Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 8. Menerima Nasib


__ADS_3

Jam sepuluh malam, Rilly baru menuntaskan semua pekerjaannya. Setelah mandi Rilly masuk kamar oma Betsy, membaringkan tubuh di kasur ukuran satu orang yang beralaskan tikar, tempat istirahatnya selama ini. Oma Betsy sedang membaca buku suci kepercayaannya, kegiatan rutinnya sebelum tidur. Sambil berbaring Rilly memandang langit-langit kamarnya dengan wajah muram.


Tubuhnya seperti luluh-lantak hari ini, harinya terasa lebih berat sekarang. Satu minggu sudah dia tidak sekolah, sejak tante Ann pembantu rumah ini berhenti bekerja. Pekerjaannya jadi bertambah dengan memasak dan membersihkan rumah termasuk meladeni kemanjaan orang-orang rumah melayani semua keperluan mereka. Ditambah harus mengurus oma Betsy, membuat tubuhnya tak bisa beristirahat sejak bangun tidur di pagi hari.


"Rilly, baru selesai kerja?"


Oma menutup bacaannya lalu meletakkan buku sucinya di sebelah bantal.


"Iya oma..."


"Ine belum mencari pengganti si Ann?"


"Rilly gak tahu oma... kelihatannya tante gak akan nyari pembantu, tante Ine bilang sekarang Rilly yang harus kerjakan semua pekerjaan di rumah ini..."


"Sabar ya, Rilly... Ine tidak mendengarkan oma sekarang. Kasihan kamu, selalu kecapean setiap malam..."


"Rilly gak apa-apa, oma..."


Rilly berkata sebaliknya, dalam hati membenarkan perkataan oma.


"Tapi sudah beberapa hari ini oma perhatikan kamu tidak ke sekolah, sayang sekali... kamu sudah mendekati tamat... nanti oma bicara dengan Isye ya... oma mau minta Isye jemput kamu... kamu tinggal di rumah Isye saja, biar kamu bisa sekolah..."


Rilly diam, menghembuskan napas beratnya. Apa dia punya hak untuk bersedih, dia tidak tahu. Sepanjang hidupnya, sejak dia mengerti oma Betsy dan anak-cucunya bukanlah keluarganya yang sebenarnya, dia sudah belajar menerima nasibnya.


Oma Betsy memperlakukan dirinya dengan baik, walau tidak bisa menghindari perlakuan diskriminatif dari anak dan cucu di rumah ini, tapi sewaktu oma masih sehat, oma akan selalu menjadi pembela bagi Rilly.


"Besok kita telpon Isye ya..."


"Gak usah oma... oma siapa yang urus kalau Rilly pergi, Rilly gak ingin meninggalkan oma..."


"Oma coba bicara lagi dengan Ine kalau begitu... anak itu sekarang jadi sombong, jadi berubah mentang-mentang karirnya bagus..."


"Gak usah oma... nanti Rilly dimarahin... tante suka menganggap Rilly mengadu sama oma..."


"Jadi... kamu bagaimana? Masa kamu berhenti sekolah?"


"Mmm... Rilly terserah saja... gak apa-apa seperti ini, yang penting buat Rilly adalah oma, Rilly hutang budi sama oma, Rilly juga sayang oma, pengen mengurus oma dengan baik saja..."


Rilly menyapu sudut matanya yang berair, hatinya sakit jika mengingat hidupnya 'dibuang' orang tua, tak merasakan kasih sayang orang tua, tapi begitulah keadaannya sekarang. Untung ada oma Betsy, perasaan sayang melekat dalam dirinya untuk oma Betsy. Hanya oma yang dia anggap keluarga, karena itu dia tidak mau meninggalkan oma, terlebih dia tahu bagaimana cara tante Ine melihat oma, hanya di depan orang tante Ine terlihat peduli.


"Rilly anak baik... oma selalu doakan Rilly punya masa depan yang baik..."


"Amiin oma..."


"Oma mau tidur sekarang Rilly, tolong atur bantalnya..."


Rilly bangkit lalu dengan hati-hati memperbaiki posisi tidur oma Betsy. Bantal bersusun di kepala dikurangi, posisi kaki diatur juga agar oma Betsy bisa tidur dengan nyaman.


"Bentar ya... kaki oma Rilly gosokkan hotcream terus Rilly pakaikan kaos kaki, biar oma hangat..."


Rilly melakukan semua persiapan sebelum tidur untuk tubuh tua yang sudah sangat terbatas gerakannya.


"Nah oma... selamat tidur ya... besok kita mau ikut kegiatan Lansia... semoga oma mimpi indah, hehe..."


Rilly tahu oma Betsy belum akan tertidur, tapi Rilly terlalu lelah untuk menemani oma seperti biasa. Biasanya pula kaki oma suka ngilu kalau malam hari, Rilly rutin memijat sampai oma tertidur. Tapi sejak Rilly menjadi satu-satunya yang mengurus rumah ini, oma tidak mengeluhkan lagi sakit di kakinya dan menolak dipijit oleh Rilly. Walau butuh, oma memahami tubuh Rilly yang perlu istirahat.


.


๐ŸŒฟ


.


Hari sabtu, ada kegiatan hari Lansia, kegiatan lembaga kesejahteraan sosial ini rutin sebulan sekali, dan kali ini karena berhubungan dengan hari Lansia. Tadi malam pengurus LKS datang mengingatkan agar membawa oma Betsy untuk mendapatkan pelayanan kesehatan gratis, juga ada kegiatan lainnya. Maka pagi ini jam setengah sembilan oma Betsy sudah bersih dan rapih siap untuk berangkat.


"Tante Ine... oma Betsy ada kegiatan LKS Lansia..."


Tente Ineke ada di depan rak bunga bersusun tiga sepanjang dua meter, dia sedang keranjingan mengoleksi bunga aglonema.


"Ya sudah..."


Tante Ine menjawab tak acuh, dia sedang memindahkan beberapa pot bunga dengan wadah seragam berwarna putih itu. Rilly berdiri menunggu tak jauh dari tante Ine.

__ADS_1


"Kenapa masih di sini?"


Ketus tante Ine menatap tak suka pada Rilly.


"Tante... tidak mengantarkan oma?"


"Kamu mengatur saya?"


"Eh bukan seperti itu... oma yang minta, oma sudah siap berangkat..."


Rilly menjawab pelan. Tante Ine makin arogan sekarang, gaya memerintah dan menuntut begitu terasa, sampai-sampai tante Ann akhirnya minta berhenti kerja, itu berdampak pada Rilly, dia semakin sering bolos sekolah karena harus mengerjakan semua sekarang.


"Saya ada kegiatan... kamu yang antar, sewa angkot saja..."


Tante Ine melambaikan tangan mengusir Rilly. Rilly menghela napas.


"Tapi... saya harus masak, saya juga harus cuci baju kan tante..."


"Saya bilang saya tidak bisa, kamu bisa lakukan pekerjaan itu sepulang antar mami."


"Baik tante..."


Rilly menunduk tak bisa melawan, akhirnya dia bergegas mandi, lalu berganti pakaian sederhana miliknya. Setelahnya...


"Oma Rilly yang antar, bentar Rilly cegat angkot ya... kita bayar penuh biar dia bisa antar jemput..."


"Ine tidak bisa antarkan?"


Gurat kecewa menghias wajah oma Betsy.


"Tante ada kegiatan..."


"Manda?"


"Rilly gak nanya ke Manda... Rilly aja ya..."


Rilly berjalan ke depan rumah, mencari angkot yang mau mengantarkan mereka ke tempat acara. Tak berapa lama, mobil angkot BMW (Biru Muda Warnanya) sudah masuk halaman rumah oma Betsy.


"Om... kita ke rumah oma Susan ya..."


Rilly memberikan alamat tujuan.


"Oma Susan yang mana?"


"Oma Susan ibunya ibu bupati kita..."


"Oh... siap... siapa tahu bertemu ibu bupati, mau minta selfie... terus posting di Fb*... pasti penuh komen deh status sopir angkot... asyikkk... mantap... kita gasspoll..."


"Eh... hati-hati om, penumpangnya ada yang lansia..."


"Sopir teladan ini... jangan khawatir..."


Mobil baru bergerak sepuluh meter tiba-tiba tante Ine lari-lari dan berteriak menyuruh sopir angkot itu berhenti.


"Ada apa bu?"


Si sopir bertanya saat mobil angkot itu berhenti.


"Rilly... kenapa kamu tidak beritahu tante tempat acaranya mami di rumah ibu bupati?"


"Di rumah oma Susan bu... bukan di rumah bupati..."


"Iya itu sama aja, ibu bupati acaranya di situ juga, kalau teman tante gak telpon tante gak tahu... harusnya kamu bilang dari tadi, bodoh kamu! Tante juga akan hadiri acara itu."


Rilly hanya bisa diam, bukankah tadi sudah memberitahu bahkan meminta tante untuk mengantarkan oma?


"Mami... turun lagi, nanti mami aku antar ke tempat acara... malu-maluin masa mami ke sana naik angkot, apalagi kalau ibu bupati tahu aku anak mami... mau taroh di mana mukaku? Ayo turun dulu..."


"Gak usah, tadi mami minta antar kamu menolak..."


"Aku tidak tahu mami mau ke acara itu, turun sekarang mi..."

__ADS_1


"Apa mami bisa turun sendiri? Mami juga tidak mau kamu antar sekarang... berangkat pak, jangan hiraukan anak saya, saya yang bayar kamu kan?"


Sang sopir yang tidak mau hilang rejekinya langsung tancap gas, meninggalkan tente Ineke yang marah-marah, bisa tercoreng nama baiknya di sana jika ada orang yang memperhatikan maminya datang dengan angkot. Dia harus putar otak mencari alasan untuk menjaga citranya terutama di hadapan atasannya.


.


๐ŸŽธ


.


Di rumah oma Susan...


"Ma... tolong bujuk Brill agar mau nyanyi di acara ini..."


Ibu bupati meminta tolong pada sang mama, setelah seribu rayuan dia layangkan pada anaknya yang bergeming menolak keinginan sang mami.


"Dia tidak mau... kenapa memaksa?"


"Bukan memaksa... biar acara ini lebih meriah... aku sengaja hadir di acara mama loh... padahal ada beberapa kecamatan yang mengadakan acara yang sama karena hari Lansia ini..."


"Mama tidak memintamu hadir di sini Inggrid..."


"Masa aku menghadiri acara di tempat lain sementara mama jadi tuan rumah untuk acara yang sama... aku senang mama jadi salah satu yang kasih support untuk LKS di kecamatan ini... jadi selain sebagai bupati sebagai anak juga aku harus bangga sama mama, makanya aku memilih hadir di sini... banyak bawahanku akan hadir juga..."


"Sebenarnya mama gak suka kamu datang... ini acara sosial bukan acara politik..."


"Ma... ini karena aku ingin mendukung kegiatan mama..."


"Politikus sepertimu tidak murni lagi, selalu ada niat terselubung dalam kegiatan sosialmu..."


"Ma... kenapa bersikap skeptis, bawaannya curiga selalu dengan niat baikku..."


"Mama sudah lama tidak melihat ketulusanmu Inggrid... tunjukkan supaya mama percaya lagi padamu..."


"Aku tulus ma, aku bangga pada mama yang peduli pada lembaga sosial ini..."


Oma Susan menatap tajam sang putri. Wanita yang sudah kaya pengalaman hidup ini masih mencari sorot kejujuran di mata anaknya. Oma Susan tersenyum samar melihat kesungguhan di mata putrinya.


"Mama bujuk Brill ya... Lansia kan perlu hiburan juga... mumpung Brill bisa menyanyi... lagi pula acaranya di sini dan orang-orang akan senang jika tahu anakku yang menyanyi... ini bisa jadi berita positif buat James ma... mama tahu dia sedang berancang-ancang maju pilwako Manado nanti..."


Oma Susan menggeleng jengkel sekarang, baru sesaat tadi dia merasa senang mendengar pernyataan anaknya... sekarang jadi heran dengan cara putrinya memandang anak semata wayangnya, terlebih rasa jengkel mencuat lagi karena acaranya jadi berubah sepenuhnya karena kehadiran anaknya.


"Kalian melihat Brill sebagai komoditas yang bisa mendongkrak karier politik, di mana nuranimu sebagai maminya?"


"Ma... kenapa selalu menyerang aku dan James, kita keluarga kan... harus saling mendukung untuk kebaikan bersama..."


"Ironi sekali... kesenangan anak dipinggirkan, dianggap mengganggu, alat musik miliknya kalian buang... giliran kalian butuh kalian suruh dia menyanyi..."


"Itu bukan dibuang ma... memang diperlukan di Aula... itu lebih bermanfaat di sana..."


"Inggrid... mama tidak bisa memahami kamu sekarang... kamu telah kehilangan hati seorang ibu yang sayang anakmu, hati seorang mami untuk Brill... bagus kamu sudah di akhir masa jabatan, setelah itu mama minta belajar lagi jadi mami yang dibutuhkan anakmu... sebelum kamu terlambat... sebelum dia benar-benar menjauh dari hidupmu dan menganggap kamu orang lain..."


Oma Susan meninggalkan ibu bupati yang termenung di sofa putih.


.


Brill melihat dari jendela kamarnya keriuhan di halaman depan rumah oma Susan yang luas. Ada beberapa tenda dipasang di sana, dan telah banyak orang hadir, umumnya adalah pria dan wanita berumur dengan rambut dominasi warna perak.


Matanya menangkap sosok yang dia kenali sebagai teman sekelasnya. Tanda di bibir gadis itu serta moment ujian Jepang-Inggris membuat dia ingat gadis itu, terlebih beberapa hari ini jadi pembicaraan beberapa guru karena gadis itu tidak pernah masuk sekolah lagi, padahal mereka seminggu lagi ujian akhir.


Brill memperhatikan bagaimana gadis itu memperlakukan seorang oma di atas kursi roda... wanita tua yang terlihat tidak berdaya, gadis itu terlihat begitu care, begitu sayang... apakah karena merawat oma itu sehingga dia tidak masuk sekolah?


.


๐ŸŽธ


.


Hi...


Semoga semua readers sehat selalu ๐Ÿ˜„

__ADS_1


.


__ADS_2