
Rumah besar ini ada di dalam kompleks yang besar yang semuanya berwarna hijau, mulai dari pagar, cat dinding semua gedung bahkan sampai ke atapnya.
Brill diterima di sebuah ruang tamu yang masuk dari pintu samping. Ketika melihat Rilly datang mendekatinya, Brill tersenyum lalu berdiri.
"Rilly..."
Rilly membalas senyum Brill, sekalipun merasa surprise Brill nekad datang ke sini mencarinya, tapi Rilly merasa motif Brill hanyalah didasari oleh pertemanan, yang menjadi urusannya dengan Brill hanyalah sebatas ini. Rilly telah diajar oleh banyak pengalaman kehidupan selama ini untuk menyimpan sedihnya menjadi miliknya sendiri, bahkan jika sedih terlalu dalam dia jarang menangisi keadaannya.
"Hi Brill..."
Rilly duduk dengan formal di depan Brill, diikuti tatapan Brill tanpa berkedip.
"Aku telpon sejak kemarin kamu gak jawab, aku chat kamu gak baca, aku cari ke tempat kost, kamu gak ada..."
Brill seperti mengeluh bahkan terlihat merajuk, wajahnya menunjukkan dia tak terima apa yang dia alami karena Rilly, tak terima cara Rilly memperlakukannya.
Rilly tersenyum, rasa sedih dia tekan dalam-dalam, jika Brill melakukan itu karena Brill memiliki perasaan lebih dari seorang teman untuk Rilly, maka betapa bahagianya Rilly.
__ADS_1
"Kenapa kamu tega sih, Ril... jawab panggilan kek, biar aku gak khawatir..."
"Brill gak perlu khawatir soal Rilly." Rilly menjawab tenang.
"Gimana gak khawatir, aku gak tahu tentang kamu, kenapa gak jawab telpon?"
Rilly menatap Brill, dari suara dan ekspresi ada emosi yang jelas bermain di sana... kegalauan, dan dirinya penyebabnya. Rilly merasa tersanjung tapi segera menyimpan perasaan itu.
"Rill?"
"Ehh, Rilly pulang ke sini sejak jumat sore, dan biasanya di sini Rilly bersama oma, kangen-kangenan, ngobrol... waktu Rilly untuk oma, makanya gak jawan telpon."
"Kangen, tau gak..." Suara Brill sekarang bernada-nada manja.
"Ehh? Siapa yang kangen?" Rilly bertanya sambil mengeluh dalam hati, kenapa Brill mengatakannya dengan mudah seolah itu biasa di antara mereka berdua.
"Aku... Kangen sama kamu Rilly... makanya aku datang mencarimu. Untung aja aku diijinkan masuk, tapi aku sih gak akan nyerah karena pengen banget tau tentang kamu..."
__ADS_1
Ahh mendengarkan dan melihat cara Brill bilang kangen padanya, itu sesuatu sekali. Kalimat ini sangat indah di telinga Rilly, dia jujur kangen juga pada cowok ganteng ini tapi dia merasa gak berhak mempunyai rasa itu. Rilly mengalihkan pembahasan, bisa-bisa dia tidak dapat menahan perasaan hatinya bahas-bahas soal kangen.
"Ehh sorry ya, tadi Brill tertahan lama di depan..."
"Gak masalah, Rill... Yang penting sekarang aku dapat ijin ketemu kamu, aku hepi banget..."
Setiap ucapan Brill mengarah pada apa yang dienyahkan Rilly dari hatinya. Ini membingungkan. Ingin sekali Rilly bertanya apa maksud Brill yang sesungguhnya? Kenapa jika terhadap teman harus segitunya? Kenapa memperlakukan diri Rilly seperti seorang pacar yang peduli? Dan jika perasaan Brill sebaliknya yaitu memang menyukai dirinya mengapa waktu itu menolak pegangan tangan jika dengan alasan pacaran? Tapi dia terlalu malu untuk menanyakan itu, apa kesan Brill itu yang dia takutkan.
Dalam kebingunan Rilly terus-menerus diam hanya menatap Brill, jika Brill membutuhkan jawaban Rilly hanya mengangguk atau tersenyum.
Di satu sisi Brill terlihat begitu exited, dia menceritakan banyak hal termasuk saat di dapan tadi saat menggunakan nama papi dan omnya demi bertemu Rilly. Tapi di sisi yang lain Rilly diam dipermainkan rasa tidak mengertinya. Tapi setidaknya dia bisa melihat dengan leluasa sekarang wajah ganteng Brill dan kangennya terobati. Itu aja cukup untuk Rolly. Maka Rilly tak mengalihkan tatapannya, menuntaskan kangennya.
Dan... Cukup sekian kk semua...
.
Maaf ya Edisi Brill dan Rilly ceritanya pendek-pendek.
__ADS_1
.