
“Memang bukan Holly… dia hanya, entahlah… aku juga gak ngerti kenapa aku bisa ngotot bersikap seperti orang bodoh yang mengejar dia…”
“Hah? Lalu siapa?” Tory sedikitnya heran mendengar pernyataan Brill yang seperti bertolak belakang dengan apa yang dia tunjukkan.
“Itu Rilly…” Brill menjawab sendu. Dia ternyata bukan cowok yang mudah mendapatkan cinta.
“Kenapa gak mengejar Rilly dari dulu? Kenapa justru ngotot mengejar Holly, itu aneh boss…”
Brill hanya mengangkat bahu. Dia juga gak mengerti kenapa terhadap Holly dia begitu agresif tapi pada Rilly tidak. Mungkin dia terlalu terbawa dengan sikap lembut dan menyenangkan seorang Rilly? Terbawa dengan chemistry masing-masing yang begitu nyambung sampai dia lupa hal yang penting untuk mereka berdua? Ingatan tentang Rilly membuat Brill mencari Rilly lagi di akun medsos Rilly.
Brill tiba-tiba menegakkan cara duduknya, memperhatikan dengan seksama postingan Rilly... ada foto tempat yang sama seperti beberapa bulan yang lalu, tempat kenangan mereka. Gak ada caption kangen tapi ada foto lain merupakan foto tulisan di pasir hitam pantai itu yang dia kenali… 13 121 11. Otak Brill terstimuli oleh tulisan itu, itu namanya, dia yakin itu, walaupun hanya berupa deretan angka, memang difoto dari jarak yang jauh tapi tulisan kecil di sana bisa terbaca oleh mata Brill.
Otaknya segera menyambungkan dua postingan yang berbeda beberapa bulan… Rilly kangen padanya kah? Brill tersentak dengan kesimpulan itu, dan dia harus membuktikan konklusi itu dengan menemui Rilly.
Brill berdiri sekarang dan bergegas meninggalkan ruang kuliahnya, dia harus berjumpa Rilly, kali ini dia gak akan peduli dengan apapun.
“Boss… kuliah mau mulai loh… mau ke mana?” Seruan Tory gak digubris oleh Brill.
Brill mencari kira-kira di gedung mana Rilly kuliah sekarang, lalu terburu-buru mengarahkan kakinya ke sana. Dia ingat beberapa waktu yang lalu dari arah gedung mana Rilly datang lalu berdiri di depan mobilnya. Brill tersenyum mengingat Rilly yang menuliskan angka mirip dengan plat nomor salah satu mobilnya.
Di gedung itu dia menanyakan pada beberapa orang tentang Rilly dan menemukan seseorang yang mengenal cewek itu.
“Rilly barusan ke kantin bersama Tama, mungkin makan siang di sana.”
Brill berlari ke arah kantin FEKON, hatinya bergemuruh, keinginan untuk kembali menggapai Rilly seolah membuat darahnya berpacu deras ke arah jantung dan otaknya. Di dalam kantin gak terlalu banyak orang, dengan cepat Brili memindai orang-orang dan matanya segera merekam Rilly sedang duduk berhadapan dengan seorang cowok yang dikenalinya sebagai teman Rilly. Cowok itu sedang makan, Rilly justru sedang menatap laptopnya.
Gak hitung beberapa detik Brill sudah ada di samping Rilly.
“Rilly…”
Rilly menoleh, wajah terkejut sesaat tapi kemudian tersenyum lembut pada Brill.
“Hai Brill… pa kabar?” Rilly berkata di antara senyumnya.
Hati mengisyaratkan rasa yang dia miliki untuk Brill belum berakhir. Dan kemunculan Brill kali ini membuat Rilly membuat keputusan, bersama Brill masih lebih baik untuk hatinya walau bukan kekasih tapi bisa selalu melihat Brill itu cukup untuknya, dia gak ingin menjauh lagi.
“Masih ada kuliah?” Brill justru bertanya, hatinya berdebar dengan rasa senang dan rasa rindu dan rasa tak sabar untuk bertanya tentang tulisan itu, bukan hanya itu, banyak yang ingin dia lakukan pada Rilly sekarang. Tiba-tiba hatinya begitu penuh.
“Udah gak ada Brill… tapi Rilly mau buat tugas kelompok…”
Tanpa bertanya Brill menutup laptop Rilly memasukkan dalam tas, juga mengambil tas selempang milik Rilly, memegang dengan satu tangan kedua benda itu lalu tangan yang satu meraih tangan Rilly.
“Ikut aku…” Pendek saja tapi tatapannya mengunci pandangan Rilly.
__ADS_1
“Brill? Rilly lagi bersama teman mau buat tugas…” Rilly tersenyum lagi, dalam hati Rilly tahu ucapan itu gak akan ditanggapi Brill, salah satu sikap Brill yang selalu datang tiba-tiba dan seperti mengambil paksa dirinya dari antara teman-temannya kali ini terulang. Hati Rilly senang sebenarnya, dan tak ingin menolak Brill yang seperti ini.
“Nanti aku antar lagi ke sini, ikut dulu… ya?” Brill berkata lembut sambil menarik Rilly untuk berjalan.
Rilly hanya mengangkat tangan pada Tama yang memandang dengan wajah tak suka kebersamaannya dengan Rilly beberapa kali diganggu cowok FISIP anak walikota ini, dan Rilly gak pernah protes, Rilly selalu memperlakukan cowok itu dengan lebih baik padahal sangat terlihat cowok ini pemaksa dan terlalu percaya diri cuek pada sekelilingnya.
Sepanjang perjalanan menuju parkiran FISIP yang lumayan jauh jaraknya, Brill gak melepaskan genggaman tangannya pada jemari Rilly, kedua hanya beberapa kali saling melirik dan saling senyum, begitu menikmati perasaan indah yang melingkupi jiwa.
"Brill, mana tas Rilly... Rilly aja yang bawa..." Rilly meraih tas yang dipegang Brill.
"Gak, aku yang bawa..." Brill malah menyampirkan dua tas itu di bahunya lalu meraih tangan Rilly lagi.
"Brill lucu kayak gitu... Diliatin orang loh..."
"Biarin, aku suka..." Brill tersenyum, ya sekarang dia bisa tersenyum hatinya otw ingin segera melakukan sesuatu.
"Hehehe..." Rilly tertawa lembut.
Di dalam mobil, Brill hanya menghidupkan mesin supaya AC bisa dihidupkan.
“Kita mau ke mana kali ini Brill?” Rilly memasang seatbeltnya mengatasi semua rasa yang mulai tumbuh lagi dengan indah di dalam hati. Selalu hal ini terjadi dan dia bisa menepisnya, tapi kali ini rasa hadir begitu cepat menguasai seluruh aliran darah dan seluruh isi otaknya karena seseorang yang menyebabkan itu duduk begitu dekat dengannya.
“Kita gak ke mana-mana Ril… aku mau protes…” Brill berkata dengan nada merajuk. Tiba-tiba rasa nyaman menguasai seluruh bilik hatinya sehingga gak ada rasa canggung berhadapan dengan Rilly hanya ada rasa ingin mengutarakan seluruh rindu saja sekarang.
“Karena kamu melarang aku kangen waktu itu… padahal kamu juga kangen aku kan?”
“Ehh?” Rilly kehilangan kosa katanya langsung ditodong Brill seperti ini.
“Kangen itu nyiksa banget Rill… jangan ngelarang aku lagi ya? Setahun lebih loh aku menahan ini… untung aku melihat postingan kamu…” Lega rasanya bisa bilang apa yang ada di hati.
“Postingan apa?” Rilly berdebar, gak sanggup menatap Brill sekarang, tatapan mata itu menyiratkan sesuatu.
“Ini…. Ini namaku kan?” Brill menunjukkan postingan Rilly.
Rilly jengah, malu rasanya Brill melihat itu dan bisa mengetahui itu tentang dia. Padahal dia beberapa kali meyakinkan bahwa tak akan ada yang tahu tulisan apa itu hanya deretan angka kan, justru orangnya langsung yang menyadari itu.
“Ehh… itu… kenapa maksudnya apa hubungannya eh kenapa Brill bilang Rilly… Rilly kangen?” Kalimat yang kacau diucapkan Rilly dan berakhir dengan suara yang begitu rendah.
“Ini…” Brill menunjukkan foto yang ada caption ‘kangen’.
“Ini tempat kenangan kita berdua, Rilly, aku yakin postingan ini tentang kita, tentang aku… jadi jangan menolak lagi ya kalau aku bilang kangen… itu tentang perasaanku untukmu, Rill… aku gak bisa menyingkirkan nama kamu dari hatiku, dari pikiranku… jadi… aku ingin kita kembali seperti dulu, bahkan lebih dari yang dulu… aku gak mau kita hanya temenan Ril… aku mau kita jadi pasangan… mau ya?”
Brill mengatakan apa yang dia harus katakan, lahir begitu saja karena dorongan yang kuat dari hati yang penuh cinta. Brill meraih tangan Rilly. Sementara Rilly hampir gak percaya, Brill tidak ada basa-basi apapun saat bertemu langsung tancap gas nembak dia.
__ADS_1
Jadi selama ini Brill suka padanya, perlakuannya bukan hanya ke teman aja? Hal ini membuat Rilly seperti menari di atas awan, perasaannya melambung ke sana. Rilly hanya menatap Brill, dan hati yang telah dikuasai keindahan membuat bahagia mulai mengalir penuh ke seluruh bagian hatinya.
“Rilly… terima aku ya? Jangan gak…”
Perkataan Brill membuat Rilly tertawa…
“Brill maksa Rilly dong… hehehe.”
“Iya… gak mau ditolak… mau kan?”
Tatapan Brill yang dalam, bertemu keinginan Rilly yang sama, membuat kepala Rilly mengangguk. Brill tertawa saat melihat anggukan itu… ahh plonggggg banget.
“Kenapa gak dari dulu sih Ril? Kita udah lama saling suka kan…”
“Brill dong yang salah… kenapa gak nembak Rilly dari dulu…” Rilly menjawab dengan senyum yang semakin indah.
Sebuah pelukan akhirnya berani dilakukan Brill, akhirnya dia bertemu gadis yang menjadi miliknya. Bukankah sebenarnya sejak awal bertemu mereka sudah terhubung… indahnya cinta…
"Aku cinta kamu Rilly, kamu cinta di hati sejak awal kita ketemu..."
Brill mengatakan dengan sepenuh hati, dia menyadari sekarang sejak awal perasaannya terhadap Rilly bukan perasaan biasa, itu cinta pada pandangan pertama.
Mendengar pernyataan Brill membuat hati Rilly mau meledak, ini gak pernah dia duga akan terjadi dalam hidupnya, cowok yang duduk di sebelahnya saat SMA dulu di deretan paling belakang, yang gak pernah melihat padanya sekali saja... sekarang menyatakan sebuah kalimat terindah untuk dirinya. Emosi membuat Rilly menangis, airmata bahagia menetes di pipi.
Brill merenggangkan pelukan...
"Hei... Kamu nangis? Kenapa?" Brill mengusap airmata di wajah Rilly.
"Gak papa kok... Rilly terlalu bahagia... itu alasannya." Rilly memandangi Brill, mereka begitu dekat sekarang, perasaan hepi ini gak terjabarkan lagi. Dua tangan Rilly juga menyentuh lengan Brill. Brill tersenyum sementara tangan masih mengusap pipi Rilly, ahh... begini bahagianya ternyata saat mengungkapkan rasa sayang...
"Boleh cium gak?" Brill segera lanjut, berpindah begitu cepat ke tingkat berikutnya.
"Kenapa masih nanya?" Rilly menjawab lembut, malu sebenarnya tapi dia juga menginginkan Brill.
Dua hati yang menyatu gak tertahankan untuk melakukan lebih dan lebih terhadap pasangannya. Ayooo Brill gaskeun....
.
.
Ketahan sistem lagi udah beberapa jam, ya semlm ngantuk gak baca ulang isi ceritanya. Pagi baru ngelit blm rilis, edit lagi, gak tahu terbit jam brp hari ini. Walau berulang kali terjadi, kadang keasyikan suka lupa rambu2 apalagi jika ngejar sblm jam dua belas mlm biar rilisnya terhitung tgl hari itu. Bolak2 melihat ceritaku udah terbit apa belum.... Kapaaaan terbitnya? 🥴🙃
.
__ADS_1