
Brill harus menunggu di depan pos penjagaan ini walau ini bukan wataknya, dia gak bisa berbuat banyak, karena dia berada di area yang tidak bisa bertindak sembarangan. Hanya kenekatannya yang membuat dia masih bertahan menunggu. RIlly tidak mau menjawab panggilan dan dia gak akan pergi jika tidak bertemu Rilly.
Berdiri bersandar di mobilnya demi mendapat ijin masuk, tapi ini sudah lebih dari lima belas menit, maka Brill mendekati pos di mana ada seseorang yang berjaga.
“Pak… gimana? Apa bisa bertemu Rilly?”
Brill bertanya dengan nada sopan, dia tahu bagaimana bersikap baik. Pernah menjadi anak yang tinggal di rumah dengan penjagaan seperti ini, dia tahu bahwa orang yang tidak berkepentingan tidak dapat masuk dengan mudah. Apalagi jika datang bukan atas undangan, hanya keinginan sendiri. Dalam pengalamannya, biasanya dengan penolakan halus yaitu diminta untuk mengisi buku tamu dan diminta menuliskan tujuan bertamu, dan minta kembali lagi untuk mengecek kapan waktu yang ditentukan bagian yang mengatur soal itu.
“Tunggu sebentar ya, adik… masih sementara diatur…”
Brill melemparkan senyum magnetisnya. Dia harus mengunakan segala cara, maka dia mengajak bapak yang berdiri siaga itu untuk bercakap, hanya bercakap kan gak mungkin dilarang.
“Sudah lama bertugas di sini, pak…”
“Oh iya… dik…” Bapak itu menjawab tapi postur tubuhnya tidak berubah, hanya tatapan matanya yang sering berpindah-pindah dari wajah Bril dan ke arah depan.
“Asal mana pak? Dari Manado juga?” Brill melanjutkan.
Brill sekarang bersandar di salah satu tiang pos. Mau dari ujung utara sampai selatan provinsi ini mau dari kabupaten manapun selalu bila ditanyakan asal mereka akan menyebutkan ‘dari Manado’.
“Iya, dik… saya asli Minahasa.” Bapak itu menjawab tegas tanpa senyum.
Brill tersenyum, ini terbuka satu celah kecil untuk masuk. Brill menunggu, tapi bapak itu tidak bertanya apapun padanya, maka Brill bicara saja dia punya tujuan untuk mendapatkan ijin masuk, sepertinya agak susah atau bahkan mungkin gak bisa. Tadi dia mendengar tentang isu wabah yang menyebar sampai ke provinsi ini, dia takut itu akan menjadi alasan dia tidak bisa masuk ke rumah ini.
__ADS_1
Akhirnya Brill bicara…
“Saya marganya Ratulangi, pak… papi saya katanya dari Tondano tapi dia lahir dan besar di Amurang…”
Bapak itu menatap Brill lama, seperti sedang memperhatikan sosok Brill.
“Mungkin bapak pernah ketemu papi saya… hehe…”
“Bertemu? Papinya adik ini juga anggota ya…”
“Oh bukan sih, dia Walikota pak, hehehe…”
“Ooohhh, adik anaknya walikota ya, yang Pak James Ratulangi...”
Sebenarnya Brill tidak nyaman mengakui ini, Tapi dia butuh akses dan dia menggunakan nama papi dan omnya, demi bertemu seorang Rilly.
“Iya… adik beruntung sekali, maminya adik bupati dulunya ya… memang saya perhatikan, wajah adik ini mirip siapa ya, ternyata mirip sama bapak walikota…” Si bapak tetap bersikap tegak tapi dia sudah membagi senyum untuk Brill.
Brill merasakan keberuntungan berwajah mirip papinya hari ini, setidaknya informasi yang diakuinya bisa divalidasi hanya dengan melihat tampangnya. Dan bapak ini asli orang Manado memang, kalau sudah mengobrol dan terkoneksi pasti dia akan segera bersikap ramah.
Dan Brill melihat bapak itu mengetik sesuatu di hpnya, Brill hanya mengira-ngira bahwa itu tentang dirinya. Brill tersenyum, semoga trik mencatut nama papinya dan omnya berhasil, setidaknya orang-orang di sini mungkin akan menghargai statusnya, atau paling tidak mereka akan percaya bahwa dia tidak dari kalangan yang sembarangan di provinsi ini.
Lima belas menit berlalu, dan Brill masih sabar menunggu, Brill berharap ini tidak sia-sia, berharap setelah informasi tentang siapa dirinya dia bisa memperoleh akses masuk.
__ADS_1
Seseorang yang tadi masuk ke dalam sekarang keluar lagi dan berjalan cepat ke arah pos itu. Brill berdebar. Jujur dia tidak ingin keinginannya di tolak. Tadi dia sempat terpikirkan untuk menelpon sang papi, meminta papinya untuk bicara dengan ibu yang punya rumah, setidaknya papinya punya jalur untuk menghubungi sebagai sesama pejabat walaupun berbeda lingkup otorita. Belum pernah dia meminta tolong papinya, jika dia tidak mendapatkan akses, dia berniat lakukan itu.
Saat si bapak mendekat...
"Bagaimana pak... saya bisa masuk dan bertemu Rilly?"
"Bisa, adik... mari silahkan ikut saya, tapi mobilnya ditinggalkan di sini saja."
Brill tersenyum girang. Tak apa dia jalan kaki walau terlihat rumahnya agak jauh, yang penting bertemu Rilly.
Di belakangnya terdengar bapak penjaga pos berkata...
"Kalau bukan anak walikota gak diijinkan masuk..."
Baru sekarang Brill merasakan ada untungnya jadi anak papinya.
.
Bisanya pendek aja...
Besok semoga bisa lebih byk.
.
__ADS_1
.