pun berhenti melahap makanannya dan malah tersenyum.


"Thalia, makan, gih ... Perut lu gak akan kenyang kalau cuman lihat muka gue doang," bujuk Alan dengan sangat lembut, hingga membuat getaran dalam dada seorang Thalia.


Thalia pun tersipu, ditambah lagi Marina yang dudu di samping Thalia malah menyenggol siku gadis cantik itu sembari menggodanya lewat mata.


"I-iya, Aku makan, Kak Alan ..." ujar Thalia tersipu. Ia pun menyentuh sendoknya dan mulai mengambil sedikit makanannya. Gadis remaja itu tidak mau terlihat serampangan di hadapan laki-laki yang diam-diam ia kagumi ini. Bahkan cara makan seorang Alan terlihat elegan bak seorang pangeran. Thalia juga tidak mau kalah elegan dari lelaki pujaannya.


"Oh, iya ... tadi lu bilang lu anak kelas berapa?" tanya Alan lagi. Ya, tentu saja, Alan belum mengenal siapa Thalia, meskipun seorang Thalia cukup populer di angkatannya.


"Kelas tujuh, Kak! Anaknya Pak Septiadi!" Thalia sekalian mengenalkan ayahnya—Sang Ketua Yayasan, siapa tahu Alan akan lebih tertarik padanya. Thalia yakin, orang tuanya dan orang tua Alan memiliki hubungan baik, mengingat lelaki pujaanya adalah putra daei donatur terbesar Yayasan milik Sang Ayah.


"Oh, iya, gue denger anaknya Pak Septiadi sekolah di sini. Ternyata elu!" timpal Alan.


"Wah! Lu anak ketua Yayasan! Lu harus deketin dia, Bro!" seru Alvin sambil menepuk pundak Alan.


"Haha ... Ini juga lagi makan bareng!" Alan lalu melirik ke arah Thalia sambil mengedipkan sebelah matanya, membuat jantung Thalia berdebar-debar hingga wajahnya bersemu merah. Gadis cantik itu pun menundukkan kepalanya malu.


"Oh, iya, gue Alvin, lu juga harus inget nama gue ..." atensi lelaki tampan bermata sipit itu pun beralih pada gadis yang duduk di sebelah Thalia.


"Kalau ini siapa?" tunjuk Alvin.


Marina yang sadar dirinya ditunjuk Alvin pun langsung memperkenalkan diri.


"Lu kalau ada apa-apa, boleh ngomong sama gue. Ortu kita 'kan deket," celetuk Alan.


Sebuah senyuman cerah langsung ter it di wajah Thalia. Bukankah ini kesempatan?


"Beneran, kak? Kalau misalnya aku minta kakak jalan bareng, boleh?" Thalia tidak mau basa-basi dan membuang waktu.


Alan pun menghentikan aktivitas makannya dan kembali melirik ke arah Thalia, tetapi lirikannya kali ini agak sinis.


"Jalan? Gue kira, kita baru aja jadi temen. Ya, gak sampe jalan juga kali ... Gue sibuk," kekeh Alan yang langsung membuat suasana hati Thalia suram.

__ADS_1


'Teman? Bagi Kak Alan aku cuman teman?' kesal Thalia dalam hati.


"Tapi kalau emang mau jalan, uhm, gue lihat jadwal gue dulu, ya. Entar gue kabarin ... uhm ..." Alan langsung merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel.


"Tulis nomor lu, kalo ada waktu, nanti gue hubungin lu," ujar Alan.


Thalia dan Marina saling pandang. Apakah semudah ini melakukan pendekatan pada Alan? Alan sendiri yang meminta nomornya.


"Iya, Kak!" Thalia dengan bersemangat memgetikkan nomor ponselnya di kontak Alan.


Sementara Alvin hanya geleng-geleng kepala sambil terkekeh melihat kelakuan sahabatnya.


Thalia yang sudah selesai menulis nomornya pun menyodorkan ponsel Alan.


"Makasih, ya Kak ... Aku tunggu loh sms-nya ..." ujar Thalia agak malu-malu. Alan hanya melempar senyum tipisnya sambil memasukan kembali ponsel ke saku celana.


"Ya udah ... Kalau gitu, gue sama Alvin duluan, ya ... udah ditungguin Andra. Bye-bye!" pamit Alan yang ternyata sudah selesai makan siang.


Thalia hanya bisa melambaikan tangan sambil tersenyum lembar, sedangkan Alan dan Alvin pun beranjak dan pergi dari meja yang mereka duduki.


"Aku gak nyangka, Kak Alan baik banget sumpah. Dia loh, yang minta nomkr aku!" seru Thalia sambil mengipas-ngipasi dirinya.


"Ih, sumpah, lu beruntung banget, Thalia! Veoat atau lambat, gue yakin, Kak Alan bakal ngajakin lu jalan!" ujar Marina.


"Iya, aku gak sabar ... eh? Tapi gimana, dong?" Thalia tiba-tiba memonyongkan bibirnya.


"Gimana apanya?" tanya Marina tak mengerti.


"Aku berarti harus cantik paripurna kalau mau jalan sama Kak Alan! Berarti harus belajar make-up dong!" seru Thalia.


"Iya juga. Berarti kita butuh model dong, setidaknya buat uji coba. Pokoknya muka kita gak boleh jelek!" timpal Marina.


"Terus siapa yang jadi modelnya? Aku gak mau salah satu di antara kalian, ya!" ujar Thalia wanti-wanti. Mana rela ia mengorbankan sahabatnya untuk diotak-atik wajahnya.


"Hem ... Kayaknya gue punya satu nama, deh yang pasti bersedia!" ujar Marina sambil tersenyum penuh arti.


***

__ADS_1


Thalia kembali ke kelas dengan begitu riangnya, tepat saat bel masuk berbunyi. Ia kembali ke bangkunya, tetapi langsung menemukan teman sebangkunya tidak ada. Bahkan tasnya juga tidak ada.


"Farel kemana? Baru aja mau dikasih tugas baru, tuh anak ngilang!" gerutu Thalia sambil duduk di bangkunya.


Ia pun celingak-celinguk, mencari seseorang yang bisa ia tanyakan.


"Eh, kamu lihat Farel, gak? Kok dia gak ada tasnya?" tanya Thalia pada orang yang duduk di depan mereka, tetapi orang itu hanya mengendikan bahu. Thalia juga bertanya pada beberapa orang, juga memberikan jawaban yang sama. Tidak ada yang tahu keberadaan lelaki culun itu.


"Dia kemana, sih?" gumam Thalia. Namun ia tidak begitu peduli, toh besok anak itu pasti akan muncul lagi.


"Awas kalau dia berani kabur dariku!" ujar Thalia lalu ia melirik ke arah bangku lamanya bersama ketiga sahabatnya. Bukankah ini saat yang tepat agar ia bisa berkumpul? Rasanya ia ingin menceritakan momen indah tadi pada kedua sahabat lainnya.


Thalia pun memutuskan untuk pindah.


"Heh, kamu balik gih, ke bangku lama kamu!" perintah Thalia. Orang itu tanpa basa-basi hanya mengangguk dan mengikuti perintah Thalia.


Sementara ketiga temannya agak heran.


"Serius, Thalia? Kamu boleh pindah ke sini?" tanya Renata agak khawatir.


"Udah gak apa-apa. Nanti kalau disuruh balik sama guru rese itu, ya apa boleh buat!" ujar Thalia yang langsung menunjukkan senyum semringah. Ia sangat tidak sabae membagi kebahagiaan bersama Renata dan Vannesa.


"Kalian tahu, gak?" seru Thalia. Marina yang duduk di samping Thalia jadinikut senyum-senyum.


"Tahu apa, Thalia? Kayaknya kabar bagus, nih ..." timpal Renata.


"Ya iyalah! Kabar bagus banget!" sahut Thalia yang kini tak bisa berhenti tersenyum, apa lagi ketika mengingat sikap Sang Pujaan Hati yang begitu ramah padanya.


"Apaan, ih ... Cepet kasih tahu!" paksa Vannesa tak sabar.


"Kak Alan ngajak aku jalan bareng!" jerit Thalia girang yang membuat seisi kelas menoleh padanya. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memandang mereka dengan sangat sinis.


***


...Apakah Kencan Thalia dengan Kak Alan ...


...akan berhasil?...

__ADS_1


__ADS_2