Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 35 Suatu Hari Nanti, Brill Timothy


__ADS_3

“Rill…”


Kak Ando mengangkat sebuah kantong plastik bening transparan jadi langsung ketahuan apa isinya. Rilly tersenyum kecil tahu apa yang diinginkan kak Ando. Rilly baru saja mau masuk kamar oma Betsy dengan membawa satu buah gelas besar yang biasa dipakai oma untuk minum.


“Iya sebentar kak, Rilly bawa masuk gelas oma dulu.”


Saat Rilly memasak Ando rupanya naik ke kamarnya sehingga bertepatan mie selesai dibuat Ando sudah turun terlihat segar karena baru mandi dengan setelan jersey basket yang rupanya jadi pakaian tidur sehari-hari.


“Silahkan dimakan kak… Rilly mau masuk kamar, mau pijitin oma.”


“Temenin sebentar Ril, gak enak makan sendirian…”


Rilly urung melangkah ke kamar oma Betsy, melihat kak Ando yang tidak langsung makan masih berdiri seperti menunggunya untuk tetap tinggal menemani. Dengan sedikit enggan Rilly duduk di depan Fernando. Dia ingat tatapan tidak suka om Armando yang beberapa kali memergoki aktivitas malam yang sekarang rutin dilakukan Fernando dan Rilly, tapi entah kenapa dia duduk juga mengikuti permintaan kak Ando ini.


Sejujurnya setiap kali, Rilly takut berinteraksi dengan kak Ando karena om Armando, tapi mau bagaimana lagi?


Sekarang sehari-harinya mereka pasti bertemu di sini, terlebih malam hari saat kak Ando pulang dari tempat usahanya mereka akan bertemu berdua di ruang makan ini, gak tahu juga kenapa kak Ando ini selalu makan malam di rumah, padahal di kota sebesar ini orang dengan kehidupan seperti mereka jarang ada yang makan di rumah. Ini juga yang diamati Rilly selama tinggal di sini, keluarga utama pemilik rumah ini hampir tidak pernah makan di rumah.


Tapi beberapa bulan terakhir, Fernando selalu makan di rumah dan selalu juga meminta Rilly membuatkan mi instan.


“Kak Ando harus mengurangi makan mie instan…”


“Udah sering kamu katakan Ril…”


“Tapi kak Ando gak berhenti… bahaya loh terus-terusan mengkonsumsi ini…”


“Iya, tahu… ini yang terakhir deh, demi kamu aku akan berhenti makan mie instan…”


Fernando menjawab enteng.


“Apa sih kak Ando… demi kesehatan kak Ando dong… masa demi Rilly…”


Fernando hanya melirik sebentar kemudian makan dengan lahap, terlihat begitu menikmati.


Cowok berbadan terlalu berisi ini mungkin karena suka latihan, dengan garis wajah warisan gen om Armando yang sangat jelas, good looking sebenarnya, tapi untuk Rilly tidak begitu dia perhatikan fisik kak Ando ini, seseorang nun jauh di sana telah menjadi standar untuk menilai ganteng tidaknya seorang cowok.


Fernando terlalu maskulin dan seseorang dalam ingatannya sangat tampan, dengan tubuh tidak terlalu berisi tapi tidak kurus dengan wajah yang bisa dibilang manis, hanya alis tebal yang membuat wajah manis itu jadi menonjolkan sisi sebagai cowok.


“Gak belajar lagi kamu?”


Suara kak Ando terdengar di sela-sela dia menikmati mie instannya.


“Oh… Rilly… Rilly gak lolos seleksi masuk kak…”


Rilly menjawab pelan, pengumuman minggu yang lalu membuat dia kecewa, namanya tidak ada di daftar yang lolos masuk ke perguruan tinggi. Sepertinya hal yang baik masih terlalu jauh dari garis hidupnya. Dia pernah berharap, suatu hari nanti segala sesuatu akan lebih baik dalam kehidupannya, bukan tidak mensyukuri keberadaan sekarang tapi dia ingin kehidupannya tidak bergantung pada orang lain lagi, dan ketidaklulusannya mempengaruhi mentalnya untuk berharap lagi.


“Kamu memilih fakultas apa? Di universitas apa?”


“FEKON di UNSRAT…”


“Oh?? Jadi ternyata kamu rencananya mau pulang Manado? Gak pengen kuliah di sini aja?”


“Rilly kan mau ikut oma pulang… jadi mencoba di universitas yang ada di Manado, ternyata gak lolos…”


“Kenapa gak di sini aja? Kamu bisa masuk swasta, banyak universitas yang bagus…”


Rilly tersenyum tapi hatinya ngilu, beberapa waktu lalu dia ngobrol dengan Giveel dan jadi tahu kuliah di universitas swasta biayanya sangat mahal.


“Rilly gak bisa kak, Rilly pengen ikut oma…”


Rilly menjawab perlahan, ini juga yang jadi alasan kuatnya, dia tidak ingin pisah dari oma, walaupun tante Isye baik, terlalu baik bahkan, tapi akan sangat berbeda situasinya jika dia tetap tinggal di sini sementara oma Betsy sudah gak ada.


“Oma udah ada yang merawat Rilly, ada suster, terus tinggalnya di rumah tante Irma juga… apa yang kamu khawatirkan, harusnya kamu pikirkan masa depanmu dulu untuk sekarang… universitas swasta di sini jauh lebih baik… di sini aja gak usah ikut oma pulang, liburan kamu bisa jenguk oma juga… nanti kak Ando bantu kamu cari universitas yang bagus…”


Kak Ando menghentikan kegiatan makannya dan menjadi cerewet membicarakan kuliahnya.

__ADS_1


“Gak usah kak, gak papa kok Rilly gak lanjut kuliah, udah bersyukur kok bisa tamat SMA…”


Fernando menatap tepat di mata Rilly, dia meletakkan sumpit di atas mangkok mienya.


“Ril… kenapa berpikiran seperti itu? Ijazah SMA saja gak cukup loh untuk hidupmu ke depan… kalau bisa mendapatkan yang lebih baik kenapa menyerah? Gak lolos ke Universitas Negeri tapi jangan nyerah dong…”


“Gak papa, kak… di Manado ijazah SMA udah bisa buat ngelamar kerja.”


“Rilly? Jangan punya sikap mental sekedarnya dong, sekedar menjalani hidup. Jangan punya pandangan yang rendah dong, harus punya tekad untuk mewujudkan hidup yang terbaik, bukan hidup hanya biasa-biasa aja, atau hanya di bawah rata-rata… kamu bisa kok kalau kamu berani punya cita-cita besar… berani punya mimpi besar… kayak kak Ando dan kak Oyen… kita berhasil sekarang karena punya mimpi, punya tekad, dan terutama karena kuliah. Kamu juga kuliah minimal S1.”


Rilly memandang Fernando yang sedang serius di depannya. Dia memang menginginkan hidup yang lebih baik, tapi bagaimana caranya? Menurutnya kuliah di PTN satu-satunya yang dia bisa terima ketika tante Isye menawarkan itu, kuliah di PTS buka opsi yang berani dia terima, berapa banyak biaya yang harus tante Isye keluarkan? Dia takut di kemudian hari dia tak bisa membalas kebaikan hati tante Isye.


“Lagi omongin apa sih? Sepertinya seru?”


Tante Isye baru pulang tidak langsung ke kamar seperti biasa tapi singgah duduk di dekat anak cowoknya.


“Ini mi, Rilly gak lolos ujian masuk dan gak mau lanjut kuliah aja katanya… aku bilang tadi kuliah di swasta aja… dia gak mau kayaknya…”


“Bener Ril?”


“Iya tante, gak papa… kan Rilly mau ikut oma pulang juga, jadi Rilly rasa gak perlu… gak papa kok, Rilly bantu merawat oma aja…”


“Ril… mami aja minta kamu kuliah, gimana sih, masa gak mau?”


Om Armando sekarang yang masuk ruangan. Percakapan tentang Rilly terhenti.


“Honey… aku barusan sampai juga… mau langsung mandi?”


Tante Isye menatap sang suami sambil tersenyum.


“Lagi bicara tentang apa?”


Om Armando menatap menyelidik, melihat anaknya di sini rasa ingin tahunya muncul, Om Armando tidak ingin anaknya berurusan dengan gadis muda yang diurusi istrinya sekarang. Sementara Fernando spontan berpindah duduk di samping Rilly sekarang, om Armando bergejolak hatinya, sudah lama dia mengamati anaknya setiap kali pulang ke rumah di jam seperti ini.


“Rilly mau masuk kamar aja, tante…”


“Eh?? Kita lagi bahas tentang kamu loh…”


“Gak usah tante, seperti yang Rilly bilang aja… Rilly ikut oma pulang, itu aja…”


Rilly baru saja mendapatkan tatapan tajam dari om Armando. Dia tahu dia tidak boleh macam-macam, jika mengartikan tatapan itu.


“Rill, sebentar, pastiin dulu kuliah kamu…”


“Oh iya, Rilly ingat tadi belum pijitin oma… oma lagi menunggu sebenarnya…”


Rilly masuk kamar dengan buru-buru, tapi pintu tak ditutup seluruhnya karena dia mendengarkan sebuah kalimat om Armando…


“Kalian berdua tidak perlu segitunya mengurus anak itu, biarkan dia pulang dengan mami…”


“Apa sih, honey… kasihan loh, aku udah janji untuk membiayai kuliahnya…”


“Aku melarangnya, Is… cukup kegiatan amalmu… dia sudah selesai SMA, sudah dioperasi… dia bukan urusanmu lagi…”


“Honey… dia anak mami, dia adikku, aku ingin dia gak berhenti sekolah… dia harus mendapatkan pendidikan yang baik…”


“Mami akan diurus Irma, memang sudah seharusnya seperti itu kalian anak-anak bergantian mengurus mami, dia belum pernah mengurus mami jadi sekarang gilirannya. Serahkan urusan anak itu pada Irma juga…”


“Hon…”


“Aku melarangmu Is… jangan melawanku… dan kamu Ando, jangan berurusan dengannya, jangan terlalu dekat dengannya …”


“Loh? Apa maksud papi?”


“Jangan sok baik padanya.”

__ADS_1


“Hah? Aku gak sedang bersikap sok baik, aku hanya bersikap sewajarnya pada anggota keluarga ini.”


“Dia bukan keluarga kita, jaga sikapmu, nanti kamu dibodohi lagi seperti kemaren.”


“Astaga… sikapku? Kenapa papi mencampuri pribadiku sekarang? Aku bukan anak remaja yang bisa dibodohi orang, pi… lagian, kenapa mengatai Rilly seperti itu?”


“Iya, kamu memang bukan remaja lagi, tapi kamu ditipu abis-abisan sama Sendy.”


“Loh? Papi ada apa mengungkit Sendy?”


“Kalian lengah anak itu bisa seperti Sendy.”


“Papi gak rasional, kenapa mengeneralisir dan mencurigai orang?”


“Papi hanya waspada, Ando! Kalian tidak awas dengannya maka aku yang melakukannya!”


“Astaga Hon? Sejelek itu anggapanmu pada Rilly?”


“Terserah! Itu penilaianku, dan kalian harus dengarkan aku, jangan naif!”


“Papi yang naif dan arogan!"


Fernando menjawab marah lalu segera naik ke ruang atas, meninggalkan mienya yang masih ada setengah, dia tersinggung dengan perkataan sang papi.


“Hon? Ando sudah dua puluh tujuh tahun, kamu masih mendiktenya? Kamu tidak mempercayai anakmu?”


“Aku tidak ingin dia terjerat dengan perempuan tak bertanggung jawab, kurasa aku tidak salah!”


“Itu sama saja, Honey, kamu membuat dia marah, kamu tidak menghargai privacynya, lagi pula kamu mengatakan seolah-olah dia dan Rilly ada sesuatu.”


“Kamu tidak tahu kan? Mereka hampir setiap malam ngobrol berdua hingga larut malam, itu pasti karena sesuatu, Is… aku tidak akan membiarkan Ando melakukan hal yang salah.”


“Oh?? Honey, kamu terlalu curiga, kamu benar-benar tidak menghargai anakmu, kamu papi seperti apa? Apa kamu tidak mengerti, di usianya yang sekarang apapun yang dia lakukan sudah menjadi tanggung jawab pribadinya? Kenapa memperlakukan Ando seperti anak ingusan yang tidak tahu apa-apa?”


“Is… aku hanya…”


“Kamu keterlaluan, Armando… sangat keterlaluan. Kecurigaanmu pada Rilly membuatku tersinggung. Dia keluargaku Armando, meskipun kamu tidak ingin mengakuinya… dia adikku.”


Tante Isye meninggalkan suaminya dengan wajah kesal, dan Rilly mengusap dadanya, sesuatu menusuk jantungnya, itu sakit. Pintu yang terbuka sedikit tadi ditutup perlahan hingga tidak menimbulkan bunyi.


Dengan langkah gontai dia mengambil kasur lipat di sisi tempat tidur suster Dina, lalu mengaturnya dan membaringkan tubuhnya di sana. Oma dan suster Dina sudah tertidur, tersisa Rilly yang berbaring menghadap dinding, sudut matanya basah.


Dia bukan gadis cengeng, telah terbiasa menyimpan semua sakit hati dalam sepi hatinya. Tapi sakit yang terasa kali ini begitu menusuk, sebuah tuduhan tak berdasar hanya karena dia membantu kak Ando memasak, dia tidak pernah berniat menggoda atau semacamnya, dia meladeni kak Ando hanya karena dia ingin merasakan kehangatan seorang kakak, ya… dia seperti melihat sosok seorang kakak dari diri Fernando. Itu ternyata tidak diperbolehkan om Armando.


Tekadnya untuk meolak kebaikan hati tante Isye membiayai kuliahnya semakin bulat.


Tak ada kalimat ‘suatu hari nanti hidup akan lebih baik’, tidak ada yang seperti itu mungkin di garis kehidupannya, selalu saja ada yang mengganjal setiap dia melangkah untuk meraih sesuatu.


Rilly belum bisa tertidur karena hati yang gundah mencari hpnya, ternyata ada di kaki oma Betsy. Rilly berbaring seperti tadi lagi membuka aplikasi akun fb yang dibuatnya sejak dia memiliki hp sendiri.


Rilly menscroll linimasa, memberi like pada beberapa postingan, tertarik melihat permintaan pertemanan yg berwarna merah, dan ada nama Brill Timothy R.


Jadi ingat kisah setahun yang lalu, apakah dia bisa untuk merasa menyesal? Pilihan waktu itu tak menemui Brill serasa tak ada arti apa-apa untuk hidupnya setelah itu, mungkin jika dia memutuskan bertemu ceritanya akan berbeda, mungkin dia akan memiliki sedikit hal yang indah dalam hidupnya?


Rilly mengkonfirmasi permintaan itu dengan hati berdebar bercampur rasa senang yang tiba-tiba muncul. Rilly memperhatikan beberapa foto Brill di dindingnya membuat Rilly sedikit merasa lebih baik.


Rilly memberikan sebuah komen di postingan foto selfie Brill yang terbaru...


Hi Brill, pa kabar?


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2