Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 51. B 121 LL


__ADS_3

Rilly tersenyum saat dibukakan pintu oleh salah satu security di gerbang rumah Giveel. Pak security hanya membalas dengan anggukan.


Rilly menginjak gas lagi dan mobil hanya melaju perlahan memasuki halaman rumah luas milik sahabatnya, hari ini dia boleh menggunakan mobil tante Isye. Rilly memilih berhenti di belakang salah satu mobil milik tuan rumah yang terparkir di bagian entrance rumah yang memiliki pilar-pilar besar.


“Ril…” Giveel langsung menyapa dengan senyuman menghiasi wajahnya saat Rilly masuk ke dalam rumah. Giveel sudah menunggu kedatangan Rilly.


“Kenapa sih kamu harus pulang ke Manado?” Bibir Giveel manyun saat mengucapkan kalimat itu. Kedatangan Rilly ke rumah ini untuk berpamitan padanya.


“Kuliahku sudah onsite sekarang Veel… gak mungkin aku gak ke kampus, lagian omaku udah kangen kampung halamannya.” Rilly tersenyum lembut.


“Ya… aku gak punya teman lagi tau gak…” Giveel masih meneruskan rajukannya.


“Kamu juga harus ke Amrik kan Veel, sama aja, ” ucap Rilly sambil berhenti.


“Masih lama, dua minggu lagi baru aku berangkat,” sahut Giveel dengan suara manjanya.


Giveel menarik tangan Rilly, mereka naik ke atas dan langsung masuk ke kamar Giveel yang sangat luas dan mewah, seperti kamar putri-putri raja.


“Ya udah, masih ada waktu, ikut aku pulang aja, kan kamu kangen oma Manado, ” Rilly berkata sambil duduk di atas karpet tebal berwarna lilac di depan tempat tidur sangat besar milik Giveel. Kamar ini didominasi warna lilac.


“Kangen banget, udah lama gak ketemu, tapi oma Vero gak ngijinin aku ke sana, oma Vero minta oma Melissa yang datang ke sini, jadinya besok Oma Melissa sama opa Didi datang deh… padahal aku pengen ikut kamu sebenernya…”


“Liburan mendatang aja, kamu pulang Indo atur planning ke Manado juga, oke?”


“Iya deh… tapi aku masih kesel sama kamu dan kakak Muel…”


“Hahaha…” Rilly tertawa melihat tampang kesal yang sangat jelas di wajah sahabatnya.

__ADS_1


“Kan gak ada yang bisa mengatur kepada siapa kita akan jatuh cinta, Veel… cinta itu datangnya gak kita duga kan…”


“Dan sayangnya cinta itu gak ada di hati kalian… sebel deh sama alasan kompak kalian… kenapa kalian gak coba jalan aja dulu, lama-lama pasti bisa saling jatuh cinta, biar keinginanku terwujud, kamu jadi kakak iparku…”


“Gimana dong, kakakmu udah punya seseorang di hatinya…”


“Ahhh… dan kamu punya seseorang yang kamu sayang, begitu kan…”


“Iya…” Rilly menjawab sendu.


Pernah bertekad melupakan Brill, tapi setelah lama mengkaji hatinya, dia menemukan bahwa posisi Brill tak mungkin tergantikan, entah kenapa hatinya seolah gak mengijinkan nama Brill keluar dari sana. Kak Ando sedang coba mendekatinya tetapi dengan tegas dia menolak, ada alasan yang tepat bahwa mereka sudah digariskan untuk menjadi keluarga, itu aja. Rilly selalu ingat tuduhan om Armando, dan juga kebaikan dan perhatian kak Ando tidak cukup kuat untuk menggeser posisi Brill yang sudah mengambil seluruh rasa cintanya.


Walau dia harus memendam cintanya itu sendiri sekarang ini, tapi dia membiarkan saja seperti ini. Suatu saat mungkin saja ada cinta yang lain, entahlah... dia masih ingin membiarkan nama Brill ada di hati, walau mungkin gak akan pernah memilikinya.


“Tapi Ril… kakakku belum tentu juga bisa mendapatkan Gracia, kamu juga belum tentu bisa jadian dengan Brillmu itu… kenapa gak yang pasti-pasti aja sih, kalian aja yang saling menjajaki, mulai sahabatan aja dulu…” Giveel masih memaksa.


“Hahaha… ini maksa banget… aku tersanjung loh kamu segitu inginnya mau jadiin aku ipar hahaha… Aku udah sahabatan kok sama Muel…”


“Veel, kasihan kakakmu kalau jodohnya harus sesuai perasaanmu, masa dia harus minta acc ke kamu saat dia suka sama cewek…”


“Ya aku gak mau aja tau-tau dia bawa pacar terus ceweknya orangnya pick me, terus matre, mental flexing, ahh pokoknya buatku… calon iparku bukan dari temen-temen di sekitar kakakku, tahu gak ada yang sampai ngikutin kakak kuliah sama-sama di Singapura, ihh…”


“Hahaha, Veel kamu kayak mak-emak deh udah over worried over thinking… santai aja Veel, belum tentu juga orang pacaran tujuannya langsung merit. Gak mungkin juga kakakmu gak punya standar untuk cewek yang disukainya. Aku tahu kok Muel gak akan asal suka terus gak lihat kepribadiannya… udah ahh… itu kayaknya urusan kakakmu deh jangan meragukan kakakmu dong…”


Akhirnya Giveel diam, dia memang secerewet oma Manado kata maminya, tapi katanya dia seusil papinya, dan seperti sang papi dia punya rasa sayang yang besar untuk keluarganya, makanya dia memikirkan semua, termasuk memikirkan si kakak Muel. Dia juga yang melontarkan pada mami papinya supaya kakaknya dijodohin sama Rilly. Yang menanggapi dengan serius tentunya hanya maminya, sementara papinya hanya bersikap santai. Muel baru dua puluh satu, papinya aja menikah umur dua sembilan.


“Kapan kamu pulang, Ril?”

__ADS_1


Suara sedih Giveel terdengar kemudian… sejak temenan sama Rilly dia seperti menemukan teman sejati, teman yang gak melihat apa yang melekat di dirinya, makanya saat pisah karena pilihan tempat kuliah yang berbeda dia yang paling sedih.


“Dua hari lagi…” Rilly menjawab pelan, dia bisa merasakan kesedihan pada suara temannya.


“Oke… kita nikmati waktu kita ya… mau gak nonton drama…”


“Boleh…” Rilly menjawab dengan senyum lembutnya.


Kadangkala seorang sahabat menjadi lebih karib dan erat dibandingkan dengan hubungan persaudaraan.


.


🐳


.


Hari ini Brill gak mendapatkan tempat parkir di parkiran FISIP sehingga dia terpaksa menggunakan satu slot parkiran di area FEKON. Dan Brill memang selalu bersikap cuek aja jika harus parkir di sana, bahkan kadang-kadang sengaja parkir di sana dengan satu tujuan. Gak mungkin ada yang keberatan, kalau pun ada gak mungkin komplain secara ini anak seorang walikota yang disegani.


Cukup banyak yang tahu beberapa mobil yang Brill gunakan ke kampus yang berplat nomor cantik, ada B 121 LL, ada DB 1 BR, dan satu lagi B 1 BTR. Mobil mewah tentu saja, Brill tidak mengganti mobilnya, masa bodoh saat omnya sering ngomong dia flexing dengan mobil-mobil mewahnya itu. Satu hal, Brill yang seperti itu menjadi sosok yang populer akhirnya di kampus ini, setiap ada inisial BR rasanya auto diasosiasikan itu Brill.


Kuliah baru saja berakhir, di dalam mobil Brill memandang dengan seksama setiap mahasiswa FEKON yang lalu lalang. Dia sedang mencari Rilly di antara mereka, setiap kali parkir di sini dia akan melakukan hal ini. Hari ini Rilly posting foto dengan latar ruang kelas, bajunya warna hitam. Maka setiap cewek berambut panjang dengan atasan hitam akan diperhatikan mata Brill.


Sekalipun sakit dia selalu mengikuti akun fb* milik Rilly, itu satu-satunya pengobat rindunya, ya… yang gak bisa dipungkirinya dia merindukan gadis itu. Dia tahu Rilly telah pulang ke Manado, dia juga tahu akhirnya bahwa cowok yang bersama Rilly di postingan terdahulu adalah kakak temannya. Dan yang membuat dia penasaran adalah Rilly sendiri tidak pernah posting sekali saja hal yang mengindikasikan dia sudah punya pacar dan siapa pacarnya, malahan gak pernah ada lagi postingan foto cowok itu.


Dan sekian lama gak melihat langsung wajah Rilly, sosok yang dicarinya itu sedang berjalan mendekat, berkemeja hitam seperti di foto dengan celana lebar warna putih, rambutnya sudah berganti warna menjadi hitam tapi tetap digerai indah dan melambai-lambai saat dia berjalan. Rilly hanya sendirian. Brill tak sadar menatap lekat mengikuti semua gerakan Rilly.


Saat melintas di depan mobil Brill, Rilly berhenti dan memandang mobilnya. Brill ingin turun, tapi sesuatu menahannya, dia ingin tahu kenapa Rilly berhenti dan memandangi mobilnya. Beberapa detik Rilly tidak bergerak, matanya tertuju ke arah bagian bawah, Brill tidak tahu apa yang dilihat Rilly di sana.

__ADS_1


Lalu dengan cepat Rilly bergerak bahkan seperti berlari meninggalkan tempat itu. Brill turun mengejar Rilly, dia ingin mendengar langsung dari Rilly apa benar dia sudah punya pacar, jika sudah harus putus, Rilly harus jadi miliknya, dengan niat itu Brill semakin mempercepat langkahnya.


.


__ADS_2