
“Brill… bangun… ada sepupumu menunggu di bawah…”
Om Markus pelayan setia cowok itu membangunkan anak asuhnya. Brill yang memang sudah niat mau bangun tapi mendengar kalimat om Markus batal bangkit dari tempat tidur, dia malas bertemu sepupunya, dia tahu kenapa mereka datang ke sini.
“Ini libur om… jangan gangguin aku dong…”
“Ada sepupumu Jeremy sama adiknya siapa ya namanya… eh Joel.”
Brill membuka mata sejenak dengan mengangkat sedikit kepalanya, tapi kemudian…
“Males ahh…”
Brill hanya mengubah posisinya, menyerudukkan kepalanya di bawah bantal yang besar dan empuk. Dia sebenarnya baru aja mau bangkit dari tempat tidur sebelum om Markus masuk ke kamarnya.
“Ya ampun, nih anak… kalau kamu anakku udah om tarik dari tempat tidur.”
“Ya udah, besok kita ke pengadilan kita ganti akte kelahiran, jadiin aku anak om aja…”
Suara Brill seperti mendengung karena berbicara dari balik bantal.
“Sembarangan, memangnya semudah itu, om bisa dipecat ibu sama bapak.”
“Bagus om, kita keluar dari sini, pulang kampung… om katanya mo buat usaha, aku bantuin…”
“Astaga, nih anak coba melawan takdirnya sendiri, udah baik banget Tuhan sama kamu, ditaruh Tuhan lahir di tengah keluarga yang sangat baik, sangat kaya, sangat populer, sangat berpendidikan, pemimpin terhormat di provinsi ini, kamu malah mau memilih hidup sebagai rakyat jelata… kamu pikir bersama om hidupmu akan seenak ini?"
“Keluarga apa? Jangan terlalu menyanjung keluarga ini, om udah tau banyak keburukan keluarga ini.”
“Itu yang om tahu kok…”
“Ini keluarga yang paling buruk om, aku bosan dengan hidupku di tengah keluarga ini, bosan jadi anak papi-mami, mereka gak peduli sama anak sendiri, om paham itu, makanya aku jadi anak om aja…”
Om Markus hanya menghela napas. Anak lelaki bertubuh kekar ini memang belum dewasa, pikirannya hanya berputar-putar pada arus kehidupan ini setiap hari, selalu menyalahkan mami-papinya.
Memang sejak bapak James Ratulangi terpilih jadi Walikota Manado dan ibu Inggrid Dessire Gontha terpilih jadi anggota Dewan provinsi ini, kesibukan mereka tiada akhir. Mereka tinggal di rumah dinas walikota yang ada di kelurahan Bumi Beringin. Sebulan ini saja hanya sekali ibu datang melihat Brill.
Brill, anak mereka semakin besar dan sekarang punya kemauan yang tidak lagi bisa ditolak kedua orang tuanya, memilih tinggal di rumah mereka di kelurahan WInangun ini, dan oma Susan tetap tinggal di rumahnya di Amurang, jadi otomatis om Markus inilah yang setiap hari harus menghadapi kelakuan manja berjenis keras kepala dan susah diatur milik Brill Timothy Ratulangi.
Om Markus memilih tidak menanggapi keluhan basi Brill soal mami-papinya. Hanya berharap setelah semakin bertambah umur dan bertambah pengalaman hidup dia akan paham mengapa orang tuanya seolah ‘menelantarkan’ dirinya seperti bahasa yang sering Brill gunakan.
“Makanya biar hidupmu gak membosankan, kamu sendiri yang harus keluar dari keadaanmu.”
“Keadaanku?”
“Iya…”
“Memang kenapa dengan keadaanku?”
“Kamu tidak puas dengan dirimu karena selalu mengasihani diri sendiri yang menjadi anak yang tidak dipedulikan orang tua. Di Amerika anak umur lima tahun sudah hidup sendiri, membuat sarapan sendiri, ke sekolah sendiri, pulang ke rumah bermain sendiri. Kamu sudah sebesar ini semua diurusin om sama tante Rina.”
Brill bangun sekarang, duduk di sisi tempat tidur dengan menjuntaikan kakinya di lantai.
“Om bosan mengurusku?”
__ADS_1
Eh? Pikiran anak ini memang masih terlalu kerdil. Tapi om Markus mengikuti arus pemikiran anak asuhnya.
“Iya…”
“Om gak sayang aku lagi? Om mau berhenti?”
Suara jadi melankolis, om Markus jadi tidak tahan melihat penampakan wajah sedih di depannya. Serasa jadi melihat seorang anak yang hidupnya tidak punya pegangan selain padanya, serasa melihat anak sendiri jadinya. Om Markus tertawa, cowok berusia sembilan belas tahun di luar sana bahkan ada yang sudah menikah dan jadi tulang punggung keluarga, cowok yang ada di hadapannya seperti seorang anak yang baru lulus Sekolah Dasar.
“Hahaha… udah sebesar ini gak bisa menalar, makanya kuliah yang bener biar jadi pintar dikit, IPnya 1,76, astaga… bisa viral deh anak walikota IPnya jongkok, di Korea Jungkook seumuran kamu sudah menghasilkan jutaan dolar…”
“Apa sih om gak ada hubungannya... Jungkook itu penyanyi, jongkok kan… eh… tapi om menghinaku ya?”
“Hehehe… siapa yang menghina, itu kenyataan dirimu Brill…”
“Om kasar ahh, udah gak sayang aku kan? Ternyata aku gak berharga juga di mata om…”
“Ya astaga Brill… segede gini punya hati sekecil kacang, siapa yang gak sayang kamu sih? Semua orang sayang kamu tau gak… kamu yang gak menyayangi diri sendiri. Dan lagi kamu yang membuat dirimu gak berharga… ihh bosan om nasehatin kamu, mental semua… udah ah… terserah kamu mau ngapain, hidup hidup kamu sendiri, om udah gak mau peduli mulai sekarang.”
Om Markus meninggalkan kamar anak asuhnya. Brill menyugar rambut gondrongnya, sekarang udah kayak anak perempuan, panjang udah melewati bahunya.
“Om… jangan gitu dong…”
Om Markus terus berjalan, sesekali anak asuh ini baru akan keluar dari kamar dan beraktivitas selayaknya orang normal jika diancam-ancam, dan nampaknya anak asuhnya tidak menyadari trik om Markus ini.
“Om… ahh…”
Brill mengejar om Markus, dan menahan bahu om Markus sebelum mencapai pintu.
“Udah, tidur lagi sana… om gak akan gangguin kamu lagi… udah besar juga, udah bisa ngurus diri sendiri…”
“Om mau pulang? Om mau ninggalin aku? Aku ngerepotin om ya? Aku bikin om susah? Maaf om…”
Deretan pertanyaan Brill menyentuh rasa di hati om Markus. Om Markus menyimpan senyum sekaligus perasaan ironi untuk hidupnya sendiri, anaknya sendiri jika dia menjenguk saat dia pamit seperti tidak masalah saat akan ditinggalkan.
“Menurutmu?”
“Ya maaf… kan udah minta maaf om…”
“Maaf aja gak berguna buat om, dengerin om mulai sekarang, kamu yang harus berubah biar ada gunanya om di sini buat kamu…”
“Iya… iya… asal om sama tante jangan pergi ya?”
Hehehe... Siapa yang akan pergi meninggalkan gaji dan fasilitas yang sangat-sangat lumayan?
“Iya… tapi janji ya, kuliah yang bener, oke? Kamu harus mengulang banyak mata kuliah loh di semester tiga ini…”
“Iya om… iya… apalagi?”
“Jangan tidur melulu, seharian kerjaannya tidur aja…”
“Terus aku ngapain?”
Astaga, masih saja bertanya mau apa? Benar-benar Brill kehilangan tujuan dan arti hidupnya sendiri, gak punya antusiasme tentang hidup, terlalu apatis. Cowok dengan semua pesona fisiknya untuk para gadis sejagat raya tidak menyadari bahwa hidupnya sangat memadai punya talenta yang sangat baik dalam bermusik dan bernyanyi dengan kehidupan bergelimang uang.
__ADS_1
Semua cowok seumurannya ingin ada di posisinya, sementara dia mengubur dirinya sendiri dalam kubangan pengasihan diri hanya karena tidak diperhatikan orang tua dalam versinya, padahal dia sendiri juga yang menolak semua cara berkomunikasi dengan orang tuanya.
“Sekarang… mandi, temuin Jere sama Joel, kasihan mereka udah nunggu lama loh… oma Susan yang menyuruh mereka menjemput kamu… ada acara ulang tahun bapak Gubernur, hari ini khusus keluarga aja...”
“Ahh, aku malas ikut acara keluarga om, aku suka dibanding-bandingin sama semua sepupu aku… gak ahh…”
Nilai penghargaan diri Brill sangat rendah, soal prestasi sekolah dia memang bukan apa-apa dibandingkan para sepupunya, bertemu mereka membuat dia merasa sangat kecil dan tak berharga.
“Brill… katanya mau dengerin om…”
“Tapi… mereka orang-orang pintar, sekolah di luar negeri, aku apa? Om bilang IQ aku jongkok tadi…”
“IPmu yang om bilang jongkok bukan IQmu…”
“Sama aja…”
“Beda dong Brill, kalau IQmu jongkok kamu gak bisa menguasai dan memainkan semua alat musik.”
“Tetap aja aku lebih bodoh dari mereka…”
“Itu karena kamu malas belajar bukan karena kamu bodoh. Mungkin mereka pintar, tapi mereka gak punya suara sebagus kamu, gak bisa memainkan alat musik seperti kamu…”
“Joel bisa main drum kok, dia less juga dulu bareng aku… ”
“Tapi gak sebagus kamu… percaya om deh… semua orang dikaruniai bakat dan kemampuan yang berbeda, kamu gak punya yang mereka punya, tapi kamu memiliki yang mereka tidak miliki… udah ah…"
Om Markus beranjak.
"Om..."
Brill masih enggan melakukan sesuatu.
"Terserah kamu loh... kamu harus berubah kalau mau om tetap di sini."
"Om ihh... gak asik."
"Biarin, om udah malas sama kamu, ganteng-ganteng gak punya kemauan untuk apapun..."
"Om..."
Om Markus brrbalik dan memberikan tatapan tajam yang mengancam.
"Ihh... iya... iya..."
"Mandi bersiap sekarang… jangan lama ya…”
Om Markus segera berlalu dari lantai dua rumah ini, sudah biasa dan sudah bisa menakhlukkan watak Brill yang menjadi anak yang keras kepala dan sukar diatur sekaligus gak bisa membangun kepercayaan pada diri sendiri.
.
.
🐳
__ADS_1
.