
Di suatu sore, di hari minggu, tante Isye baru saja pulang dari sebuah acara. Setelah membersihkan diri tante duduk santai di halaman belakang yang tidak terlalu luas tapi telah dibuat menjadi sebuah taman kering yang apik dan asri. Om Armando belum pulang.
“Rill, minta suster Dina bawa oma keluar dari kamar, tante pengen ngobrol sama oma tapi di luar sini aja…”
“Baik tante…”
Rilly masuk ke kamar oma. Oma sedang duduk di tempat tidur. Dengan perawatan yang baik dan juga perhatian dan kasih sayang, oma Betsy terlihat lebih sehat sekarang ternyata tubuh tua itu masih bisa pulih padahal sebelumnya lama sekali tidak berdaya dan harus dibantu sepenuhnya oleh orang lain, tidak ada yang mustahil di bawah langit ini. Meskipun belum bisa berjalan tapi oma sudah mampu bangkit untuk duduk sendiri di tempat tidurnya.
“Isye sudah pulang?”
Oma Betsy segera bertanya saat melihat wajah tersenyum Rilly.
“Sudah oma… oma diminta tante untuk ke teras belakang… kak Dina sini bantuin pindahin oma ke kursi roda…”
Tugas dua orang yang sehari-hari merawat oma Betsy, itu tidak lagi sulit untuk mereka, terlebih oma sudah mulai bisa bertumpu di kakinya walau masih harus bertopang pada mereka berdua.
“Sepertinya gak lama lagi... oma bisa berjalan lagi, loh…”
Rilly merapihkan baju oma sebelum mendorong kursi roda keluar kamar.
“Oma berharap dan berdoa untuk hal itu Rilly, dan Tuhan masih sayang oma, syukur sekali oma bisa punya kekuatan lagi padahal kata dokter mustahil oma bisa sembuh, ini benar-benar kemurahanNya buat oma…”
“Iya oma… itu luar biasa…”
Rilly mendorong oma perlahan.
“Titip oma ya Rill, aku mau mandi…”
Suster Dina berkata sesaat sebelum dia membukakan pintu kamar.
“Silahkan kak Dina… setelah kak Dina selesai giliran Rilly yang mandi…”
“Oke…”
Di luar, tante Isye sedang menerima telpon. Rilly membawa oma sesuai arah telunjuk tante Isye yang menginginkan posisi kursi roda oma Betsy lebih dekat ke arahnya. Walau masih berbicara tangan tante Isye yang lain segera menyambut oma Betsy, mengatur bagian atas baju oma yang agak melorot karena kebesaran.
Tante ternyata sedang berbicara dengan anak lelakinya. Tak lama sesudah itu…
“Ando meminta tinggal di sini lagi…”
Tante Isye membuka percakapan entah dengan oma atau Rilly, Rilly sudah duduk di sebuah kursi yang tidak begitu jauh dengan tante Isye, dia tetap duduk di situ karena memikirkan mungkin sewaktu-waktu oma perlu diambilkan sesuatu.
“Baguslah, dia belum menikah, sebaiknya tinggal di rumah ini biar ada yang mengurus dia…”
Oma Betsy menjawab.
“Tidak masalah buat dia jika tinggal sendiri Mi… dia bisa mengurus dirinya sendiri… yang jadi masalah kita tidak punya kamar lebih, kamar di rumah ini hanya lima, semua sudah dipergunakan.”
“Kamar Oyen kosong, di kamar Oyen saja, Is…”
“Oyen setiap minggu datang bersama anak-anak kan, bahkan kalau Ruben ke luar kota atau ke luar negeri mereka pasti ke sini… Armando sih sudah terlanjur cinta rumah ini, jadinya dia malas untuk pindah ke rumah yang lebih luas… Ando juga gak tau kenapa tiba-tiba menyewakan apartemen miliknya… dulu merengek-rengek minta dibelikan apartemen, sekarang malah pengen balik ke sini...”
“Biarkan saja Isye… suatu saat setelah menikah, dia pasti akan kembali memilih tinggal bersama keluarganya saja seperti Oyen…”
“Iya… aku sebenarnya tidak keberatan kok mi, hanya memikirkan soal kamarnya aja…”
__ADS_1
“Ruang tamu kalian terlalu besar, begitu juga garasi… kenapa membongkar kamar lain di bawah sini…”
“Itulah mi, pertimbangan kita karena anak-anak sudah punya tempat sendiri dan mobil Armando bertambah, kadang ada acara kita pengen punya ruangan yang lebih lega untuk itu… sementara ruangan-ruangan di atas udah sayang untuk dirombak lagi…”
“Sepertinya ruang keluarga di atas tidak terlalu sering digunakan, buat kamar aja sebagian, itu luas kayaknya dan memungkinan untuk dibuat satu kamar lagi…”
Oma masih mengingat tata ruang di lantai atas sekalipun tidak pernah lagi naik ke atas sejak kedatangannya karena kondisinya.
“Mungkin gak bisa mi, anak-anak kalau ke sini tidak punya tempat bermain, di atas doang yang ruangannya lega untuk mereka lari-larian…”
“Tante… Rilly pindah ke kamar oma aja… atau ke kamar mbak Atun dan mbak Eta, biar kak Ando bisa menempati kamar kak Ando lagi…”
“Ehh… jangan… jangan begitu, kamar oma kecil hanya 3x3 mana bisa nambah tempat tidur lagi… dan masa kamu tidur di kamar pembantu sih, tante gak ijinin Rilly…”
“Gak papa kok, tante… kadang Rilly suka tidur di kamar oma juga bareng kak Dina… gak perlu nambah tempat tidur kok…”
“Aduh… itu sempit dong, gak nyaman… udah gak papa kamu tetap di kamarmu itu, itu udah jadi kamarmu bukan kamar Ando lagi…”
“Tapi tante… gak ada kamar lain lagi kan, kasihan kan kalau kak Ando tidurnya di luar lagi… setiap ke sini kak Ando tidurnya di sofa…”
“Tidak apa-apa, dia anak lelaki… biarkan saja nanti dia mau tidur di mana terserah dia, dia udah tahu kan kondisi sekarang… aneh juga dia, apa dia kepepet butuh duit banyak ya? Selama ini kalau perlu uang dia tinggal minta aja… katanya apartemennya dia sewakan dua tahun… ah aku lupa tanya tadi alasan dia…”
“Tante… Rilly gak papa kalau pindah ke kamar oma, kayaknya masih bisa nambah kasur kecil kalau mejanya dikeluarin, seperti itu aja tante… Rilly nyaman kok…”
“Gak boleh Ril, barang-barang kamu di bawa ke kamar oma tambah sempit kamarnya…”
“Nanti pakaian dan buku Rilly simpan di ruang laundry…”
“Kita lihat nanti ya? Ando kayaknya gak maksa juga untuk menggunakan kamarnya lagi, dia gak keberatan kok kamu menggunakan kamarnya… kita tanya dia aja nanti.”
“Eh iya Ril, kamu mau lanjut kuliah di mana? Sudah kamu pikirkan? Sebentar lagi lulus kan?”
“Hahh?? Itu… itu belum Rilly pikirkan, tante… Rilly gak tahu apa pengen kuliah juga…”
“Ehh… itu harus, itu salah satu permintaan mami loh… bener kan mi?”
“Iya Ril… oma pengen kamu berubah nasibnya… oma pengen Rilly pulang kampung dengan membawa keberhasilan,”
Oma menjawab sambil meraih tangan Rilly.
Rilly diam, dia memang tidak pernah berpikir untuk melanjutkan pendidikannya, dia sudah sangat bersyukur dirinya ada di titik ini, sebentar lagi bisa menamatkan SMAnya yang telah tertunda setahun. Tidak ada cita-cita yang dipikirkannya, bukan tidak menginginkan apa-apa tapi dirinya menjadi begitu keras mengeliminer semua hal tentang keinginannya karena dia sadar penuh siapa dirinya, bahwa setiap detik hidupnya karena menerima kebaikan dan belas kasihan orang lain, tak ingin memperberat beban orang lain untuknya.
“Rill… kamu harus kuliah…”
“Tapi tante… denger-denger biaya kuliah itu mahal… Rilly gak ingin jadi beban tante Isye terus-menerus, tante udah mengeluarkan banyak biaya untuk Rilly, udah dua kali operasi bibir Rilly. Rilly udah cukup bisa sekolah sampai SMA kok...”
“Aduh Rill… gak boleh berpikir seperti itu, gak boleh berpikir rendah untuk dirimu, kamu tidak pernah jadi beban loh untuk tante… kamu salah satu anak mami, nah anak mami harus punya pendidikan yang baik, uang tante lebih dari cukup untuk membiayai kuliahmu… tante udah janji sama mami untuk membiayai kuliahmu, jadi tante harus tepati janji tante.”
Rilly diam. Dia tidak pernah lupa tentang om Armando, hingga kini om Armando konsisten dengan sikapnya yang tidak ramah pada Rilly, jika dipikir-pikir om itu memang tidak banyak cakap atau pun berinteraksi dengan orang lain selain dengan istri dan anak-anak serta cucunya saja. Dengan oma Betsy pun sangat jarang terlibat obrolan. Tapi tetap saja, kalimat om Armando di awal dia ada di rumah ini melekat di memorinya.
“Ril… apa kamu kuliah di Manado aja? Mami merengek-rengek minta pulang apalagi waktu tahu tante Irma ditugaskan di Manado… mami senang sekali… ya kan mi…”
“Iya… mami sudah rindu kampung halaman, mami senang di sini tapi ini bukan kampung mami, Isye... Dan Tuhan mengabulkan permintaan mami.”
“Tapi oma makin sehat di sini kan…”
__ADS_1
Rilly menyambung perkataan oma Betsy.
“Iya memang… justru karena oma makin sehat makanya oma justru jadi semakin ingin pulang ke kampung.”
“Tapi oma, rumah oma di Amurang, kalau Rilly kuliah berarti Rilly tinggal di Manado… gak ada yang menemani oma…”
“Ada Irma…”
“Tante Irma harus kerja kan oma…”
“Iya juga sih, tante Irma nanti akan menjabat wakapolres Tomohon…”
Tante Isye menyambung di sementara itu berpikir tentang mami yang sudah sering meminta untuk pulang dan Rilly yang belum punya keinginan lain tentang hidupnya, hal ini yang membuat tante Isye terikat secara emosional dengan Rilly. Rasa kasihan yang berkembang jadi rasa sayang karena dia tahu Rilly selalu berusaha untuk menjaga sikapnya, dia tahu selama ini bagaimana Rilly berusaha untuk tidak macam-macam, terlalu penurut bahkan. Dia kadang merasa kasihan anak ini terlalu keras dengan dirinya sendiri.
“Berarti beda kota tante, dengan jabatan itu pasti tante Irma sangat sibuk.”
"Tapi oma sudah pengen pulang, Rilly... kamu ikut oma pulang dan kamu harus lanjutin sekolah ya? Isye... atur bagaimana caranya pokoknya mami mesti pulang. Ada Ben di rumah mami kan... bawa suster Dina juga... Mami berdoa supaya mami lebih sehat jadi mami tidak akan membuat kamu khawatir tentang mami..."
Oma Betsy menganut prinsip hujan emas di negeri orang tidak dapat memberi kebahagiaan untuknya, tetap saja ingatan untuk kampung halaman membuat dia selalu ingin pulang.
"Nanti aku bicarain dengan Irma lagi mi, siapa tahu dia bisa tinggal di rumah kita, toch Tomohon dan Amurang hanya satu jam perjalanan. Aku baru bisa tenang membiarkan mami pulang jika Irma bisa ada bersama mami. Aku masih khawatir soal Ine, Mi. Dia pasti punya banyak cara untuk tinggal lagi di rumah, dia masih mengontrak, dia takut mengganggu Benyamin tapi kalau ada mami dia pasti berani..."
"Dia juga adikmu Isye, jangan terlalu keras padanya."
"Aku gak suka dia menelantarkan mami, mengambil banyak keuntungan dari mami... kalau dia berubah aku akan maafkan dia."
"Tapi ingat dia adikmu..."
"Iya Mi, gak mungkin aku lupa. Hanya memberi dia sedikit pelajaran supaya tidak seenaknya menguasai aset keluarga."
"Iya... tapi kalian harus berbaikan lagi..."
"Iya, nanti..."
Suster Dina datang mendekat dengan tampilan rapih pertanda sudah selesai mandi.
"Tante, oma... Rilly mau mandi..."
"Iya. Mulai cari tahu mau kuliah di fakultas apa ya? Cari tahu jurusan yang kamu sukai di Universitas Sam Ratulangi."
"Ehh?? Iya tante..."
Universitas Sam Ratulangi
Teringat Brill Ratulangi
Saat mengingat nama itu dada Rilly sedikit sakit, rasa suka yang terhalang keadaan, dan dia pernah memimpikan cowok itu, di mimpinya Brill sedang berjalan dengan cewek yang lain...
.
Hi...
Aby sakit tiga hari ini, makanya gak update...
Makasih sdh membaca cerita Aby
__ADS_1
.