Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps 52. Siapa yang akan Menjadi Miliknya?


__ADS_3

Kuliah baru saja berakhir, di dalam mobil Brill memandang dengan seksama setiap mahasiswa FEKON yang lalu lalang. Dia sedang mencari Rilly di antara mereka, setiap kali parkir di sini dia akan melakukan hal ini. Hari ini Rilly posting foto dengan latar ruang kelas, bajunya warna hitam. Maka setiap cewek berambut panjang dengan atasan hitam akan diperhatikan mata Brill.


Dan sekian lama gak melihat langsung wajah Rilly, sosok yang dicarinya itu sedang berjalan mendekat, berkemeja hitam seperti di foto dengan celana lebar warna putih, rambutnya sudah berganti warna menjadi hitam tapi tetap digerai indah dan melambai-lambai saat dia berjalan. Rilly hanya sendirian. Brill tak sadar menatap lekat mengikuti semua gerakan Rilly.


Saat melintas di depan mobil Brill, Rilly berhenti dan memandang mobilnya. Brill ingin turun, tapi sesuatu menahannya, dia ingin tahu kenapa Rilly berhenti dan memandangi mobilnya. Beberapa detik Rilly tidak bergerak, matanya tertuju ke arah bagian bawah, Brill tidak tahu apa yang dilihat Rilly di sana.


Lalu dengan cepat Rilly bergerak bahkan seperti berlari meninggalkan tempat itu. Brill turun mengejar Rilly, dia ingin mendengar langsung dari Rilly apa benar dia sudah punya pacar, jika sudah harus putus, Rilly harus jadi miliknya, dengan niat itu Brill semakin mempercepat langkahnya. Brill mengikuti jalan yang biasa dilalui Rilly saat mencari Rilly.


Dia masih ingat kalau gak pulang bersama temannya, Rilly akan berjalan kaki ke tempat kost. Brill terpaku di tempatnya ketika melihat ada seseorang yang menjemput Rilly, seorang cowok membukakan Rilly pintu mobil dan entah apa yang diobrolkan yang jelas Rilly dan cowok itu terlihat sangat akrab. Tangan cowok itu singgah di kepala Rilly, ternyata supaya kepala Rilly terlindung saat masuk ke dalam mobil sedan itu.


Wajah cowok itu tidak terlalu jelas dari posisinya, tapi apa yang dilihatnya sungguh menusuk hatinya. Sedih saat tahu Rilly tidak menyukainya. Apa sudah saatnya melepaskan nama Rilly dari hati?


Mungkin akan ada waktunya dia bertemu seseorang dengan ketertarikan yang sama di antara mereka dan sejak awal sampai akhir akan menjadi miliknya. Siapa yang dikirim sang Pencipta untuk menjadi miliknya?


.


🌻


.


Iseng Brill membuka aplikasi pertemanan, tidak ada tujuan, hanya mengisi waktu. Dia tidak suka bermain games di hpnya, sejak sering mencari tahu tentang Rilly dia aktif membuka aplikasi itu. Kali ini hanya ingin berselancar saja tanpa maksud mencari tahu tentang Rilly lagi, dia juga tidak pernah lagi memarkir mobilnya di area FEKON, coba menghilangkan bayang-bayang Rilly dari otaknya.


Tiga temannya sedang bermain games, mendinginkan otak karena sebentar lagi akan masuk untuk ujian MK selanjutnya…


“Liburan tanggal berapa, Tory?’ Pascal bertanya.


“Selesai ujian semesterlah… nanya kayak maba aja gak tahu info…” Tory menjawab tanpa mengalihkan mata dari hpnya, dia dan Beno sedang memainkan sebuah game online yang sedang trend.


“Kita jalan yuk, liburan ke mana…“ Pascal mencoba menawarkan sebuah ide dan sengaja bicara di depan Brill dengan maksud menarik perhatian cowok itu karena biasanya dia suka royal terhadap teman-temannya.


“Ke mana? Di luar daerah dong…” Tiba-tiba Beno berhenti bermain, tertarik dengan ide Pascal.


“Luar daerah ke mana? Kata orang-orang sekarang naik pesawat ribet…” Tory sekarang yang menanggapi.


“Eh… ke provinsi sebelah aja bawa mobil, ada cottage di pulau kecil di tengah laut, namanya pulau cinta… lagi hits tempatnya, ada kakak tingkat mau ke sana, bareng aja mau?” ujar Pascal yang memang pengen banget liburan.


“Tanya si boss… kalau boss ikut sih kita aman…” Beno menimpali sambil menggerakkan ibu jari dan telunjukknya mengisyaratkan tentang biaya liburan.

__ADS_1


Si boss yang dimaksud tidak mendengarkan, sedang mengamati postingan Rilly yang tau-tau muncul di beranda, bukan foto tentang gadis itu, hanya foto sebuah pemandangan tepi pantai dengan sebuah kata tersemat… ‘kangen’.


Bril mengeluh dalam hati, kangen aja diumbar di medsos.


Saat dia menggeser layarnya dengan gerutuan singkat tiba-tiba dia melihat ulang postingan Rilly, itu tempat yang dia kenali, pinggiran pantai di kelurahan asal dari om Markus. Di tempat itu dia dan RIlly pertama kali menikmati kebersamaan.


Dia kangen siapa? Pacarnya? Ahh…


Brill menghela napas berat. Sakit ketika tempat yang mengingatkan sebuah momen tentang mereka berdua justru Rilly kangen orang lain. Gak ada foto lain hanya sebuah foto yang tertera di posting tiga hari yang lalu, itu hari minggu berarti Rilly pulang ke Amurang dan mampir di sana.


“Boss…” Pascal memanggil Brill, membuat Brill menoleh sambil menekan layar untuk keluar dari aplikasi itu. Brill hanya memandangi wajah Pascal sambil mengangkat keningnya, ekspresi yang menyiratkan dia siap mendengarkan kalimat selanjutnya.


“Dua hari lagi selesai ujian semester, kita jalan-jalan ke provinsi sebelah, nyewa cottage liburan beberapa hari,” jelas Pascal.


Bril menyimak dengan mengerutkan keningnya.


“Ngajak aku?” Brill agak lambat berpikir, dia masih terbawa dengan postingan Rilly.


“Iya bos… kita naik mobil ke sana , kayaknya seru, ” Beno menimpali.


Brill menimbang sesaat, lalu… “boleh... berapa hari? Diatur aja Tor…”


“Kita ajak teman cewek ya… kayaknya gak asik kalau kita doang…” Pascal menyampaikan apa yang langsung terlintas di otaknya saat si bos menyetujui, matanya menatap Brill meminta persetujuan.


Brill hanya mengangkat bahu tanda gak peduli, ada anak cewek berlibur bersama gak ada pengaruhnya buat dirinya.


“Kita ajak mereka bertiga ya?” Beno menunjuk tiga cewek yang ke mana-mana bertiga, Holly, Faith dan Joy yang keluar dari ruangan kelas.


“Holly gak akan mau pasti kalau ada si boss…” Tory ngomong tapi kemudian segera meringis saat bertatapan dengan pandangan tajam Brill.


“Ajak dia ya… tapi gak usah kasih tahu apapun tentang aku…” Brill menanggapi dengan senyuman.


Tangannya membuka aplikasi yang barusan telah ditutupnya, kali ini sengaja mencari akun Holly. Dia pernah mengirim permintaan pertemanan, dan dia tidak melihat lagi hingga sekarang ini apakah sudah dikonfirmasi oleh Holly. Ternyata sudah, maka Brill berselancar di wall milik Holly, melihat beberapa informasi pribadi tentang Holly, dan ada tanggal ulang tahun tertera di sana, itu di bulan ini dan tinggal beberapa hari lagi… Brill tersenyum.


“Kita berangkat tanggal 18 ya…” Tiba-tiba Brill punya energi yang baru untuk melakukan sesuatu, itu karena Holly.


Brill belum pandai memilah-milah perasaannya, dan bila tentang dua nama ini hati Brill dengan cepat bisa berganti arah.

__ADS_1


.


🪅


.


“Udahlah Brill… move on dong, kamu harus segera singkirkan nama Holly di hatimu… dia sudah menikah sekarang.” Tory menyentuh bahu Brill, saat mendapati mata Brill memandang kursi yang biasanya diduduki Holly kosong.


Mereka sedang duduk di ruang kuliah menunggu MK selanjutnya, rupanya Holly tidak masuk, menurut info si Faith Holly sedang berbulan madu. Mereka semua menghafiri nikahan si Holly beberapa hari yang lalu, bahkan Brill dengan pd-nya menyanggupi jadi salah satu pengiring pengantin seolah nikahnya Holly gak berpengaruh untuknya.


Tory prihatin dengan sahabatnya ini, semua dia punya… wajah sangat rupawan dengan postur tubuh sangat ideal, kekayaan gak bisa dihitung oleh otak Tory… tapi sayang hatinya terpenjara pada Holly, entah dengan si Rilly, dua gadis ini sama-sama tidak bisa diraihnya. Dia sepertinya tidak dapat menghubungkan hidupnya dengan garis berpasang-pasangan.


Brill tersenyum pedih bukan karena hatinya kehilangan cinta. Ada alasan yang tidak bisa dia jelaskan, tapi setelah mencari tahu, sesungguhnya kegundahan ini bukan karena Holly. Waktu berlibur, Holly ikut. Brill coba mendekati tapi Holly teguh hati menolak, bahkan permintaan terakhirnya untuk jadi pacar Holly sehari saja ditolak mentah-mentah oleh Holly. Waktu itu dia hanya ingin merasakan seperti apa memiliki pacar. Konyol sekali alasan itu tapi sejak hari itu dia menyadari bahwa perasaannya terhadap Holly tidak sekuat perasaannya pada Rilly.


Awal rasa sukanya pada Holly itu karena Rilly sebenarnya, dia kehilangan Rilly dan bertemu Holly lalu dia mengalihkan perasaannya pada Holly. Kenyataannya dari awal sampai akhir Holly itu milik orang lain. Dengan Holly dia hanya butuh penerimaan seseorang terhadap cintanya, sehingga semakin Holly menolak semakin dia ingin memaksakan cintanya


Tapi sesungguhnya semua dorongan untuk mendekati Holly berasal dari dorongan hatinya yang ingin memiliki cinta seorang Rilly. Saat bersama Rilly dia merasa bahwa itulah cintanya, Rilly tidak pernah menolak kehadirannya, membuat dia nyaman dan melupakan bahwa cinta butuh status, sementara dia tidak pernah menegaskan statusnya dengan Rilly, hingga dia harus kehilangan Rilly akhirnya.


“Brill? Lupakan Holly,” Tory mengulangi maksudnya dengan lebih sederhana saat melihat Brill melamun.


Brill tersenyum getir menanggapi, hatinya tidak pernah benar-benar sakit karena cewek itu, makanya dia selalu datang dan datang lagi menjadi pengganggu bagi Holly. Sakit yang paling menyiksa dalah setiap kali dia bersinggungan dengan Rilly.


“Brill? Pasti ada yang mencintaimu, tapi belum bertemu kamu aja… itu bukan Holly” Tory masih berusaha mengarahkan hati teman baiknya ini.


“Memang bukan Holly… dia hanya, entahlah… aku juga gak ngerti kenapa aku bisa ngotot bersikap seperti orang bodoh yang mengejar dia…”


“Hah? Lalu siapa?” Tory sedikitnya heran mendengar pernyataan Brill yang seperti bertolak belakang dengan apa yang dia tunjukkan.


“Itu Rilly…” Brill menjawab sendu.


Dia ternyata bukan cowok yang mudah mendapatkan cinta.


.


.


Hi... Hari ini dua eps lagi....

__ADS_1


.


__ADS_2