
Farel terpaksa meladeni keinginan Aldo dan kawan-kawan yang sekarang memintanya untuk menari-nari di tengah Kantin, sementara mereka semua tertawa terbahak-bahak. Kali ini Farel bukan hanya menjadi "Anjing Thalia, tetapi juga "hewan sirkus".
Ya, tentu saha, Aldo dan kawan-kawan telah meminta Thalia untuk menyuruh Farel melakukan atraksi ini. Sedangkan Thalia juga ikut menikmati kekonyolan yang terpaksa Farel lakukan demi keselamatan dirinya.
'Tahan, Farel ... Tahan!' batin Farel yang sudah muak. Ia tidak bisa memikirkan cara lain selain mengikuti surhan mereka.
Di meja lain ada Alan dan 2 sahabatnya juga beberapa siswi cantik yang juga menyaksikan aksinya. Semua orang di meja aAlan tettawa melihat kekonyolan Farel, tetapi tidak dengan Alan yang memasang wajah dinginnya.
"Alan, lu gak ngakak lihat Si Culun itu. Heran, deh. Kok bisa-bisanya dia nari kayak gitu. Lentir banget, hahah," tawa Alvin yang terbahak-bahak dari tadi.
Alan hanya menghela napas dengan kasar sambil melirik tajam ke arah Alvin.
"Gue mau balik ke kelas. Gue gak suka tontonan menjijikan kayak gitu!" ujar Alan langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Alan ... mau kemana?" cegah para siswi yang duduk di meja yang sama dengannya.
"Cari pemandangan yang lebih enak dilihat ..." Alan sekali lagi melihat ke arah Farel yang kepalanya kini ditoyor oleh para geng Aldo secara bergantian.
'Sumpah, lu jadi orang hina banget!' umpat Alan yang mendelik kesal kemudian pergi keluar Kantin.
Sementara, Alvin yang menyadari reaksi Alan jadi bingung sendiri. Ia pun beralih pada Andra yang sedang duduk santai sambil menonton atrakasi Farel.
"Alan kenapa lagi, deh? Kok dia kayak kesel gitu? Emang dia punya hubungan apa sama Si Culun itu?" tanya Alvin.
Remaja berkulit hitam manis itu pun melirik sahabatnya.
"Gue gak tahu pasti, tapi faktanya, pas anak itu digebukin sampai gak sadarkan diri, Alan yang ketar-ketir cari bantuan," ujar Andra.
Mata Alvin yang biasanya terlihat segaris, langsung membulat.
"Dia digebukin sampai gak sadarkan diri? Sama siapa? Gila!" sahut Alvin sambil gelemg-geleng kepala.
"Sama siapa lagi kalau bukan mereka?" ujar Andra lagi sambil menunjuk Aldo dkk.
"Kemarim gue sempet bantuin tuh anak nolongin Si Culun," ungkap Andra.
Alvin pun menggosok-gosom dagunya.
"Kalau Alan peduli sama Si Culun, kenapa dia gak nolongin tuh anak aja sekarang?" sahut Alvin seraya menoleh ke arah Andra, seolah meminta jawaban cepat.
Andra menghela napas.
__ADS_1
"Gue gak tau, tapi kalau menurut gue, karena Si Culun itu adalah anak laki-laki ..." Andra melirik ke arah Alvin.
"Kata Oom gue, seorang laki-laki itu ditakdirkan untuk berdiri dengan kakinya sendiri dan para wanita yang bergantung padanya ..."
Dahi lelaki bermata sipit itu berkerut.
"Maksudnya?"
"Kalau Alan nolongin Si Culun seperti cara yang lu bilang, maka dia akan terus minta tolong, bahkan tanpa sadar." Andrameminum jus mangganya.
"Alan gak mau itu. Dia mau, Si Culun berdiri sendiri dengan kakinya melawan orang-orang itu," jelas Andra.
Atensi Alvin beralih pada Farel.
"Wah, itu susah lah. Belum tentu dia punya nyali," ujar Alvin.
"Karena dia belum punya nyali, makanya dia lebih memilih untuk ditindas seperti itu," tekan Andra lagi.
Alvin tertegun, orang-orang yang suka menindas memang selalu terlihat menyebalkan. Namun, korban penindasan seperti Farel sampai akhirnya memilih untuk ditindas dan tidk berusaha lepas dari jeratan penderitaan. Terdengar mustahil, tetapi itu terjadi.
***
"Gue tau ini bakalan terjadi, tapi mau gimana lagi?" keluhnya sambil duduk di tangga samping pintu kantin. Ia benar-benar malu dengan kelakuannya barusan. Bukan hanya Si Culun, mungkin ia akan disebut orgil alias orang gila sekarang.
Tiba-tiba ada sebuah minuman dingin yang ditempelkan di pipinya, membuat Farel menoleh dan menemukan Thalia yang sedang tersenyum padanya, membuat kedua matanya membulat dan detik waktu terasa begitu lama. Tidak hanya itu, di telinganya bahkan ada beberapa wanita yang bernyanyi "Shalala".
"Farel!" Seketika segala yang ia rasakan tadi sirna. Farel kembali ke realita.
"Tha-thalia? Ka-kamu ..."
Thalia langsung duduk di samping Farel sembari menyodorkan minuman dingin yang tadi ia tempelkan di pipi lelaki berkacamata ini.
"Buat kamu ... Pasti tadi capek," ujar Thalia.
Farel langsung memalingkan mukanya sambil mengangguk pelan, tetapi tidak menerima pemberian Thalia sama sekali.
"Farel! Terima minuman ini!" ujar Thalia sambil mengambil tangan Farel dan meletakkan minuman diringinnta di tangan itu.
"Ini perintah! Kamu harus minum minuman pemberianku!" kesal Thalia.
Farel melirik kembali ke arah Thalia dan memastikan penglihatan, pendengarannya, juga detuk waktu baik-baik saja.
__ADS_1
"Uhm, y-yah, Thalia, a-aku 'kan gak bisa nolak permintaan kamu!" ujar Farel.
'Fiuh, gue tadi kenapa dah? Apa efek kecapekan, ya?' gumamnya dalam hati.
Thalia kemudian tersenyum lagi sambil meminggirkan poni Farel agar ia bisa melihat wajah lelaki itu.
"Lain kali aku gak akan biarkan kamu kayak gitu. Aku gak suka ..."
Farel langsung menoleh dan memandang Thalia dengan heran.
'Gak suka apaan, lu dari tadi juga senyam-senyum!' kesal Farel mukai ngedumel dalam hati.
"Aku gak suka mereka menertawakanmu begitu. Kak Aldo emang keteraluan, nanti aku akan bilangin Vannesa!" ujar Thalia kesal sendiri.
Farel tertegun. Apa yang ia dengar barusan angan-angannya, atau sungguhan berasal daei mulut Thalia? Namun terasa sangat mustahil, ia pun mencubit lengannya sendiri.
"Aww!" jerit Farel reflek, membuat Thalia kaget dan langsung mengambil lengan Farel yang barusan dicubit sendiri oleh empunya.
"Kenapa Farel? Kenapa kamu cubit tangan kamu?" Thalia langsung meniupnya dengan lembut sambil mengusap-usapnya pelan.
"Kamu aneh! Kenapa cubit diri sendiri?" tanya Thalia mulai mengomel.
'Yang ada lu yang aneh! Kesambet apaan lagi nih cewek, kok tiba-tiba baik sama gue?' batin Farel seraya mengernyitkan dahinya. Thalia yang sadar ditatap aneg pun langsung melepas tangan Farel sambil melemparnya.
"Ka-kamu lihat apa?" bentak Thalia yang jadi salah tingkah, kini wajah putih gadis remaja itu berubah jadi merah. Ia pun buru-buru berdiri.
"Aku ngelarang kamu, ya lihatin aku kayak gitu!" tegas Thalia langsung memutar tubuhnya.
'Aku kenapa, sih? Kenapa aku jadi sok khawatir giti sama Farel? Duh, dia mikir apa, ya?' panik Thalia.
"A-awas loh, kalau kamu mikir aneh-aneh!" seru Thalia lagi.
Namum Farel hanya terdiam sambil terus menelisik tingkah Thalia. Remaja itu pun berdiri dan berusaha memandang wajah Thalia agar biaa menebak isi hatinya.
Tepat pada saat itu Thalia menoleh dan wajah mereka hampir bertubrukan, membuat Thalia kaget dan hampir terjatuh, tetapi Farel dengan sigap menangkapnya. Seketika waktu di antara mereka terasa berhenti. Bukan bunyi dentuman detik dari jam tangan yang terdengar di telinga mereka, melainkan dentuman dari detak jantung, entah detak jantung siapa.
'Si-situasi macam apa ini?'
'Si-situasi macam apa ini?'
seru mereka berdua dalam hati.
__ADS_1