
Setiap kali melihat Holly, setiap kali keinginan untuk menakhlukkan hati gadis kecil itu meluap. Gadis ini hampir setiap hari bertemu dengannya membuat dia tidak bisa menekan keinginannya ini.
“Ly… duduk sini aja, aku sengaja siapin tempat duduk ini buat kamu.”
Tangan Brill menahan Holly yang melewatinya. Holly yang masuk tergesa tidak sempat menghindari Brill karena tidak memperhatikan siapa-siapa yang ada di dalam kelas, dia hanya memperhatikan meja paling depan memastikan dosen sudah ada atau belum.
“Eh?? Gak ahh kak Brill, Holly mau duduk bareng Joy aja.”
“Sini aja, Ly…”
Brill masih menahan tangan yang ditarik pemiliknya.
“Gak kak Brill, pacar aku suka mampir ke sini, entar dia marah aku duduk sama kak Brill.”
“Pacar apa… Bener kamu udah punya?”
“Iya… lepasin, kak Brill ihh… jangan suka maksa gini…”
Mata yang memancarkan sinar marah sekarang akhirnya membuat Brill terpaksa melepaskan tangannya, terlebih di depan sana sang dosen sudah berdiri dengan aura angkernya.
Begitulah, semakin ditolak semakin bertambah kekuatan di hati untuk mengejar dan mendapatkan Holly, setiap kali Holly menyebutkan tentang statusnya yang tidak sendiri lagi, itu tidak menggoyahkan hati Brill, sebelum dia melihat sendiri dia belum percaya omongan gadis mungil itu. Justru penolakan-penolakan Holly memicu api hasrat ingin memiliki semakin besar. Brill menjadi lupa soal gadis yang lain.
.
.
Di situasi yang lain…
Brill melihat Holly berlari kecil ke arah lapangan parkir fakultas. Brill segera mengejar penasaran apa yang membuat Holly berlari dengan wajah sumringah. Saat menemukan Holly, Brill mendapati sebuah pemadangan yang membenarkan pernyataan si gadis mungil tentang pacarnya.
Seorang cowok baru saja melepas pelukan, dan si mungil sekarang sedang bersandar manja pada cowok itu, kedua makhluk yang saling bertatapan dengan ekspresi penuh cinta, ini menjadi jelas di mata Brill dan menegaskan status cowok itu. Dan, bernar adanya itu pacar si mungil karena cowok itu baru saja mencuri sebuah ciuman diikuti pukulan gemas dari tangan si mungil.
Cowok bertumbuh tinggi, terlihat bukan orang biasa aja, dari mobilnya Brill segera tahu status cowok itu ada di tingkat mana, mobil mewah dikendarai cowok itu hanya ada dua di provinsi ini menurut papinya, satu adalah milik Brill dan satunya berarti milik cowok itu.
Hahh saingannya sangat berat, menelisik profil wajah dan penampilan cowok itu Brill jadi tahu cowok itu bukan sekedar sopir yang meminjam mobil tuannya, dia dari kalangan pemilik modal.
Saingannya berat ternyata, bukan sembarang orang. Tapi, melihat sesuatu yang sudah pasti di depan matanya, Brill masih enggan untuk melepaskan keinginannya mendapatkan Holly, entahlah. Dia mundur dari area parkir, tapi hatinya belum berniat mundur dari tekadnya untuk menjadikan Holly miliknya.
.
.
Brill hendak pulang tapi hatinya tergoda untuk singgah saat melihat motor Holly, mobilnya masih jauh diujung sana. Dia kemudian ingin melihat atau bicara dengan Holly walaupun selalu saja jika berbicara dengannya isi percakapan mereka berdua tidak ada manis-manisnya. Cewek mungil itu selalu berkata dengan nada keras.
Dan dari jauh dia sudah melihat ekspresi Holly yang jelas dongkol padanya, dia sedang duduk di sadel motor Holly, Brill tenang-tenang saja tak ingin menyingkir sambil menatap Holly.
"Hai... kak Brill..."
Salah satu cewek menyapa.
"Hai..."
Brill menjawab sekedarnya dengan tatapan masih terarah pada Holly.
"Eh... permisi kak Brill... kita mau pergi..."
Hanya teman Holly yang satu ini yang suka bicara dengannya, dia jadi juru bicara tiga cewek ini. Brill melihat teman Holly yang lain sangat tidak menyukainya, Brill tidak mengambil pusing ditatap dengan tatapan benci.
"Aku perlunya sama Holly aja kok, kalian pergi aja sana..."
Brill menjawab tenang.
"Kami perginya bertiga... lo yang harus menyingkir dari motor orang..."
Cewek yang lain yang tidak dia ketahui namanya berkata dengan suara tajam.
"Kalem dong... nyolot aja..."
Brill berdiri dari motor hitam milik Holly tapi gak bergerak menjauh. Awalnya Holly ragu untuk segera naik, tapi dorongan untuk menjauhi kakak tingkat ini membuat dia langsung menaiki kendaraannya.
"Kalian mau ke mana?"
Brill bertanya pada Faithly.
"Mau ke gramed yang di mall."
__ADS_1
Jawaban Faithly membuat cewek itu dipukuli Joy.
"Permisi ya kak..."
Holly naik ke motornya, dua cewek yang lain juga menaiki motor berboncengan. Brill melihat Holly mengangkat helm lalu refleks membantu Holly mengenakan helm, mengambil helm di tangan Holly lalu memasangkan di kepala.
"Ehh... kak Brill, Holly aja..."
Tangan Brill ditepis Holly, dan cewek mungil itu kalah tenaga, hingga akhirnya Brill leluasa memakaikan dengan sempurna. Kemudian Brill menahan motor Holly dengan dua tangannya, Holly gak bisa menjalankan motornya jadinya.
"Pengen ngajak kamu jalan sih, tapi ada temen kamu, lain kali ya... jangan nolak..."
"Aku gak bisa kak... kapan pun itu... maaf..."
"Aku juga gak akan berhenti sampai kapan pun... maaf juga... sampai kamu bilang iya mau jalan sama aku..."
"Kak Brill... aku udah bilang kan, gak bisa... ya gak bisa..."
"Karena udah punya pacar? Gitu?"
"Iya..."
"Kalian belum merit kok... belum terikat..."
"Kak Brill aneh..."
"Gak... aku realistis kok, aku suka sama kamu dan itu manusiawi. Dan berharap jadi pacar kamu itu harapan yang realistis kan, aku ngejar kamu juga itu manusiawi... gak ada yang aneh..."
"Mau jadi pembinor ya..."
"Kamu bukan bini orang..."
Brill entah kenapa menjadi begitu aktraktif kali ini, terang-terangan menunjukkan isi hatinya, Holly terdiam dan sangat nampak wajahnya sudah penuh segala macam emosi, tapi Brill membalas dengan senyum, entah hatinya terbuat dari apa sekarang.
"Terserah kak Brill deh... "
Cewek itu pergi meninggalkan Brill. Brill segera menghampiri teman-temannya yang sedang duduk di bawah sebuah pohon di atas motor masing-masing.
"Ayo... kita ke mall..."
Tory menjawab cepat.
"Iya... mau apa aja boleh, mau ke time*zone juga boleh."
"Haha... boleh juga tuh, sejak lepas putih abu-abu udah gak pernah ke sana... Aku bareng kamu ya, Brill... Malas panas-panasan dengan motor, nanti balik ke sini untuk ngambil motorku."
"Kita berdua bawa motor aja..."
Beno menjawab menunjuk dirinya dan Pascal. Brill sengaja mau menyusul ke mall karena mengetahui tujuan Holly dan dua teman dekatnya.
Di toko buku...
Brill berputar dan melihat Holly dan temannya di area alat-alat music, Brill ke sana.
"Mau beli guitar ya?"
Holly memperhatikan tangan Faithly yang ternyata lihai memainkan alat musik petik itu.
"Baru rencana sih..."
Faithly mengantung kembali guitar ke tempat semula.
"Kalau mau beli guitar bagusan merek xxx..."
Gantian Brill yang mengambil guitar dan mulai memainkan alat tersebut sambil menatap Holly. Holly mundur seketika, orang yang dia hindari sekarang senyum padanya.
"Fet aku nyari Joy aja ya..."
Brill tersenyum kecut, Holly terang-terangan menghindarinya.
Dan Brill hanya bisa menahan hatinya saat dia melihat sosok cowok yang dikenalinya sebagai cowok Holly, berdiri dengan merangkul posesif cewek mungil itu di depan kasir, dia hanya berdiri memperhatikan betapa sayangnya cowok itu membayarkan belanjaan Holly lalu kembali merangkul erat tubuh mungil itu.
Kenapa jadi pemandangan seperti ini yang dilihat matanya? Tapi otaknya sedang korslet sepertinya dia mengikuti tiga cewek itu hingga keluar dari toko.
Sebuah percakapan sangat romantis karena cowok itu sambil mengusap sayang kepala Holly, Brill menjadi penonton yang bodoh sampai detik ini.
__ADS_1
"Ko... kita mau pulang, Koko gimana?"
"Lingling bareng Koko ya..."
Aduuh lembut dan sayang suara cowok itu.
"Motorku? Temen-temen mau ke kostku juga..."
"Temenmu bisa bawa motor gak?"
"Joy doang, dia bawa motor miliknya..."
"Aku yang bawa deh... sini kuncinya..."
Brill tiba-tiba menyela, entahlah... spontan aja, gak masuk akal memang sikapnya ini. Brill melihat cowok yang dipanggil Koko oleh Holly tersenyum ramah padanya.
"Oh... gak bawa kendaraan sendiri ya?"
"Bawa sih... gampanglah, bantuin temen dulu..."
Iya gampang, di sini ada tiga temannya yang bisa dimintai tolong juga. Brill juga tersenyum lalu mengulurkan tangan pada Tenry... segera dua cowok itu saling berjabat tangan.
"Brill... temen satu jurusan mereka bertiga..."
Brill memilih bersikap cool berhadapan dengan saingan beratnya.
"Oh... temen kuliah juga, saya Tenry... oke deh... Ling, kuncinya kasihkan ke Brill..."
Brill tersenyum masam melihat Holly menarik pacarnya agak menjauh dan hatinya sedikit terganggu melihat cara mereka berkomunikasi, apa dia akan terus memaksa masuk dan menghancurkan hubungan dua kekasih yang terlihat saling sayang.
Tak tahan melihat posisi dua kekasih yang cukup dekat dengan interaksi yang begitu intim, membuat Brill melengos.
"Mundur aja kak Brill, lihat mereka udah saling sayang, masa tega sih mau ngerusak hubungan orang..."
Salah satu teman Holly yang paling menyambut Brill dan paling ramah padanya ngomong setengah berbisik.
"Gak ada yang pasti di dunia ini, gak usak sok nasihatin gitu... hidup hidup aku... gak ada hubungannya sama kalian..."
"Dasar ganjen gila... abnormal... udah kelihatan maksud lo apa, jangan sok baik..."
Ketus cewek yang lain menyerang Brill dengan suara keras, Brill tak peduli.
"Kak Brill, makasih udah mau bantuin, tapi Holly mau pulang sendiri... lagian Koko sibuk masih harus kerja..."
Suara Holly membuat Brill tersenyum menyimpan kecewanya.
"Brill... lain kali ya, tapi makasih udah niat bantuin..."
Tenry pamit pada Brill lalu menarik bahu Holly dan berjalan menyesuaikan dengan langkah kecil Holly menuju parkiran.
"Kak Brill... see you..."
Joy menarik tangan Faithly yang masih bersikap sopan.
"Gak usah baik-baikin dia ahh..."
Di belakang mereka, Brill mencoba melihat hatinya sendiri, ini memang sikap yang tidak benar, apa yang dicarinya sebenarnya? Apakah dia benar-benar jatuh cinta pada Holly?
Brill melangkah lambat. Jika dibilang rada gila mungkin iya mengejar seseorang yang kenyataannya sudah punya pasangan. Tapi dia entah kenapa gak bisa mengontrol hatinya bila melihat sosok Holly. Rasa ingin memiliki begitu kuat melawan akal sehatnya. Ingin dia berada di posisi Tenry untuk memanjakan gadis itu...
Brill melangkah ke resto trmpat teman-temannya sedang menunggunya.
.
.
Sebagian part ini diambil dari satu eps di judul Musim akan Selalu Berganti...
Jika ada readers yang baru mulai membaca cerita author yg lain, jangan lupa tinggalin like dan komennya... hehe...
Dukung aku di cerita baru My Neighbor, My Ex?
Terima kasih....
A.B.Y
__ADS_1
.