Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 16. Yakin Sekarang


__ADS_3

Brill tidak perlu gadis yang cantik atau berpenampilan menarik, Brill hanya butuh seseorang yang dapat memahami dirinya.


Seseorang yang dapat menggerakkan jiwanya sehingga dia menemukan ekspresi lain dari kehidupan, seseorang yang dapat berjalan bersama karena saling mengisi dan saling memenuhi hasrat hati, seseorang yang dapat berbagi rintihan panjang dan keluh tertahan di kedalaman palung hati, sehingga hidup yang diliputi kekekecewaan, suasana yang muram, dingin dan kurang kasih sayang tergantikan oleh keindahan dan... bahkan mungkin akan ada cinta.


Brill menekan bell rumah. Deringannya di dalam rumah sayup bisa didengar Brill. Menunggu beberapa saat, Brill kembali menekan dua kali sehingga bunyinya lebih panjang.


Pintu terbuka...


"Brill?"


"Iya aku..."


Brill senyum canggung, dan Rilly memandang Brill dengan mata membulat. Dalam beberapa saat keduanya kehilangan kata, lidah tak bisa digerakkan untuk dapat berucap sesuatu. Mereka berdua berdiri berhadapan hanya saling memandang.


Seperti sebuah fatamorgana, Rilly melihat Brill, mengerjapkan mata beberapa kali tapi cowok dengan rambut yang sekarang dibiarkan gondrong mencapai bahunya masih berdiri di sana. Kacamata hitam yang menonjolkan hidung bangirnya sekarang dilepaskan, sehingga Rilly dapat langsung menatap di mata Brill.


Jarak tak sampai dua meter sehingga Rilly dapat melihat dengan jelas wajah Brill di hadapannya. Hal yang sama dilakukan Brill, mata hitam dengan lipatan mata yang jelas dan tegas itu sementara mengamati wajah melongo Rilly, sesuatu yang tak dikenalnya masuk perlahan dan mulai meresap di dadanya... entah apa, tapi yang jelas dia merasa senang bisa memandang Rilly sekarang.


"Ehh... hai..."


Brill berucap masih dalam kecanggungan.


"Ehh... iya... ehh... Brill cari siapa?"


Rilly juga sama canggungnya. Brill tak menjawab tapi telunjuk Brill mengarah pada Rilly.


"Rilly?"


Rilly bertanya tak percaya, tangannya mengikuti sekarang, telunjuknya menunjuk diri sendiri dengan tatapan berubah heran.


"Iya..."


"Brill perlu apa sama Rilly?"


Rilly mengucapkan kalimat itu dengan perasaan takjub karena momen ini nyata adanya, hatinya mulai berdebar.


"Ehh? Ada... tapi..."


"Ada siapa Rilly? Kenapa gak disuruh masuk?"


Suara seorang wanita yang datang dari arah dalam memutus perkataan Brill.


"Ehh... tante ini teman Rilly..."


Rilly melirik Brill saat mengucapkan kata teman, dia belum yakin tentang itu tapi dia tidak tahu harus mengenalkan Brill sebagai apa.


"Diajak masuk... duduk di ruang depan... masa disuruh berdiri terus, depan pintu lagi..."


Tante Isye berkata sambil senyum ringan pada Brill. Dia hendak masuk tapi tertahan dengan suara adiknya...


"Brill? Mari masuk, mari masuk... Rilly kamu gak sopan membiarkan Brill di depan pintu..."

__ADS_1


Suaranya ketus pada Rilly tapi Tante Ine seperti kegirangan saat mengenali sosok yang bertamu pagi-pagi. Tante Ine keluar melewati Rilly dan hendak meraih tangan Brill, tapi dengan tegas Brill menghindari, dua tangannya dia lipat mengunci di belakang tubuhnya dengan satu langkah yang bergerak mundur.


Brill juga diam tak menyapa tante Ine. Dia tidak nyaman sekarang apalagi diminta masuk ke dalam, tapi pesan om Markus dan keinginan untuk bicara dengan Rilly membuat dia menahan hatinya.


"Brill... masuk dulu, ada Manda di dalam... ayo..."


Tante Ine sempat terganggu dengan sikap Brill tapi masih tetap tersenyum ramah.


"Saya perlu sama Rilly... saya ijin mau ajak Rilly keluar..."


Brill berkata datar, tepat dan tak berbasa-basi.


"Ohh??"


Kenapa harus cari Rilly sih?


Tante Ineke berubah air mukanya walau tetap menjaga kesopanannya. Ini dia berhadapan dengan anak bupati, dia harus menjaga sikapnya. Secara jabatannya adalah jabatan politis, jika salah bersikap pada Brill bisa saja Brill mengadu pada maminya dan itu bisa menjadi ancaman untuk posisinya... haha, tante Ine tidak tahu betapa Brill muak dengan segala hal menyangkut jabatan dan posisi maminya, mana dia peduli soal-soal seperti yang ditakutkan tante Ine itu.


Di sisi yang lain, ada rasa jengkel yang dirasakan oleh tante Ine karena Brill bukan mau bertemu dengan Manda anaknya.


"Saya mau ajak Rilly keluar..."


Brill mengulang lagi dengan mata memandangi Rilly yang cukup shock.


Brill gak salah ngajak aku jalan?


"Aduuh, maaf sekali Brill... tapi Brill datangnya pagi-pagi sih, Rilly masih punya kewajiban sama oma Betsy... dia belum bisa diajak pergi... gimana kalau ditemani Manda aja dulu?"


Tante Ine menjawab sangat manis dengan sikap yang lebih dari manis. Brill yang melihat itu mendengus tak kentara, rasa jengkel segera menyeruak. Brill menatap tajam tak ingin meladeni tante Ine.


Suara tante yang satu lagi terdengar. Brill mengangguk, dia merasakan tante yang satu ini sedikit berbeda pembawaannya.


Tante Isye mendekat dan berdiri bersisian dengan Rilly, dia terpanggil ikut campur setelah memperhatikan sejak tadi terutama karena sikap adiknya, dia juga mengerti sesuatu sekali melihat Brill dan Rilly.


"Rilly boleh diajak pergi kok... Rilly sana ganti baju... udah mandi kan?"


"Iya..."


Rilly menjawab tante Isye dengan suara lirih dan mimik takut. Sejak tante Isye datang tak henti-hentinya dua kakak-adik itu bertengkar hebat, soal warisan, soal rumah ini, soal penggunaan uang oma Betsy, soal cara tante Ine mengurus oma Betsy... dan Rilly mendadak khawatir kali ini mereka bertengkar karena dirinya.


Benar saja, aura tante Ine langsung berubah.


"Sye?"


Hampir tante Ine meledak lagi, persaingan kakak-adik soal siapa yang lebih berhak kini merembet ke banyak hal, termasuk siapa yang lebih berhak mengatur Rilly. Tapi tante Ine segera sadar ada Brill di sini. Saat dia bersitatap dengan Brill, sorot mata tajam Brill membuat dia seperti sedang merasakan tatapan ancaman dari ibu bupati untuk diturunkan dari jabatannya sekarang.


"Eh... baiklah Brill... silahkan... tapi sementara menunggu Rilly masuk aja dulu... nanti tante panggilkan Manda menemani Brill..."


Tante Ine masuk, sebelumnya menatap penuh permusuhan pada kakaknya. Tante Isye tak mengacuhkan, melihat sikap Brill yang hanya berdiri kaku di temoatnya, tante Isye tersenyum.


"Brill... di sini aja, tante temani kamu..."

__ADS_1


Tante Isye duduk di sebuh kursi teras, tangannya menunjuk sebuah kursi yang lain. Demi kesopanan dan rasa terima kasih karena tante ini sudah memberi ijin untuk Rilly, Brill duduk di situ.


"Marga kamu apa Brill?"


"Ratulangi tante..."


"Oh... teman tante marganya Ratulangi, si James... istrinya Inggrid, masih saudara ya? Mereka asal sini juga..."


"Mereka orang tua saya, tante..."


"Wow... ketemu anaknya si Inggrid dan James akhirnya..."


"Tante kenal mami papi saya?"


"Kenal... tapi bukan teman dekat... kami sama-sama dulu di paguyuban Nyong-Noni Sulut, tante lebih senior... nah tante seangkatan sama James. Tante dulu hanya menang kategori Noni Favorit, tapi James sama Inggried mereka berdua yang terbaik... hehe salam ya sama papi mami, siapa tahu mereka masih ingat, udah lama juga tante gak aktif di paguyuban..."


Brill senyum tipis, baru sekarang berinteraksi dengan orang tentang mami papi dan tak menyinggung jabatan mereka sama sekali.


"Brill... hai..."


Manda datang dengan wajah penuh senyuman. Brill hanya melirik sesaat dan tak membalas baik sapaan ataupun senyuman. Tante Isye melihat gelagat itu menyimpan senyumnya. Dia memang kurang suka dengan ponakannya ini, tabiatnya yang manja bak tuan putri yang arogan di rumah ini, suka membuat dia geregetan. Tante Isye punya anak perempuan juga, tapi dia mendidik anaknya untuk tahu adat dan punya budi pekerti yang baik.


Tante Isye terus mengajak Brill bercakap sehingga Brill teralihkan dari Manda sepenuhnya. Manda yang tak diacuhkan akhirnya masuk ke dalam sambil menghentakkan kaki.


Rilly muncul kemudian. Untung saja dia punya baju yang layak, tante Isye membawa banyak baju masa gadis putrinya, setelah menikah dan melahirkan ukuran sizenya berubah. Tadinya untuk Manda tetapi berubah setelah Manda berkata tak sudi menerima baju bekas, meskipun mahal, modis, dan masih sangat layak pakai. Rilly yang tidak pernah dibelikan baju lagi sejak oma Betsy tak berdaya, seperti mendapatkan durian runtuh.


"Udah siap Rilly?"


"Iya... tante..."


Brill berdiri. rasa yang sama sejak dari rumah dinas masih menguasainya, tangannya masih berkeringat dingin, teralih sejenak saat tante Isye dengan santai mengajaknya bercakap. Kini rasa itu datang lebih kuat, sama kuat dengan rasa senang yang menghampirinya.


"Ayo Ril..."


Brill menatap Rilly yang juga terlihat tegang, seperti dirinya.


"Rilly... nikmati waktumu ya... gak usah buru-buru pulang, ada tante yang ngurusin oma... kamu butuh hiburan juga... selamat bersenang-senang... Brill titip Rilly ya... take your time..."


"Iya tante..."


Brill mengangguk hormat.


"Gak usah takut sama tante Ine, itu urusan tante, ok?"


Tante Isye berbisik di telinga Rilly lalu meninggalkan mereka berdua dengan senyuman.


"Kita jalan sekarang..."


Suara Brill terdengar kemudian lalu dia berjalan menuju mobil mendahului Rilly. Rilly mengikuti dengan beragam pertanyaan di kepalanya... kenapa Brill mau mendatanginya? Kenapa Brill mau mengajaknya keluar? Brill ada perlu apa sebenarnya? Dan serentetan pertanyaan lain... tapi berbarengan dengan semua pertanyaan di kepalanya, dihatinya ada satu kehangatan yang menjalar, tak salah jika dia boleh yakin sekarang, mereka berdua adalah teman... hmm...


.

__ADS_1


🌿


.


__ADS_2