
"Ketemu di sekolah ya?"
Brill segera berlalu meninggalkan Rilly yang masih surprise dengan kejadian barusan. Dia menatap punggung Brill sampai sosok itu menghilang masuk ke dalam rumah. Hatinya menghangat dengan kalimat yang ditinggalkan Brill... apakah itu berarti mereka memang berteman sekarang?
.
"Brill, giliran kita menyanyi, sekarang... oma tunggu di panggung..."
Brill menatap punggung oma Susan yang segera berlalu dengan langkah pastinya. Tubuhnya sudah mulai condong ke depan tapi tak ada gambaran bahwa tubuh tua oma Susan ringkih atau lemah, dia masih energik. Oma Susan tidak menoleh menunggu jawaban atau reaksi Brill.
Sementara, di tempatnya tubuh Brill segera bereaksi, grogi. Tangannya mulai basah dan dingin, tubuhnya mulai kaku, tegang karena perasaan gugupnya begitu cepat datang menguasai.
Lima langkah meninggalkan kamar, di pikirannya sedang bertarung dua hal... apa terus melangkah menuju panggung di luar sana kemudian menyanyi bersama oma Susan, atau kembali ke kamar dan mengunci pintu lalu memasang lagu di hpnya dengan headset di telinga sehingga tak mendengar apapun.
Brill semakin dekat dengan pintu dan bisa mendengar suara oma Susan yang sudah memegang mic sedang bicara dengan suaranya yang masih lantang... pengumumannya jelas, dia akan bernyanyi bersama cucunya.
Satu langkah lagi untuk keputusan penting, Brill berdiri tegang di sana. Senyum oma Susan dengan lambaian tangannya menarik Brill untuk melangkah ke atas panggung.
"Brill... sayang..."
Ibu Bupati yang duduk paling depan sederet dengan beberapa orang penting yang terundang di acara ini berdiri mendekati Brill.
"Mami senang, akhirnya kamu mau nyanyi, Ully..."
Brill tak menjawab sang mami, dia mau melakukan ini bukan karena permintaan sang mami sebelumnya, dia ingin menyenangkan hati oma Susan. Brill memandang dingin wajah sang mami lalu meneruskan naik ke panggung. Sudut matanya masih bisa menangkap sang mami melambai dengan senyum pada anak semata wayang, seperti memberi dukungan untuk Brill.
"Brill..."
Satu tangan oma terulur dan memegang lengannya, tangan satu memegang mic.
"Aku... aku gak bisa oma nyanyi, terlalu banyak orang... oma aja yang nyanyi, aku main quitar aja..."
Brill berbisik pada oma Susan.
"Jangan tegang Brill, nyanyi aja seperti tadi... anggap aja lagi latihan, anggap aja lagi di kamarmu... ada Wandy juga..."
Oma Susan menunjuk pemain drum yang kadang kala berlatih musik dengan Brill. Wandy anak kenalan oma Susan yang punya toko alat musik dan sound system dan juga membuka kursus musik di Manado. Sejak Brill ketagihan kursus berbagai alat musik, Wandy kadang jadi teman bermain band buat Brill bersama Gio dan Lefrand, yang merupakan guru musik di tempat kursus.
Wandy mendekat dengan sebuah acungan tangan meminta tos, Brill membalas dengan hati yang sedikit lega.
"Mau main sendiri aja, pakai quitar akustik... atau?"
Wandy bertanya pada Brill.
__ADS_1
"Semua aja..."
Wandy mengangguk dan meminta teman-temannya untuk bersiap. Brill pun mengalungkan strap quitar akustik ke pundaknya.
"Teman yang lain mana?"
Brill susah mengingat nama seseorang, laci memorinya sukar terbuka di bagian mengingat nama-nama. Wandy menoleh, memaklumi hanya namanya yang bisa disebut Brill dengan lancar.
"Gio dan Lefrand?"
"Iya... mereka..."
"Hari ini jadwal kursus mereka padet, jadi gak bisa ke sini..."
Wandy menaikkan sebuah stand mic menyesuaikan dengan tinggi Brill.
"Ikut nyanyi juga kan..."
"Ehhh?
Brill tak menjawab, dirinya masih ragu untuk ikut menyanyi.
"Tapi aku pengen sambil duduk aja..."
"Oh oke... senyaman kamu..."
"Seperti biasa aja ya... Brill mulai dengan intro ya..."
Wandy memberi instruksi. Brill kemudian duduk masih berusaha menenangkan deburan jantung sendiri. Beberapa saat berlalu, Brill belum memulai, menghela napas berusaha menenangkan perasaannya, fokus pada quitar yang tersandang tepat di bagian perutnya. Dia gak ingin melihat ke depan ke arah orang-orang yang sedang menantikan performa anak bupati, dia gak ingin terganggu dengan banyak pandangan yang menghujam padanya.
"Brill... mulai aja..."
Brill menoleh pada oma yang menunggunya.
Dengan menunduk melihat dawai Brill memulai petikan quitarnya. Saat memulai beberapa nada terdengar putus-putus, hampir blank... tapi sesaat kemudian ketika jemarinya menyentuh dawai... nada-nada yang ingin dimainkan jarinya muncul berurutan di benaknya menjalin harmoni dalam sebuah intro lagu yang dengan cepat terangkai di otaknya.
Oma Susan memulai sendiri dengan tempo yang pas seirama dengan nada yang dihasilkan oleh petikan jemari Brill yang lincah. Memasuki bagian refrain lagu, tak sadar Brill mengikuti suara sopran oma Betsy dengan suara maskulinnya yang bertenaga. Suara tenornya dengan range nada satu oktaf di bawah oma Betsy saling berpadu menjadi duet yang menghidupkan lagu sederhana itu.
Duet oma Susan dan Brill menjadi bagian yang membuat acara ini semakin menarik. Semua orang terpaku terutama pada penampilan sang anak bupati. Ini kali pertama Brill menyanyi di depan orang lain, dalam jumlah banyak pula.
Lagu selesai dan tepuk tangan yang riuh segera terdengar ditambah permintaan untuk menambah lagu. Ibu bupati terpancing untuk bergabung segera naik ke atas panggung, Brill tak sempat untuk turun.
Sebuah mic diserahkan seorang soundman pada ibu Inggrid.
__ADS_1
"Tes... tes... saya berdiri dengan bangga di sini, sebagai anak dari oma Susan dan sebagai mami dari Brill... duet tadi luar biasa bukan..."
Jawaban dari bawah terdengar bersahut-sahutan.
"Yaaaa... nyanyi lagi... tambah lagu..."
"Minta tepukan tangannya... mereka memang orang-orang yang hebat yang sangat mendukung saya dengan cinta dan sayang... keluarga harus saling mendukung, oma-opa di sini butuh perhatian yang sungguh-sungguh dari anak-anak..."
Sang bupati masih meneruskan kata-katanya, dia terbiasa dengan pidato-pidato kecil seperti itu, sangat fasih mengangkat tentang topik apapun, bahkan hal-hal yang sangat random bisa disampaikan dengan menarik.
Brill menunduk dengan seringai kecil, sinis yang tersamar dalam bentuk wajahnya yang sempurna. Depan publik maminya memang tanpa cacat, tapi dia jenuh berhadapan dengan mami yang seperti ini, berbicara tentang cinta dan sayang yang penting di antara keluarga, sangat basi, Brill tak butuh retorika, tak butuh ungkapan tanpa makna.
Brill berdiri dan melepaskan strap quitar lalu menyandarkan quitar itu di tempatnya, lalu meninggalkan panggung...
"Ehh... Brill, sebentar sayang, mami mau nyanyi duet juga denganmu... bagaimana kalau saya duet dengan anak kesayangan saya, setujuu??"
Ibu bupati cepat mengantisipasi, dia tahu anaknya tidak akan mau, dia meminta audiens mendukungnya.
"Mauuu bu... mauuu... Ayo Brillll..."
Brill berbalik, wajah dramanya langsung keluar saat menatap sang mami yang mengulurkan sebelah tangannya. Sebelum Brill duduk kembali sebuah pelukan singkat beraroma pura-pura antara mami dan anak dilakukan dengan baik.
"Saya mau nyanyi lagu 'Bunda'... saya pernah dengar anak saya menyanyikan lagu ini di kamarnya saat tengah malam, waktu itu saya baru pulang dan lelah dengan tugas-tugas saya, saya menikmatinya dari balik pintu karena kamarnya sedang tertutup..."
Brill mengangkat kepalanya mencari pandangan maminya, sesuatu tergores di hatinya. Ini jeritan hatinya dulu, saat dia mulai lancar memainkan quitarnya di usia empat belas tahun... saat dia merasa rindu terhadap sosok mami yang dulunya begitu sayang dan memanjakan dirinya, yang mengurusnya dengan sangat telaten di masa balita. Saat itu dia menyanyi dengan pipi yang basah.
Dia tak bisa mengartikan pandangan mami yang juga tertuju padanya. Brill menunduk, hatinya tidak begetar dengan kalimat yang baru selesai diucapkan sang mami, entah... hatinya tawar sekarang.
Brill memulai intronya. maminya pun menyanyikan lagu itu. Suara wanita itu cukup merdu di telinga. Sejenak dia berharap Brill akan ikut bernyanyi bersamanya tapi selama mami Inggrid menyanyi Brill tak mengangkat kepala hanya menatap dawai gitarnya, dia juga tak mengeluarkan suaranya.
Oh... bunda... ada dan tiada dirimu, kan selalu ada di dalam hatiku...
Brill mengikuti potongan lirik lagu itu dalam hati, setelahnya dia mengguman pelan berbarengan dengan dentingan dawai ending dari lagu tersebut...
Mami gak pernah ada lagi buatku mam...
.
Di sebuah tempat, mata Rilly mengembun, dia gak pernah merasakan bagaimana ditimang seorang ibu, dimanja seorang ibu. Oma Betsy mungkin melakukan perannya sebagai ibu selama ini, tapi dalam hatinya dia menyimpan rindu, itu tidak sama untuknya.
Rilly memperhatikan Brill dari tempatnya, terpukau dengan sosok Brilly saat bernyanyi dan memainkan quitarnya. Rasa senang merambat di hati lagi saat memandang Brill yang sedang turun dari panggung itu. Andai dia bisa ke sekolah lagi, dia ingin membuktikan ucapan Brill bahwa mereka adalah teman.
.
__ADS_1
🎸
.