
"THALIA!" seru Marina yang langsung berlari masuk kelas. Reflek, Thalia langsung melepaskan pelukannya dari Farel dan mendorong tubuh kurus Cowok itu menjauh darinya. Sementara Farel langsung memunggungi Thalia.
Thalia segera menaikkan kedua sudut bibirnya sembari berjalan mendekati Marina.
"Marina? Hai!" sahut Thalia jadi canggung. Diam-diam Cewek itu melirik ke arah Farel yang mengusap telinganya.
'Kenapa Farel menggosok telinganya? Kayaknya aku gak bentak-bentak dia, deh,' batin Thalia. Ya, dia tidak pernah melewatkan kebiasaan Farel yang selalu menggosok telinga saat dirinya berteriak memerintahkan sesuatu.
"Thalia? Lu kenapa? Lu Nangis?" Tanpa sadar, ternyata sejak tadi Marina memerhatikan wajah Thalia. Atensi Gadis Cantik itu pun beralih pada sahabatnya.
"Na-nangis?" Thalia sampai lupa kalau dia sedang menangis dan meminta hiburan dari Farel dengan memeluknya.
Marina memicingkan mata dan langsung menoleh ke arah Farel.
"Woy, Culun!" Marina langsung menarik lengan Farel hingga tangannya terlepas dari telinganya yang ternyata memerah. Mata Thalia membulat, kenapa telinga Farel memerah?
"A-apa?" panik Farel sambil menunduk.
"Lu 'kan yang bikin Thalia nangis? Gue gak lupa ya, sekalipun lu culun, cupu, gak guna, tapi mulut lu suka gak dijaga kalau di depan Thalia!" tukas Marina yang membuat Farel mengepalkan tangannya. Farel sama sekali tidak masalah jika gadis berambut hitam ini mau menuduhnya, tetapi kenapa dia juga harus menghinanya?
"Sekarang ..." Marina mengangkat telunjuknya kemudian menoyor kepala Farel.
"Ngaku sama gue! Lu ngomong apa sampai bisa bikin sahabat gue nangis?" tuntut Marin dengan mata yang menyalak. Farel mendelik kesal. Sontak, Marina yang mendengar suara Farel yang mendelik langsung menjepit kedua pipi Farel. "Heh! Lu ngapain barusan—"
"Marina!" pekik Thalia yang membuat Farel dan Marina terpaku dan menoleh ke arah Thalia.
Dahi Gadis Berambut hitam itu mengernyit. Thalia baru saja meneriakkan namanya? Untuk apa? Untuk Cowok Culun tak berguna ini?
"Lepas!" Thalia langsung menyingkirkan tangan Marina dari wajah Farel. Gadis itu langsung menarik Farel untuk berdiri lebih dekat dengannya.
"Bukan Farel yang bikin aku nangis!" Thalia melirik ke arah Farel yang enggan menatapnya.
"Tapi Kak Alan ..." Suara Thalia tiba-tiba berubah jadi berat, membuat Farel menoleh ke arahnya dengan alis yang turun. Entah kenapa ia merasa dadanya berdesir mendengar suara berat Thalia. Tangan Cowok Berkacamata itu reflek terangkat ke arah wajah Thalia, tetapi Marina segera menarik Thalia menjauh darinya, membuat Farel tertegun.
'Sumpah! Tadi gue mau ngapain?' panik Farel yang langsung menyembunyikan tangannya di saku celana seraya kini menatap Thalia yang kini dipeluk oleh Marina. Marina yang sadar bahwa Farel masih menatap sahabatnya, membalas tatapan itu dengan tajam. Tanpa berkata apa-apa, Farel langsung pergi dari kelas. Thalia yang menyadari itu sempat menoleh, tetapi pipinya langsung ditarik oleh Marina.
"Thalia, coba cerita sama gue, kenapa Kak Alan bisa bikin lu nangis? Dia apain lu?" khawatir Marina. Atensi Thalia pun beralih pada Marina yang kini menatapnya lekat-lekat.
Thalia hanya terdiam sambil menatap kotak pudingnya.
"Kak Alan ..."
__ADS_1
'Perasaan kamu yang dipertaruhkam Thalia!' Tiba-tiba malah terngiang ucapan Farel di telinga Thalia yang sekali lagi membuat jantung Thalia berdebar, reflek, Thalia menggigit bibir bawahnya.
"Thalia! Kak Alan apain lu?" tagih Marina lagi yang memecahkan lamunan Thalia.
"Eh? Uhm, itu ... Kak Alan ... Kak Alan menolak puding buatan aku ..." ucap Tgalia sambil menunjukkan puding di tangannya.
"Kak Alan bilang gak suka makanan manis apalagi rasa cokelat. Harusnya aku ingat itu ..." ujar Thalia dengan suara lirih. Marina mengerutkan keningnya.
"Lu yakin? Terus kenapa lu sampai nangis? Jangan-jangan Kak Alan bicara ketus sama lu, ya?" cecar Marina. Thalia menghela napas.
"Iya ..."
"Thalia ... Sini, gue peluk dulu," Marina kembali memeluk sahabatnya itu sembari mengelus punggungnya.
"Tenang, sayang ... Kak Alan 'kan lagi banyak masalah. Dia pasti jadi agak sensitif, belum lagi anak kelas sembilan semuanya lagi penuh tekanan karena mau ujian," hibur Marina.
"Iya, aku tahu, kok. Aku hanya sedih sesaat aja ..." Thalia melepaskan pelukannya dan menatap Marina dengan mantap.
"Aku gak akan menyerah buat sadarin Kak Alan kalau cuman aku yang pantas buat dia!" ujar Thalia penuh semangat yang mengundang senyum Marina.
"Itu baru Thalia yang gue kenal!" ujar Marina yang kembali memeluk sahabatnya. Namun ia tidak tahu kalau Thalia terus memandang ke arah pintu kelas. 'Farel kira-kira kemana, ya?' batin Thalia.
***
"Gue ini kenapa, sih? Tugas gue itu, cuman ikutin perintah Thalia! Terus tadi mau apa? Thalia gak suruh gue hibur dia lagi, kok!" gerutu Farel.
"Lagian ... Tadi Marina udah datang ... Harusnya gue langsung pergi aja! Kenapa malah bengong gak jelas?" rutuknya pada diri sendiri. Namun ia memandang jauh tanpa arah.
"Kenapa gue sekarang malah sok peduli, sih sama dia?" bingung Farel. Apa lagi saat dirinya melihat wajah sedih Thalia saat membicarakan Alan. Farel memegang dadanya yang terasa sesak dengan hanya mengingat raut wajah murung Gadis Dominan itu. Perasaan apa ini namanya?
"Farel! Lu di sini?" Tiba-tiba ada suara yang memecahkan lamunannya. Farel langsung menoleh dan menemukan Alan yang muncul dari belakangnya kemudian duduk dengan santai di sampingnya.
"Kak Alan? Ngapain lu di sini?" bingung Farel.
Alan menyandarkan punggungnya di bangku taman.
"Gue bosen. Temen-temen gue sekarang musuhin gue, terus cewek gue lagi dirawat di rumah sakit. Tinggal lu deh yang bisa temenin gue," ujar Alan sambil menunjukkan giginya.
Dahi Farel mengernyit.
"Cewek lu masuk rumah sakit? Sheilla? Lu bukannya kemarin putus sama dia?"
__ADS_1
Tatapan Alan berubah jadi sinis mendengar ucapan Farel. Sontak, Cowok Berkacamata itu langsung mengunci mulutnya.
"Sorry, itu gosip yang gue denger," ucap Farel buru-buru.
Alan hanya menghela napas.
"Lu bener, sih. Gue putus sama dia, tapi gue akan nembak dia lagi kalau keadaannya udah lebih baik," jelas Alan.
"Emangnya dia mau balikan sama elu?" Sekali lagi Farel mendapat tatapan sinis Alan. Ia buru-buru menutup mulutnya.
Alan hanya menghela napas sambil menatap langit.
"Gue gak tahu, tapi gue yakin, dia juga suka sama gue ..." Alan melirik ke arah Farel yang tak berkomentar sama sekali.
"Woy, lu gimana?" tanya Alan.
"Gue? Gue baik-baik aja sama Thalia," ujar Farel yang membuat Alan menegakkan tubuhnya.
"Hah? Lu baik-baik aja sama Thalia? Maksudnya?"
Farel tertegun. Apa yang barusan dia katakan? Farel berusaha menaiikan kedua sudut bibirnya sembari menoleh ke ara Alan yang kini mengernyitkan dahinya.
"Yah, Lu tahu 'kan? Thalia udah gak bully gue lagi. Ya, itu ..." Farel malah cengengesan, tetapi Alan hanya geleng-geleng kepala.
"Gue kira lu sama Si Cewek Nyebelin itu jadian. Dunia udah kiamat kali, hahaha!"
Farel langsung membulatkan matanya. Seketika sekujur tubuh Farel merinding mendengar ucapan Kakak Kelasnya itu. Jadian sama Thalia? Itu adalah satu hal yang tidak mungkin terjadi dalam hidup Farel.
"Kak Alan ternyata emang suka bercanda, ya, hahaha!" tawa Farel.
"Yah, baguslah, sekalipun jadi 'Anjing'- nya Thalia, tapi lu masih waras dengan gak berpihak sama Cewek Nyebelin itu!" ujar Alan lagi yang menarik atensi Farel.
"Hah? Maksud lu apaan?" Farel sama sekali tidak tahu kemana arah bicara Alan.
Alan melirik ke arah Farel sambil tersenyum miring.
"Sok-sok-an gak tau! Bukannya lu tadi pagi lihat sendiri, Gue udah bungkam Cewek Nyebelin itu yang kege-eran! Dia kira, gue nyariin dia. Dih, Najong!" kekeh Alan, tetapi Farel malah mengepalkan tangannya.
"Sumpah gue puas banget lihat mukanya tadi pagi—"
"Jadi lu sengaja?" Tiba-tiba suara Farel terdengar agak dingin, membuat Alan mengernyitkan dahi.
__ADS_1
"Woy, Lu kenapa? Santai aja kali!" ujar Alan sambil mengacak-acak rambut Farel, tetapi Cowok Berkacamata itu malah mencengkram tangan Alan seraya menatapnya dengan sorot mata yang tajam.
"Gue tanya sama lu, Jadi lu itu sengaja, ha?" sergah Farel