Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 9. Duet Manis dengan Oma


__ADS_3

Dari jendela besar di kamar tidurnya, mata Brill menangkap sosok yang dia kenali sebagai teman sekelasnya. Tanda di bibir gadis itu serta moment ujian Inggris-Jepang membuat dia ingat gadis itu.


Brill memperhatikan bagaimana gadis itu memperlakukan seorang oma di atas kursi roda... wanita tua yang terlihat tidak berdaya, gadis itu terlihat begitu care, begitu sayang...


Apa karena merawat oma itu makanya dia gak masuk sekolah?


Brill jadi ingat moment waktu itu saat pulang sekolah, entah atas dorongan apa dia mengejar gadis itu dan mereka berjalan bersama, pertama kali dia yang lebih dahulu memulai menyapa orang. Brill menunduk dengan salah satu sudut bibir sedikit terangkat, sambil mengebaskan pikiran tentang gadis itu.


Kenapa memikirkan gadis itu, aneh.


Tapi tanpa sadar Brill kembali mengangkat wajah mengamati Rilly. Ini bukan kebiasaan atau pembawaannya yang sebenarnya, dia orang yang tak acuh pada sekelilingnya, tak peduli dengan keadaan orang lain, gak peduli dengan emosi orang lain.


Sehari-hari Brill jarang atau bahkan tak pernah berinteraksi dengan orang selain orang dekat, enggan untuk mengenal orang lain. Kepercayaannya pada orang lain terlalu rendah. Dalam hatinya selalu sinis tentang maksud orang mendekati dirinya... karena dia anak pejabat, putra tunggal orangtuanya yang punya harta yang tak sedikit, dan dia juga sadar mewarisi gen unggul soal fisiknya gabungan kecantikan dan ketampanan orangtuanya.


Harusnya hidupnya sempurna. Tapi... hidupnya terlalu sepi, muram, penuh kekecewaan dan kepahitan. Jika bukan karena oma dan om Markus serta istrinya entah seperti apa dia akan menjalani hidupnya.


Brill cenderung apatis. Lebih senang menyendiri dan tak mempedulikan banyak hal. Kekecewaan demi kekecewaan serta hubungan yang memburuk dengan orang tua sosok yang seharusnya dekat dengannya mungkin menjadi alasan sikapnya.


Dan sesuatu di luar kebiasaannya sementara berlangsung... Brill mengamati seseorang.


Pengamatan Brill semakin menarik tatkala ada dua wanita sepertinya ibu dan anak datang mendekati si oma di kursi roda. Terlihat teman Inggris-Jepangnya menjauh beberapa langkah, dua wanita itu mencoba berinteraksi tapi si oma terlihat tak menggubris. Jarak beberapa meter saja walaupun tak bisa mendengar isi percakapan mereka tapi dia bisa tahu si oma justru tidak seceria saat bersama gadis berbibir terbelah itu.


Oma Susan masuk, diikuti salah seorang ART yang membawa nampan berisi makanan. Di tangan oma ada mangkok berisi sirup buah.


"Brill... kita bawain sarapan buatmu, kamu pasti malas keluar kamar, rumah kita penuh dengan orang..."


"Oma adain acara apa sih... kenapa ngundang banyak orang?"


"Ini bukan acara oma... ini program pemerintah... acara Hari Lansia, oma salah satu pengurus tingkat kecamatan, mereka minta ijin buat acara di sini karena halaman kita luas..."


Oma menjelaskan panjang lebar, lalu meneruskan saat melihat wajah penasaran Brill...


"Acaranya sampai sore mungkin, tergantung oma-opa di luar sana kuat bertahan sampai jam berapa, tapi setelah makan siang nanti mereka sudah boleh pulang... yang masih mau menunggu sampai waktu minum kopi juga gak apa-apa, sepanjang hari mereka boleh bersenang-senang di sini... Ada sewa musik juga karena oma-opa banyak yang suka nyanyi sama dansa..."


Brill melirik makanan yang diletakkan di sebuah meja di dekat tempatnya berdiri.


"Acara resminya udah selesai, mamimu baru selesai kasih sambutan dan membuka kegiatan sepanjang hari ini... ini sementara pelayanan kesehatan, sesudah itu mau makan siang... lalu acara rekreasi..."

__ADS_1


Brill memandang keluar lagi, gadis Inggris-Jepang terlihat mendorong si oma ke lokasi tenda putih, tempat pelayanan kesehatan gratis.


"Brill... hafal lirik Siapa Bilang Lansia Tidak Berguna? Oma mau nyumbang lagu tapi belum hafal liriknya..."


Brill mengambil hpnya mencari dari alat pintar itu lirik lagu yang oma maksud, setelah menemukan Brill menyerahkan hpnya pada oma Susan. Oma Susan mulai menyanyikan lagu pilihannya.


Brill mengambil quitarnya lalu mencari chord yang sesuai dengan nada dasar yang diambil oma Susan. Suara oma Susan memang merdu, bakat menyanyi dan musik Brill dari oma Susan.


Omalah yang memperkenalkan quitar padanya, saat dia ulang tahun yang ke tujuh oma Susan memberi hadiah sebuah quitar. Sejak itu dia tertarik pada musik dan kemudian menjadi pelarian sepinya saat orangtua menjadi sibuk dan sering meninggalkan bahkan cenderung mengabaikan dirinya.


Karena oma salah menempatkan lirik sesuai biramanya, Brill ikutan menyanyi. Dengan nada yang sama dengan lagu judul "Balada Pelaut” tetapi liriknya diganti, mereka menyanyikan dalam beberapa kali pengulangan, Brill dan oma Susan berduet di kamar diiringi petikan quitar akustik yang sempurna dari Brill.


Terdengar indah dan harmoni, sampai-sampai ART berdiri terpukau di pintu kamar. Duet oma dan cucu memadukan suara semi seriosa oma Susan diimbangi dengan pas dan apik oleh suara maskulin Brill.


Selesai menyanyi, oma Susan mengusap pipi Brill...


"Brill punya anugrah suara indah, pintar main musik... Brill disayang Tuhan... oma keluar ya... mungkin oma sudah dicari orang-orang... makasih sudah temani oma latihan... jangan lupa sarapan... nanti makan siang oma antar ke kamar juga... "


Oma Susan keluar dari kamar Brill. Perhatian oma adalah kekuatannya dan pengisi sepi hatinya.


"Oma..."


"Ada yang Brill kepengen makan lagi? Di luar banyak kue nanti oma minta Nelly bawa masuk beberapa untukmu..."


"Bukan... aku... aku mau nyanyi bareng oma nanti..."


Oma mengernyitkan dahi, ini sesuatu sekali jika Brill mau menyanyi depan orang.


"Ada banyak orang Brill, kamu pasti tidak suka..."


"Aku... aku mau bernyanyi duet dengan oma..."


Oma Susan mendekati cucunya. Dia bisa membaca sorot ragu di mata Brill, tapi oma memikirkan sesuatu yang lebih dari sekedar bernyanyi bersama, cucunya perlu dorongan positif untuk mengembangkan diri, cucunya harus mampu untuk mengubah hal-hal buruk dalam dirinya dengan mengeluarkan sisi terbaik yang ada.


"Brill serius?"


"Aku seri... Ehh... batal aja... bener aku gak suka banyak orang..."

__ADS_1


"Sini... Brill..."


Oma Susan menuntun Brill ke tempat tidur dari kayu jati berukuran kingsize dengan ornamen empat tiang di empat sudutnya.


"Brill bisa main beberapa alat musik dengan baik kan... bisa menyanyi, suara kamu itu indah... tapi itu sedikit manfaatnya jika tidak pernah didengar atau dinikmati orang lain... kamu berlatih dengan grup bandmu setiap hari, tapi jika hanya dinikmati sendiri tidak pernah tampil di hadapan orang, itu juga kurang bermakna..."


Oma diam sejenak, ingin melihat reaksi Brill. Masih terlihat ragu.


"Oma tidak akan memaksa kamu tampil kalau ada perasaan insecure, kalau kamu senang melakukannya, silahkan... itu pasti akan sangat menghibur para lansia... tapi jangan merasa terpaksa..."


Brill menunduk... agak lama dia masih terpekur mengumpul motivasi, memikirkan perkataan oma...


"Pertama kali mencoba memang terasa berat... kalau kamu enjoy melakukannya, itu akan memudahkan. Terserah Brill ya?"


Oma meninggalkan cucunya sekarang.


"Aku mau oma, asal nyanyi bersama oma..."


Oma menatap dalam senyum sambil memegang daun pintu kamar.


"Jadi.... oma masukkan ke acara ya... oma mau kasih tahu MCnya... jangan batalin ya?"


"Iya... aku mau mendampingi oma bernyanyi..."


"Oke... oma senang duet bareng kamu Brill... oma akan melakukannya dengan bangga nanti..."


Oma menunjukkan sebuah senyum kemudian menutup pintu dari luar.


Brill kembali ke tepi jendela, menemukan gadis yang dia cari sedang menyuapi oma dengan telaten, sesekali terlihat mengobrolkan sesuatu sambil tertawa. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya, terpancar kasih sayang dari gadis berbibir belah itu untuk si oma.


Ini yang memberi dia sedikit dorongan tadi, dia rasanya belum pernah berbuat sesuatu untuk oma Susan, padahal sejak kecil omalah yang paling perhatian padanya. Dia ingin menyenangkan hati oma, saat bernyanyi berdua tadi dia melihat wajah bahagia oma Susan.


~Ada gak pembaca cerita Aby yang udah lansia... atau punya orang tua yang udah lansia... semoga mereka berbahagia di usia yang lanjut, amiiin... 💟


.


🎵

__ADS_1


.


__ADS_2