Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps 50. Antara Rilly Atau Holly, Dua-duanya Bukan Milikku 2


__ADS_3

"Tenry?" Brill menyapa, dan segera tahu si Tenry ini lupa dengannya karena jari telunjuk cowok itu terangkat dan mimik bertanya sangat jelas di wajahnya


"Brill... temen Holly... lupa ya?" Brill terpaksa menyebutkan namanya sendiri.


"Oh... iya, yang di mall kan?" Tenry tersenyum menjawab.


"Iya... bener banget..."


"Kamu... anaknya bu Gub juga?" Tenry bertanya.


"Ponakan..." Brill menjawab pendek saja, rupanya Tenry sama sekali tidak tahu tentang mereka. Ahh dia tahu siapa Tenry, dia tahu juga kenapa Tenry ada di acara ini, karena setahunya acara ini sangat terbatas undangannya, hanya orang-orang terkemuka di provinsi ini.


"Anaknya walikota dia..." Bierna menyambung.


"Serius?" Tenry menatap Brill seperti tidak percaya.


"Iya... kan papiku sama mami dia kakak adek..." Bierna kembali menjelaskan.


Tenry mengangguk paham. Tenry baru ingat kalau keluarga ini keluarga terpandang dan terkenal di sini, banyak di antara mereka yang terpilih menjadi pejabat publik.


"Pantas saat bertemu kamu waktu itu, kayak kenal pernah lihat di mana gitu..." Tenry masih menatap pada Brill.


"Emang pernah lihat di mana..." Brill senyum masam.


"Di... baliho di jalan-jalan mungkin, setahun lalu?"


"Oh... baliho keluarga bahagia..." Brill berkata pelan, waktu itu dia sangat sinis dengan pembuatan baliho kampanye milik sang papi.


"Bierna... aku diantar Brill aja, gak enak kamu yang nganterin ke toilet..." Tenry berkata pada Bierna.


"Ya udah... aku juga perlu masuk ke kamarku, aku tunggu di sini nanti..." Bierna pergi dengan senyuman termanisnya.


Setelah Bierna berjalan Tenry berbisik pada Brill...


"Di mana jalan ke luar?"


"Bukannya nyari toilet?" Bril mengangkat dua alisnya.


"Nyari jalan untuk kabur... gerah di sini..."


Mata Tenry melirik sebentar pada Bierna yang punggungnya baru menghilang di balik sebuah pintu. Brill tertawa geli sekarang.


"Ahh... rupanya kamu anak pengusaha itu ya..." Brill ingat kata-kata Briana barusan.


Kedua pria ini melangkah cepat mencapai pintu samping. Setelah di luar...


"Makasih bro..." Tanpa menunggu jawaban Brill Tenry berlari menuju mobilnya.


"Udah bro aja baru sekali aku tolong..." Brill teriak dan dibalas lambaian Tenry tanpa berbalik.


"Tenry... aku minta kamu lepasin Holly buatku..."


Brill teriak lagi dengan permintaan kacaunya, Tenry berbalik hanya karena mendengar nama Holly disebut.


"Hahh??"


"Holly!!!"


Tenry yang sudah jauh gak mengerti apa maksud Brill hanya melambai lagi lalu meneruskan menuju mobilnya. Halaman ini meskipun tertata apik tapi terlalu luas, sementara semua mobil parkir di luar pagar.


"Kakak memanggil saya?" Holly berdiri di belakang Brill...


"Holly??" Brill kaget, kaget karena teriakan konyolnya baru saja, entah kenapa bibirnya bisa mengeluarkan perkataan itu... dan lebih kaget lagi karena nama yang dia teriakkan tahu-tahu ada di sini.


"Ehh?? Kak Brill?" Holly juga ikut kaget melihat cowok yang tidak pernah disukainya, si kakak tingkat yang selalu suka memaksakan kehendak.

__ADS_1


Brill menoleh cepat di kejauhan, Tenry sudah tak kelihatan, lalu mengamati Holly. Tangannya menarik tangan Holly.


"Maaf kak... prokesnya kita gak boleh bersentuhan." Holly menarik tangannya.


"Apa sih... kangen tahu..." Brill menggelengkan kepalanya, kenapa tiba-tiba ngomong kangen?


"Ihh, kak Brill siapa sih bisa kangen aku..."


"Emang kangen, sumpah... sembilan bulan gak lihat kamu..."


Holly risih mendengar kalimat Brill, mengetahui dari sorot matanya bahwa ternyata cowok itu masih menyimpan rasa untuknya


"Maaf kak... gak boleh kayak gitu, permisi... aku ada kerjaan."


Holly kemudian menuju mobil boks milik katering, dia baru selesai menata meja di bagian dalam rumah besar itu. Brill mengikuti, penasaran dengan situasi barusan ada Tenry di sini dan mengapa Holly menggunakan seragam sama dengan beberapa orang yang mengatur meja di dalam. Setahu dia Holly kehidupannya berkecukupan.


Brill memandang pada Holly, perlahan mengikuti langkah Holly. Seperti ada dia antara dua dunia yang sama-sama kacau, sebelahnya ada si Rilly yang membuatnya kecewa karena tak bisa dia jangkau karena jarak dan karena sepertinya dia sudah memiliki pacar di Jakarta sana. Dan sekarang bagian lain dunia yang mengacaukannya adalah Holly, yang dari awal sampai akhir selalu menolaknya. Kenapa dua gadis yang dia sukai tidak menginginkan dirinya?


Brill merasakan sakit di hatinya.


"Holly..."


Brill menjejeri langkah Holly. Holly mempercepat langkahnya, dan menjadi kesal karena Brill masih berjalan bersama dirinya.


"Kak Brill jangan ngikutin aku..."


"Aku pengen nanya sesuatu..."


"Gak ada yang perlu aku jawab..."


"Diih... aku belum nanya..."


"Udah aku kasih tahu dari awal, jadi gak usaha nanya-nanya..."


"Biarin..."


"Kamu itu udah manis, terlalu manis bahkan... tetap kayak gitu aja..."


"Kak Brill gak jelas..."


"Hehehe... judes gimana pun tetep manis..."


"Kak Brill aneh dari dulu..."


"Karena kamu aja aku kayak gini..."


Holly melirik sebal. Sembilan bulan ternyata Brill masih sama masih menjadi sosok yang mengganggu. Holly bergabung dengan karyawan Keke's Katering lainnya yang mengasoh sejenak setelah menyelesaikan penataan katering, nanti saat jamuan makan dimulai baru beberapa orang akan masuk lagi.


"Kamu kerja sekarang?"


Brill menarik sebuah kursi plastik ke dekat Holly lalu duduk di sana dengan santai. Brill mengikuti aja kata hatinya tak ingin menjauh dari Holly sekarang, sekalipun dia selalu mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari Holly. Berbeda dengan Rilly yang selalu memperlakukannya dengan manis.


Holly… Rilly… Holly… Rilly… rasanya hatinya hanya berputar-putar pada dua nama itu, dan dua nama itu mempunyai akhiran yang sama. Brill tak mengerti hatinya, mungkin hatinya gak bisa membedakan mana rasa suka dan mana rasa cinta, entahlah yang mana yang dicintai dan yang mana yang hanya sekedar suka, yang jelas dua cewek yang menarik perhatiannya sama-sama tidak bisa dia miliki. Yang sekarang ada di hadapan adalah Holly… Brill mengibaskan kepalanya seperti mau mengenyahkan nama Rilly yang muncul.


"Ly... kamu kerja ya?"


Brill memutar badannya dan sekarang dekat dengan wajah Holly.


"Apa sih deket-deket..."


Holly menjauhkan kursinya, gerakan yang diikuti Brill sehingga jarak mereka kembali deket.


"Makanya kalau aku nanya jawab..."


Holly tak menanggapi. Brill tersenyum melihat wajah ketus juga kalimat bernada jengkel dari Holly, jadi ingin lebih lama menikmati kejengkelan Holly.

__ADS_1


"Kirain kamu datang bareng Ten..."


Brill tidak meneruskan kalimatnya. Saat Holly menatap dengan penasaran, Brill hanya mengangkat bahu. Pikiran cepatnya langsung menyimpulkan sesuatu, kemungkinan Tenry gak tahu, atau jika tahu kenapa pergi harusnya tetap aja di sini jika sayang sama pacar, atau... jadi penasaran untuk mengulik sesuatu.


"Tenry apa kabar?" Brill bertanya sambil menatap lekat ingin tahu reaksi Holly.


"Ehh ya?" Holly seolah tak mendengarkan. Brill senyum tipis, membenarkan dugaannya tadi.


"Tenry... pacar kamu..."


"Mmm... baik sih..." Holly menjawab ragu.


Mata jeli Brill melihat ada keraguan di sana dan ada riak sedih di wajah Holly.


Apa dia gak tahu ada Tenry di sini?


"Brill?"


Bierna sepupunya datang mendekat dengan langkah pendek-pendek karena gaun panjang ketat membentuk tubuh dan karena heelsnya.


"Tenry mana? Lama amat cuma ke toilet?"


"Tenry?" Brill berkata pelan sambil melihat Holly, dan dia tahu gadis itu sedang penasaran dengan nama pacarnya yang disebutkan Bierna.


"Iya...Tenry Tanos yang tadi..."


"Gak tahu..." Brill akhirnya menjawab dan membuang padang dari Holly. Walau tanpa suara tatapan Holly menunjukkan bahwa gadis itu sudah punya pertanyaan di bibirnya.


"Loh... tadi dia sama kamu?"


Brill menatap cuek pada sepupunya yang menyentak kaki semakin kesal.


"Cariin Brill..."


"Hahh? Males ahh... Orangnya udah pergi..."


"Brill! Dia orang penting buatku..."


"Penting? Emang siapanya kamu?"


"Calon suami... makanya cariin..." Suara Bierna sekarang berganti dengan nada manja khas putri-putri.


Dan saat Brill memandangi Holly dia tahu bahwa gadis itu sedang bergulat dengan kesedihannya. DIa juga segera mengerti bahwa ada sesuatu antara Holly dan Tenry, Holly dan Tenry tidak saling tahu ada di tempat ini. Dua tetes airmata jatuh. Brill melihat itu. Sebenarnya dia tahu bahwa itu tadi perkataan tak berdasar dari Bierna. Dia tahu persis kebenarannya tak ada hubungan apapun antara Tenry dan sepupunya.


Barangkali benar ada pembicaraan tentang Tenry di tengah keluarga yang dia tidak tahu, mungkin ada jodoh-jodohan, tapi menilik sikap Tenry, nampaknya gak singkron dengan pernyataan "calon suami" si Bierna. Hatinya berperang antara menjelaskan pada Holly atau membiarkan kesalapahaman terjadi, tumbuh niat sekarang, seperti ada celah untuk mendapatkan Holly.


"Brill... cariin dong..."


"Gak ahh, aku lagi ada urusan... cari aja sendiri, telpon kalau dia calon suami masa gak bisa nelpon suruh balik ke sini..."


"Urusan apa sih? Lagian ngapain kamu di sini, mau jadi pelayan juga di pesta? Awas aku kasih tahu mami Inggrid kamu... atau ini pacar kamu ya?"


Bierna memperhatikan dengan seksama ada gadis yang duduk sebelahan dengan Brill, duduk terlalu dekat. Brill mengangkat bahu, tapi sesungguhnya hatinya mulai terpengaruhi dengan reaksi Holly yang dia tahu sedang berusaha keras untuk tidak menangis.


Ingin Brill memeluk Holly sekarang tapi di saat yang sama otaknya juga memunculkan nama Rilly, membuat dia hanya memandangi Holly akhirnya.


Betapa rumitnya perasaannya, Brill hanya membuang napas. Kesal dengan kekacauan sirkuit otaknya tentang Rilly dan Holly.


.


Dua eps... karena bbrp hari gak up... 😜


Dua eps ini menyesuaikan dengan alur HollyTenry, diubah menurut kondisi Brill makanya jadi panjang... Aku pengen nyambung aja dgn alur yg dibangun di sana untuk tokoh yg sama,


.

__ADS_1


__ADS_2