Jeratan Gadis Dominan

Jeratan Gadis Dominan
S2: Keputusan Thalia


__ADS_3

"Me-menghibur?" ulang Farel sama sekali tidak paham. Apa yang akan Thalia minta di ruang UKS? Apa ia disuruh menari seperti di Kantin waktu itu? Ah, bisa sih dilakukan di ruang brankar. Beberapa brankar tinggal digeser supaya Farel bisa leluasa menari.


"Kamu mikir apa, Farel?" tegur Thalia yang langsung membuyarkan lamunan Farel. Cowok itu langsung mengerjapkan matanya sembari menatap Thalia yang memicingkan mata dengan mata yang masih digenangi air mata.


"Uhm, E-enggak, aku cuman lagi mikir gimana caranya menghibur kamu, makanya—"


"Pft!" Thalia malah tertawa, membuat Farel makin bingung, dimana letak lucu dari kalimatnya?


"Uhm, Thalia, apa kamu sudah sedikit terhibur?" tanya Farel merasa sedikit bangga. Seketika Thalia langsung mengerem tawanya dan memasang muka datar.


"Si-siapa yang terhibur?" ujar Thalia sambil mengalihkan pandangannya.


"Oh, begitu, ya ..." Farel malah tertawa remeh sambil garuk-garuk kepala. Sementara Thalia diam-diam melirik ke arah wajah Farel yang sepertinya sudah diobati. Gadis itu diam-diam tersenyum.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan buat hibur kamu?" tanya Farel lagi. Thalia tertegun, fokusnya akhir-akhir ini suka kabur. Thalia pun langsung menggunakan otaknya dan menyisir seisi ruangan.


"Uhm, mending kita ke sini!" Thalia langsung menarik tangan Farel dan membawa Cowok itu pergi ke ruang brankar.


Thalia langsung naik ke atas brankar dan duduk di sana, sedangkan Farel hanya berdiri sambil menggaruk-garuk pipinya.


"Kamu mau tidur, ya?" tanya Farel yang langsung dapat tatapan sinis dari Thalia.


"Tidur? Kamu kira segala masalah akan hilang dengan tidur? Aku gak kayak kamu, tahu!" sindir Thalia yang membuat Farel tertegun. Cowok itu menghampiri Thalia.


"Memangnya, kapan kamu lihat aku tidur?" penasaran Farel.


"Hari ini!" Thalia melirik ke arah luka Farel.


"Padahal kamu luka begitu, tapi bukannya diobatin malah tidur. Kayaknya aku harus duduk di aebelah kamu lagi supaya kamu ada kerjaan!" tukas Thalia.


Farel termenung. Ya, jika dilihat orang, dia pasti seperti sedang tidur, padahal saat itu dia sedang bimbang tentang keputusannya yang harus mengikuti keinginan Thalia atau berusaha lepas daru gadis ini.


"Sudah! Sekarang, mending kamu naik juga ke sini!" titah Thalia sambil menepuk tempat di sampingnya.


"Hah? Aku ngapain disuruh duduk di samping kamu? Uhm, gimana kalau di sini aja?" tawar Farel, tetapi ia langsung mendapat tatapan sinis dari Thalia.


"Oke! Sebentar, aku naik." Farel sama sekali tak berkutik jika raut wajah Thalia sudah berubah jadi seram begitu. Cowok itupun duduk di samping Thalia.


"Terus?" tanya Farel lagi.


"Ambil bantal dan taruh di paha kamu!" titah Thalia lagi.

__ADS_1


"Hah? Buat apa—" Sekali lagi Farel mendapat tatapan sinis dari Thalia. "Oke, laksanakan!" ujar Farel yang langsung mengambil bantal dan meletakkannya di atas pahanya. Namun, posisi ini agak tidak nyaman.


"Kalau begitu, sekarang tugas kamu jadi bantal aku!" ujar Thalia yang langsung meletakkan kepalanya di atas bantal yang diletakkan di atas paha Farel.


"Hah? Thalia, tapi—" Tiba-tiba Thalia meraih tangan Farel dan menggenggamnya erat.


"Farel ... Menurut kamu, aku kurang apa?" Tiba-tiba nada bicara Thalia berubah jadi lirih.


"Hah? Ku-kurang?" Bukankah pertanyaan Thalia adalah pertanyaan jebakan? Sejujurnya, Gadis ini memang banyak kurangnya, tetapi apakah Farel bisa keluar dengan aman jika mengungkapkan kekurang seorang Thalia.


Thalia malah mengangguk seraya melirik ke arah Farel.


"Iya, apa aku gak cantik?"


"Cantik? Kamu cantik banget, kok. Paling Cantik di seko— Enggak, Paling cantik di dunia!"


"Pft! Apaan, sih kamu! Lebay!" geli Thalia yabg juga memancing senyum di wajah Farel. Reflek, tangab lain Farel yang menganggur malah membela kepala Thalia.


"Kamu paling cantik kalau lagi senyum," tutur Farel yang langsung menghentikan tawa Thalia. Sontak, kedua mata Thalia membulat.


"Ih, apaan, sih kamu!" ketus Thalia langsung menyingkirkan tangan Farel. Seketika, Cowok itu tersadar.


"Eh, maaf, Thalia! Aduh, gak seharusnya aku—"


"Aku seneng, kok kamu bilang aku cantik ..." ucapnya lagi sambil memeluk dirinya sendiri. Entah kenapa ia lagi-lagi merasa suhu tubuhnya meningkat. Aneh, ia bahkan tidak pernah merasa begini jika berada di dekat Alan.


'Aman ...' batin Farel lega.


Thalia pun melirik ke arah Farel yang kini tersenyum lega. Dahi Gadis Cantik itu mengernyit.


"Kamu ngapain senyum-senyum?" selidik Thalia yang mengagetkan Farel.


"Ah, itu ... Uhm, aku ... Aku seneng kalau kamu juga seneng," jawab Farel yang sekali lagi merasa bangga.


"Begitu, ya ..." Thalia kembali memutat tubuhnya hingga telentang. Farel pun memandang wajah Thalia yang sekarang juga sedang memandangnya.


"Farel, menurut kamu, kenapa Kak Alan selalu nolak aku? Padahal, aku 'kan lebih cantik dari mantan-mantannya. Aku juga selalu bersikap baik di depan dia. Aku selalu kasih hadiah spesial ke dia, dia juga jelas-jelas tahu perasaan aku ..."


Farel tertegun, apa hal ini yang membuat wajah gadis ini dibasahi oleh air mata? Apa lagi yang Alan lakukan selain kejadian tadi pagi?


"Farel!" Tiba-tiba Thalia memegang tangan Farel, membuat lamunan Cowok itu buyar.

__ADS_1


"Uhm, ya?" Seketika wajah Thalia langsung merengut mendengar respon Farel.


"Kamu gak dengerin aku, ya?" tukas Thalia.


"Eh? Aku? Denger, kok. Cu-cuman aku juga lagi cari alasan, kenapa Kak Alan nolak kamu terus ..." dalih Farel, tetapi ia terhenti ketika melihat raut pundung gadis yang tiduran di atas pahanya.


'Putar otak Farel! Meskipun lu sangat tahu kenapa Kak Alan sangat benci Thalia, tetapi lu bisa habis kalau mengungkapkan yang sebenarnya!' paksa Farel memorsir dirinya sendiri.


"Padahal aku tulus suka sama Kak Alan ..." ucap Thalia yang langsung menjadi inspirasi untuk Farel.


"Justru karena perasaan kamu tulus Thalia ..." ucap Farel yang membuat Thalia mengernyitkan dahinya.


"Maksudnya?"


Farel memejamkan matanya erat-erat.


'Kak Alan, maaf. Anggap aja ini pembalasan karena lu udah mukul gue!' bati Farel sambil menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya.


"Ya, karena Kak Alan gak bisa mengimbangi perasaan tulus kamu, Thalia. Makanya Kak Alan nolak kamu. Kak Alan sebenarnya gak mau nyakitin kamu ..." Dahi Farel mengernyit, kenapa ucapannya malah terdengar seolah menyebarkan kebaikan Alan?


"Maksud kamu, Kak Alan gak akan pernah punya perasaan tulus? Apa aku gak bisa menciptakan perasaan itu di hatinya?" cecar Thalia.


Sekali lagi dahi Farel mengernyit. Kenapa malah jadi rumit begini?


"Uhm, aku gak tahu soal itu. Sorry ..." Farel benar-benar kehabisan ide. Thalia pun terdiam. Seketika suasana di antara mereka jadi hening.


'Uhm, kira-kira, apa yang lagi dipikirkan Thalia, ya? Gue salah ngomong, gak ya?' batin Farel.


"Kamu benar ..." sahut Thalia tiba-tiba.


"Bahkan Kak Alan gak pantas buat aku!" ujar Thalia. Sontak, mata Farel melebar, apa ia tidak salah dengar.


"Itu jawabannya!" Thalia tiba-tiba bangun dan menghadapakan tubuhnya ke arah Farel.


"Mulai sekarang, aku memutuskan untuk menyingkirkan Kak Alan dari hatiku karena Kak Alan gak pantas mendapatkan hatiku yang tulus!" tegas Thalia dengan sorot mata yang begitu mantap. Farel berusaha tersenyum. Entah, ini adalah keputusan yang benar atau bukan.


Ceklek!


Tiba-tiba ada orang yang membuka pintu UKS. Farel dan Thalia langsung saling pandang.


"Cepat, kamu pindah ke sana!" titah Thalia. Farel segera turun dari brankar dan hendak naik ke brankar lainnya, tetapi tirai ruangan tiba-tiba dibuka.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


__ADS_2