Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 26. Tak Ingin Menyusahkan


__ADS_3

Sebuah percakapan di ruang makan di malam yang sudah sangat larut... tante Isye dan om Armando punya kebiasaan ini hampir setiap malam, duduk menyeruput teh panas buatan tante Isye lalu duduk ngobrol banyak hal berdua sambil menanti kantuk datang.


"Dia bukan anak kita Honey... kenapa harus disekolahkan di sekolah itu, biayanya mahal loh..."


"Iya tahu... tapi sekolah itu dekat dari sini..."


"Diongkosi sekolah sama segala macemnya terus orangnya tidak serius sekolah, harusnya masuk di sekolah biasa saja."


"Mudah-mudahan gak seperti itu."


"Kasih tahu dia harus serius sekolah... kamu juga jangan terlalu royal buat dia."


"Gak apa-apa lah dia udah seperti adik buatku..."


"Dari umurnya... anak-anak kita lebih tua, masa adik..."


"Mami selalu bilang itu anak mami, dari bayi sudah diurus mami... mmm jadi anak pun gak masalah toch anak kita cuma dua, sudah punya usaha sendiri, tidak ada pengeluaran rutin untuk mereka lagi kan..."


"Memang tidak ada, tapi sekali mereka minta bikin kita pusing..."


"Maklum sajalah, usaha mereka belum cukup stabil... sudah jadi kewajiban kita mendukung mereka sampai mereka mapan..."


"Tapi pikirkan dengan baik, jangan buang uang percuma sekolahin anak orang, jangan seperti Sendy... buang uang begitu banyak malah bikin kita susah saja..."


"Rilly beda kok perangainya sama Sendy... Sendy sudah kelihatan memang punya sifat tidak baik... tapi aku hutang budi sama bu Dewi makanya tidak bisa menolak permintaannya mengurus anaknya..."


"Dia tidak mengganggu Ando lagi kan?"


"Gak tahu sih... Tapi sepertinya Ando juga susah move on..."


"Dia gampang sekali memaafkan, dikecewakan berkali-kali masih aja mau menerima anak licik itu, jangan lengah Is... selalu ingatkan Ando..."


"Iya... Honey... iya..."


"Wanti-wanti juga sama siapa namanya anak itu... jangan jadinya menggoda Ando juga..."


"Rilly namanya Hon... gak mungkinlah... anaknya baik, polos, rajin..."


"Kesan awal iya... kamu belum tahu kan seperti apa anak itu..."


"Aku bisa lihat Honey... beda sama Sendy, dari awal aku bisa melihat dia munafik anaknya, pintar membuat orang jatuh hati..."


"Kenapa mau aja dititipin malah nyusahin akhirnya..."


"Bu Dewi mohon-mohon sebelum meninggal, aku takut gak menjalankan amanah orang yang aku hormati..."


"Sekarang di mana anak itu... jangan sampai dia balik lagi ke sini loh, aku tidak ijinkan lagi..."


"Eh... ada... di rumah neneknya..."

__ADS_1


"Aku tidak mau dia muncul lagi di sini, jangan lagi berurusan dengannya."


"Tapi dia belum selesai kuliah..."


"Cukup Honey... cukup... kamu sudah selesaikan tugas kamu untuknya, dia yang tidak memanfaatkan kesempatannya, cukup kita ditipu berkali-kali sama Sendy... aku tidak ijinkan lagi kamu mengurus anak itu..."


Tante Isye menatap suaminya yang sangat tegas sekarang, mengingat juga anak laki-lakinya yang jadi korban kelakuan manis Sendy.


"Aku minta kamu waspada supaya tidak ditipu Rilly juga..."


"Kenapa kamu bawaannya curiga sama Rilly sejak awal ngomong soal dia..."


"Aku tidak mau kejadian Sendy terulang... banyak anak-anak sekarang rasa tanggung jawabnya kurang, gaya hidup hedon tidak mau susah, tidak bisa diatur, tidak tahu terima kasih..."


"Tergantung kan... anak-anak kita gak seperti itu kan..."


"Iya... Rilly bukan anak kita..."


Tante Isye menatap serius pada suami yang tengah menyeruput sisa teh di gelas tinggi miliknya.


"Honey... gimana kalau Rilly kita angkat anak aja?"


Om Armando meletakkan gelas sambil mendelik kesal.


"Jangan gegabah... itu bukan hal sederhana... jangan naif... aku tidak setuju."


"Hon..."


"Aku kasihan... dia butuh itu, kan penampilannya jadi lebih baik, jadi cantik loh... masih ada sekali lagi biar bekasnya gak kelihatan..."


"Dari kasihan bisa kebablasan... awas kamu mengeluh nanti..."


Om Armando meninggalkan ruang makan masuk ke kamarnya. Tante Isye masih duduk di sana, hatinya telah memikirkan ini sejak masih di Manado, memperjelas status Rilly sebab tidak ada status secara hukum keterkaitan Rilly dengan maminya. Tapi tadi suaminya tidak menyetujui soal itu.


Di tangga, Rilly sejak tadi duduk di sana, mendengarkan semua pembicaraan tentang dirinya. Ternyata tidak semua orang di rumah ini yang menyambut dirinya dengan hati terbuka. Hatinya menjadi kecut, beberapa kali dia melepaskan napas sesaknya, merasa malu dirinya ternyata menyusahkan orang lain. Ingin rasanya berhenti sekolah saja, tapi mendengar percakapan tadi dia bisa menyimpulkan bahwa sudah banyak biaya yang dikeluarkan untuknya.


Rilly menunggu sejenak, pasti sebentar lagi tante Isye akan menyusul suaminya ke kamar. Rilly menajamkan pendengarannya memperhatikan semua suara dan bunyi, juga menunggu lampu ruang makan dimatikan, setelah itu pasti tante Isye akan masuk kamar.


Sambil menunggu Rilly bertekad dalam hati untuk memanfaatkan waktu dan kesempatan emas buatnya melanjutkan SMA, meskipun harus mengulang di kelas duabelas dia sangat bersyukur dari pada tidak sama sekali. Walaupun di sekolah dia mengalami banyak kesulitan dalam menyesuaikan diri, dia harus berupaya mengatasi kesulitannya.


Sekarang dia tidak mengharapkan lagi untuk kuliah, semua impiannya setelah SMA lenyap seketika. Di sini pun hidup lebih baik memang tapi tetap saja dia tak dapat melepaskan tekanan yang menghimpit hatinya, dan hanya bisa menyimpan di hati setiap resah dan gundah yang menghampiri.


Lampu ruang makan sudah mati, tersisa cahaya lampu kecil di sebuah lampu standing di pojok ruang makan yang menjadi sumber cahaya. Rilly melangkah perlahan tanpa suara setelah terdengar bunyi pintu kamar utama tertutup. Rilly hendak mengambil buku pelajarannya yang tertinggal di kamar oma Betsy saat membuat tugasnya sesudah makan malam sambil menemani oma Betsy.


"Rilly, belum tidur?"


"Belum oma... Rilly mau mengambil buku, takut kelupaan besok..."


Oma Betsy sedang membaca buku suci miliknya. Si perawat, Dina, sementara memijit kaki oma sambil terkantuk-kantuk. Rilly kasihan, oma sepanjang hari diurus sendirian sama Dina.

__ADS_1


"Kak Din... biar Rilly yang pijit oma, kak Dina tidur aja..."


"Oh iya Ril... makasih ya, kebetulan aku ngantuk banget..."


Dina menarik tempat tidur di bawah lalu segera merebahkan dirinya. Rilly duduk di dekat kaki oma Betsy dan mulai memijit.


"Kaki kanan oma saja, Ril..."


"Iya..."


Rilly melakukan dengan sepenuh hati, cintanya pada oma Betsy satu-satunya hal yang berharga. Limpahan kasih sayang oma Betsy padanya pun satu-satunya yang menjadi kekuatannya untuk bertahan.


"Lima belas menit saja... setelah itu kamu tidur, besok kamu harus sekolah, nanti kamu mengantuk di kelas karena kurang tidur."


"Iya oma..."


Selama lima belas menit tak ada suara di dalam kamar itu, sesekali Dina mengeluarkan dengkuran halus. Oma Betsy pun akhirnya tertidur. Rilly melihat jam di meja kecil, lagi sepuluh menit jam sebelas, Rilly berniat untuk menyudahi pijitannya di saat yang sama pintu kamar terbuka.


"Ril? Ngapain? Pijit mami?"


"Iya tan..."


"Kenapa kamu yang lakukan itu, itu tugas Dina..."


"Gak apa-apa tan, ini kerjaan Rilly tiap malam..."


Tante Isye tersenyum samar. Pantas saja Rilly disayang sang mami, dia begitu memperhatikan semua hal tentang sang mami, kepedulian yang tidak dibuat-buat. Sekalipun sudah ada perawat khusus untuk sang mami tapi anak ini tetap selalu ada inisiatif untuk melakukan sesuatu.


"Mami udah tidur?"


"Baru aja tan..."


"Ya udah... kamu tidur juga..."


"Iya tan..."


Tante Isye keluar dari kamar, Rilly menyusul kemudian. Di kamarnya hpnya sedang menyala, ada panggilan masuk. Rilly tahu itu siapa. Sengaja dia tidak menghidupkan data selulernya sejak kemarin, dan Brill menghubungi nomornya dengan panggilan telpon biasa.


Rilly tahu sejak kemarin Brill sudah ada di Jakarta, jika Brill memang jujur bahwa kedatangannya ke Jakarta sengaja untuk bertemu Rilly, itu sesuatu yang luar biasa.


Percakapan om Armando dan tante Isye tadi membuat dia semakin yakin untuk tidak menemui Brill.


.


🌻


.


Hi...

__ADS_1


Sabar menanti... yang terbaik akan datang ...


.


__ADS_2