Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 54. Yang Aku Inginkan


__ADS_3

MK Brill hari ini hanya satu dan sudah selesai, maka Brill menunggu Rilly menyelesaikan dua MKnya dengan sabar. Begitu jadian Brill langsung meminta jadwal kuliah RIlly, agar bisa tahu semua kegiatan Rilly. Dia parkir di FEKON tepat di depan ruang kuliah Rilly padahal itu area parkir khusus dosen.


Dari dalam mobil saat melihat pintu kelas terbuka dan kumpulan mahasiswa keluar, leher langsung terangkat mengamati satu demi satu dan ekspresi wajah berubah tersenyum saat melihat Rilly di antara mereka.


Brill menelpon saat melihat Rilly masih mencari-cari mobil Brill. Tadi di chat Brill memberitahu sudah ada di depan kelas.


.


“Iya? Brill di mana?”


“Di depan kamu.”


.


Setelah menjawab Brill menutup panggilan. Rilly sedikit bimbang karena bukan mobil yang biasa dibawa Brill tapi dia akhirnya masuk juga.


“Hai, kenapa gak yakin, gak baca chatku ya…” Brill menyambut Rilly dengan sebuah senyuman. Tangan terulur langsung mengambil tas Rilly dan memindahkannya ke jok belakang.


“Baca kok, tapi ragu karena mobilnya beda.” Rilly berkata lalu mulai memperhatikan interior mobil


“Mobil ini yang pas buat kita…” Brill berkata sambil mengerutkan hidungnya diikuti mata yang berkedip sekali mengirim signal sayang. Rilly jadi salah tingkah, hanya bisa tersipu malu. Melihat reaksi Rilly tangan Brill segera membelai sayang kepala Rilly.


Aura Brill jauh berbeda, semua gesture tubuhnya menunjukkan energi yang baik. Hari-hari ini bunga-bunga sementara bermekaran, aroma cinta memenuhi atmosfir sehingga semua tindakan Brill hanya punya satu tujuan, menunjukkan rasa sayangnya pada Rilly. Jatuh cinta sudah lama, tapi bebas mengekspresikan perasaan baru bisa dilakukan sekarang ini.


“Maksud Brill apa? Semua mobil sama aja fungsinya…” Mulut Rilly segera bertanya setelah rasa malunya menghilang.


“Gak perhatiin plat nomernya ya?” Brill mulai menjalankan mobilnya.


“Mmhm… ada sih… angka satu aja…” Rilly menatap Brill yang melirik padanya.

__ADS_1


“Terus… setelah angka satu?” Brill tersenyum lagi, sekarang wajah ganteng ini banyak kali tersenyum.


“BR… itu singkatan nama Brill kan? Brill Ratulangi…” Inisial ini paling terkenal di seluruh kampus mereka. Dan soal plat nomor pernah ada waktu dia hanya bisa melepaskan kangennya dengan memandangi B 121 LL.


“Mmmh bukan. Coba singkatan nama siapa?” Tangan kiri Brill menoel gemas pipi Rilly, seolah menyatan 'itu kamu'.


“Itu…” Rilly kembali tersenyum malu saat bisa mengerti apa yang Brill maksudkan.


“Apa?” Hanya satu kata, sejak tadi suara Brill bertanya sangat enak di telinga Rilly, intonasi dan pengucapannya seperti sangat santai, sangat lembut dan begitu dekat dan terutama ada nada-nada cinta dan sayang.


Dan Rilly hanya bisa tertawa, rasanya terlalu percaya diri jika dia menyebutkan dengan bibirnya BR itu apa.


“B itu udah benar namaku, R itu… nama siapa sih?” Suara Brill lagi, ada nada menggoda sekarang. “Itu nama pacarku loh…” Bril tersenyum lebar saat menangkap lagi ekpresi malu-malu di wajah Rilly.


Dan Rilly kemudian menanggapi iseng demi mengenyahkan rasa malu di dada…


“Pacar Brill inisialnya R ternyata? Mmmh Rosa ya, atau Rima? Rafika? Atau Reino, Ronaldo, Robin, Rava, Rafie?” Rilly mengakhiri kalimatnya dengan sebuah tawa.


Mereka tertawa berdua pada akhirnya. Inilah yang begitu membahagiakan seorang Brill, cara Rilly tertawa dan suara tawanya dengan cepat meresap di dada memberi rasa damai. Tangan Brill kemudian meraih bahu Rilly lalu merangkulnya, Rilly menggeserkan posisinya condong mendekat merespon tindakan Brill, secara pacarnya sedang nyetir.


“Kita ke rumahku ya… ada oma Susan di rumah… kita makan di rumah, aku tadi pagi kasih tau oma aku punya pacar, oma bilang pengen ketemu…”


“Hah?" Rilly kaget, "Brill… Rilly malu, kita baru aja jadian…” Rilly melepaskan rangkulan Brill dari bahunya.


“Emang kenapa kalau baru jadian? Gak papa kan… lebih cepat ketemu keluargaku juga gak masalah…” Brill masih berkata santai.


“Brill… buat Rilly ini terlalu cepat…” Rilly mulai was-was, aduuh belum apa-apa udah diajak ke rumah bertemu keluarga.


“Gak ada yang terlalu cepat babe, gak salah kan kalau pacar aku kenalan dengan omaku. Selama ini oma loh yang paling support dengan keinginanku untuk memiliki kamu,” ujar Brill tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.

__ADS_1


Rilly di sini mengetahui bahwa si omanya Brill tahu tentang dirinya. Perasaan senang menyusup, terutama Brill menyebut dia babe, ahh..


“Tapi Brill… Rilly masih sungkan jika harus bertemu sekarang…” Rilly masih mencoba supaya Brill gak meneruskan niatnya.


“Gak boleh merasa seperti itu, sayang… kelak oma Susan akan jadi oma kamu juga loh?”


Mereka saling pandang.


“Ehh? Jangan cepat-cepat mengatakan hal itu, Brill.” Rilly berkata sambil mendorong pipi Brill lembut agar kembali fokus ke jalan.


“Kenapa? Itu yang aku inginkan kok…”


Brill menoleh lagi dengan airmuka serius di wajah tampannya, dan Rilly mulai mengerti Brill bukan cowok yang akan mengubah apa yang dia sudah rencanakan. Dan satu hal, Brill kayaknya tipe cowok yang selalu melangkah dengan cepat dalam suatu hal.


“Aku udah bertemu omamu, masih ingat kan? Jadi aku pengen kamu gak keberatan bertemu oma Susan hari ini… ya?”


Akhirnya Rilly mengangguk, walau ragu apa tindakan Brill yang seperti ini tepat. Rilly bingung dengan beberapa kalimat Brill barusan yang sepertinya menyinggung tentang keinginan masa depan...


"Sayang... kita bertemu oma ya?" Brill mengulangi.


"Iya..." Ternyata gak melihat anggukannya tadi.


"Gitu dong..."


.


..


.

__ADS_1


.


__ADS_2