
Dengan cepat suasana hati seorang Brill berubah, sekarang dia kehilangan antusiasme untuk apapun. Om Markus sangat mengerti saat melihat anak asuhnya beberapa jam ini tidak keluar dari kamarnya. Biasanya Brill akan mengurung diri di studio musiknya dan melampiaskan dengan bermain musik bila sesuatu mengganggu hatinya, tapi di rumah besar dan mewah di bilangan Jakarta Selatan ini dia tidak memiliki ruangan semacam itu.
“Nak Brill…”
Tak ada sahutan, om Markus memperhatikan tubuh yang sepertinya belum berhenti tumbuh, mungkin tingginya sudah bertambah beberapa cm lagi, sudah bukan di angka 177 cm. Di tempat tidur, kaki putih mulus dan terlihat sangat panjang itu sedikit bergerak pertanda pemiliknya tidak sedang tidur pulas.
Om Markus tahu penyebabnya, pasti Rilly menolak bertemu. Dia sudah bisa menduga hal itu sejak Rilly tak kunjung memberikan alamat rumahnya. Semua yang terjadi pada Brill rasanya tak ada yang luput dari perhatiannya, dan dia selalu ikut merasakan apa yang Brill rasakan.
“Nak Brill, oma udah nungguin nak Bril dari tadi siang loh, katanya pengen ikut ke PRJ… ini sudah sore, tau kan gimana macetnya Jakarta di jam seperti ini… apa batal aja? Tapi kasian loh oma Susan udah nunggu lama…”
Brill bergeming, posisi tengkurap selalu menjadi caranya melampiaskan gundah di tempat tidurnya.
Om Markus menarik napas prihatin, anak asuhnya baru beberapa waktu ini saja terlihat seperti pria normal yang punya daya untuk menikmati hidup, begitu bersemangat datang ke kota besar ini. Bahkan demi datang ke sini, menjadi satu-satunya alasan dia mengikuti seleksi mandiri, seleksi terakhir untuk masuk perguruan tinggi di Universitas Sam Ratulangi pekan lalu. Mendaftar di hari terakhir, jam terakhir, menjadi calon mahasiswa paling terakhir yang menverifikasi data, padahal omnya sendiri yang menjadi rektornya.
Nama universitas ternama diambil dari nama buyutnya menurut cerita papinya dulu, sudah pasti karena beliau seorang tokoh yang multidimensional yang merupakan salah satu tokoh yang concern masalah pendidikan, tapi salah satu buyutnya hanya menjadikan alasan untuk melanjutkan sekolah karena ingin bertemu seorang gadis.
“Brill…”
Oma Susan sekarang masuk ke kamar besar cowok itu, percakapan dengan Markus tadi yang sedikit menceritakan kondisi cucunya membuat dia naik ke lantai dua rumah ini.
“Jadi ikut oma? Katanya mau nyari alat untuk studiomu…”
Om Markus meninggalkan kamar bos gantengnya ini, memberi ruang untuk oma Susan berbicara dari hati ke hati, berharap oma Susan jadi pelipur lara untuk anak asuhnya yang terus-menerus ada di kondisi rentan dan rapuh.
Ternyata kekayaan, orang tua yang terkenal dan punya kedudukan mulia dan penting, tak begitu berarti dan bukan menjadi sumber kebahagiaan atau sumber kepuasan anak asuh ganteng dan punya postur tubuh jauh lebih tinggi darinya.
Seorang gadis sangat biasa bahkan bisa dikatakan tidak cantik sama sekali bahkan dengan wajah cacatnya justru menjadi sumber kebahagiaan Brill, maka dari itu, Brill langsung patah semangat bahkan mungkin patah hati ketika Rilly menolak bertemu, walau hubungan keduanya masih terlalu prematur untuk disebut hubungan dekat.
Di kamar… oma Susan duduk di tepi tempat tidur dan mulai mengusap punggung cucu kesayangannya dengan tangan yang mulai keriput dan mulai banyak bintik coklat dan putih. Oma tidak bicara lagi, dia hanya ingin Brill merasakan kehadirannya di saat Brill sedang gundah.
Tiba-tiba Brill bangkit dan duduk bersila di tempat tidur.
“Oma…”
“Iya?”
Brill mempermainkan jemari sendiri, kepala menunduk hanya memperhatikan jemarinya. Lalu sesaat kemudian…
“Kita pulang…”
“Tiket kita besok lusa, Brill… kemarin kamu minta kita menunda sehari lagi, Deisi sudah mengganti tiket kita, lalu sekarang malahan minta pulang lebih cepat… masa kita me-reschedule tiket lagi?”
“Udah gak ada gunanya aku di sini, oma…”
Suara Brill yang serak dan tak bertenaga, membuat oma Susan menjadi kasihan pada cucunya yang satu ini, cucu yang lain jarang bertemu tapi mereka punya kepribadian yang berbeda, mereka dengan cepat mandiri dan punya tujuan. Dua orang anak dari putranya Manuel sekarang sedang kuliah di luar negera ini. Begitu juga tiga orang anak dari putranya Dicky, rasanya semua seperti sudah menata hidup untuk masa depan.
__ADS_1
Dan cucu satu-satunya dari pernikahan anak perempuannya yaitu Inggrid justru sebaliknya. Sepertinya keadaan dan kepribadian Brill yang terlemah di antara semua cucunya.
“Mamimu malam ini tiba di sini, kita mau kumpul keluarga besok. Ini karena kita menunda sehari untuk pulang jadi oma kepikiran ingin kita semua berkumpul… sudah lama oma gak bertemu dengan semua anak cucu oma, kita sudah lama sekali gak kumpul keluarga jadi oma ambil kesempatan ini.”
Oma kemudian meneruskan karena cucunya masih duduk menunduk, tak bereaksi apapun…
“Om Dicky dan tante Katrine begitu sibuk dan tidak pernah pulang Manado lagi. Nah… bertepatan om Manuel ada acara di kementrian, jadi oma minta semua datang ke Jakarta aja sekalian kita bertemu… kamu juga sudah lama gak ketemu sepupu-sepupumu kan?”
Oma berbicara pelan saja dengan suara yang tenang dan dengan kalimat teratur dan tidak buru-buru. Brill tak menjawab.
“Oma kangen cucu-cucu oma yang lain, semua sudah besar dan tinggal jauh dari oma. Sekarang semua sedang libur kuliah, jadi semua pulang ke Indonesia… jadi oma ingin ketemu mereka…”
Brill memandang oma Susan sekilas lalu kembali menatap tangannya sendiri. Dulu dia dan sepupu-sepupunya cukup akrab saat semua masih tinggal di Manado dan saat semua masih murid SD, tapi sekarang bertemu mereka mungkin akan terasa asing.
“Kita pulang sesuai tiket yang ada, ya Brill? Hari ini kita batal aja ya ke PRJ, ini sudah sore…”
Brill masih tak bersuara. Oma Susan berdiri lalu mengusap kepala Brill sejenak dan keluar dari kamar.
Om Markus masuk lagi menggantikan oma Susan, dia masih khawatir dengan si boss kecil tapi bertubuh jangkung ini.
“Om, kita bertiga aja yang pulang besok, om beli tiket lain aja, pakai ATMku…”
“Nak Brill… besok ada acara di sini, tante Rina akan bantu oma masak…”
“Banyak ART lain om, tante Rina tugasnya bukan itu kan?”
“Ahh, om… tapi aku ingin pulang sekarang. Kita berdua yang pulang, aku gak mau di sini lagi.”
Nada bicara Brill berubah ini karena suasana hatinya, kemarahan dan kekecewaan serta kesedihan bercampur jadi satu. Brill bukan seseorang yang tangguh, dia tidak kuat menghadapi situasi yang semacam ini.
“Nak Brill… oma Susan ingin semua keluarga berkumpul di sini, dan semua sudah menyetujui, Bierna dan adik-adiknya sudah sampai di Jakarta, tadi baru menelpon oma… masa nak Bril jelas-jelas sudah ada di sini malahan pulang Manado…”
“Jangan paksa aku om!”
Brill masih bersikukuh tak ingin mengubah keputusannya.
“Nak Brill… om gak memaksa, om hanya menjelaskan keinginan oma Susan.”
Kali ini Brill tidak menyanggah.
“Nak Brill lebih beruntung dibanding sepupu yang lain, bisa tinggal bersama oma Susan selama ini, bisa makan makanan buatan oma, bisa merasakan kasih sayang dan perhatian oma… yang lain jarang. Menurut om, nak Brill itu paling disayang oma loh, jadi harusnya nak Brill yang harus paling pertama mendukung keinginan oma Susan… ini momen yang jarang terjadi dan oma ingin semua anak-cucu oma berkumpul…”
Brill hanya melirik singkat tapi tidak melawan om Markus lagi. Dia paham sekali tentang ucapan om Markus, dia merasakan kasih sayang oma untuknya sangat besar, juga tak bisa disangkal jika tentang perhatian oma Susan untuknya.
“Turun makan dulu, sejak siang belum makan loh…”
__ADS_1
Om Markus segera keluar, dia bisa pastikan setelah diingatkan tentang kebutuhan biologisnya, pasti Brill akan turun ke ruangan bawah mencari makan, sesedih atau segundah apapun Brill hanya menunda jam makan dan justru akan makan lebih banyak.
.
🐳
.
“Rilly…”
“Ya tante…”
Rilly yang keluar dari kamar oma Betsy berhenti di ruang makan karena panggilan tante Isye. Tante Isye dan om Armando juga ada anak lelaki mereka sedang makan sesuatu, bukan makan malam hanya cemilan ringan nampaknya, jam makan sudah lama lewat.
“Mami sudah tidur?”
“Iya tante, oma sekarang sudah lebih bertambah jam tidurnya… biasanya oma baru terlelap menjelang subuh, sekarang paling lambat jam dua belas oma sudah tertidur…”
“Iya… tante tahu itu, terbalik sekarang kan, subuh mami sudah terbangun…”
“Iya tante…”
“Kenapa hpmu tidak bisa dihubungi? Tadi siang tante berapa kali menelponmu… Apa hpmu rusak? Dina bilang kamu gak bawa hp ke sekolah…”
“Eh… maaf tante, Rilly suka lupa kalau Rilly punya hp. Hpnya gak rusak kok, Rilly tidak menghidupkan saja.”
Tante Isye tersenyum, sedikitnya dia paham kondisi Rilly yang baru saja memiliki sendiri alat komunikasi paling dibutuhkan manusia sejagat raya, mungkin belum terbiasa. Tapi dalam hari Rilly sedikit takut sudah berbohong, dia memang sengaja tidak menghidupkan hpnya karena suatu alasan.
“Duduk di sini yuk, Rilly… kamu belum mengantuk kan? Besok Sabtu kamu tidak sekolah… kita ngobrol aja dulu ya…”
Rilly tercengang, surprise diajak duduk bersama keluarga itu. Dengan tante Isye dia sudah biasa, tidak canggung lagi, tapi di sini ada om Armando yang masih berwajah datar padanya, dan ada kak Fernando yang juga tidak terlalu ramah sebelum ini. Rilly sangat sungkan.
“Ayo Ril, duduk di sebelah kak Ando aja…”
Dengan rasa canggung yang mendera Rilly menatap tante Isye, om Armando bergantian.
“Ehh, ah sebaiknya Rilly naik aja tante… Rilly gak ingin mengganggu…”
“Ril, kamu ti…”
Tante Isye tidak meneruskan kalimatnya karena di bawah meja kaki suaminya Armando menyenggol kakinya. Saat bertatapan dia bisa melihat suaminya tidak suka, dan Rilly melihatnya.
“Rilly permisi aja tante, Rilly mau istirahat… selamat malam…”
Di anak tangga terakhir Rilly berhenti, dia masih mendengar gerutuan om Armando terhadap tante Isye. Kenyataan sikap om Armando yang tidak menyukai dan curiga padanya membuat Rilly bersyukur dia tidak melayani keinginan Brill.
__ADS_1
Dengan gundah Rilly masuk ke dalam kamarnya, tak ada obat hati yang kecewa karena kenyataan bahwa hidup tak seberuntung orang lain.