
Rilly akhirnya mengikuti ujian masuk T2 program masuk mandiri dari universitas ini dan diterima di FEKON. Fakultas Ekonomi ada di area yang sama dengan Fakultas Sosial Politik. Gedung baru FEKON yang menjadi tempat kuliah mahasiswa semester bawah bersebelahan dengan gedung kuliah FISIP. Karena tidak ada pagar pembatas, lalu-lalang mahasiswa dua Fakultas itu bebas di antara dua gedung ini.
Rilly menatap cowok yang setahun lebih kira-kira baru bisa dilihatnya sekarang. Lama Rilly terpana hanya memperhatikan Brill dengan dada seakan mau meledak karena kumpulan rasa senang dan mungkin juga ada rindu di antaranya.
Sejak datang di Manado ini, Rilly punya keinginan besar bertemu Brill, dia tidak punya info apapun tentang Brill dan tidak menyangka hari ini bisa melihat Brill lagi. Ternyata Brill kuliah di FISIP sebab Brill sedang duduk di depan bangunan FISIP yang persis ada di hadapannya. Brill sedang bercakap dengan beberapa cowok, mungkin teman kuliahnya.
Rilly segera mengenali Brill tapi tidak dengan Brill. Saat Rilly mendekat dan berdiri di hadapan Brill, mereka berdua sempat bertatapan tapi Brill segera memalingkan muka. Muncul keinginan untuk menyapa Brill lebih dahulu karena itu Rill mengumpulkan keberaniannya, tapi…
Brill berdiri dari beton yang berfungsi sebagai tempat duduk yang menempel di sepanjang dinding gedung saat para mahasiswa yang ada di dalam keluar. Brill melihat sosok yang ditunggunya.
“Holly… “
Si mungil berhenti berjalan dan menoleh pada Brill.
“Tuh kan, aku bener kan, kamu pasti ditungguin kak Brill lagi…”
Faithly, teman baru Holly menyenggol lengan cewek mungil yang melongoh saat Brill mendekat.
“Ly, makan siang bareng aku ya?”
Holly belum sempat menolak tangannya sudah ditarik Brill. Tubuhnya yang kecil tak bisa menahan kekuatan Brill.
“Kak Brill, Holly mau makan bareng teman-temanku aja.”
“Mereka udah sering makan bareng kamu, sekarang giliran aku.”
“Kak Brill, kita gak diajak?”
Faithly berteriak, dia dan Joy mengikuti Holly dan Brill.
“Gak, aku gak suka diganggu.”
Brill menjawab sambil kemudian tangannya merengkuh bahu Holly membawa Holly berbelok menuju tempat parkir, dan menghilang tertutup gedung kuliah FISIP di dekat lapangan parkir itu.
Holly tentu saja protes berusaha melepaskan rangkulan Brill di bahunya tapi hanya disenyumi Brill dan justru semakin erat Brill merangkul bahu itu.
Sejak kejadian mengajarkan yel-yel fakultas ke maba waktu itu, entah kenapa Brill merasakan semesta menariknya untuk mendekati si mungil ini. Si mungil yang kemudian menjadi alasan lain dia rajin datang ke kampus. Terlebih ada beberapa mata kuliah yang membuat mereka bertemu di kelas karena Brill mengontrak ulang mata kuliah yang tidak lulus.
“Kak Brill, kenapa memaksa begini sih…”
__ADS_1
“Kalau gak dipaksa, mana mau kamu, Ly?”
Sementara di tempatnya berdiri, Rilly membuang napas, sedikit sesak dadanya. Cowok yang dianggapnya masih mengingat dirinya, mengacuhkannya. Apa perubahan di wajahnya terlalu banyak? Dan lagi Brill mencarinya di fb berarti dia tahu perubahan itu.
Dengan sedih Rilly meninggalkan fakultasnya, sedikitnya dia melihat bahwa ada banyak perubahan pada Brill, sekarang dia terlihat lebih terbuka dengan orang lain, dan terutama dari percakapan tiga cewek dan dari cara Brill memperlakukan cewek mungil tadi.
Rilly segera tahu satu hal bahwa jika dirinya bertemu Brill sekarang meskipun Brill bisa mengenali dirinya mungkin tidak akan mengembalikan kedekatan yang dulu. Ya bisa dibilang kedekatan walau hanya seumur jagung.
Rilly menyimpulkan sesuatu, Brill tampaknya punya hubungan dengan gadis mungil itu. Rilly menarik bibirnya dengan perasaan kecewa yang segera menyusup dan menguasai hatinya, apa yang dia harapkan tentang Brill?
“Ril…mau langsung pulang?”
Theresia teman satu jurusan yang baru mulai saling mengakrabkan diri menjejeri langkah Rilly.
“Iya… kamu?”
“Temenin aku cari kost boleh? Aku mau pindah.”
“Gak mau kost bareng Rilly aja? Tempat kostnya deket dari sini, murah juga. Kayaknya masih ada kamar kosong.”
“Ada kamar mandi dalam gak? Airnya lancar gak? Tempat aku kost sekarang suka mati air, dan aku pengen nyari yang kamar mandinya di dalam kamar, trauma suka rebutan kamar mandi sama penghuni kost yang lain…”
“Ada kayaknya, kamarku tidak ada sih… tapi hampir dua bulan di situ gak pernah ada kejadian seperti itu di tempatku. Tiap lantai ada kamar mandinya… air juga lancar, terus disediain dapur dan ada kompor yang bisa kita gunakan.”
“Eh yang bener itu, Rilly yang ikut kamu, kamu bawa motor kan?”
“Oh iya…”
Sebelum tiba di tempat parkir, si Theresia tiba-tiba bertanya.
“Tadi ngapain nyebrang ke gedung orang?”
“Hah? Eh… gak papa Tere…”
“Ehmm, aku perhatiin loh tadi, kamu kayak kenal si Brill, kamu berdiri di depan dia lama loh…”
“Hah?? Eh?? Ehm kamu kenal Brill?”
“Siapa yang dari Minsel yang gak kenal dia sih? Aku dari Amurang, maminya bupati di sana dua periode.”
__ADS_1
“Tere, kamu dari SMA Negeri Satu Amurang juga? Rilly sekolah di sana tadinya…”
“Oh aku lulusan SMK…”
“Oh begitu, tapi kita sama-sama orang Amurang, hehehe…”
“Wah… ini sebuah kebetulan yang bagus buat kita berdua… Eh tapi soal Brill, berarti kamu satu sekolah dengannya… dia kan alumni SMANSA Amurang.”
“Kami sekelas dulu… kamu udah tahu kan Rilly gak lulus tahun kemaren karena gak ikut ujian…”
“Oh… begitu ceritanya, jadi karena itu kamu mengulang lagi kelas dua belas di Jakarta?”
“Iya, omaku pindah ke sana…”
“Eh… jadi, kamu beneran temenan sama Brill? Kan sekelas dulu…”
“Iya sih… tapi kayaknya sekarang dia lupa, hehehe, dia gak mengenaliku tadi…”
“Hah??? Amnesia parah itu, masa dia gak bisa mengingat kamu…”
“Hehehe… udahlah, gak papa kok dia gak ingat lagi…”
“Iya sih, cowok kaya anak pejabat semacam dia, memang rada-rada sombong dan suka berlagak gak ingat rakyat jelata seperti kita walau dulu pernah sekelas…”
“Brill gak kayak gitu kok…”
“Eh masih belain si Brill, tadi buktinya, kamu bilang dia gak mengenali kamu lagi… atau mungkin aja pura-pura gak kenal…”
“Gak, kalau dia tahu siapa Rilly, mungkin dia gak akan seperti itu…”
Rilly menyesali dia terlambat mengajak Brill bicara, terlambat mengatakan siapa dia, mungkin saja kan Brill akan bersikap berbeda?
“Ya ampun Rilly, gak usah segitunya belain Brill, gak dosa kali, maminya udah bukan bupati kita lagi. Tapi ya… hidup mereka beruntung banget ya, sekarang papinya jadi walikota Manado… tambah sombong si Brill itu…”
“Kalau kamu kenal dia, kamu gak akan mengatakan itu…”
“Ril… kamu belain Brill kayak kamu deket banget sama dia… padahal gak kan? Jika dia beneran temen kamu, gak mungkin dia lupain kamu loh? Gak mungkin dia gak nyapa kamu atau gak bicara denganmu, baru setahun doang, masa gak ingat…”
“Ehh?“
__ADS_1
Rilly tak menampik fakta Brill tidak mengingatnya tadi, jadi perkataan Brill yang dulu bahwa mereka adalah teman harus dia lupakan sekarang.
.