
Brill mengikuti desakan hatinya untuk mendatangi gadis Inggris-Jepang itu. Dia mencoba mengingat nama gadis itu kalau tidak salah mirip dengan namanya, tapi tak ada satu nama pun yang singgah di otaknya.
Brill memang terlalu cuek dengan lingkungannya, jika mau mengingat nama orang, hanya nama om Markus dan tante Rina serta tiga teman yang suka berlatih main musik dengannya, Wandy, Gio dan Lefrand. Nama mereka saja yang akrab di telinganya, selebihnya dia tidak pernah ambil pusing.
"Hei..."
Rilly mengangkat muka, Brill berdiri dengan jarak yang dekat sedang memandang dirinya.
"Ehh... iya?"
Rilly mengalihkan pandangan lagi saat Brill hanya diam. Rilly membersihkan mulut dan tangan oma Betsy dengan tissue basah, kemudian membersihkan juga remahan makanan yang jatuh di pangkuan oma. Setelahnya Rilly merapihkan rambut oma Betsy.
"Nah oma udah rapih lagi..."
"Rilly sarapan sekarang... tadi Rilly belum sarapan kan? Makanannya berlimpah... ambil makan sekarang Ril..."
"Nanti aja oma... nanti setelah oma selesai periksa dokter aja... bentar lagi giliran oma kok..."
Brill mengamati dalam diam interaksi oma dan Rilly, kenapa di hatinya tersentuh oleh hal ini, dia tidak mengerti. Rilly masih mengamati oma Betsy, kalau-kalau masih ada kotoran sisa sarapan, maklum oma sekarang agak lambat mengunyah, dan kadang ada nasi atau bubur yang keluar dari celah giginya yang telah tanggal.
Jadi dia Rilly ya... tapi namanya panjang kayaknya.
Brill masih menggali memorinya mencari di mana kemiripan nama gadis belah bibir itu dengannya.
"Rilly, mami belum periksa dokter?"
Tante Ine dan Manda datang mendekat lagi.
"Belum tante, tadi baru ambil nomor antrian..."
"Mami nomor berapa?"
"Empat puluh lima..."
"Sekarang nomor berapa?"
"Nomor tujuh belas..."
Rilly memandang ke arah tiga kursi tempat pemeriksaan, belum berganti orang.
"Itu masih lama... saya ke sana saja, minta mami didahulukan..."
"Tidak perlu Ine... ikut giliran saja..."
Oma menahan langkah tante Ine dengan perkataannya.
"Aku bisa minta kok mi... aku orang penting juga, mereka tidak mungkin menolak mendahulukan mamiku..."
"Mami yang tidak mau... kalau semua orang penting minta didahulukan bisa kacau antriannya..."
"Biar mami cepat pulang, tidak usah berlama-lama menunggu... aku mau atur yang baik buat mami, malah menolak..."
Tante Ine menaikkan suaranya, merasa gusar maminya menolak pengaturannya.
"Mami tidak ingin pulang cepat, mami mau mengikuti acara sampai selesai, mami yang menunggu kenapa kamu yang repot..."
"Rilly banyak kerjaan di rumah, mi... belum masak, baju kotor sudah banyak..."
"Rilly bukan asisten rumah tangga milikmu, kamu yang harus cari ART Ine..."
"Lalu untuk apa dia?"
Tante Ine menunjuk Rilly yang kini menunduk di kursinya.
"Enak banget hidupnya, udah makan dan tinggal gratis di rumah orang, masa tenaganya tidak dimanfaatkan..."
"Ine! Rilly anakku... dia anakku, pergi kamu dari sini, mami tidak butuh tanganmu mengurus hidupku.."
Oma memalingkan muka. Tante Ine memandang marah pada Rilly. Manda menyikut mamanya yang hendak mengoceh lagi lalu memberi isyarat dengan matanya, ada Brill di dekat mereka.
Tante Ine mendadak merubah sikapnya dengan sebuah senyum dan anggukan kepala pada Brill.
"Brill..."
Brill hanya memandang datar, tak ingin menyambut keramahan wanita ini. semua orang di kabupaten ini pasti tahu namanya, pasti juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk berinteraksi dengannya. Brill ingin meninggalkan tempat itu tapi sesuatu tentang Rilly yang dia dengar tadi mengusik benaknya.
"Ini anak tante, Manda... kalian satu sekolah hanya beda kelas..."
Brill tidak bereaksi, tidak juga memandang Manda yang sudah senyum-senyum padanya. Di sekolah Manda juga salah satu cewek yang bermimpi bisa dekat dengan Brill, ya siapa sih cewek di sekolah yang tidak menginginkan itu.
"Tante sendiri, Kepala Bagian Humas dan Protokol di kantor ibu... panggil tante Ine saja..."
Tante Ine itu sekarang bersikap manis, sangat bertolak belakang dengan sikap sebelumnya.
Brill cenderung untuk tidak peduli, terlebih jika menyinggung jabatan sang mami dan apa yang berbau kantor bupati, di otaknya selalu muncul rasa antipati. Karenanya Brill membuang muka tak ingin menyambut keramahan wanita di depannya sekarang. Terlebih sikap kasar wanita itu sebelum ini, membuat Brill sinis terhadap keramahannya sekarang.
"Brill? Kamu di sini nak?"
__ADS_1
Ibu bupati yang sedang keliling menyapa warga lansianya bersama semua keluarga yang turut datang, berfoto bersama banyak orang sejak tadi, kini sampai di tenda bagian paling ujung ini. Di sini memang agak sepi, pada umumnya orang ramai berkumpul di tenda utama.
"Ibu..."
Tante Ine bersikap hormat kepada atasannya, dibalas keramahan sang ibu bupati, dia terkenal dengan sikap down to earth di mata masyarakat, semua warga selalu disapa dengan ramah.
Brill melihat dengan sinis saat maminya menyapa sambil memberi rangkulan singkat pada oma di kursi roda, dia juga tak menggubris sapaan maminya tadi.
"Oma sehat?"
Ibu bupati masih belum melepaskan jabatan tangannya pada oma Betsy, masih menepuk-nepuk tangan keriput itu sambil melempar senyum hangat.
"Saya sehat bu, karena anugrah Tuhan..."
"Umur berapa sekarang oma?"
"Mami saya 75 tahun bu..."
Tante Ine sekarang yang menjawab.
"Oh... ini mami ibu Ineke ternyata..."
"Iya bu..."
Ibu pejabat eselon III di lingkungan kantor bupati itu sekarang mengambil alih menjelaskan kondisi maminya pada atasannya.
"Sudah berapa lama di kursi roda?"
"Sudah dua tahun ini, bu..."
"Apa tidak bisa dioperasi lagi?"
"Dokter tidak menyarankan itu karena kondisi cedera mami, mami juga ada hipertensi dan diabetes, makanya menyulitkan untuk sembuh... selain itu karena kadar estrogen sudah menurun, dan kondisi osteoporosis juga, bu... "
"Oh begitu, itu isu yang bagus tentang para lansia, catat pernyataan saya... keluarga lansia itu harus peduli pada orang tuanya, jangan sampai orang lanjut usia itu jatuh, karena ternyata sulit untuk pulih seperti sedia kala... keluarga harus ekstra care pada orang tuanya..."
"Baik bu..."
Tante Ineke yang seringkali menjadi penyampai suara ibu bupati mengambil ponselnya dan mengetikkan pernyataan bupati. Karena biasanya jika seperti itu, berarti ibu bupati tidak bersedia diwawancara langsung kalau ada pewarta atau media yang meliput kegiatan bupati. Itu juga berarti dia harus mengembangkan sendiri pernyataan singkat ibu bupati sesuai dengan aturan yang sudah ada.
"Oma... sabar ya, terlebih ada anak oma yang peduli... anak oma bekerja dengan baik untuk saya, saya yakin dia juga mengurus oma dengan baik..."
"Terima kasih bu..."
Oma Betsy menjawab singkat, tidak mungkin dia mempermalukan anaknya di hadapan atasannya maka oma memilih tidak menanggapi kalimat ibu bupati. Dia tidak pernah merasakan tangan anaknya yang bungsu ini merawat dirinya, beda dengan dua kakaknya. Si bungsu punya perilaku berbeda, ambisius dan egois... terlalu dimanjakan almarhum suaminya saat kecil hingga remaja, jadinya seperti sekarang, kurang mempedulikan dirinya.
Ibu bupati hendak berpindah, tapi matanya melihat anaknya masih berdiri di sana. Ibu bupati datang merangkul anak semata wayang.
"Mami senang, kamu keluar dan mau menyapa orang-orang.. itu artinya kamu peduli lansia juga nak... anak mami anak baik..."
Brill hanya menggerutu dalam hati...
Dan mami hanya baik untuk masyarakat tapi bukan mami yang baik untukku...
"Brill satu sekolah dengan anak saya bu... ini anak saya Manda..."
Tante Ineke mengambil kesempatan memperkenalkan anaknya, siapa tahu ada kesempatan untuk jadi besan... ahha... Tante Ine menarik tangan Manda untuk berjabat tangan dengan ibu terhormat. Manda dengan senang bahkan antusias mendekati ibu bupati.
"Oh begitu... Brill ternyata datang menyapa temannya ya..."
Ibu bupati menyambut tangan Manda.
"Bu... boleh selfie dengan Manda?"
Secepatnya Manda memanfaatkan moment.
"Oh boleh... boleh... kamu ternyata teman Brill..."
Ingin Brill menyanggah tapi dia sedang dalam mode anak berbakti, dia hanya menjauh dari maminya, tidak ingin dirinya ikut difoto.
"Mmm bisa dengan Brill juga?"
Manda jadi kepedean meminta satu kesempatan lagi, jika bisa satu frame dengan bu bupati sekaligus Brill, pamornya di sekolah langsung naik pasti... bakal populer dia kan...
"Brill?"
Ibu bupati mengulurkan tangan meminta Brill mendekat. Brill tersenyum tapi matanya menyorot tajam pada maminya. Ibu bupati tahu arti pandangan itu, dia juga paham sikap anak gadis remaja di sampingnya seperti apa.
"Mungkin lain kali, Manda... Brill memang tidak suka difoto sejak masih kecil... Dengan ibu pun dia jarang mau berfoto... kecuali secara sembunyi-sembunyi..."
"Oh gak apa-apa bu..."
Walau kecewa Manda menganggukkan kepalanya.
Ibu bupati merangkul Brill lagi, dia tahu banyak orang yang sedang mengabadikan dirinya dan Brill dari jauh.
"Mam... mami belum menyapa Rilly, dia temanku..."
__ADS_1
Entah kenapa Brill tiba-tiba ingin mengenalkan Rilly pada sang mami. Dia juga heran dengan spontanitasnya barusan, dan mengakui punya seorang teman, ini membuat diri sendiri kaget.
Dia temanku?
Brill mengkonfirmasi sendiri dalam hati ucapannya barusan.
Rilly masih menunduk, berjumpa orang terhormat saja sudah sebuah kesempatan yang luar biasa, apalagi sekarang dikenalkan sebagai teman oleh Brill.
Benarkah kami berdua teman?
Rilly membatin, memikirkan dalam hal mana sehingga mereka bisa disebut berteman.
"Ril... salaman dengan mamiku..."
Brill mendekati kursi Rilly dan menyentuh lengan gadis itu sekilas. Mau tidak mau Rilly berdiri dan mendekati ibu bupati, mengulurkan tangannya dengan sopan untuk berjabat tangan dengan ibu terhormat.
"Saya Brillianty bu..."
Oh yaa... itu namanya... Brillianty, benar-benar mirip, namaku itu jadi bagian di namanya, heh lucu ya.
Brill bersorak dalam hati karena menemukan informasi yang dia gali sejak tadi di memorinya.
"Rilly teman sekalasku mam... kami berdua duduk paling belakang..."
Brill senyum kecil, bahkan dia ingat hal yang lain tentang Rilly.
Ibu bupati sedikit mengernyit tapi tak kentara, senyum ramah sudah jadi ekspresi paten di wajahnya setiap bertemu anggota masyarakat. Dia menangkap sesuatu dari mimik anaknya yang biasanya minim ekspresi selain topeng keramahannya.
"Ini anggota keluarga ibu Ineke juga?"
"Rilly anakku bu..."
Oma Betsy yang menjawab.
"Ehh dia anak pungut mami, bu... ditelantarkan orang tua dan mami yang mengurus dia sejak bayi..."
Tante Ineke segera menyambung jawaban oma Betsy.
"Oh begitu... tapi kenapa tidak ikut operasi gratis untuk bibir sumbing, seingat saya ada program dinas kesehatan kita..."
"Ada bu... kami juga bisa melakukan secara mandiri, tapi Rilly yang tidak mau bu... dia takut operasi..."
Aku takut operasi?
Rilly membatin, tidak pernah ada tawaran itu. Dia hanya menunduk sambil mundur berapa langkah menjauhi ibu bupati. Ekor matanya menangkap Brill sedang memperhatikan dirinya.
"Mam... mami aja yang biayai operasi Rilly... boleh kan?"
Otak Brill bekerja di luar pakemnya, ide itu tiba-tiba muncul di otaknya dan segera tercetus dari bibirnya. Bu bupati bertatapan dengan Brill, menemukan kesungguhan dalam permintaan itu, selain itu Brill selama ini tidak peduli dengan orang lain. Jangankan orang lain, Brill banyak kali menunjukkan tidak peduli dengan dirinya sebagai mami apalagi papinya. Tapi kali ini... si gadis sumbing bisa memunculkan suatu kebaikan hati dalam diri Brill.
"Wah anakku memang baik... kepedulianmu tinggi nak... mami senang... baiklah, mami setuju."
Ibu bupati melambaikan tangan pada salah satu sespri yang setia mengikuti di mana ibu bupati berjalan.
"Iya bu..."
"Atur untuk kegiatan sosial saya bulan ke depan, saya akan biayai operasi sumbing untuk seratus orang di kabupaten ini, atur mekanismenya..."
"Baik bu..."
"Masukkan Rilly di daftar pertama, dia teman Brill..."
"Bu... terima kasih banyak..."
Oma Betsy berterima kasih dengan airmata berlinang.
"Ini tugas saya untuk membantu rakyat saya... Rilly, jangan takut operasi... itu bisa memperbaiki penampilanmu..."
"Terima kasih banyak bu..."
Rilly menunduk hormat pada sang bupati, dibalas dengan tepukan di bahunya.
"Maaf bu... saya ambil foto ibu dengan Rilly, untuk publikasi kegiatan sosial ini..."
Ibu bupati memperbaiki sikapnya, sespri pun mengatur posisi Rilly di samping lalu bersiap mengambil foto.
Sesaat kemudian ibu bupati berpindah ke area lain, masih banyak warga yang harus disapa.
"Makasih... Brill"
Lirih suara Rilly saat bicara dengan Brill. Brill mengangkat sedikit sudut bibirnya. Tapi dirinya mulai tidak nyaman, karena melihat serombongan orang yang mulai berani mendekat, nampaknya moment tadi telah menarik perhatian banyak orang.
"Iya... ketemu di sekolah ya?"
Brill segera berlalu meninggalkan Rilly yang masih surprise dengan kejadian barusan. Dia menatap punggung Brill sampai sosok itu menghilang masuk ke dalam rumah. Hatinya menghangat dengan kalimat yang ditinggalkan Brill... apakah itu berarti mereka memang berteman sekarang?
.
__ADS_1
🌿
.