
Brill dan Rilly ada di sebuah cafe yang ada di sebuah pojok sebuah jalan. Bukan sebuah tempat yang ramai dan dari luar sangat biasa, tapi tempat ini paling disukai Brill karena ada rooftopnya, dengan desain yang hommie, jadi seperti hidden gem. Gak sengaja nemu tempat ini, dan belakangan sering jadi tempat date mereka berdua.
“Rill, aku pengen kita nikah…” Brill tiba-tiba bicara padahal mereka baru aja mengambil tempat di bagian pojok di rooftop, hanya mereka berdua yang duduk di area ini.
“Apa Brill?” Rilly memastikan kalimat yang didengarnya. Rilly baru aja duduk dengan benar, tiba-tiba mendengar sebuah kalimat sangat serius. Brill memang selalu seperti ini, tindakannya selalu membuat Rilly kaget, Brill kadang gak bisa diprediksi.
“Kita nikah aja.” Brill mengulangi menyampaikan apa yang paling diinginkan sekarang, bukan meminta persetujuan Rilly.
Tangan Brill menarik Rilly menempel ke tubuhnya masuk dalam rangkulannya, beberapa ciuman mampir di pipi Rilly.
“Nikah itu hal yang serius… Brill kayak ngajak Rilly makan siang,” ujar Rilly lembut sambil menjauhkan tubuhnya, ingin melihat wajah Brill, tapi malah tangan Brill menahan dagu Rilly sehingga kembali dia bisa melakukan keinginannya menciumi seluruh wajah Rilly dan menahan sedikit lama di bibir mungil Rilly, lalu menjelajah lagi ke pipi.
“Brill… nanti wajah Rilly berubah diciumi terus…” Tangan Rilly mendorong lembut dada Brill. pacarnya semakin hari semakin suka sentuhan fisik dalam setiap pertemuan mereka, kecuali di rumah hijau di Tomohon Brill terpaksa harus mengendalikan tangan dan bibirnya.
“Berubah?” Brill menghentikan ciuman beruntun di pipi Rilly, menatap Rilly sedikit bingung.
“Iya… jadi kisut...” Rilly menyimpan senyum melihat mimik Brill.
“Kenapa?” Brill malah menanggapi serius.
“Iya, pernah kan tangan Brill terendam air lama?” Susah payah Rilly menahan tawa supaya tidak pecah.
“Iya, tapi hubungannya sama ciuman aku apa?” Brill belum bisa menangkap, mimik masih belum berubah.
“Kulit wajah Rilly bisa mengkerut kayak gitu… kena ilernya Brill… hahaha.”
“Kamu ahh…” Maka semua kegemasan hati tercurah sekarang, bibir Brill menyerbu setiap inci permukaan wajah Rilly.
“Brill… hahaha, udah donggg…” Kepala Rilly meliuk-liuk menghindari sergapan bibir pacarnya.
“Pengen tahu mukamu yang mengkerut karena ciumanku kayak apa…” Brill menjedah dan mulai lagi dengan bahasa cintanya, bahkan tangannya menahan wajah Rilly yang dari tadi berusaha menghindari.
“Hahaha… udah, Rilly nyerah… Brill berhenti… aduh… itu ada karyawan mau nanya pesanan… kita belum memesan makanan kan…” Kepala Rilly coba dia gerakkan lepas dari tangan Brill.
Brill berhenti. Kepalanya sedikit menjauh dan benar matanya menemukan seorang karyawan yang sedang berdiri tersipu malu beberapa meter dari tempat mereka.
Sejak tadi dia di sana sebenarnya dan menjadi penonton kelakuan anak walikotanya. Ekspresi maut dilayangkan Brill membuat cowok berseragam kafe ini tertunduk. Brill pernah membuat salah satu temannya dipecat gara-gara mengambil foto, dia mulai takut juga. Tapi dia berdiri di sini gak sengaja melihat adegan yang tadi, dia hanya hendak melakukan tugasnya mencatat pesanan.
“Hei… kamu! Ngapain berdiri di situ??” Suara keras Brill yang emosi karena kesenangannya terganggu.
“Brill…” Rilly menepuk-nepuk tangan Brill. “Dia sedang kerja kan, dia mau nanya pesanan kita… jangan marah ya…” Suara Rilly yang lembut di telinga otomatis membuat hati Brill seketika tenang kembali.
Rilly kemudian mengambil alih memesan makanan untuknya dan untuk Brill sambil tersenyum pada si karyawan cowok yang terlihat grogi. Setelah karyawan itu turun…
__ADS_1
“Aku gak suka kamu senyum untuk karyawan itu…” Suara Brill terdengar kesal.
“Ehh?? Wajar aja kan… apalagi dia udah gugup kayak gitu, kita ramah sama mereka dan mereka pasti melayani kita dengan baik… kenapa Brill gak suka?” Rilly memperhatikan wajah cowoknya yang gak ada senyumnya sekarang.
“Yaa gak suka aja kamu senyum sama cowok lain…” Intonasi dalam suara Brill berubah, mulai ada nada-nada imut arah-arah merajuk.
“Hahaha… iya deh, Rilly senyum buat Brill aja… gitu kan maunya Brill?” Rilly menangkap arti sikap Brill, seseorang sedang cemburu sekarang.
“Iyaaa…” Suara Brill membulat tapi Rilly tersenyum, imut banget ekspresi Brill yang cemburu, sesuatu yang indah menyusup di hati Rilly, merasa dicinta itu membahagiakan.
“Hehe… Brill lucu deh,” Rilly gak menahan diri untuk mencium pipi pacarnya, ingin membalas melakukan sesuatu juga di wajah tampan itu.
Saat Rilly menarik wajahnya, Brill malahan menahan belakang kepala Rilly.
“Kamu boleh cium sampai pipiku kisut mengkerut keriput…”
“Hahaha… Brill… apa sih…” Karena kepalanya yang bisa bergerak akhirnya Rilly menciumi Brill beberapa kali.
“Udah… lihat sendiri, udah keriput… hahaha…” Rilly mengusap pipi yang sedikit basah lalu memaksa kepalanya menjauh.
Brill tersenyum sekarang, Rilly sesekali melakukan sesuatu padanya, dan itu membuat hatinya bertabuh riang, pelangi di hatinya bukan hanya setengah lingkaran lagi… warna-warni cinta memenuhi bulat penuh di hatinya.
Brill jadi ingat pernyataannya sebelum ini…
“Menikah itu hal yang serius Brill…” Rilly kembali mengulangi penolakan samarnya, masih berharap Brill memang gak serius.
“Aku serius ingin menikah sekarang.” Suara Brill pelan saja, tapi membuat jantung Rilly segera bertambah denyutnya.
Rilly mencerna perkataan Brill, menikah itu tidaklah sederhana, dan dia gak ingin menikah sekarang, dia punya hutang menyelesaikan kuliahnya. Setiap dia pulang, oma Betsy selalu menanyakan kapan dia selesai, makanya Rilly selalu belajar dengan rajin, ingin mewujudkan keinginan sang oma. Dia juga merasa perlu membuktikan pada oma bahwa dia menyayangi oma dengan cara ini.
“Aku udah bilang ke oma Susan, nanti aku ngomong sama orang tuaku.”
Kalimat Brill membuat Rilly takut, ternyata Brill serius mengajaknya menikah sekarang. Baru beberapa bulan pacaran, udah menginginkan yang lebih.
“Brill… kita masih kuliah…” Rilly memberi argumen yang tepat untuk menolak ide Brill yang mendadak ini.
“Yaa gak papa kan kita nikah, kita gak berhenti kuliah kok setelah nikah…” Tangan masih mengusap-usap kepalanya bahkan menarik tubuh Rilly bersandar di dadanya.
Rilly memutar otak bagaimana mengubah pikiran Brill, dari nada suaranya dan dari karakter Brill, dia tahu susah untuk membuat Brill mengesampingkan keinginan hatinya.
“Gak lama lagi kita ujian semester, setelah itu aja kita menikah ya?” Brill menyambung lagi.
Astaga, ini ujiannya gak sampai sebulan, berarti Brill menargetkan bulan ke depan mereka nikah. Rilly menegakkan tubuhnya keluar dari rangkulan Brill, Rilly mengubah posisi duduknya menghadap pacarnya. Entah bagaimana mengatakan bahwa dia belum mau menikah sekarang.
__ADS_1
“Brill, urusan nikah gak gampang loh, anaknya tante Irma menikah diurusnya beberapa bulan.”
“Gampanglah, ada oma Susan sama mamiku, mereka pasti ngerti gimana mengurusnya biar kita gak lama-lama nikahnya…” Brill mengatakan dengan santai, seolah itu bukan masalah besar, begitu niat ada langsung bisa eksekusi.
O m ji…
“Brill…” Rilly memandang lembut, Brill dia tahu gak mungkin langsung ditolak. Saat tatapan bertaut…
“Brill tahu kan posisi Rilly…” Rilly memulai.
“Posisi apa?” Kening Brill bertemu.
“Rilly itu di tengah keluarga oma Betsy hanya anak asuh… walaupun Rilly sejak bayi diurus oma. Dan sekarang pun hidup Rilly itu ada di bawah tanggung jawab tante Irma…”
“Memang kenapa?” Sergah Brill, mulai merasa bahwa keinginannya gak akan mulus terealisasi.
“Rilly gak akan segampang Brill menyampaikan apa yang Rilly inginkan, Rilly harus mengikuti aturan mereka…”
“Kenapa kamu mau aja diatur-atur, ini hidup kamu sendiri, mereka gak boleh seenaknya sama kamu, kamu punya hak untuk melakukan apa saja, Rilly,” ungkap Brill kesal. Ingatannya kembali pada saat Rilly di Amurang dulu, dia ingat pegawai maminya yang ketus dan kasar pada Rilly.
Suara Brill yang tidak suka membuat Rilly semakin was-was. Mereka hepi-hepi aja selama ini, belum pernah membahas hal-hal yang begini, gak ada debat atau pertengkaran, karena Brill begitu manis menghujaninya dengan banyak perhatian.
“Iya… Rilly tahu, mereka juga gak mengekang Rilly kok, Rilly diperlakukan dengan baik… makanya Rilly sadar siapa Rilly bagi mereka, mereka menginginkan Rilly selesai kuliah, ini keinginan oma Betsy sejak dulu… jadi untuk sekarang Rilly harus fokus kuliah dulu… menikahnya nanti aja ya Brill? Setelah kita selesai kuliah.” Walaupun Rilly berkata dengan lembutnya seperti biasa tapi gak bisa membuat Brill menerimanya.
“Itu masih lama Rilly!” Brill marah, dia tidak suka ditolak.
“Tapi Rilly gak bisa menikah sekarang…” Rilly terpaksa menjawab meskipun Brill terlihat sudah emosi.
“Ahhh!” Brill mendorong meja dan keluar dari situ, meninggalkan Rilly di rooftop kafe itu.
Rilly hanya bisa terhenyak dan duduk dalam sedih dan bingung, bagaimana menghadapi Brill yang seperti ini.
Lebih dari setengah jam menunggu, makanan semua sudah datang tapi Brill belum muncul juga. Akhirnya Rilly turun, udah gak bisa menimati makanan yang ada, udah hilang rasa laparnya. Di lantai dua Brill gak ada begitu juga di lantai satu. Hati Rilly yang sedih karena ditinggal Brill tadi mendadak sakit, ternyata Brill meninggalkannya begitu saja. Akhirnya Rilly membayar saja makanan yang terlanjur dipesan.
Di luar kafe, mobil besar warna hitam Brill masih terparkir, dengan berat hati Rilly mendekat dan mencoba membuka pintu tapi terkunci. Mesin sudah dihidupkan dan Brill bergeming walau melihat Rilly di luar dan mencoba masuk, dia marah Rilly menolak keinginannya. Rilly mengetuk jendela, Brill gak membuka pintu.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Rilly mencegat sebuah ojek, pulang saja lebih baik. Brill yang marah tersentak saat melihat Rilly naik motor dan meninggalkan dirinya, seolah tersadar maka Brill tancap gas mengejar Rilly, tapi apa daya setelah masuk ke jalan raya, mobil begitu padat siang ini, motor yang membawa Rilly jauh meninggalkan mobil Brill.
.
Hi... Maaf Brill suka lemot skrng, jarang up, hehehe jgn marah ya
.
__ADS_1