
Brill memandang hpnya, memperhatikan invoice ticketnya ke Jakarta untuk keberangkatan esok hari bersama oma Susan, om Markus dan istrinya. Oma yang sayang cucu tidak bisa dilawan oleh sang mami. Tiket langsung dibeli pp oleh sespri ibu bupati sesuai instruksi, tentu saja ada rasa khawatir anaknya tinggal lebih lama di Jakarta.
Setelah Brill mengikuti seleksi masuk tentu saja berharap bisa lulus. Ada orang-orang yang berupaya membangkitkan motivasi dan keinginan di hati Brill untuk berbuat sesuatu bagi dirinya. Mulai dari oma Susan, si Markus pengasuh setia, si om Manuel. Semua memberi support dan melakukan bagiannya masing-masing semata-mata karena begitu peduli dengan hidup Brill, agar anak yang belum punya pegangan ini menemukan tujuan hidupnya sendiri, minimal tujuan jangka pendek. Sebenarnya banyak orang yang begitu peduli padanya, termasuk sang mami walau tak dilihat Brill, menunjukkan sosoknya sebenarnya begitu berharga, hanya Brill justru menganggap sebaliknya.
Sekarang ini justru hati Brill lebih fokus pada keinginannya untuk bertemu Rilly. Sebuah chat dia kirimkan pada Rilly...
π© Rill... besok aku ke Jakarta, kita ketemuan ya...
Mereka intens berhubungan sekarang lewat hp, tapi hanya lewat panggilan suara dan pesan, Rilly menolak panggilan video, dia merasa tidak nyaman bertatapan langsung dengan Brill terlebih sejak Brill bilang kangen, dia terlalu takut untuk menganggapnya nyata, otaknya seperti terus bekerja menghalangi dia mengembangkan rasa suka yang sudah mekar di hatinya, juga menghalangi dia menerima realita tentang hadirnya seorang Brill sekarang dalam hidupnya.
Sebagai apa? Dia takut menafsirkan, teman tidak mungkin saling merindu, tapi mereka bukan sedang pacaran juga, terlalu tinggi jika membayangkan seperti itu.
Pesan singkat Brill belum masuk, beberapa panggilan membuat Brill kecewa hp sedang non aktif. Brill tidak sabar menunggu pesan itu tersampaikan terlebih menjadi tidak sabar menunggu reaksi Rilly. Hingga siang hari, pesan itu statusnya masih sama, masih bercentang satu di aplikasi hijau.
"Apa sekarang dia sekolah ya? Sejak pagi hp gak aktif?"
Brill menguman pelan. Dia sedang berbaring di kamarnya di rumah masa kecilnya di Manado sebelum sang mami jadi pejabat di daerah. Rumah yang sudah direhab total diperluas dan diubah desainnya menjadi rumah modern minimalis tiga lantai. Tepat berada di puncak sebuah bukit di sebuah kelurahan di bagian selatan kota, view laut dan sebagian kota sangat indah dari sini.
Brill berulang kali membuka hpnya menanti jawaban pesannya, dan nasib pesannya masih sama delapan jam ini, hingga akhirnya dia tertidur.
"Nak Brill..."
Ketukan di pintu dan panggilan namanya membuat Brill terbangun, melirik jam di dinding, sudah sore. Brill meraih hpnya terlebih dahulu, pikiran saat beralih dari alam mimpi ke alam nyata langsung auto menyembul ingatan tentang Rilly. Senyum merekah saat ada angka satu di bulatan hijau di logo aplikasi, semakin merekah saat membaca isi pesan yang sangat diharapkan.
βοΈ Iya Brill
Singkat tapi sanggup menggoncangkan sistem syaraf yang mengontrol emosi melahirkan rasa bahagia yang terpancar di wajah. Telinganya mendengar suara ketukan pintu tapi saat bersamaan telinganya mendengar suara hati yang memerintahkan untuk tidak menghiraukan ketukan di pintu tapi segera membalas pesan yang diterima.
π© Minta alamat
βοΈ Rilly belum tahu, belum sempat nanya
π© Tanya sekarang aja
βοΈ Mbaknya gak tahu
π© Terus siapa yang tahu?
βοΈ Tante Isye tapi jarang ketemu
π© Kok? Serumah dgn tante kan?
βοΈ Iya tp pulang mlm terus, pagi Rilly sekolah tante blm bangun
__ADS_1
π© Gak ada org lain yg tahu?
βοΈ Gak ada
π© Terus gimana kita ketemuannya?
βοΈ Rilly gk tahu
π© Tanya tante Isye ya nanti
Pesan terakhir tak dijawab, dia menunggu beberapa menit, lalu mengirim sebuah chat lagi
π© Ril?
Saling berbalas pesan ternyata berhenti sampai di sana, selanjutnya Brill hanya bisa memandang aplikasi itu yang ruang chatnya masih terbuka, menanti Rilly menuliskan sesuatu.
"Nak Brill..."
Gedoran dan panggilan kini bergema lagi mengalihkan perhatian Brill ke pintu warna putih. Itu suara om Markus. Brill melangkah menuju pintu lalu membukanya, ada om Markus dan istrinya Rina, di tangan mereka ada beberapa potong pakaian milik Brill.
"Nak Brill... kita mau packing baju-baju nak Brill... masih ada yang mau ditambah..."
Brill membuka pintu lebih lebar lalu dia sendiri keluar dari kamar berwarna coklat susu itu menuju bagian ruang keluarga di lantai dua ini, berbaring di salah satu sofa dengan mata kembali memandangi layar hp. Telunjuknya membuka tutup aplikasi hijau itu, membaca lagi deretan pesan di ruang chat itu, tak ada tambahan pesan baru.
"Nak Brill... kenapa ini?"
Om Markus memunguti beberapa bantal berbeda ukuran itu dari lantai lalu meletakkan di sebuah sofa. Anak asuhnya sedang menutup mukanya dengan tangannya. Istrinya sedang memasukkan baju tambahan Brill ke dalam sebuah koper, om Markus sebenarnya ingin turun ke bawah hendak memilih sepatu Brill yang akan dibawa. Sepatu Brill disimpan di lantai bawah.
Melihat gelagat anak asuhnya Om Markus segera tahu ada yang tidak beres.
"Nak Brill... besok kita pesawatnya jam delapan ya... berarti jam setengah enam udah berangkat dari sini..."
"Nak Brill mau bawa jaket yang mana?"
Brill berdiri dari sofa...
"Om... berhenti menggunakan nak... nak... aku bukan anak-anak lagi, oke?"
"Loh? Kenapa tiba-tiba protes... om Markus biasa manggil nak Brill seperti itu..."
"Aku gak suka sekarang..."
"Iya... iya... marah ke siapa sih... om Markus yang kena getahnya..."
__ADS_1
"Aku gak marah, cuma kesel aja belum dapet alamat Rilly... eh om dateng manggil nak nak..."
"Oh... terus gimana dong nyari dia besok?"
"Gak tahu..."
"Nanti kita cari deh... kita keliling sampai ketemu..."
"Jakarta berapa kali lipat luasnya dari Manado om... nyari alamat di sini aja om suka salah, apalagi di sana..."
"Ya udah kalau udah ke sana terus gak ketemu Rilly, berarti nak Brill harus terima nasib, gak berjodoh mungkin..."
"Om!! Kali ini aku marah ya..."
"Aish... maaf deh... om pengen tahu aja perasaan nak Brill sama Rilly... ternyata suka ya... hehehe..."
Brill tidak bisa melanjutkan marahnya, perasaannya tiba-tiba berubah senang disebut suka sama Rilly.
"Emang Rilly gak bisa dihubungi lagi ya telponnya?"
"Ada... bisa..."
"Udah ditanyain kan alamatnya?"
"Iya sih... beberapa kali..."
"Ya udah... tunggu aja dia jawab, sabar aja menunggu... yang penting besok kita udah siap ke Jakarta..."
"Om... kita hanya seminggu kayaknya, udah pp tiketnya..."
"Iya... kenapa?"
"Kalau misal belum ketemu Rilly juga nanti... gimana?"
"Berharap aja bisa ketemu..."
Om Markus menepuk bahu anak asuhnya lalu bergerak turun.
.
πͺ
.
__ADS_1