
“Hei, ganteng…”
Pak rektor selalu menyapa Brill ponakannya dengan cara yang sama, dan memang fisik dan wajah ponakan ini boleh dibilang paling sempurna di antara semua ponakan ditambah anaknya. Dan di antara para ponakannya dia entah kenapa selalu lebih memperhatikan Brill. Mungkin pembawaan anak ini yang cenderung murung dan tertutup bila ada acara kumpul keluarga besar seperti sekarang yang membuat pak Rektor ini lebih perhatian pada Brill.
“Om Manuel…”
Brill mendekati om Manuel yang murah senyum dan juga lebih dekat dengan ponakan-ponakannya. Brill lalu duduk bersama omnya di sebuah kursi bersantai yang ada di tepi kolam pemancingan milik omnya yang adalah Gubernur provinsi ini. Acara ulang tahun om Dicky diadakan di salah satu rumah peristirahatan milik keluarga di sebuah daerah dekat dengan bandara.
Brill selalu memilih bercakap dengan omnya ketimbang dengan saudara sepupunya, dia selalu merasa insecure bila harus bercakap dengan mereka. Semua mereka selalu membicara hal-hal yang tak bisa dia jangkau, semua bercakap dengan menggunakan bahasa Inggris yang fasih, seperti berada di planet lain jika duduk bersama mereka.
Brill bukan tidak tahu dia juga sudah dikursuskan sang mami sejak balita dan maminya lebih banyak menggunakan bahasa Inngris bila berbicara dengannya, tapi dia merasa rendah diri ketika sepupunya bercakap dengan topik hangat dan populer dan dia tidak mengerti tentang itu. Maklum Brill bukan sosok yang memperhatikan sekelilingnya, dunianya sangat sempit dan pusatnya hanyalah dirinya sendiri.
“Kayaknya setahun ini kita baru bertemu sekarang ya?”
Om Manuel menepuk-nepuk bahu Brill.
“Iya om… om sibuk kan…”
Brill menjawab sambil memandangi ikan mas dan ikan mujair yang begitu banyak jumlahnya di kolam di depannya. Memang air tidak terlalu bening, sehingga kelompok ikan yang berenang hanya samar terlihat, pergerakkan ikan bisa diketahui dari riak yang ditimbulkan di telaga besar itu.
“Gimana pengalaman jadi mahasiswa?”
Om Manuel masih menepuk pundak Brill, salah satu cara yang dia lakukan untuk mengakrabkan diri dengan ponakan-ponakannya dan yang membuat para ponakan merasa dekat dengannya.
“Biasa aja…”
“Dosen-dosen senior di jurusanmu teman om semuanya…”
“Iyalah, teman papi juga beberapa, makanya aku males, aku suka dibandingin sama om juga papi… kayaknya aku salah mengikuti om memilih jurusan itu… begitu masuk kuliah semua langsung tahu aku anak siapa, aku siapanya Rektor Universitas Sam Ratulangi.”
Brill menjelaskan gangguan di hatinya selama jadi mahasiswa.
“Hahaha… om pikir kamu akan ngalahin popularitas om sama papimu di jurusan itu…”
“Aku gak niat ngalahin pamor kalian, terlalu tinggi, aku gak suka dengan itu, aku mau pindah fakultas aja, om Manuel bantuin ya?”
“Kenapa pindah, om justru pengen melihat kamu merubah imagemu, keluar dari bayang-bayang om dan papimu, tampil sebagai Brill Ratulangi yang beda…”
“Maksud om?”
“Maksud om, hal biasa jika ada perbandingan-perbandingan yang terlontar, meskipun seolah-olah kami seperti jadi tolok ukur orang lain untuk menilai dirimu, jangan terganggu… kamu berbeda dengan kami, kamu bisa memiliki pencapaianmu sendiri…”
“Justru itu om, aku pernah bilang sama Mner Kaparang kayak gitu, tapi dia ceramahin aku panjang lebar, aku sih bodoh amat, gak ada yang aku ingat dari kalimat Mner itu…”
“Hahaha… om udah denger itu…”
“Mereka laporin aku ke om Manuel?”
“Tepatnya gak begitu, om yang nanya sih sebenarnya, kan om kadang suka diundang ke acara bertemu mereka, nah saat bahas soal kamu, hahaha, mereka geleng-geleng kepala saat cerita soal kelakuanmu yang terlalu cuek dan terlalu masa bodoh… tau gak, Mner Randang mengatakan terpaksa ngasih kamu nilai C padahal harusnya nilaimu E, karena sungkan sama om dan papimu aja… hahaha…”
Brill menatap wajah omnya, tidak terlihat sedang menghakiminya atau menegurnya, hanya menceritakan saja sesuatu tanpa ada perasaan malu Rektor universitas ini memiliki ponakan yang tidak dapat dibanggakan prestasinya, terpaksa diberi nilai sedikit lebih baik oleh koleganya itu seperti tidak mengganggu Om Manuel. Brill ikut nyengir karena melihat om Manuel sedang tertawa menganggap itu hal lucu.
“Om gak malu aku seperti itu?”
Brill bertanya dengan nada rendah, nilai yang ada dalam dirinya segera mengatakan bahwa itu bukan sesuatu yang baik sebenarnya, jika itu maminya pasti beda reaksinya.
“Kenapa harus malu? Om juga gak mungkin membelamu kan dengan memberikan alasan kenapa kamu seperti itu, walau om sedikitnya tahu kenapa kamu belum antusias mengikuti perkuliahan. Atau... om menyangkali bahwa kamu ponakan om? Itu lebih gak mungkin… udah jelas-jelas publik tahu rektor universitas Sam Ratulangi kakak-adik sama istri pak Walikota dan pak Gubernur, dan lebih lagi fotomu muncul di mana-mana sebelum pemilihan walikota…”
Om Manuel mengatakan kalimat-kalimat itu dengan ritme sedikit lambat dan bernada ringan saja, sekarang mengusap-usap punggung Brill.
“Kenapa? Apa kehidupan kampus membosankan juga?”
“Gak tahu om…”
“Om jadi tertantang nih, gimana membuat ponakan om yang ganteng ini menyukai kampus, tapi menurut om sih, kamu belum menemukan sesuatu yang menantang aja, belum menemukan sesuatu yang menarik dan terutama belum ada gadis yang menarik hatimu hahaha…”
“Apa sih om…”
“Hahaha… itu yang om pikirkan tentangmu…”
“Mahasiswa ada ribuan, kenapa mikirin aku?”
__ADS_1
“Kan kamu keponakan om yang paling om sayang…”
Brill terpana sejenak, mulai memikirkan kata-kata om Markus, ada banyak yang sayang padanya, apa dia aja yang memang kurang peduli sehingga merasakan sebaliknya?
“Tapi… jangan-jangan om emang beneran malu karena banyak orang tahu ponakan om gak becus jadi mahasiswa…”
Brill mencoba mencari tahu pandangan dan perasaan omnya terhadap dirinya.
“Gak lah… om jujur waktu bilang gak malu, untuk apa malu sama mereka? Mereka hanya mengetahui bagian kecil dari hidupmu. Jika mereka menjudgemu hanya dengan itu mereka naif. Mereka belum tahu aja sisi hidupmu yang lain, mereka belum denger suara merdumu, mereka belum menyaksikan gimana saat kamu bermain musik… mereka belum tahu potensimu, siapa tahu ke depan kamu sebenarnya Mozartnya Sulawesi Utara?”
“Ah om terlalu melebih-lebihkan, Itu hal yang biasa om, bukan sesuatu yang bisa membuat om bangga padaku… beda kalau aku penyanyi terkenal yang menghasilkan jutaan dollar setahunnya… tapi aku yang sekarang, mami-papi aja malu punya anak seperti aku.”
“Eh… eh… kamu saja yang menganggap seperti itu.”
“Mami yang bilang sendiri, mami malu melihat IPku om…”
“Memang berapa IPmu semester ini?”
“1,7 atau berapa lupa…”
“Hah? Serius gak sampai dua?”
“Iya.”
“IP semester satu?”
“Sama kayaknya, om…”
“Hahaha…”
Om Manuel terpingkal-pingkal sambil menepuk-nepuk paha Brill. Sangat berbeda dengan tanggapan maminya, om yang seorang rektor justru menjadikan ini lelucon yang lucu untuknya. Tawa om Manuel lama berhenti membuat Brill ikut menertawakan sesuatu yang memalukan dari dirinya untuk ukuran sang mami.
“Apanya yang lucu om? Mami marah-marah loh om waktu tahu IPku…”
Brill bertanya saat om Manuel berhasil meredakan tawanya sambil mengusap ujung matanya yang basah, Brill entah kenapa tidak tersinggung jadi bahan tertawaan om Manuel.
“Justru karena itu, om gak menertawakanmu loh, hahaha, om menertawakan orang tuamu, mereka itu lupa mendoakan ini saat membuatmu, mereka lupa meminta supaya genmu juga dilengkapi dengan prestasi akademis… hahaha…”
Pak rektor memperbaiki sikapnya, dia harus serius sekarang, walaupun masih ada hal-hal yang menggelitik hatinya yang membuat dia tertawa seperti tadi.
“Memang orang masih mengukur prestasi akademis sebagai sebuah tolok ukur keberhasilan, padahal coba lihat pengusaha-pengusaha muda yang sukses di negara kita sekarang, gak punya gelar atau degree apapun…”
“Berarti aku gak perlu kuliah dong om?”
“Gak gitu juga… masih ingat nasihat om dulu?”
“Gak… gak ada yang aku ingat…”
Brill menjawab malas, beneran jujur memang otaknya susah mengingat banyak hal, yang menempel diingatannya dari masa lalu hanyalah sebuah nama, Rilly… ahh.
“Hahaha, wajar, IP-mu segitu menunjukkan kamu masih malas menggunakan otakmu, wajar kamu gak ingat apa yang om katakan… hahaha, tapi ya sekarang ini om sebenarnya ingin sekali menggoda mamimu yang sempurna itu… ternyata dia tidak mampu mendidikmu menjadi sesempurna dirinya atau sesempurna papimu, hahaha… om dulu cemburu sama mamimu, tau gak… sejak SD prestasinya bejibun, buaaanyak… tapi sekarang dia gak bisa menciptakan dunianya menjadi sesempurna yang dia inginkan, kamu menjadi noda untuknya, hahaha….”
“Apa sih om… om menghinaku ya, jadi aib orangtuaku?”
“Bukan Brill, bukan… maksud om, mamimu kadang kala bicaranya terlalu tinggi, seolah dunia itu dalam genggamannya, seolah-olah di tangannya semuanya bisa menjadi baik, ya kadang-kadang om suka mengatakan mamimu terlalu sombong dan terlalu percaya diri. Ternyata dia tidak bisa mendiktemu, tidak bisa menjadikan dirimu seperti yang dia mau… hahaha, jangan tersinggung ya Brill… ini hanya berasal dari sentimen persaingan kakak-adik dulu… begitulah.”
Brill hanya mengangguk seolah paham, lalu meneruskan dibanding perkataan omnya tadi ada hal yang ingin dia ketahui dari mulut omnya sendiri.
“Jadi menurut om?”
“Apa… eh kita lagi bahas apa ya? Maaf, om terganggu mengingat watak mamimu…”
“Soal perlu gak aku meneruskan kuliahku, aku malas banget om…”
“Om pernah bilang kalau kamu punya jalan yang lain yang lebih menarik untuk kamu mengembangkan potensi dirimu, silahkan saja… tapi kalau belum maka teruskan kuliahmu, capai sebuah degree, mungkin sekarang belum terasa manfaatnya, tapi om pastikan kamu gak akan menyesal kok di kemudian hari…”
Brill diam, mencoba memahami apa yang dijelaskan om Manuel, sejak tadi saat om Markus memintanya untuk berubah, dia tidak tahu apa yang harus dia ubah. Maka dia menyimak perkataan omnya yang pintar ini.
Om Manuel melanjutkan saat melihat sepertinya Brill sedang mendengarkan dirinya.
“Belajar itu banyak kegunaannya, kalau kamu menguasai sesuatu walaupun hanya teori, kamu pasti akan bisa mengatakannya dengan yakin, itu sederhananya. Coba kamu perhatikan orang-orang yang dengan lancar membicarakan sesuatu dalam percakapan, terlihat pintar kan, padahal dia mungkin hanya membacanya bukan murni hasil pemikirannya… belajar itu membentuk struktur berpikirmu lebih terarah, lebih tersistematis…”
__ADS_1
“Ribet om… aku gak ngerti…”
“Hahaha… om sederhanakan deh, belajar membuat wawasanmu bertambah. Jelas?”
“Iya…”
“Jadi… kuliah ajalah… nikmati hidupmu sebagai mahasiswa, libatkan diri di kegiatan BEM, ada kegiatan yang khusus menggali kreativitas dan potensi mahasiswa di sana… coba terbuka Brill untuk dunia yang lain… terbuka untuk berteman dengan teman yang baru… om pastikan kamu akan enjoy… Om menantang kamu deh…”
”Apa om?”
“Dua semester ke depan… kamu libatkan diri dalam kegiatan BEM di fakultasmu, ikutin kegiatan perkuliahan… om gak akan menuntutmu atau memaksakan dirimu ngotot untuk mendapatkan nilai A semua, sebisamu aja… artinya lebih serius dari sebelum ini aja… nah… jika dalam dua semester ke depan kamu tidak bisa enjoy juga, silahkan berhenti kuliah, om akan membela keinginananmu di depan mami-papimu… gimana? Mau terima tantangan?”
Om Manuel mengatakan dengan nada lembut sehingga tidak terkesan mendikte. Sementara Brill mendengarkan dalam diam sambil merenungkan perkataan omnya itu.
“Brill?”
“Oke om… aku setuju…”
Brill menjawab walaupun belum cukup yakin.
“Janji ya… om akan memegang janjimu…”
“Iya om…”
Brill menatap ke atas, menatap langit biru cerah di sore ini, dia coba berkomitmen sekarang, mungkin dia harus mencoba hal ini. Om Manuel tersenyum di sampingnya lalu menepuk bahunya…
“Hei… ganteng, jangan bengong… Yuk kita nyanyi-nyanyi aja di panggung sana, alat musiknya lengkap sayang kalau dibiarkan menganggur. Kebetulan om kangen main keyboard… kamu gitarnyanya ya… Joel drumnya… minta mama yang nyanyi… pasti seru…”
Om Manuel menarik tangan Brill ke arah panggung kecil yang disediakan untuk kemeriahan acara pak Gubernur hari ini.
“Gak ada yang main bass om…”
“Kamu bisa kan? Ya udah bass aja gak usah gitar…”
Dan keseruan acara keluarga ini pun mulai, om Manuel bisa menghidupkan suasana, menjadi keyboardis sekaligus mc dadakan yang menggilir semua anggota keluarga untuk bernyanyi. Suasana yang segera terjalin akrab dan perlahan Brill yang selalu menutup diri di antara keluarganya ini mulai membaur, ikut tertawa saat Bierna memaksakan menyanyikan lagu The Power of Love milik Celine Dion padahal suaranya jauh dari merdu, dan ikut bernyanyi duet di standing mic saat ada lagu yang memancingnya untuk mengeluarkan suara merdunya.
Pak gubernur Dicky Gontha terpancing ingin mengadu suara dan bakat bernyanyinya…
“Om Mau nyanyi bareng Brill... biar suara om yang kurang merdu tertutupi…”
Berturut-turut anggota keluarga yang lebih tua meminta berduet dengan Brill. Terakhir sang mami.
“Nyanyi bareng mami juga ya Brill?”
Brill menatap wajah maminya sesaat. Di saat seperti ini, entah bagaimana pandangannya terhadap maminya sedikit berubah, senyum itu di matanya menjadi berbeda.
Brill mengangguk.
“Lagu apa ya? Kamu aja yang pilihkan Brill… yang mami tahu ya…”
Suara mami kenapa berubah lembut? Atau ada yang salah dengan telinganya?
“Lagu… 'Bunda' Melly Goeslaw aja mam…”
Brill menyahut setelah berpikir sejenak, lagu itu saja yang segera masuk ke otaknya.
“Oh… boleh-boleh… mami suka lagu itu…”
Lagu pun mulai dilantunkan sang mami, di bagian reffrain, suara Brill mengisi dengan suara tenornya, hanya sebagai pengiring, tetap membiarkan maminya yang menonjol suaranya. Saat selesai dan baru akang mengulang lagi dari awal tiba-tiba pak Gubernur naik ke panggung dan meminta sebuah mic dari seseorang yang mengatur soundsystem.
“Sebentar… sebentar… aku ingin nyanyi lagu ini juga, kita nyanyi bertiga… mama… naik ke atas sini… kita mau bernyanyi buat mama… karena mama aku bisa ada sampai hari ini, dan bisa mencapai banyak hal untuk hidupku…”
Pak Gubernur meminta oma Susan untuk naik ke panggung… lalu lagu Bunda kemudian akhirnya lagu dinyanyikan oleh tiga orang anak oma Susan bersama Brill…
Ada sesuatu yang terjadi di sementara lagu ini dinyanyikan, beberapa kali Brill dan mami yang berdiri di dekatnya bertatapan sementara bernyanyi. Tangan mami beberapa kali mengusap punggungnya dan itu terasa berbeda.
Hati Brill menghangat, setelah sekian tahun dia menyepi sendiri dalam dunianya, sore ini dia merasakan sebuah hal yang baru di antara keluarganya, terlebih dia merasa di panggung ini dia menjadi bintangnya, semua keluarga seperti memberi pengakuan tentang kemampuan dirinya di atas mereka di bidang ini, dan dia merasakan bahwa pengakuan itu disertai rasa bangga mereka terhadap dirinya.
Ya panggung ini serasa miliknya… sebab untuk pertama kalinya dia seperti bisa naik pada sesuatu yang lebih tinggi dalam hidupnya, sebelum ini hidup ini tidak pernah memberikan dia setitik kepuasan, memandang rendah dirinya sendiri. Seperti melangkahkan kaki untuk naik menjangkau tingkat berikutnya untuk hidupnya sendiri, membuat Brill mendapatkan kepercayaan diri.
.
__ADS_1
.