Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 47. Gak Perlu Kangen


__ADS_3

Brill membaca berulang-ulang beberapa chat terakhirnya dengan Rilly. Komunikasi hanya bisa lewat hp karena pandemi (waktu itu guys, biar runut sesuai cerita Brill di MASB-HollyTenry).


Sebelum ini komunikasi masih ada, kadang Rilly mau mengangkat telpon dan juga walau kadang butuh waktu lama tapi Rilly masih membalas chatnya Tapi beberapa waktu yang lalu chat terakhir mereka berdua...


.


B: Rilly, kangen.


Rilly hanya membalas dengan emoticon senyum.


B: Beneran kangen Rilly. Kenapa ke Jakarta sih padahal pandemi? Kan jadi kangen.


R: Waktu berangkat keadaan masih kondusif kan. Walaupun di Manado tetep aja gak bisa ketemu kan Brill.


Saat Brill melakukan panggilan VC ditolak Rilly…


B: Rill kenapa gak mau VC???? Kan kangen bangeeet, pengen liat Rilly.


Dan chat Brill itu dibalas Rilly dengan sebuah chat panjang yang menjadi chat terakhir dari Rilly.


R: Brill gak perlu kangen sama Rilly, Rilly bukan seseorang yang dapat menerima itu. Rilly senang kita bisa berteman, Brill punya tempat khusus di hati Rilly karena Brill orang yang pertama yang mau jadi teman Rilly. Semoga Brill bertemu seseorang yang tepat tempat untuk kangen Brill yang seharusnya.


.


Setelah itu nomor Rilly tidak bisa dia hubungi dan semua pesan bercentang satu saja. Brill tidak mengerti kenapa Rilly menuliskan seperti itu.

__ADS_1


Sore ini, setelah sepanjang minggu dia tak bisa menghubungi nomor Rilly akhirnya kegalauannya tak bisa dia simpan sendiri.


“Om… apa maksud Rilly sih?”


“Om gak tahu, emang om pacarnya?”


“Ihh, awas om ya, aku gak suka om ngomong kayak gitu…”


“Kenyataannya seperti itu Brill, kamu aja yang deket dengannya gak ngerti apalagi om. Kenapa?”


“Dia bilang… aku gak perlu kangen padanya, dia bukan orang yang bisa menerima itu… ahhh om baca sendiri.” Brill menyodorkan hpnya.


Suara Brill begitu rendah, mukanya ditekuk seperti seorang anak yang merajuk kehilangan mainan. Om Markus hampir meledak tawanya melihat ekspresi anak asuhnya. Om Markus memang selalu menjadi tempat Brill berkeluh kesah dengan bebas, di depan om Markus Brill selalu bertingkah seperti anak kecil. Dan om Markus merasa geli memandang Brill dengan tubuh sebesar itu, wajah seganteng itu di umur yang sekarang masih kelimpungan dengan perasaan hati sendiri layaknya seorang remaja yang baru mengenal cinta saja.


Dan sangat jelas wajah galau Brill sekarang. Beberapa bulan hanya terkurung di rumah karena wabah yang membuat semua kegiatan lumpuh, dan seminggu ini hati Brill turut lumpuh karena tiba-tiba Rilly menutup akses.


Om Markus mengalihkan tatapannya dari hp Brill, jadi paham apa sumber kegusaran Brill belakangan, jadi paham mengapa seharian dia di dalam studio musiknya. Gadis itu lagi, seperti mengulang kejadian yang lalu.


“Artinya apa om? Jawab dong.”


“Artinya… kamu bodoh.”


“Om ahh???”


Om Markus tertawa terbahak-bahak karena tampang anak asuhnya benar-benar seperti orang bodoh sekarang.

__ADS_1


“Kenapa ketawa sih? Aku tanya tentang Rilly, om malah ngatain aku.” Brill semakin manyun.


“Lah… coba baca sendiri, cari tahu kenapa om bilang bodoh.” Tawa om Markus masih tersisa.


Brill mengambil hpnya lalu melihat chat Rilly lagi.


“Dia melarang aku kangen lalu?”


Brill menatap om Markus, dan itu membuat om Markus geregetan. Dia tahu betapa senangnya Brill ketika mengatakan sudah bertemu Rilly lagi, dan dia tahu juga bahwa anak asuhnya ini menyukai gadis itu bahkan mungkin sudah mencintainya. Dan sekarang dia tahu, anak asuhnya ini belum mengakui perasaannya pada Rilly, atau bahkan belum bisa melihat perasaannya sendiri dengan baik dan benar.


“Lalu… kamu bodoh karena kamu gak pernah memperjelas status kalian… kamu gak nembak dia kan? Cara kamu bilang kangen itu bukan kangen seorang teman, itu kangen dari yang yang istimewa sementara kamu bukan siapa-siapa untuknya hanya seorang teman, makanya dia menolak… paham?”


Om Markus ingin sekali menertawakan lagi cowok yang telah berusia dua puluh tahun tapi begitu bodohnya dengan hal yang sepele sebenarnya.


Brill terdiam, baru menyadari kesalahannya. Dia mengingat terakhir bertemu, Rilly menjaga jarak dengannya ternyata bukan karena dia ada di rumah itu, bukan karena dia berlaku sopan karena menjaga martabat pemilik rumah itu. Brill mulai menelusuri akarnya sejak kapan Rilly seperti menjauh dan tak lagi bisa diajak bercanda atau ngobrol seenak biasanya.


Brill melangkah dengan gontai ke studionya sebuah teriakan terdengar dari sana dan kemudian sayup terdengar Brill memainkan semua alat musiknya mulai dari lagu heavy metal hingga berakhir ke lagu sentimental, menyalurkan seluruh emosi dalam jiwanya.


Dan hari-hari selanjutnya adalah hari-hari penuh kegalauan, pelariannya benar-benar hanya bermusik saja. Kuliah dilakukan secara online, dia duduk di depan laptopnya tanpa benar-benar peduli dengan jalannya kuliah, hanya sebuah kegiatan lain mengisi kebosanan.


.


.


Pagi2 nulis Brill, smlm ada acara pulang rumah udah malem banget. Founya mungkin sorean.

__ADS_1


Oh ya, ini part yg menyesuaikan dengan situasi Brill yg di HollyTenry yaaa...


.


__ADS_2