
Bukan hanya bertemu oma Susan ternyata, ada orang tuanya Brill di rumah ini. Rilly gugup saat masuk ke rumah ada orang lain juga, terlebih Brill cuek tetap menggandeng tangannya.
“Brill… ada banyak orang…” Rilly berbisik.
Brill gak menghiraukan, gak masalah buat dia, memang ada si mami dan beberapa ART mungkin baru tiba karena masih sibuk mengatur bawaan mami yang begitu banyak setiap muncul di rumah ini.
“Brill…” Rilly menggoyangkan tangannya meminta perhatian walau sudah terlambat untuk mundur dari sini.
“Gak papa… tenang ya, santai aja…” Brill melepaskan satu senyum manisnya.
“Brill?” Si mami lebih dahulu menyapa, dia sedang bemain dengan batita yang sedang digendong seorang suster.
Rilly semakin gugup karena Brill membawanya mendekati maminya, tentu Rilly mengenali sang mantan bupati, sering melihat profil ibu ini dulu kan…
“Ini siapa?” Suara ibu cantik terdengar serta mata yang mengamati Rilly membuat detak jantung Rilly segera bertambah dan terasa di dada.
“Ini Rilly, mam…” Brill berhenti dan memegang dua bahu Rilly dari belakang. “Ril… udah pernah bertemu mami kan? Ayo salaman jangan malu…”
“Temanmu, Brill?” Mami menyelidik sambil menyambut tangan Rilly yang sudah terulur. Rilly yang grogi tidak tahu harus mengatakan apa, hanya tersenyum canggung.
“Pacarku mam… namanya Brillianty… mirip namaku ya…” Jelas Brill dengan nada riang, begitu senangnya Brill memperkenalkan gadisnya.
Aduuh, Brill kok langsung jujur seperti ini sih, Rilly hanya bisa membatin sambil mengangguk sopan.
Si mami masih memandangi Brill, anaknya sudah dewasa ternyata, ekspresi wajah Brill benar-benar menunjukkan sedang jatuh cinta, dan kelakuannya yang memeluk mesra tanpa rasa malu membuat mami ingat dari mana gen itu berasal.
“Brillianty? Panggilannya Anty?” Si mantan ibu pejabat juga grogi di hadapan gadis yang sedang diperkenalkan padanya.
“Saya dipanggil Rilly bu…” Suara lembut dan pelan akhirnya terucap dari bibir Rilly karena pertanyaan itu ditujukan padanya.
“Panggil tante Inggrid aja…” Maminya Brill kemudian tersenyum tahu bahwa gadis di depannya juga sedang grogi.
“Asal mana?” Si mami masih ingin mengetahui gadis yang jadi pacar anaknya.
“Amurang bu…” Rilly menjawab, Brill seperti membiarkan Rilly berinteraksi dengan maminya, hanya berdiri di belakangnya tanpa melepaskan tangannya.
“Oh??” Ibu mantan pejabat jadi maklum kenapa Rilly konsisten memanggilnya ibu, mantan rakyat tercinta rupanya.
__ADS_1
“Rilly sekelas denganku dulu waktu SMA… pernah bertemu mami kok…” Brill membantu menjelaskan, karena raut maminya masih menunjukkan rasa ingin tahu yang besar mengenai Rilly.
Si mami mengerutkan dahi, tidak mungkin mengingat karena ada begitu banyak rakyatnya yang bertemu hampir setiap hari.
“Mami lupa Brill…” Si mami mencoba mengingat sambil memandang Rilly.
“Mami ingat permintaanku untuk operasi bibir sumbing?” Brill sekarang sudah merangkulkan tangannya ke depan Rilly membuat Rilly bersandar padanya. Rilly bingung bagaimana melepaskan pelukan Brill, tubuhnya seperti kaku karena berhadapan dengan ibu terhormat dan sekarang jadi ibu pacarnya.
“Oh? Itu? Iya, mami ingat… itu kegiatan sosial mami yang mendapatkan sambutan luar biasa, kamu tahu, tadinya hanya seratus orang akhirnya menjadi tiga ratus orang lebih, nama mami terangkat di situ, karena ada juga yang dari luar Minsel yang mendapatkan operasi…” Jelas ibu yang juga mantan anggota dewan ini, sekarang begitu menikmati peran hanya sebagai istri dan mami.
“Iya… tapi itu terjadi karena Rilly loh…” Brill memiringkan kepala melihat Rilly. Perasaan Rilly bertambah dengan rasa malu.
“Kok bisa Rilly?” Mami bertanya heran.
“Iya, awalnya kan aku minta mami membantu Rilly operasi…” Brill tersenyum tangan satu mengacak kepala pacar tersayang lalu kembali memeluk erat.
“Ohh? Jadi Rilly yang waktu itu? Oh… iya, mami ingat… tapi Rilly jadi cantik sekarang ya,” ucap sang mami walaupun tidak benar-benar ingat seperti apa Rilly dulu, dan juga cukup terpesona karena wajah Rilly yang sekarang tidak menunjukkan pernah mengalami operasi. Si mami langsung paham dari mana awal mula anaknya jatuh cinta, ini sedikit menggelitik hatinya karena Brill justru mengetahui bagaimana Rilly awalnya.
“Cantik dong pilihanku… cantik hatinya juga… udah cocok sama aku kan mam?" Brill mengangkat dua alisnya, dan maminya hanya senyum saja.
“Aduuh anak mami yang jatuh cinta… baby… lihat kakakmu seneng banget kayaknya udah punya pacar…” Si mami menjauh dan kembali memperhatikan anak perempuannya, mengalihkan rasa grogi yang merayap karena kalimat dan kelakuan anaknya. Dia bisa menangkap Rilly juga sudah salah tingkah seperti dirinya. Para pria suka gak mengerti keadaan kadangkala, jadi ingat gimana si suami dulu.
“Itu adiknya Brill?” Bisik Rilly lalu melepaskan diri dari pelukan Brill, sejak tadi ingin melakukannya tapi takut salah di depan maminya Brill.
“Iya, lucu ya… tau gak, selisih umurnya sembilan belas tahun denganku…”
“Siapa namanya?” Rilly memperhatikan adik kecil Brill yang sudah turun dari gendongan dan mulai berjalan dengan langkah yang masih tertatih.
“Miracle,” jawab Brill lalu memanggil adiknya yang berwajah persis maminya. “Mirey… sini…” Dua tangan Brill terentang sambil Brill berjongkok.
Si bayi tersenyum sangat manis, dan mulai melangkah mendekati sang kakak. Saat dekat karena Rilly ikut berjongkok si bayi berhenti berjalan dan memandangi Rilly lalu berbalik.
“Hei… malu ya, sini dong… sama kakak…” Brill membujuk. Adiknya justru melangkah dengan cepat menuju susternya dan hampir terjatuh, dengan sigap Brill mengendong adiknya.
“Kenalan ya sama Rilly, hi sist…” Brill mengarahkan Mirey supaya saling tatap dengan Rilly.
Rilly tersenyum, “hi Mirey…”
__ADS_1
Adik perempuan Brill menyurukkan kepala ke dada Brill tapi tetap memandang Rilly.
“Malu tapi pengen tahu, hehe…” Brill menciumi dengan gemas pipi gembul adiknya.
“Rilly gendong, mau gak?” Rilly mengangkat dua tangan tapi Mirey menyembunyikan wajahnya bersandar di dada Brill.
“Mirey… ini bakal jadi kakak ipar loh… mau gak digendong kakak?” Brill membujuk lagi dengan suara lembut sambil memutar lagi tubuh adiknya.
Rilly tersenyum canggung, Brill benar-benar membawanya segera masuk ke situasi ini, baru seminggu jadian udah menyentil-nyentil tentang sesuatu yang serius. Apa Brill gak mikir saat mengatakan semua yang berhubungan dengan ikatan ini? Brill mau mengajaknya menikah muda? Mirey belum mau digendong Rilly dan Rilly tidak memaksa.
“Tamunya sudah ada ternyata…” Oma Susan muncul dari sebuah pintu.
“Ayo… ketemu oma…” Brill mengajak Rilly mendekati omanya, setelah memberikan Mirey pada susternya Brill mengandeng tangan Rilly.
“Rilly ya?” Oma tersenyum lebar menyambut Rilly.
“Iya oma… senang bertemu oma, oma sehat?” Rilly sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan keadaan sekarang, terlebih sambutan oma Susan begitu hangat. Oma tidak hanya menjabat tangannya tapi juga memberikan sebuah pelukan.
“Akhirnya kalian bersama, oma selalu berdoa kalian dipertemukan Tuhan… dan doa oma dijawab… Brill udah jatuh cinta sejak lama, hahaha, nekad mencari Rilly saat Rilly pindah, betapa kacaunya dia waktu gak ketemu Rilly di Jakarta…”
Brill senyum-senyum aja. Rilly tertawa, rupanya sejak awal perasaan Brill padanya memang bukan perasaan seorang teman, sejak awal mereka berdua telah sama-sama jatuh cinta.
“Gimana kabar Betsy, oma dengar dia ikut anaknya yang Wakapolres…” Oma Susan membawa Rilly sekarang untuk duduk di salah satu sofa di ruang tengah itu.
“Iya oma, oma Betsy di Tomohon, oma sehat-sehat juga…” Rilly menjawab, dan mulai risih lagi karena Brill duduk menempel padanya.
"Oma pengen ketemu oma Betsy? Aku anterin ke Tomohon, sekalian silahturahmi dengan keluarganya Rilly... Mau ya oma?"
Astaga Brill sedang merencanakan apa?
.
.
Hi semua, yang manis2 sekarang ttg Brill ya, udah mau tamat...
.
__ADS_1