Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 22. Syarat


__ADS_3

Hp oma Susan berdering, dari putrinya Inggrid.


.


πŸ“±


"Ya..."


"Ma... besok test masuknya, Brill harus ke Manado besok untuk mengikuti tes itu... dia harus ikut ma..."


"Bicara sendiri dengan Brill..."


"Sampai sekarang dia belum mau menjawab telpon dariku..."


"Datang ke sini... bicara langsung dengannya..."


"Tidak bisa ma... mama tahu sendiri kesibukanku seperti apa..."


"Kamu bisa tinggalkan itu sejenak dan bicara dengan anakmu..."


"Mama aja yang bicara, dia selalu mendengarkan mama, dia selalu melawanku sekarang..."


"Itu karena kamu tidak lagi pernah bicara dengan baik, tidak mendengarkan apa keinginannya... Ing... kenapa kamu tidak juga mau mengerti? Lupa bagaimana cara mama memperlakukanmu dulu? Seperti apa kamu memperlakukan Brill sekarang? Mama bingung mau menjelaskan bagaimana lagi, kamu orang pintar, masa mama harus kasih tahu bagaimana menangani anakmu sendiri... mama bosan menjelaskan ini Ing..."


"Ma... bukannya aku tidak mengerti... aku sangat mengerti, tapi aku tidak tahu bagaimana lagi cara bicara dengannya... tembok egonya semakin tinggi..."


Oma Susan menghembuskan napas kesalnya...


"Karena itu bicara... sebagai mami bukan sebagai bupati... jangan biarkan keadaan kalian semakin jauh... Ahh... kamu terlalu lambat bergerak soal Brill... mama heran kamu begitu abai soal Brill..."


.


Oma Susan menutup panggilan telpon, sambil menggelengkan kepala. Harusnya mengingat bagaimana sayangnya putrinya kepada cucunya dulu, putrinya tak akan mengalami kesusahan berkomunikasi dengan anak sendiri. Terus-menerus kejadiannya seperti ini, oma Susan jadi malas untuk mengingatkan putrinya lagi dan lagi, bosan mendengar putrinya mengeluh soal Brill tapi tak mau berubah, artinya putrinya tidak mendengarkan nasihatnya.


Oma Susan meletakkan hp itu di atas lemari lalu pergi ke kamar cucunya. Oma mengetuk pintu. Pintu terbuka, oma masuk tanpa menunggu Brill berkata sesuatu.


"Besok kita jadi ke Manado?"


"Kita?"


"Iya..."


"Kenapa ke sana, oma pengen aku temani?"


Oma Susan mencermati raut wajah cucunya, apakah tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu. Yang terlihat adalah dia memang tidak tahu mengapa harus ke Manado.


"Besok test masuk kan... apa belum kamu pikirkan soal ini? Soal kamu kuliah atau tidak?"

__ADS_1


"Ohh itu... kalau aku gak kuliah?"


"Terserah kamu... jika punya tujuan dan keinginan yang lain... oma tidak akan memaksa..."


Oma Susan duduk di kursi terdekat, sementara Brill melangkah menuju tempat tidurnya dan duduk di bagian ujung tempat tidur besar itu dekat dengan tiang tempat tidur dari jati itu.


"Apa sudah terpikir tentang sesuatu yang ingin kamu lakukan?"


"Belum sih... belum tahu mau apa..."


Brill menjawab pelan sambil menunduk.


"Tidak ingin mengambil musik saja? Setahu oma ada fakultas ada institut juga untuk mempelajari musik, Kalau kamu ingin bekerja sesuai dengan minatmu kamu harus memperdalam pengetahuan teori musik, produksi musik, manajemen industri musik, hingga komposisi musik..."


"Oma ngerti itu ya?"


"Oma dulu cita-citanya mau mendirikan sekolah musik, tidak kesampaian... oma suka baca-baca sedikit, kadang ngobrol sama Yan dan Dewi... mereka lulusan IKJ..."


"Yan dan Dewi? Siapa?"


"Ituuu kenalan oma, yang punya sekolah musik tempat kamu kursus, itu orangtuanya Wandy..."


Brill mengangguk kecil. Tapi dia ikut berpikir sekarang, apa minatnya memang di musik? Selama ini bermusik adalah bentuk pelariannya, sebuah aktivitas membunuh sepi dan rasa bosan ketika berada di rumah dinas maminya. Dia memang punya bakat musik, terbukti dia bisa mahir memainkan keyboard, quitar dan drum, ditunjang dengan suara indahnya, ibaratnya sudah paket komplit istimewa, tapi gak pakai telur dia tidak suka telur [author ngawur, mulai ngantuk kk 😴]


"Brill? Oma hanya ingin kamu tidak menyia-nyiakan kesempatan... tapi oma serahkan keputusannya sama kamu... oma sudah telpon om-mu, besok Seleksi Mandiri, om Manuel pasti bantu kamu... kalau kamu mau, kasih tahu oma ya..."


Oma Susan tak ingin berlama-lama bicara supaya kesannya tak menekan Brill, cukup putrinya menekan cucunya ini, tapi dia ingin memberi Brill kebebasan memilih sesuatu yang dia anggap baik, membiarkan dia punya pendapat sendiri untuk hidupnya, hal yang terpenting sudah dia lakukan yaitu memberi pandangan sekedar untuk membuka wawasan.


"Iya... aku mau kuliah oma..."


Brill bersuara, masih pelan saja, belum menunjukkan tekad yang kuat, tapi oma Susan menghargai itu, oma Susan berbalik dan tersenyum.


"Yakinkan dirimu ya... kalau memutuskan kuliah tentukan fakultas apa yang kamu suka... nanti kamu yang akan menjalaninya... jangan merasa terpaksa biar kamu bisa menjalani dengan baik..."


Brill diam menatap kepergian oma dengan pikiran yang belum sepenuhnya fokus memikirkan tentang dunia baru yang menanti. Dalam alam pikirannya masih bermain banyak hal, termasuk tentang seorang gadis... percakapan mereka berdua berulang-ulang berputar di memorinya...


Brill punya kesempatan... Brill harus kuliah...


Cara Rilly menyebut dirinya, gak pernah ngomong kamu, anda, apalagi situ... dia selalu menyebut nama... Brill... ahh terasa indah dan merdu, dia merasa seperti seseorang sedang menempatkan dirinya di tempat yang terbaik karena menyebut dirinya dengan begitu hati-hati dan penuh kelembutan, terasa dalam penuh kehangatan, langsung tepat memenuhi sepi di hatinya...


Brill cari siapa?


Brill punya cita-cita?


Brill membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia memang selalu merasa ada yang kurang dalam dirinya, merasa perasaannya dan keinginannya selalu menciut menjadi kerdil saat berhadapan dengan orang tuanya.


Semua orang perlu menyampaikan pikiran dan mengungkapkan perasaan, tapi sejak lama dia terbiasa menyangkali banyak hal, merahasiakan banyak hal, memilih menyimpan sendiri ceritanya. Tapi hanya sedikit waktu bersama gadis itu, entah kenapa dia dapat demikian bebas bercerita, merasa nyaman saja saat menjawab pertanyaan tentang perasaannya... sekarang jadi ingin ngobrol lagi seperti waktu itu.

__ADS_1


.


🌻


.


Ibu bupati datang pagi-pagi ke rumah orang tuanya, rumah tempat dia dibesarkan dan dia tinggali sampai remaja. Ibu bupati kali ini hanya menggunakan terusan warna merah polos, warna dominan semua bajunya di luar baju dinas, menunjukkan warna partainya mungkin. Ibu bupati belum berdandan, dan hanya mengenakan sandal. Tapi tetap ada mobil patwal di depan mobilnya dengan bunyi klakson yang dibenci anaknya.


Tujuannya hanya satu, memastikan anaknya mengikuti Seleksi Mandiri, seleksi terakhir masuk perguruan tinggi. Meskipun kakaknya rektor di Universitas Negri itu, tempat di mana dia memutuskan Brill akan kuliah, tapi tetap saja Brill harus melewati seleksi itu lebih dahulu, selebihnya akan dilancarkan oleh sang rektor.


"Mana Brill, ma?"


"Masih di kamarnya... bicara dengan baik Ing... jangan mengintimidasi anakmu, kamu dulu juga tidak suka diintimidasi..."


Oma Susan mengingatkan putrinya, ditanggapi seringai kecil di sudut bibirnya. Ibu bupati melangkah menuju kamar anaknya, tanpa mengetuk membuka pintu, menemukan anaknya yang sedang menyisir rambut dan tekah berpakaian rapih.


Brill menatap tajam maminya, tidak suka cara masuk sang mami ke kamarnya, si mami jadi gelagapan, kalimat bernada perintah yang ada di mulutnya menggantung, batal diucapkan karena teringat perkataan mamanya.


"Hari ini test masuknya, kamu harus... Ully sayang, ehh kuliah itu penting buatmu... jadi kamu perlu mengikuti testnya hari ini..."


Susah payah ibu bupati mengganti pola kalimatnya yang biasanya berisi perintah dan seperti kata mamanya... berisi intimidasi, sebuah keharusan untuk anaknya.


Brill masih menatap tajam maminya yang berdiri sejauh lima langkah darinya. Dalam saat normal tidak ada pelukan atau kalimat lembut, bila dia sedang membuat drama baru itu terjadi. Jauh dalam hatinya dia menginginkan wanita di hadapannya yang dia panggil mami duduk berdampingan atau paling tidak berdiri tak jauh darinya dengan kehangatan seorang mami, tanpa topeng kepura-puraan, bersikap seolah sebagai mami yang perhatian, dia tak ingin hanya sebuah sensasi rasa tanpa ikatan batin...


Ya... ikatan batin antara dirinya dengan sang mami begitu rapuh atau mungkin telah putus. Dia tidak diasuh, tidak disentuh, tidak diurus lagi sepuluh tahun terakhir... ketiadaan kasih sayang dan keakraban jasmani menjadi cacat dalam batinnya sekarang.


"Aku akan kuliah... tapi dengan syarat..."


Seorang anak sedang menuntut sesuatu sekarang setelah sekian lama dia tak bisa mendapatkan haknya.


"Syarat? Apa itu Ully?"


"Aku kuliah di Jakarta, aku ngekost sendiri, aku bawa mobil sendiri... aku gak butuh om Markus..."


"Oh my God... Brill... itu sangat berlebihan..."


"Kalau mami gak setuju... aku batal kuliah..."


Brill memilih untuk kuliah. Salah satu hal yang mendorong dia adalah perkataan Rilly, bahwa dia punya kesempatan, selebihnya adalah nasihat oma Susan. Tapi dia perlu memastika sebuah kebebasan untuk langkah yang dia ambil, pergi dari rumah, keluar dari kungkungan sang mami.


.


Hi... readers terbaik... terima kasih banyak untuk dukungannya πŸ‘πŸ™


.


πŸͺπŸͺπŸͺ

__ADS_1


.


.


__ADS_2