Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 27. Seorang Teman


__ADS_3

Hi... Jumpa lagi dengan Rilly dan Brill


Maafkan lama baru muncul lagi.... Semoga masih berkenan lanjut bersama Aby di sini...


πŸ‘‹πŸ₯°


.


Rilly merapikan buku pelajaran saat bel berbunyi tanda jam pelajaran usai. Sekarang dia tidak perlu buru-buru pulang karena mengkhawatirkan oma Betsy atau pun pekerjaan yang menanti di rumah. Walau begitu Rilly berusaha untuk pulang tepat waktu.


Setelah beres Rilly tidak langsung beranjak keluar kelas, dia menatap hpnya menimbang-nimbang apakah akan menghidupkan benda itu atau tidak. Dia tahu Brill masih berusaha menghubungi, ini hari keempat cowok itu ada di Jakarta.


Chat terakhirnya tadi malam masih menyatakan keinginan untuk bertemu dan info tentang sampai kapan cowok itu berada di sini. Tak ada satu pun chat dan panggilan cowok itu yang dia jawab. Pembicaraan om Armando dan tante Isye begitu kuat terpatri di ingatannya, dan semakin membatasi dia untuk bertemu Brill.


"Ril... kamu mau jalan kaki lagi?"


"Eh... iya..."


"Bareng ya... aku pengen jalan kaki juga..."


Giveel, teman baru Rilly, tidak duduk sederet tapi gadis ini adalah siswa yang paling ramah yang menyambut dirinya sebagai murid baru di kelas, ditambah tinggal di kompleks yang sama. Giveel anaknya periang dan supel, lebih dahulu menawarkan hubungan sebagai teman membuat Rilly tidak sungkan untuk mengakrabkan diri, dan mulai menikmati memiliki seseorang yang bisa diajak bicara dan melakukan sesuatu di sekolah... dan satu hal, Rilly lebih percaya diri dengan keadaan wajahnya walaupun menurut tante Isye dia masih butuh satu kali operasi lagi, tapi setidaknya wajahnya tidak terlihat 'menyeramkan' lagi.


Rilly menunggu teman barunya itu selesai membereskan miliknya...


"Yukks jalan..."


Giveel tersenyum lalu berjalan mendahului Rilly keluar dari kelas itu.


"Kamu gak bareng Brigitta dan Zania?"


Rilly bertanya hati-hati saat mereka melangkah berjejer menyusuri lorong di antara ruang kelas untuk turun menuju lantai satu gedung sekolah bertingkat tiga itu, ruang kelas mereka ada di lantai dua. Dua gadis yang disebutkan Rilly itu adalah teman dekat Giveel.


"Gak... Bareng mereka pasti jalan ke mana dulu... mami aku gak bolehin aku sekarang, udah kelas ujian udah harus lebih serius belajar..."


Giveel menjawab pelan nampak ada kegalauan, tapi beberapa detik kemudian ekspresi wajahnya biasa lagi.


Di bawah saat mereka melintasi halaman parkir sebelum mencapai gerbang, dua teman Giveel langsung berteriak heboh memanggil Giveel.


"Veel... Kita nungguin kamu loh..."


Dari jauh Zania teriak sambil melambai-lambaikan tangannya meminta Giveel mendekati mereka. Giveel mempercepat langkah mendekati dua sahabatnya sejak kelas sepuluh. Tapi saat menyadari Rilly justru memperlambat langkahnya Giveel berbalik dan menarik tangan Giveel.


Di depan Zania dan Brigitta, Giveel melemparkan senyum canggung...


"Sorry banget, aku gak ikut kalian ya..."


"Lagi? Kayak gitu sekarang, punya temen baru jadi ngebuang kita ceritanya..."


Gita berkata ketus dengan mimik muka sinis saat bersitatap dengan Rilly. Zania juga terlihat mencibir, sangat nampak ekspresi wajah menunjukkan tidak senang ada Rilly di antara mereka. Menyadari hal itu Rilly berdiri sedikit di belakang Giveel, Rilly membuang resahnya lewat hembusan napas perlahan, di mana pun dia selalu merasa tidak diterima oleh banyak orang.


"Gak gitu... Kalian tahu mami aku gimana kan... sekarang sabtu minggu doang aku boleh pergi-pergi..."


"Veel hari gini hidup dibatesin kayak gitu, kenapa mami kamu jadi gak asiik sih..."


Zania mulai menggerutu. Rilly jadi canggung, ingin senyum buat dua gadis yang sedang berhadapan dengan mereka tapi dalam sikap mereka Rilly melihat ada sikap tak acuh bahkan tidak suka padanya.


"Kata mami aku udah kelas ujian, harus serius belajar..."


"Ya ampun Veel, itu masih lama, belum ada ujian-ujian juga, baru aja masuk kita... ada-ada aja... mami kamu overprotecting parents deh..."


Giveel hanya memanyunkan bibirnya mendengar perkataan Zania soal maminya, hatinya tidak enak maminya dinilai seperti itu, hatinya tidak enak juga sudah beberapa kali menolak ajakan hangout bareng teman-temannya.


"Ya udah, cabut yuk Zan..."


Gita tanpa berkata apapun lagi pada Giveel segera masuk ke mobil sembari menatap Rilly dengan sorot mata yang masih sama. Rilly jadi serba salah, sedikitnya mereka seperti menyalahkan Rilly mengenai sikap Giveel ke mereka.


"Yuk pulang aja Ril..."


Giveel melangkah akhirnya setelah menatap sedih kepergian dua temannya dengan mobil mahal yang dikendarai Brigitta dan Zania.


"Maaf ya... Veel, situasi jadi gak nyaman gara-gara ada aku..."

__ADS_1


Rilly berkata pelan sembari menyamai langkah Giveel.


"Ehh... gak gitu Ril..."


"Tapi kamu kayak sedih..."


"Mmh... Iya sih, gak enak sama Gita dan Zania, tapi... aku juga gak mau ngelawan mami aku... mereka gak terima... ya udah... gak papa..."


Giveel mengangkat bahunya dan tak menyembunyikan sedih di hatinya, tak mengerti mengapa teman-teman sejak kelas sepuluh itu tak bisa memahami kondisinya sekarang ini.


"Sepertinya mereka gak suka aku jalan sama kamu..."


"Biarin aja... kalau mereka beneran sahabat aku, seharusnya mereka ngerti keadaan aku kan, ngerti kalau mami aku maksudnya baik..."


"Aku jadi gak enak sama kamu..."


"Jangan merasa seperti itu Ril... aku malahan bersyukur ada kamu, teman-teman yang lain juga sama kayak Gita dan Zania, menganggap mami aku aneh... aku jadi gak nyaman juga jalan bareng mereka. Jujur aku senang ada kamu..."


Giveel tersenyum saat mereka berdua saling memandang. Rilly lega, ada orang seperti Giveel yang mau terbuka dan mau bersahabat dengannya, tidak masalah jika teman sekelas yang lain belum atau bahkan mungkin tidak akan menyambutnya dengan baik.


Satu bulan berada di kelas yang baru, dia merasakan itu khusus dari teman cewek banyak yang tak acuh, ada sebagian yang sekedar tersenyum dan tetap menjaga jarak. Justru teman cowok yang bersikap baik, di mana-mana mungkin seperti itu, para cowok bisa lebih ramah jika murid barunya cewek, keramahan yang diikuti pandangan sinis para cewek di kelas. Nasib seorang murid baru, dan seorang Giveel yang menawarkan keramahan sudah cukup buatnya.


Gawai milik Giveel berbunyi...


πŸ“±


"Iya mam..."


"Kenapa jalan kaki? Mang Ujang bilang kamu gak mau dijemput katanya mau jalan kaki... itu jauh darling, kamu jalan sama siapa?"


"Sama teman aku mam..."


"Laki-laki? Darling... kamu punya pacar sekarang?"


"Ihh mami... teman cewek... Rilly namanya. Mami sekarang gak percaya Ayin deh..."


Giveel memberengut, nada suaranya berubah merajuk, jengkel tiba-tiba menyeruak. Biasa sang mami cerewet memang tapi sekarang terasa semakin mengekang suka menanyakan banyak hal apalagi menyangkut apa dan dengan siapa dia melakukan sesuatu.


"Eh itu... Ayin punya teman baru, rumahnya dekat dengan rumah kita... dia biasa jalan kaki kalau pulang, Ayin ikutan..."


"Mami udah deket gerbang masuk, mami samperin aja ya..."


"Ehh gak usah mam, Ayin mau mampir di Moe's Dough..."


Giveel memberi alasan, yang sesungguhnya dia tidak menginginkan maminya menjemput dia.


"Kita ketemu di sana..."


.


Mami tersayang mengakhiri panggilan. Giveel menatap kesal benda pipih berwarna rose gold di tangannya, benar ternyata mami sekarang berubah jadi overprotective.


Sementara di samping Giveel, Rilly berjalan dalam diam, dalam hati terbersit keinginan punya seseorang yang dia bisa panggil mama, yang akan peduli padanya.


"Rilly, temenin aku mampir di kafe sebelum gerbang masuk ya... mami aku nunggu aku di sana..."


"Oh... iya boleh..."


"Pulang telat dikit gak papa? Gak dicariin ortu kan?"


"Gaaak... orang tuaku di Manado..."


"Ehh? Serius? Kamu asal Manado?"


"Iya..."


"Tau gak Ril, aku sering ke Manado, oma-opa aku tinggal di sana..."


"Oh ya? Kamu asal Manado juga?"


"Tepatnya oma-opa aku dari Palu tapi kemudian bekerja dan tinggal di Manado... Sekarang udah pensiun, tapi masih tinggal di sana..."

__ADS_1


"Oh gitu..."


"Terus, kamu di sini sama siapa dong..."


"Aku... tinggal dengan tante Isye..."


"Oh gitu..."


Kedua gadis itu saling senyum, seperti menemukan alasan baru yang semakin menambah kedekatan mereka.


Di gerai roti sekaligus kafe yang terkenal itu kedua gadis itu berbelok dan masuk. Giveel memilih-milih roti dan kue manis kesukaannya, memilihkan juga untuk Rilly juga memesan dua ice coffee, lalu mereka mengambil tempat untuk dua orang di sebuah pojok ruangan.


"Minta nomor hp kamu Ril..."


"Ehh iya..."


Rilly kemudian menyebut nomor hpnya, Giveel menyimpan nomor itu lalu melakukan panggilan.


"Hp kamu mati ya? Gak tersambung..."


"Ehh... sorry, bentar ya..."


Rilly menghidupkan hpnya dengan perasaan was-was, takut Brill menyerbu dengan panggilan dan chat lagi, dia merasa tidak enak jika itu terjadi lagi hari ini, sedikitnya dia merasa bersalah karena tidak bisa merespon dengan baik keinginan cowok itu.


Hp Rilly berbunyi kemudian, panggilan dilakukan di sebuah aplikasi.


"Itu nomorku, disimpan ya..."


"Iya..."


Hanya sesaat berselang setelah Rilly menyimpan nomor milik Giveel hpnya berbunyi lagi, panggilan yang mungkin belum akan berhenti sebelum Rilly mengiyakan permintaan Brill untuk bertemu.


"Kamu gak menjawab hp kamu Ril? Itu udah kali kelima loh bunyi..."


Giveel bertanya sambil menatap Rilly dengan sorot ingin tahu saat melihat Rilly hanya membiarkan hpnya berbunyi tanpa menjawabnya.


"Eh... gak penting kok..."


"Penting lah... kalau gak penting dia gak akan nelpon berulang-ulang seperti itu..."


Rilly menghembuskan napas menghalau gelisah, dia pikir Brill akan bosan sendiri dan akhirnya berhenti menghubungi dirinya, toch mereka tidak sedang ada dalam sebuah hubungan yang membutuhkan komunikasi intens.


"Sengaja gak mau menjawab ya?"


Giveel berkata lagi saat hp Rilly kembali berbunyi. Ada senyum tanda mengerti yang terpasang di wajah cantik Giveel, membuat Rilly ikut tersenyum dalam canggung.


"Iya..."


Rilly menjawab pelan saja.


"Teman atau pacar di Manado? Kangen kali..."


"Eh?"


"Sorry... jadi kepo hehehe... Pacar ya?"


"Bu... bukan kok... temen aja..."


"Ya udah dijawab... kasihan loh, udah pisah sama kamu terus telponnya gak dijawab... sedih pastinya..."


Giveel mengaduk ice coffeenya dengan sedotan pipih warna coklat. Rilly menatap hpnya, kalimat Giveel menyentuh hatinya. Apa benar Brill sedih karena dia tidak menjawab atau membalas semua panggilan dan pesan? Dengan tanya bergolak di hati Rilly menekan tombol hijau di hp itu.


.


πŸ“±


"Iya... Brill..."


"Akhirnya Ril..."


Brill berteriak senang di seberang sana. Kesabaran dan kehendak hati untuk tidak menyerah menghubungi Rilly membuahkan hasil.

__ADS_1


.


__ADS_2