
"Mi... ikut aku sekarang ya? Aku gak percaya lagi sama Ine... dia banyak bohong sama aku dan Irma soal mami..."
"Mami gak suka tinggal di tanah orang Sye... mami udah deket liang kubur... mami mau dimakamkan di samping papi kalian..."
"Mi... mami masih akan berumur panjang, aku yakin... urusan nanti aja soal kubur soal makam, ya? Aku pasti melakukan sesuai keinginan mami, yang penting sekarang selagi mami sehat aku punya kesempatan merawat mami... ya mi? Lagian di Jakarta Irma bisa lebih leluasa berjumpa mami, kalau libur dia bisa datang dari Medan... Jakarta-Medan udah gak jauh..."
"Tapi, Rilly gimana? Kasihan dia... mami gak mau tinggalin dia di sini, dia jadi pembantu buat Ine, mami gak mau... dia anak mami juga... kasihan dia terpaksa berhenti sekolah karena mami..."
"Ine memang keterlaluan... Oke, Rilly ikut kita juga... nanti dia terusin sekolah di Jakarta aja... Ando dan Oyen udah punya rumah sendiri juga... jadi mami nanti punya teman kalau di rumah... gimana mi, ikut ya?"
"Tunggu... kasih kesempatan mami berpikir lagi..."
"Mami kebanyakan berpikir deh, aku udah dua minggu di sini, mi... pekerjaanku gimana? Udah banyak banget urusanku yang tertunda... mi, putuskan sekarang aja..."
"Baiklah... mami ikut, biar Rilly bisa sekolah... Dia juga harus kuliah Isye..."
"Iya... Mami lebih sayang Rilly deh kayaknya, demi Rilly mau ikut aku..."
"Mami sayang kalian semua, termasuk Ine biarpun dia banyak mengecewakan mami... Rilly itu adikmu juga Isye, sayangi dia juga..."
"Iya mi... nanti kita operasi bibirnya juga kalau udah di Jakarta..."
.
🌿
.
Perang besar sedang terjadi di ruang tengah. Tante Isye sampai di puncak kemarahannya saat mengetahui ternyata telah tiga aset berharga milik oma Betsy yang dijual adiknya Ine. Rilly tidak berani keluar kamar, karena namanya diungkit-diungkit disalah-salahkan oleh tante Ine.
"Sye, kamu datang ke rumah Om Oswald untuk apa? Kamu mengancam mereka?"
"Siapa yang mengancam? Aku menjelaskan penjualan itu tidak sah, harus ada tanda tangan aku dan Irma, karena sertipikatnya atas nama mami... mereka paham kok, mereka mau mengembalikan kebun dan sertipikatnya, mereka gak ingin berhadapan di pengadilan, mereka ngerti mami masih hidup... Om Enos juga mau minta pengembalian uang..."
"Aku gak akan kembalikan uangnya, udah ada surat jual-belinya, enak aja..."
"Kamu itu pejabat publik tapi bodoh? Kamu tahu hukum gak sih? Kamu jual aset mami tanpa sepengetahuan mami, tanpa persetujuan anak-anak yang lain... kamu pikir kamu akan menang kalau aku bawa ke pengadilan? Dasar serakah! Otak gak mikir asal bisa pegang uang banyak!"
"Aku yang urus mami, aku berhak menjual milik mami..."
"Mengurus apa? Aku udah dapet banyak informasi ya... kamu gak bisa membantah ini, banyak yang bilang kamu gak pernah mengurus mami, ada Ann pembantu kamu dulu, suster Anti, tetangga-tetangga, ada pengurus Lansia mereka semua mengatakan hal yang sama... kalau Rilly mau ngomong jujur, pasti dia pun akan bilang hal yang sama... mau gantiin diapers kamu jijik, mana pernah kamu mandiin mami. Kamu pikir aku di sini dua minggu gak pakai mata? Anak-anakmu sama gak ada yang peduli dengan mami, ya mereka ikut kelakuanmu!"
"Aku kerja, sibuk, aku punya jabatan... wajar dong aku pakai orang untuk ngurus mami..."
"Alasan... memang kamu gak punya hati... aku akan bawa mami... tapi... kalian sekeluarga keluar dari rumah ini... kamu tidak punya hak apa-apa lagi atas harta mami, kamu sudah ambil punyamu sendiri, dan itu cukup!"
"Ini milik mami, aku punya hak di sini!"
"Yang kamu jual itu, dua kebun yang berharga untuk mami, toko mami, aku juga punya hak di situ? Apa kamu pernah meminta pendapatku sebelum menjualnya? Aku tahu ya... uang kirimanku sama Irma kamu yang pake... enak banget... Itu hasil kopra kebun mami mana pernah mami terima? Kamu keterlaluan sama mami... tamak makanya gak punya hati... Pantas kamu sekeluarga liburan ke Singapura, liburan ke Jepang... ternyata duit orang semua..."
"Jangan asal menuduh, aku juga punya pekerjaan, suamiku punya usaha..."
"Aku bisa menghitung besaran gajimu, emang dapat berapa sebulan usaha suamimu? Usaha cuma buat pencitraan doang, orang lain yang kerja..."
"Jangan menghina orang, mentang-mentang kaya terus punya usaha bagus, paling-paling pinjaman di mana-mana..."
"Hei... apa jangan-jangan kamu iri aku lebih kaya darimu? Jadi mau bersaing denganku? Beli mobil setengah milyar, apa gak memberatkan gajimu cicilannya? Pantas uang mami kamu embat!"
__ADS_1
"Siapa yang iri? Sombong amat, sekaya apa sih kamu?"
"Oh? Bukannya udah lihat sendiri, udah nikmati uang dariku juga? Ke Jakarta nginap di salah satu apartemenku, mobilku? Pulang-pergi aku yang bayarin tiketnya? Apalagi? Liburan sekeluarga ke Bali... apa mau kusebut lagi satu-satu?"
"Kalau aku tahu kamu ungkit-ungkit pemberianmu, kebaikanmu aku gak sudi, Sye... gak sudi..."
"Aku gak akan melakukannya kalau kamu gak keterlaluan seperti ini... Kamu terlalu egois, sangat egois, sampai hak mami pun kamu ambil... demi gaya hidupmu..."
"Gak usah urusin hidup orang!"
"Ya... ya... aku gak akan urusin gaya hidupmu, aku di sini untuk mengurus mami... aku gak mau lagi mami tinggal di sini, kamu memanfaatkan mami. Dua kebun mami sudah aku kontrakkan ke orang, aku tak perlu persetujuanmu karena itu hak mami, mami yang terima uangnya. Dan kalau kamu gak mau urusan penjualan aset jadi panjang, tinggalkan rumah ini..."
Tante Isye memerah wajahnya, dan tak bisa dibendung lagi kata-katanya.
"Pilih Ine... mau mengembalikan uang penjualan kebun dan toko mami atau tinggalkan rumah ini... aku kasih waktu kamu sebulan, aku dan Irma udah sepakat tentang ini... besok mami aku bawa ke Manado, aku udah punya pengacara untuk pembagian sisa harta mami... jangan menuntut apapun lagi, kamu telah menikmati lebih banyak dari harta mami dibanding aku dan Irma..."
"Sebenarnya kamu yang tamak, katanya kaya ternyata masih menginginkan harta mami..."
"Hei... aku kaya karena kerja keras, ingat... tidak ada satu aset mami yang aku jual buat modal usahaku, tidak ada! Dan sebagai anak aku juga berhak atas harta orang tua... dan lagi, aku anak tertua, aku yang urus mami, mami sudah setuju tentang itu, aku juga berhak mengatur semua peninggalan mami dan papi..."
"Jangan merasa berhak mengatur hanya karena kamu anak tertua, Sye... hargai anak mami yang lain..."
"Haha... apa kamu menghargai aku dan Irma sebelum ini? Aku juga marah soal Rilly, Ine... kamu perlakukan dia seperti babu, dia adik angkat kita... kamu benar-benar keterlaluan Ine..."
"Bahas anak itu lagi? Anak tak tahu diuntung... kalian nuduh aku menggunakan uang mami, kamu gak tahu aja siapa dia sekarang, dia gak jujur..."
"Oh... apa kamu pikir aku gak punya otak untuk melihat siapa yang jujur dan gak jujur? Katanya udah sewa suster untuk mami, mana? Ternyata cuma Rilly yang menjaga mami. Aku sampai di sini, aku prihatin lihat kondisi mami, lihat semua persediaan kebutuhan mami yang seadanya, itu yang kamu bilang mengurus mami? Udahlah jangan banyak omong kamu... lebih baik cari tempat tinggal mulai dari sekarang... Irma akan datang besok... kamu hadepin dia saja kalau kamu bisa... aku masih baik sama kamu, tapi Irma... dia gak akan kompromi, Ine..."
.
🌿
.
Brill mengetuk pintu, sebelumnya ada bell di pintu rumah, nampaknya sudah dilepaskan. Beberapa kali mengetuk akhirnya pintu terbuka, seorang lelaki muda sedang mengendong seorang anak, muncul di sana.
"Selamat sore..."
Brill menyapa, menjaga tata kramanya.
"Sore... mmm Brill kan?"
Ya semua orang hafal dengan wajahnya, sudah sering gambar dirinya ikut menghiasi baliho-baliho kampanye mami dan papinya.
"Iya..."
Pria muda itu tersenyum lalu membuka pintu lebih lebar.
"Cari siapa ya?"
"Saya cari Rilly... ada?"
"Oh... Rilly... wah... Rilly udah gak tinggal di sini lagi..."
"Ehh? Maksudnya?"
"Rilly pindah ke Jakarta..."
__ADS_1
Brill terdiam, kalimat singkat itu menghentak hatinya. Dia baru mau memulai suatu hubungan, baru menemukan seseorang yang membuatnya nyaman, baru juga sekali mereka menikmati waktu bersama, ternyata dia harus kehilangan begitu cepat. Brill menyesali mengapa dia tidak datang lagi dan lagi sesudah moment di pantai waktu itu.
"Brill?"
"Ehh? Oh gitu ya... sejak kapan?"
"Udah seminggu lebih..."
"Jadi... udah tinggal di Jakarta? Gak bakal balik ke sini?"
"Kata tanteku gitu..."
"Tante? Tante yang mana?"
"Tante Isye..."
"Yang badannya agak besar tapi tinggi, atau?"
"Iya... pernah bertemu?"
"Iya... oma juga ikut pindah?"
"Iya... mereka berdua ikut tante Isye sekarang..."
"Boleh tahu, ini siapanya?"
"Saya Benyamin, saya ponakan tante Isye..."
"Anaknya tante yang PNS?"
"Oh bukan... mami saya tante Irma bukan tante Ine... tante Ine udah gak tinggal di sini..."
Otak Brill malas merekam nama orang tapi dia ingin memastikan banyak hal sekarang, terutama tentang siapa yang bisa dia mintakan informasi tentang Rilly.
"Mmm Ben... Benyamin kan? Bisa minta nomor hpnya Rilly..."
"Kayaknya Rilly belum punya hp deh..."
"Oh... ada nomor lain yang bisa saya hubungi?"
"Saya kasih nomor oma deh... biasanya Rilly juga yang pegang itu..."
Brill mengambil hpnya, Benyamin menyebutkan deretan angka yang segera diketikkan Brill ke hpnya. Harapan muncul lagi... dia masih bisa bertemu Rilly.
Di mobil...
Sambil menunggu panggilan tersambung ke nomor oma Betsy Brill ngomong ke om Markus.
"Om, besok kita ke Jakarta..."
"Hah?? Ngapain?"
Brill tidak menjawab, dia fokus menunggu panggilannya diangkat, katanya Hp ini dipegang Rilly kan...
.
🎸
__ADS_1
.