
Selesai sarapan di meja panjang yang memuat delapan belas orang, Brill tidak tenang di tempat duduknya. Orang-orang di sekelilingnya yang menggunakan seragam batik berbicara terlalu banyak, sialnya si mami meladeni dengan senyum dan keramahan. Dia duduk di sebelah sang mami jadi dia tidak bisa berdiri dan keluar dari sana, dia terikat sopan santun jika ada orang lain di sekitarnya dan maminya.
Brill mengirim chat pada om Markus, yang berdiri di ujung ruangan, siap menunggu perintah baik dari boss besar maunpun dari si boss muda. Dia beberapa kali mengirim isyarat saat mata Brill mengarah padanya, agar si anak asuh sedikit bersabar.
.
📩 Aku gk mau nunggu lagi
✉️ Iya iya
.
Om Markus mendekati Liany, sespri ibu bupati yang menangani protokoler.
"Lia... berapa lama lagi? Nak Brill udah gak mau menunggu lebih lama, kamu tahu dia kayak apa..."
Liany melihat jam tangannya.
"Iya... udah selesai sekarang..."
Liany mendekat ke meja panjang itu.
"Bapak-ibu... acara di sini selesai. Ibu punya agenda lain... Silahkan..."
Brill dengan sigap berdiri sesaat setelah maminya berdiri, dia mengatupkan dua tangan di dada, tak peduli ada yang melihat atau tidak. Melengkapi sikap 'anak baik' pagi ini Brill memberikan kecupan di pipi sebelah kanan sang mami...
"Enjoy your work, mam... have a great day..."
"Thank you, Ully... love you..."
"Love you more... mam..."
Mami membalas mengecup pipi kanan kiri serta puncak kepala anaknya. Tidak sulit bagi ibu Inggried melakukan itu, dengan tinggi 170 cm ditambah highheelsnya dia bisa menjangkau kepala anak semata wayang yang juga bertubuh tinggi.
Brill lalu balik kanan menuju kamarnya, dia gerah menggunakan batik lengan panjang, gerah dengan perkataan sendiri pada sang mami.
"Kami belum sempat berfoto dengan Brill..."
Seorang guru masih berharap punya foto dengan Brill, kapan lagi punya murid anak bupati.
"Oh... maafkan anak saya tidak bisa foto bersama..."
Sayup Brill menangkap kalimat yang sama dari bibir maminya, menjelaskan keengganannya untuk foto bersama.
"Tidak ada sesi foto lagi ya... cukup ya, bapak ibu..."
Tegas Liany sang sespri mengambil alih. Ibu bupati pamit lalu dengan anggun menuju ke ruang pribadi untuk persiapan terakhir sebelum menuju kantor.
"Hubungi suami saya..."
Kali ini dengan sigap Deisi, sespri yang lain, mengambil hp khusus dan melakukan perintah ibu bupati.
Brill hampir membanting pintu kamarnya kalau tidak melihat om Markus yang mengekori di belakangnya.
__ADS_1
"Mau om antar ke rumah oma Susan sekarang?"
Om Markus pura-pura bertanya, padahal dalam hati sudah tahu ke mana tujuan mereka setelah ini.
"Ommm... kita ke rumah Rilly, lupa?"
Brill berkata sedikit kesal.
"Oh... iya..."
Om Markus menyimpan senyum. Sebenarnya hanya ingin memastikan dugaan sendiri bahwa si anak asuh sudah beranjak dewasa. Di usia sekarang seorang pria tertarik dan penasaran dengan hidup seorang gadis, itu bukan hal biasa... terlebih bagi Brill yang tidak pernah punya teman, tidak pernah tertarik untuk berinteraksi dengan orang lain. Ini sebuah fenomena langkah, ini tingkah Brill yang di luar kebiasaan, terlebih gadis yang ini justru punya kekurangan. Anak lain tertarik melihat yang bening-bening dan berpenampilan menarik, Brill malah sebaliknya.
Om Markus memandang anak asuhnya yang terlihat tidak puas dengan kaos oblong hitam bermerk yang dikenakannya saat mematut diri di cermin. Tidak bisa menahan senyum saat Brill selesai mengganti dengan kaos yang lain lalu mematut diri lagi, dan ada seringai kecil di sudut bibirnya. Ini salah satu tanda lain yang semakin menguatkan konklusi sementaranya. Brill sedang tertarik dengan lawan jenisnya. Brill yang tak acuh dengan penampilannya sebelum ini... hari ini dia bercermin memperhatikan penampilannya.
"Udah ganteng kok... ayo..."
Brill menekukkan bibirnya lalu berjalan cepat melewati om Markus.
Saat melewati ruang tengah bertepatan sang mami juga siap menuju kantor.
"Sayang... besok papi pulang ke sini... kita mau foto keluarga untuk baliho papi..."
"Gak perlu ada aku kan..."
Ketus, dingin, kalau tidak mau disebut kasar, begitulah cara normal Brill berkomunikasi dengan sang mami. Kemarahan dan kejengkelan yang telah lama terpendam mengkristal dalam sikap-sikapnya selama ini. Ini sudah dipahami oleh orang dekat mereka, ini karakter asli yang ditunjukkan Brill, sikap manisnya hanya topeng di depan orang luar, di depan para tamu rumah dinas ini.
Brill tak mengacuhkan maminya, melangkah keluar lewat pintu samping. Om Markus mengirim isyarat pada Liany, mereka sudah sering bekerjasama menakhlukkan keras kepala seorang Brill. Ibu bupati telah paham soal itu, bahwa masalah Brill aman di tangan para sespri dan si Markus, dia pun melangkah dengan anggun, tampil paripurna menggunakan seragam khaki, celana panjang dan blus penuh lambang di tambah pin khusus sebagai tanda seorang bupati ada di kerah bajunya.
Di dalam mobil, Brill nampak gugup, kaki kanannya bergerak tak beraturan. Dia coba mengatasi itu dengan mengambil kacamata hitam di dalam laci mengenakan benda itu di wajahnya, mengambil headset lalu memasang di telinga dan memutar lagu dari playlist di hpnya. Lagu dari penyanyi Tulus berkumandang. Belum seperempat lagu, mobil telah berhenti. Jarak rumah dinas dengan rumah oma Betsy tak sampai lima ratus meter.
Om Markus berbicara sambil memandang anak asuhnya, tidak tahu ke mana arah tatapan Brill karena tertutup kacamata hitam.
Brill tahu rumah ini, dia melihat Rilly berbelok ke halaman rumah ini waktu itu. Matanya menyipit mengamati dari balik jendela suasana rumah. Rumah agak masuk ke dalam sekitar enam meter, tapi pintu depan dan pintu samping terlihat jelas, itu tertutup.
"Om yang turun panggilkan Rilly?"
Om Markus memecah keheningan, Brill hanya diam sejak mobil berhenti. Sesungguhnya Brill sedang bingung tindakan apa yang harus dia lakukan. Banyak yang ingin dia tanyakan, saat berada di tengah pertemuan tadi, semua pertanyaan itu telah melintas di otaknya. Tapi sekarang dia justru bingung untuk mulai bertindak apa.
Turun? Atau om Markus aja?
Brill masih diam menimbang-nimbang. Om Markus berinisiatif turun, dia terbiasa mengurus anak asuhnya ini dalam banyak hal, terbiasa melakukan sesuatu atau berinisiatif bertindak untuk keperluan Brill.
"Om... aku aja..."
Brill mengejar om Markus yang sudah masuk halaman hampir mencapai pintu depan. Langkah panjang Brill kemudian melewati om Markus, dengan tangannya Brill menyuruh om Markus kembali ke mobil. Om Markus kembali dengan senyum tertahan. Dalam hati...
Ya... maju Brill... jadi lelaki harus berani...
Belum sampai ke mobil...
"Om..."
"Kenapa? Om aja?"
__ADS_1
"Bukan... aku harus gimana?"
Om Markus hampir meledak tawanya, ternyata anak asuhnya butuh tutorial kehidupan, maksudnya butuh arahan atau masukan bagaimana menghadapi seorang gadis. Tapi om Markus segera menguasai dirinya, kadang Brill bisa bersikap temperamental. Jatidiri anak ini masih rapuh, cowok ganteng dengan seribu sedihnya bisa meledak jika tersinggung. Egonya sudah lama tersakiti, dan om Markus harus berhati-hati di situasi tertentu.
"Tujuan nak Brill apa? Mau bicara sama Rilly kan? Ajak dia ngobrol... tapi masuk ke dalam sebagai tamu... jangan bicara di luar, itu kurang sopan..."
Astaga om Markus, memang gak boleh bicara di luar ya... hihihi
"Gak mau ahh... aku gak suka duduk di rumah orang..."
Om Markus tersenyum, dia hanya menguji kenekatan anak asuhnya apa bisa mengalahkan pakemnya, dia tidak nyaman berada di tempat lain selain rumah dan sekolah.
"Ajak keluar kalau gitu, tapi harus pamit baik-baik sama orang tuanya..."
"Ini bukan rumah orang tuanya..."
Brill memperhatikan rumah itu sekali lagi, dia ingat pernyataan ibu itu, Rilly hanya anak pungut.
"Kan ada orang dewasa di dalam... pamit ke mereka..."
"Harus gitu?"
"Iya, harus sopan... ini anak bupati loh, entar dikira nyulik anak orang, hehe..."
"Om ahh..."
Brill suka marah dengan sebutan anak bupati.
"Maaf ya... tapi orang-orang kenal nak Brill dengan status itu, tanpa sadar mereka akan menuntut manner yang baik dari nak Brill... udah sana..."
Om Markus naik ke mobil.
"Tunggu om... aku udah oke?"
Telunjuk Brill menunjuk dirinya.
"Iya... iya... sana..."
Dengan cepat dia menyuruh Brill kembali masuk ke rumah itu karena otot wajahnya hampir tak bisa menahan tawanya. Saat Brill berbalik om Markus mengusap wajahnya dengan dua tangannya mencoba menetralisir rasa yang terlanjur muncul di raut wajahnya. Di balik tawa tertahannya dia sejujurnya senang, berharap tindakan Brill hari ini adalah sesuatu yang semoga bisa membuat anak itu hepi. Siapa tahu gadis berbibir belah itu bisa menjadi pengisi ruang sepi di hati Brill, dia prihatin dengan sedih dan sepi anak itu selama ini.
Om Markus menghela napas, hatinya membatin, Brill tidak perlu gadis berpenampilan menarik, Brill hanya butuh seseorang yang mengerti dirinya.
Brill menekan bell rumah. Deringannya di dalam rumah sayup bisa didengar Brill. Menunggu beberapa saat, Brill kembali menekan dua kali sehingga bunyinya lebih panjang.
Pintu terbuka...
"Brill?"
"Iya aku..."
Brill senyum canggung, dan Rilly memandang Brill dengan mata membulat. Dan beberapa saat keduanya kehilangan kata, berdiri berhadapan hanya saling memandang.
.
__ADS_1
🎶
.