Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 6. Sekedar Hadir


__ADS_3

πŸͺ§ Tindakan selalu lebih keras berbicara dari pada kata-kata...


Mobil milik Brill adalah mobil yang dilengkapi dengan sistem atau fitur keselamatan terbaik dengan standar keselamatan yang tinggi saat tabrakan atau kecelakaan. Brill sebenarnya sudah bisa pulang, tapi permintaan ibu bupati supaya anaknya dipantau lagi satu hari, membuat Brill harus menginap di rumah sakit.


Di kamar terbaik rumah sakit ini... Mami papinya datang setelah Brilll melewati semua pemeriksaan dan sudah beristirahat nyaman di kamar itu. Mereka menjenguk untuk memastikan keadaan anak mereka.


"Syukurlah Ully tidak apa-apa... mami khawatir tadi... mami takut terjadi apa-apa padamu Ully... anak kesayangan mami papi... syukur kamu gak apa-apa..."


Ibu Inggrid mengusap tangan anaknya sejenak. Brill hanya melirik lalu melengos tak ingin bersitatap dengan sang mami. Kadang-kadang kata-kata mami begitu manis, tapi itu tidak menyentuh hati Brill, seperti mendengarkan ocehan tukang obat, hatinya yang sudah lama sakit tak bisa diobati dengan kata-kata tanpa makna.


"Setelah ini kamu tidak boleh bawa mobil sendiri... untung mobilnya tidak apa-apa..."


Sang mami masih lanjut. Batin Brill meradang, maminya masih sempat memikirkan mobil. Dia memang hanya menabrak pembatas di jalan pinggir pantai, mobilnya naik dan dengan satu bola depan mengantung di tanggul. Dia masih sempat menarik rem sehingga mobil tidak masuk terjun ke pantai.


"Untung kamu tidak menabrak orang atau kendaraan milik orang, bisa panjang urusannya... nanti nama mami terbawa-bawa..."


Rasa marah menyeruak lagi sekarang, orang tuanya lebih memikirkan hal lain ketimbang menanyakan keadaannya, menanyakan perasaannya. Dia ingin maminya menanyakan apa yang dia rasakan, apa yang dia pikirkan. Apa karena terlalu lama ada di posisi ini, sehingga orang tuanya kehilangan kepekaan terhadap hal yang paling mendasar sebagai orang tua?


Tidak ada perhatian dan cinta di balik kata-kata mereka kini, berapa lama itu hilang dari mereka? Brill tak bisa mengingat kapan benar-benar dia merasakan ada cinta dalam sentuhan dan kata-kata orang tuanya. Perasaan sedih muncul membuat sudut matanya basah. Brill mengubah posisinya berbaring membelakangi maminya.


"Mami dan papi pulang dulu... masih ada acara yang harus mami hadiri malam ini... Pi... ayo, papi harus dampingi mami loh... Pak Gubernur bakal hadir... papi diundang juga kan..."


Papi, si pak James Ratulangi mengakhiri panggilan telponnya lalu datang mendekati ranjang rumah sakit berdiri di samping istri.


"Jangan ulangi lagi Brill... besok-besok kamu kecelakaan bisa-bisa fatal, nyawamu tidak tertolong... hari ini kamu bernasib mujur, tidak terjadi apa-apa... kamu bisa kursus menyetir, dapatkan SIM supaya tahu cara mengendarai dengan baik, kamu harus jadi anak muda yang selalu memberi contoh yang baik, hidup kamu harus berdampak Brill..."


Ini apa lagi yang papi katakan?


Sang papi mengutarakan statement seperti di depan konstituennya saja gaya bicaranya, tidak terkesan sedang berbicara pada anak satu-satunya.


"Dia belum bisa bawa mobil dulu pi... ada Markus juga, biar Markus yang mengantar dia ke mana-mana... takut dia kecelakaan lagi kalau bawa sendiri..."


"Mungkin itu lebih baik, aku kecelakaan lagi dan mampus, biar kalian gak punya anak yang menyusahkan."


Brill menjawab tanpa membalikkan badan dengan suara sarat dengan emosi, kemarahan yang bercampur kesedihan.


"Brill! Kenapa bicara seperti itu?"


"Itu kan yang ada dalam pikiran mami? Aku anak yang menyusahkan, kehadiranku hanya mengganggu hidup kalian, menghalangi ambisi kalian, menjadi noda pada citra kalian... begitu kan!?!?"


"Brill... jangan kurang ajar sama mami!"

__ADS_1


Brill tidak menjawab lagi. Tubuhnya sudah membaik dari shock karena kecelakaan, tapi tiba-tiba kepalanya menjadi pusing mendengar kalimat-kalimat dari orang tuanya. Brill berdiri dari tempat tidur, merasa pusing sekarang tapi dia tidak mempedulikan itu, dia ingin pulang, di sini dia hanya dijaga om Markus dan istri pastinya. Oma tadi setelah memastikan keadaannya sudah pulang diantar sopir. Brill membutuhkan omanya.


"Mau ke mana Brill?"


Tak ada sahutan. Brill hanya mengambil ponsel miliknya lalu berjalan meninggalkan orang tuanya.


"Anak ini, semakin lama semakin mami tidak mengerti jalan pikiranmu... tambah besar tambah kurang ajar!"


Brill sakit mendengarkan kesimpulan maminya, hatinya lebih sakit karena kalimat mami benar adanya, fakta tentang orang tuanya yang tidak bisa mengerti dirinya.


Brill membuka pintu sehingga sang mami tidak meneruskan ocehannya, ada para asisten pribadi mereka berdiri di luar, termasuk patwal yang ada berjaga di mana pun maminya pergi.


Dengan tertunduk Brill berjalan melewati para bawahan orang tuanya. Sikap hormat mereka padanya tidak dia hiraukan.


Orang tua yang hadir tapi sekedar hadir, bukan karena benar-benar peduli padanya, itu menyakitkan, berkata sayang tapi tindakan tidak menunjukkan itu, dia mencari sesuatu dari orang tuanya, sesuatu yang sudah lama hilang... tapi dalam keadaan di mana dia mengharapkan apa yang paling dia butuhkan dari orang tuanya bisa dia dapatkan malam ini... ternyata sebaliknya.


"Nak Brill..."


Om Markus menjejeri langkah Brill.


"Nak Brill mau ke mana?"


"Pulang om... ke rumah oma..."


"Eh... nak Brill harus nginap semalam, masih harus dipantau dokter katanya..."


"Dokter sendiri bilangnya aku gak papa... kita pulang."


Sejauh ini hanya om Markus dan istrinya yang mengurus dia dengan baik, mengawal dia dengan setia, dan terutama bisa mengerti dirinya, sungguh suatu ironi om Markus notabe orang luar, tak ada kaitan darah dengannya.


"Ibu mungkin marah nak..."


Brill diam, tapi tidak menghentikan langkahnya. Akhirnya om Markus menelpon istrinya yang masih berdiri di depan kamar rawat Brill tadi.


πŸ“±


"Rina... Bereskan barang nak Brill, kamu pulang bareng Nino aja..."


.


Om Markus mengambil inisiatif mengantarkan sekarang anak asuhnya yang terlihat sedang tidak baik, dia bisa mengerti hanya dengan melihat raut wajah boss kecilnya. Istrinya biar diantarkan sopir lain yang ikut ke rumah sakit tadi sore.

__ADS_1


Sesaat sebelum masuk lift, mata om Markus sempat menangkap rombongan orang tua Brill berjalan di belakang mereka ikut meninggalkan rumah sakit. Ponselnya berbunyi, dari sespri bu bupati.


.


πŸ“±


"Ya..."


"Ibu minta bawa Brill ke rumah dinas..."


"Nak Brill mau pulang ke rumah oma Susan katanya..."


.


Diam sesaat, mungkin sedang mengkonfirmasi pada bu bupati, lalu...


"Ibu mengijinkan..."


"Baiklah... terima kasih.


.


"Ibu mengijinkan nak Brill pulang ke rumah oma..."


Om Markus mnyampaikan isi pembicaraan dengan sespri bu Inggrid. Brill hanya mengeluarkan seringai sinis di salah satu sudut bibirnya.


Mau ke rumah oma sekarang perlu ijin?


Brill menghembuskan kasar satu tarikan napasnya, seperti mengeluarkan emosi jiwanya yang masih kental. Hubungan dengan orangtuanya semakin lama semakin buruk


.


πŸͺ


.


Hiii... πŸ˜„


lv u guyss


.

__ADS_1


__ADS_2