Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 44. Teman yang Nekad Sajakah?


__ADS_3

Brill gelisah dan galau memandang hpnya. Chat dan panggilannya pada Rilly tidak dijawab gadis itu. Tidak biasa ini terjadi, setelah mereka saling bertemu lagi Rilly selalu merespon dengan baik panggilan ataupun pesannya.


Tapi kali ini tidak. Brill merana sendiri, padahal sudah ada niat mengajak RIlly datang ke rumah, terlebih hari ini ada oma Susan datang, dan oma Susan dan tante Rina memasak banyak makanan karena ada mami dan papi juga datang di rumah ini. Meskipun masih kaku tapi hubungan Brill dengan orang tuanya membaik karena Brill telah lebih dewasa dan lebih paham posisi dan status orang tuanya.


“Udah makan Brill?”


Mami Inggrid menyapa anak satu-satunya yang lagi duduk di meja makan terus memandang hpnya berharap chatnya dijawab Rilly.


“Udah.” Brill menjawab pendek.


Sebuah ciuman mendarat di puncak kepalanya, kemudian sang mami meninggalkan dua tepukan dan sedikit sapuan di pundaknya. Brill melirik maminya sejenak lalu kembali fokus pada aplikasi hijau di hpnya. Brill tidak selalu bersikap sinis sekarang, hanya sikap itu bisa tiba-tiba muncul karena sudah jadi pembawaan dasarnya bila berhadapan dengan mami-papinya, sukar untuk diubah.


Ketika Brill bertemu Rilly kemudian Holly, bersikap membuka dirinya untuk melihat orang lain, ada sesuatu yang bangkit dalam dirinya, sesuatu yang bergelora dan perlu diekspresikan, yaitu rasa peduli dan perhatian terhadap kehadiran dan kebutuhan akan orang lain dalam hidup. Dan ini memberi pengaruh dalam cara dia melihat orang tuanya.


“Kenapa udah bangun, sayang… udah bisa ya? Gak pusing lagi?” Sang papi juga datang ke area ruang makan dan langsung datang ke dekat istrinya.


“Bisa… tapi masih sedikit pusing…” Mami menjawab dan setelah itu meneguk air putih.


“Rina… saya minta air hangat.” Sang mami berkata pelan.


Brill mengangkat kepalanya, suara si mami tidak biasa, suara tegas seorang wanita tangguh yang berwibawa seperti hilang sekarang. Brill memperhatikan sang mami hanya meneguk sedikit air hangat yang diletakkan tante Rina lalu melihat makanan di meja tanpa semangat.


“Mam… kenapa? Mami sakit?” Brill bertanya lalu mulai memperhatikan wajah maminya.


“Mami pucat, mami gak ke dokter?” Brill kembali bertanya.


“Sudah… tadi malam dokter sudah ke sini…” Sekarang sang papi yang memberikan jawaban.


Dan seorang mami sedang terharu, anaknya mempedulikan dirinya. Kondisinya beberapa hari ini yang tidak baik mempengaruhi juga emosinya, mami Inggrid lalu menangis, airmata bergulir di dua pipinya. Brill melihat itu.


“Mam?” Brill masih memanggil nama sang mami sambil menatap mami dan papinya bergantian dan bingung sejurus kemudian karena papinya tersenyum.


“Mami gak apa-apa, Brill… tapi kamu yang harus lebih peduli pada mamimu.” Papi yang menjawab Brill sambil mengusap-usap punggung sang mami.


“Jangan membuatku bingung, mami sedang gak sehat papi malah senyum-senyum. Aneh…”

__ADS_1


“Mamimu sakit, tapi itu karena mami mendapatkan hadiah dari Tuhan…”


“Papi membuatku tambah bingung. Bawa ke rumah sakit Pap…” Brill menjawab papinya dengan gusar, terbawa emosinya karena tidak ada jawaban yang dia tunggu di hpnya.


Brill melangkah malas meninggalkan papi dan maminya. Orang tuanya tidak menahannya di sana, mereka cukup puas sekarang Brill mau lebih terbuka dengan mereka, walau masih sedikit tapi Brill sudah mulai berinteraksi, mulai bertanya, mulai peduli. Dulu dia hanya akan bereaksi pada mereka saat dia hendak protes atau karena sedang membuat drama di hadapan orang lain.


Brill mengambil kunci mobilnya.


“Mau ke mana Brill…” Sang mami melihat gerakan Brill.


“Mau ke rumah temen… pergi dulu.”


“Eh ada oma loh, khusus datang buat kamu… masa kamu pergi?” Mami mengingatkan Brill.


“Iya, mam… bentar aja kok…”


Brill ngeloyor pergi, satu tujuannya ke tempat kost Rilly, dia harus tahu ada apa sehingga Rilly menolak berkomunikasi dengannya, karena rasanya gak ada alasan, situasi Rilly beda dengan yang terjadi dulu. Menurut Rilly dia tidak dikekang keluarga asuhnya soal pertemanannya.


.


Di situasi yang berbeda, Rilly bersikap pasif pada Brill. Dia tak bisa mengenyahkan kekecewaan karena apa yang telah tumbuh dengan indah di hatinya hanya miliknya sendiri, bahkan merasa sedih karena ternyata perasaan Brill tidak sama. Dia terlalu cepat menafsirkan semua perhatian Brill dan sikapnya yang terlalu dekat bahkan acapkali terlihat posesif padanya.


Rilly kemudian mengingat seorang gadis kecil yang manis yang dia sering amati sebelum Brill datang padanya. Sikap Bril pada gadis itu terlihat sama dengan sikap Brill padanya. Berdasarkan hal itu Rilly mengambil kesimpulan bahwa seperti itulah jika Brill memperlakukan teman ceweknya.


Ini hari sabtu, Rilly ada di Tomohon di rumah tante Irma karena memang biasa pulang ke sini saat hari libur. Oma Betsy tinggal di rumah ini, dan oma mewajibkam Rilly pulang setiap minggu.


Rilly baru selesai membuatkan oma teh panas. Udara sore yang dingin di sini membuat tubuh ini menginginkan yang hangat-hangat. Rilly menyajikan teh di sebuah meja bulat dekat dengan oma Betsy. Oma sedang merajut, sebuah kegiatan oma yang sempat terhenti lama akibat kesehatannya yang memburuk. Sekarang oma melakukannya lagi karena tubuhnya sehat sekarang, hanya kemampuannya berjalan yang masih terkendala.


“Hp Rilly bunyi terus dari tadi…” Oma mengangkat muka dari rajutannya saat Rilly datang.


“Oh… sengaja Rilly gak angkat oma, gak papa… teman Rilly lagi iseng, percuma Rilly menjawabnya…”


“Mungkin ada keperluan Rilly, kasihan dia menelpon terus dari tadi…” Oma masih mendesak Rilly.


“Gak penting oma, nanti bertemu di kampus aja…” Rilly bersikukuh tak ingin menjawab.

__ADS_1


Dia memang tidak mematikan hp, itu tidak perlu karena masih ada orang-orang lain yang perlu berkomunikasi dengannya, dia hanya mengabaikan Brill saja.


Akhirnya hp Rilly tidak berdering lagi dan Rilly bukannya lega tapi justru menjadi galau, dalam hati bertanya-tanya, apa reaksi Brill ya…


Tapi ada suara lain juga yang muncul, suara yang berasal dari bagian hati yang kecewa… biarkan saja, toch Brill bukan sosok yang harus diperlakukan lebih istimewa, hubungan mereka hanyalah hubungan pertemanan biasa, tanpa percakapan intens tak akan menjadi masalah untuk mereka…


Dan ada suara lain juga datang menghampiri… dia kangen Brill.


DI tengah pertarungan hati karena Brill, seorang bapak salah satu dari asisten di rumah itu masuk ke ruangan tengah.


Bapak itu memberi hormat lalu berkata… “Permisi, ada yang mencari non Rilly, masih di luar, belum kami ijinkan masuk.”


“Siapa pak?” Rilly mulai khawatir, siapa yang akan nekad mencari dia jauh-jauh ke sini? Hanya seseorang yang akan melakukan itu.


“Katanya teman non Rilly…”


“Cowok?”


“Iya… Masih ditahan di pos depan, apa diijinkan masuk?”


Rilly mulai yakin siapa orang itu, pasti Brill karena jika teman kuliah pasti sudah memberi info padanya. Rilly jadi tidak paham hati Brill seperti apa. Apa Brill senekad ini hanya untuk bertemu teman saja, tidak adakah perasaan yang lain untuknya? Rilly nelangsa.


.


.


Hi, tadi mlm nulis dgn cepat spy bisa keburu update, tapi malah tertahan sistem. Udah aku edit, semoga bisa terbit hari ini.


.


Happy Passover... 😇


.


Selamat Menjalankan Ibadah Puasa... 😇

__ADS_1


.


.


__ADS_2