Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 12. Kehilangan Teman?


__ADS_3

"Rilly... kapan bibir sumbingmu itu dioperasi?"


"Hah?"


"Bibir sumbingmu dioperasi... kapan? Budek ya? Telingamu juga sekalian dioperasi!"


Rilly membuang sesaknya lewat hembusan kuat napas di mulutnya.


"Heh... selain sumbing budek ternyata, ditanyain malah bengong!"


Suara mirip teriakan kini menggema di dinding telinga Rilly. Rilly melengos, dia tidak takut pada Manda atau merasa harus tunduk padanya, tapi Rilly memilih tak terlalu ambil peduli. Manda memang selalu sok memerintah dirinya, dulu suka sakit hati tapi lama-lama dia menyingkirkan rasa sakit di hatinya karena statusnya, melawan tidak akan merubah kondisinya.


"Udah... gak usah dijawab, memang apa peduliku kamu dioperasi atau gak, tapi menurutku ya dioperasi pun kamu tetap aja jelek, lagian itu gak akan merubah takdir dirimu yang sekarang, sekali jongos ya tetap jongos aja..."


Lalu Manda meneruskan hinaannya dengan suara sengau.


"Rilly jadi cantik? Gak mungkin say..."


Rilly sedang mengepel lantai saat Manda berbicara dengannya. Menerima sikap Manda yang kasar membuat Rilly enggan menjawab apapun atau bereaksi apapun. Apa hatinya sudah kebal sekarang dengan segala macam hinaan? Mungkin.


Rilly berpindah ke ruangan yang lain, Manda mengikutinya, Rilly jadi heran tapi bersikap cuek saja.


"Kamu sering ngobrol dengan Brill di kelas?"


Rilly mengangkat tubuhnya yang sesaat membungkuk karena mengepel di bawah kursi. Dalam tatapan herannya dia memikirkan sesuatu...


"Kenapa?"


"Ya kan Brill mengaku kamu temennya? Kalau temen kan, suka ngobrol... Brill suka cerita apa aja? Padahal sama orang lain dia gak pernah mau diajak bicara... tapi tetap aja dia keren loh, cool gitu... mana ganteng lagi..."


Rilly nyengir kecil... ini rupanya mengapa tiba-tiba Manda mau berbicara dengan Rilly di rumah. Rupanya dia penasaran beberapa waktu yang lalu Brill memperkenalkan Rilly sebagai teman, bahkan meminta ibu bupati untuk membiayai operasi sumbing Rilly, bahkan jadi alasan untuk kegiatan sosial ibu bupati.


Dalam hati Rilly boleh bangga, pernah jalan berdua Brill, pernah ngobrol walau sebentar, dia ternyata punya sedikit keistimewaan kali ini. Rilly ingin pamer akhirnya...


"Kami memang berteman..."


Dengan pede Rilly lantang mengatakan kalimat itu, walau dalam hati masih ragu, benar tidak dia mengaku seperti ini. Manda memandang dengan raut iri yang sangat jelas.


"Gak percaya sih sebenarnya, masa Brill temenan sama cewek kayak kamu, gak level tau gak..."


"Gak denger ya Brill juga bilang kayak gitu, kamu juga sendiri bilang hal yang sama... aneh kenapa bilang gak percaya."


"Apa buktinya kalian temenan, kalau hanya suka ngobrol itu semua orang bisa ngobrol dengan Brill, aku juga bisa kok..."


Dengan jumawa Manda memandang remeh ke arah Rilly, tapi raut penasaran masih tergambar jelas.


"Oh, kamu sendiri yang bilang Brill gak suka ngobrol dengan orang?"

__ADS_1


"Heh... jangan suka bolak-balik kalimat orang, jawab aja..."


Rilly tergelak sinis menanggapi kejutekan Manda dalam kalimat ambigunya, dan Rilly sedang di atas langit sekarang, sedang merasa punya sesuatu dibanding teman-teman sekolahnya.


"Mmm penasaran ya..."


"Heh, belagu banget... apa buktinya?"


Rilly agak sungkan mau menjawab, takut cerita ini didengar Brill dan ketahuan dia yang mengungkapkannya... tapi egonya sedang menguasai dirinya sekarang, dia ingin sekali saja merasakan bagaimana bila dirinya lebih istimewa dibanding orang lain, dibanding cewek lain yang punya wajah cantik dan sempurna.


"Terakhir sih waktu kami berdua ikut ujian susulan, UTS... aku... aku gak bisa bahasa Inggris, Brill kasih contekan..."


"Masa sih?"


"Ya udah kalau gak percaya..."


Rilly meninggalkan Manda, melanjutkan pekerjaannya.


"Apa lagi yang kamu tahu soal Brill? Apa yang pernah kalian lakukan bersama-sama?"


Manda masih mengejar, wow, dirinya merasa jadi orang penting sekarang.


"Dia suka main layangan, dia juga suka pulang sembunyi-sembunyi lewat jalan pintas, kami sering pulang bareng, jadi kalau sopirnya nunggu lama di gerbang depan itu berarti Brill udah lompat pagar..."


Rilly menceritakan dengan bangga sesuatu yang dia tahu tentang Brill. Tapi sesaat kemudian setelah selesai mengatakan itu nuraninya berontak, itu saja yang dia tahu, apa itu bisa disebut teman? Rilly meringis sambil menunduk lagi konsentrasi pada pekerjaan yang sedang dia lakukan.


Aku sok tahu dan sok kenal... Rilly membatin.


"Iyaaa sering..." Padahal cuma sekali...


Rilly menjawab dengan kesal, kekesalan bukan karena Manda, tapi karena dirinya yang mulai bohong. Takut jadi bohong lagi jika terus menjawab rasa penasaran Manda, Rilly segera berlalu menuju kamar mandi. Melihat Manda masih mengikuti, Rilly masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.


"Heh... Rilly, buka pintu..."


Manda menggedor pintu dengan keras. Karena Rilly tidak menjawab, Manda menendang pintu itu sambil teriak kesal.


"Sombong! Baru segitu aja udah sombong... lihat aja nanti, aku bisa juga temenan sama Brill, mamaku bawahan langsung ibu bupati, aku punya channel kali, buat mulusin niatku..."


"Silahkan saja, apa untungnya dan apa ruginya buatku?"


Gumanan Rilly tertutup suara air yang mengucur di keran yang dibuka Rilly.


.


πŸ“•


.

__ADS_1


Rilly harus melepas impiannya untuk menyelesaikan SMA-nya. Beberapa minggu ini sama sekali Rilly tidak berangkat sekolah, ujian semester genap sudah selesai, dia tidak mengikuti ujian itu. Guru wali kelas yang menyempatkan datang mengunjungi, hanya berhadapan dengan tante Ineke, entah apa isi percakapan mereka, Rilly tidak diberitahu.


Hari ini hari pertama Ujian Nasional.


Rilly hanya bisa menatap dengan wajah sendu kepergian Manda dengan seragam putih abu-abu ke sekolah. Menyadari dia bukan seseorang yang diberi hak untuk menginginkan lebih untuk dirinya, sehingga Rilly tidak pernah memiliki angan-angan yang muluk-muluk, hanya menyelesaikan SMA itu lebih dari cukup buat dirinya sebenarnya.


Kenyataan memakunya tetap tinggal di planet yang bernama bumi, bahwa kenyataan hidupnya dengan status anak pungut, hidupnya ada di bawah kuasa orang lain. Hidupnya tidak untuk melayang-layang di langit bersama mimpi tentang hari esok yang lebih baik. Tante Ine selalu ngomong ini bahwa dia beruntung sudah makan dan tinggal gratis di rumah orang, dibesarkan oleh orang yang tak ada talian darah.


Jadi Rilly pasrah akhirnya tidak meneruskan sekolah. Padahal tinggal sedikit waktu lagi, sudah di akhir menjelang kelulusan, tapi... sekali lagi, hidupnya ada di bawah kuasa orang lain.


"Rilly... oma dengar dari Ine, kamu yang tidak mau melanjutkan sekolah lagi... kenapa? Padahal hampir tamat kan?"


Rilly sedang memandikan oma Betsy, merasa sakit sesaat di dadanya.


"Kalau Rilly sekolah, gak ada yang merawat oma... gak apa-apa Rilly gak sekolah lagi oma... di sini gak ada orang yang mengurus rumah..."


"Kenapa seperti itu... kan sayang Rilly... sebenarnya oma menginginkan Rilly bukan hanya selesai SMA tapi lanjut kuliah juga... tapi oma jadi seperti ini, oma jadi terbatas, uang oma dipegang Ine semua... yang bikin oma tambah sedih Rilly jadi seperti ini harus berhenti sekolah, harus jadi pembantu di rumah ini... Ineke memang keterlaluan..."


Oma berkeluh kesah hal yang sama hampir setiap hari...


Dengan banyak alasan tante Ine berhasil mengambil kembali ATM oma Betsy, dengan banyak sandiwara pula tante Isye dan tante Irma berhasil dibuat percaya soal Rilly yang suka mengibuli oma, soal Rilly yang malas sekolah, soal mami mereka yang terlalu rewel karena demensia. Semua laporan oma Betsy dimentahkan oleh tante Ine.


"Udah omaaa... Rilly gak apa-apa selagi ngerawat oma Rilly senang aja seperti ini, oma jangan khawatir ya... nanti Rilly ikut ujian paket C aja..."


Sejumput harap melintas saat menyadari oma Betsy menginginkan dia punya pendidikan yang baik.


"Telpon Isye ya... oma mau bicara dengan Isye..."


"Pasti oma... kita gak akan lewatkan itu... tapi oma harus cantik dan wangi dulu..."


"Memang Isye bisa tahu oma wangi atau tidak?"


"Hehe... iya juga sih..."


.


Di Sekolah Menengah Atas Negeri Satu di ibukota kabupaten ini...


Brill melongokkan wajahnya terakhir kali di sela-sela jendela kaca nako sekolah, masih berharap Rilly melintas di samping jendela itu lalu masuk ke dalam ruangan. Brill terus bertanya-tanya mengapa Rilly tidak pernah lagi muncul di sekolah, padahal hari ini adalah ujian nasional.


Gadis itu satu-satunya siswa sekolah ini yang pernah diajak bicara selama ini, selebihnya dia hanya membalas seadanya jika ada siswa yang menyapa dirinya, bahkan dia cenderung untuk tak peduli. Kadang suka dibilang anak bupati sombong, angkuh, tidak sopan, dan lain sebagainya, itu tak berpengaruh buat Brill, dalam pikirannya tak ada yang harus dia jaga jika tentang dirinya, pun soal nama baik bupati tak ada urusan dengannya.


Tapi dengan pembawaan dingin seperti itu justru jadi semacam aura yang semakin menarik dan mempesona seorang Brill Timothy Ratulangi di sekolah ini. Banyak gadis yang penasaran dan tergila-gila dengannya. Ingin mendekat tentunya, tapi Brill punya semacam perisai lewat tatapan dinginnya, sehingga tak ada yang berani untuk lanjut pdkt ketika satu sapaan ramah dibalas Brill dengan tatapan tak bersahabat.


Brill menatap bangku Rilly yang satu deret dengannya di bagian belakang ruang kelas ini. Rilly satu-satunya cewek yang tidak pernah coba menarik perhatiannya, yang tidak pernah coba tebar pesona. Tentu saja Rilly tak bisa melakukan itu, itu mungkin mengapa dia yang menyapa Rilly jauh sebelum ini dan mau berbagi jawaban bahasa Inggris ketika melihat kertas jawaban Rilly kosong. Itulah mengapa dia mengakui bahwa Rilly adalah temannya... mungkin bisa dikatakan seperti itu walau interaksi mereka masih tergolong minim, tapi hatinya mencari sosok Rilly selama ini dan entah... mungkin ada rasa kehilangan.


.

__ADS_1


πŸ”Ž


.


__ADS_2