Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S3: Bunga yang Bersemi Kembali


__ADS_3

Farel tertegun, tetapi ia ingat, pernah terpaksa menyebut Thalia "Pembawa Sial". Padahal saat itu ia sadar bahwa Thalia justru yang membuat hidupnya lebih baik. Masa bodo kata Alan atau pun teman-teman Thalia! Masalahnya, saat itu adalah keadaannya. Tubuh Farel terasa disengat oleh listrik karena mengingat peristiwa itu. Bahkan tak jarang ia menyesalinya. Cowok itu pun mengepalkan tangannya.


"Ma-maaf ...." Akhirnya ia bisa melontarkan kata itu!


Thalia memandangnya lekat-lekat.


"Maaf?" ulangnya.


Farel langsung mengangguk sambil curi-curi pandang ke arah Thalia.


"Aku ... Aku terpaksa mengatakan seperti itu ...." Farel melipat bibirnya.


"Terpaksa?" tekan Thalia lagi.


"Ya, sebenarnya, bukan. Kamu bukan pembawa sial sama sekali. Kamu ... Kamu ...." Lidah Farel tiba-tiba kelu ketika melihat manik coklat terang milik Thalia menatapnya lekat-lekat hingga sampai ke lubuk hatinya yang terdalam.


Deg!


Jantungnya berdetak lebih cepat hingga wajahnya terasa panas. Namun Thalia tiba-tiba menggenggam tangannya, membuat Farel tersentak.


"Aku sebenarnya apa?" tanya Thalia dengan nada yang begitu lembut hingga membuat kuping Farel terasa panas. Cowok itu tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Thalia, terutama manik matanya yang begitu indah.


"Uhm, I-itu ... Kamu ... Kamu cantik," ucap Farel yang linglung. Di otaknya sama sekali tidak muncul kata selain "Thalia Cantik". Entah sihir apa yang mempengaruhinya.


"Cantik? Masa kamu cuman mau bilang itu?" heran Thalia yang melepas genggamannya dari tangan Farel.


Reflek cowok itu menggaruk tengkuknya.


"Ya, kamu, 'kan emang cantik, Thalia," timpal Farel.


Thalia menghela napas.


"Tapi, bukan itu harusnya yang kamu bilang, 'kan?" Kini Thalia menatapnya sambil memicingkan mata.


"Kamu bilang aku bukan Pembawa Sial, terus apa? Masa cantik? Gak nyambung banget! Dasar!" protes Thalia. Entah kenapa ia kesal. Padahal jelas-jelas Farel memujinya.


Farel baru ingat, ia tadi membahas tentang ucapan kasarnya beberapa waktu lalu pada Thalia. Kenapa tiba-tiba ia bisa lupa ingatan?


"O-oh ... Itu. Kalau begitu kebalikannya," tutur Farel yang menarik atensi Thalia.


"Ke-kebalikannya? Maksud kamu aku jelek?"

__ADS_1


"Bu-bukan! Haduh!" Farel makin kacau.


"Ma-maksud aku, kamu adalah Pembawa Keberuntungan," jawab Farel bagaikan sebuah angin sejuk yang menerpa Thalia hingga menciptakan sebuah senyum kecil di wajah cantik gadis itu.


"Pembawa Ke-keberuntungan?" ucapnya malu-malu sambil memalingkan wajahnya.


"Ya, buktinya sekarang, karena kamu datang, perasaanku jadi lebih baik," lanjut Farel lagi yang membuat hati Thalia berbunga-bunga. Kenapa tiba-tiba cowok ini jadi memuji-mujinya?


"Apaan, sih, Farel? Jangan berlebihan!" malu Thalia sambil mendorong lengan Farel pelan.


Cowok itu tersenyum.


"Gak berlebihan. Ini yang mau aku ungkapin dari kemarin. Tapi tertahan," ungkap Farel.


Mata Thalia mengerjap.


"Da-dari kemarim? Tertahan? Kenapa?"


Farel bergumam.


"Ka-karena pacar kamu kasih aku peringatan untuk jauhin kamu ... Makanya aku terpaksa bilang gitu," jujur Farel yang membuat dahi Thalia berkerut.


"Pacar? Kamu bahas itu lagi?" Tiba-tiba suara Thalia meninggi.


"Tunggu! Jangan bilang waktu itu kamu babak belur karena cowok jabrik itu?" duga Thalia yang langsung dijawab dengan anggukan Farel.


"Makanya, aku jauhin kamu," beber Farel.


Thalia berusaha mengorek ingatannya, siapa laki-laki jabrik yang menyukainya? Sepertinya tidak ada.


"Tapi ... Tapi aku gak pernah punya pacar, Farel," ungkap Thalia yang membuat Farel tertegun.


"Hah? Gak pernah punya pacar? Terus, cowok jabrik itu siapa?" cecar Farel.


"Cowok jabrik mana? Aku gak pernah deket sama cowok jabrik! Lagian tipe aku bukan cowok jabrik! Apalagi cowok kasar!" tekan Thalia. Sementara Farel menatapnya lekat-lekat seolah menunggu kalimat selanjutnya.


Thalia berdehem sambil curi-curi pandang ke wajah penasaran Farel.


"Ju-justru sebaliknya. Cowok yang aku suka itu, yang rambutnya lurus berponi, penuh kasih sayang, kelembutan dan perhatian. Bisa selalu memperlakukan aku seperti ratunya," tutur Thalia sambil melirik ke arah Farel yang mengangguk-angguk.


'Apakah Farel mengerti kalau aku sedang membicarakannya?' batin Thalia.

__ADS_1


"Pantas, ya ...." ucap Farel yang memacu detak jantung Thalia. Pantas apa? Apakah cowok ini benar-benar menyadarinya?


"Pantas kamu suka sama Kak Alan."


Du ia seakam runtuh saat Thalia mendnegar penututan Farel. Wajah Thalia langsung berubah murung. Apakah ciri-ciri yang dia lontarkan barusan menggambarkan sosok Alan?


"Kak Alan, 'kan selalu bersikap lembut sama perempuan," tambahnya lagi yang makin membuat Thalia gondok.


'Yang aku suka itu kamu, Farel! Kamu!' jerit Thalia dalam hati. 'Padahal jelas beda! Kamu itu memperlakukan aku dengan sangat lembut. Gak kayak Kak Alan yang bisanya main sindir gak jelas kayak cewek PMS!' gerutu Thalia dalam hati yang kini memanyunkan bibirnya.


"Uhm, Thalia?" Tiba-tiba Farel menatapnya, Thalia buru-buru mengubah ekspresi wajahnya.


"Y-ya?" Gadis itu segera melemparkan senyum super ramahnya.


"Kamu baik-baik aja, 'kan? Apa ada yang membuat kamu kepikiran? Atau jangan-jangan, cowok jabrik itu friendzone kamu?"


Sontak Thalia mengeraskan rahangnya.


"Farel! Kamu apaan, sih?" tukas Thalia.


"Cowok jabrik mana? Aku gak kenal! Aku gak tahu! Kenapa kamu bahas itu mulu, sih? Asal kamu tahu, ya, yang aku suka itu kamu!" pekik Thalia yang seketika menghentikan waktu.


"Hah? Kamu bilang apa barusan?" tanya Farel.


Thalia langsung melipat bibirnya, apakah tadi dia keceplosan? Seketika dia lupa kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri. Ia langsung memalingkan wajahnya


"Uhm, itu ... Maksudnya, aku ...." Thalia salah tingkah. Ia bingung bagaimana menjelaskannya.


"Aku juga sebenarnya suka temenan sama kamu, kok, Thalia," ucap Farel yang membuat Thalia tertegun. Gadis itu kembali menatap wajah Farel.


"Aku ... Aku tahu, kamu sering perhatiin aku. Aku juga kangen sama cookies, brownies buatan kamu. Tapi ...."


"Tapi apa?" cecar Thalia. Farel hanya memandang Thalia dengan nanar.


"Atau begini aja!" seru Thalia. "Bagaimana jika kita mereset ulang hubungan kita!" usulnya yang membuat dahi Farel mengernyit.


"Me-mereset ulang? Maksudnya?" bingung Farel.


"Lupakan soal kamu yang harus menuruti perintahku, bagaimana kalau kita jadi teman kali ini! Teman sungguhan!"


Dahi Farel mengernyit.

__ADS_1


"Te-teman sungguhan?" Apakah dia benar-benar tidak sedang bermimpi?


__ADS_2