
📱
"Ma... anak itu tidak mau menjawab panggilan telpon, tidak menjawab wa..."
"Anak itu? Siapa Inggrid?"
Oma Susan bertanya walaupun dia tahu siapa yang dimaksud anaknya.
"Please ma, urusanku banyak... tolong mama berikan hp mama sama dia, aku ingin bicara..."
"Kamu hanya berjarak satu kilometer dari sini, hampir dua bulan tidak datang ke sini bukannya menanyakan kabar mama..."
"Iya... iya... mama sehat kan? Aku perlu bicara dengan Brill ma..."
"Kamu selalu terburu-buru dengan semuanya, entah dikejar apa... dan itu bukan pertanyaan yang sesungguhnya Inggrid... sekarang kamu penuh basa-basi."
.
Oma Susan menutup panggilan. Bunyi panggilan ulang dari anaknya tak dihiraukan, hp diletakkan begitu saja di atas meja makan, lalu oma Susan kembali meneruskan aktivitasnya, mengontrol kegiatan dua ART yang sedang mengatur sembako untuk dibagikan pada para Lansia, ada kegiatan LKS itu sore nanti.
Menjelang makan siang, dua mobil berplat nomor merah masuk ke halaman rumah oma Susan. Oma Susan yang ada di ruangan besar di poros tengah rumah ini bisa melihat dari jendela lebar-lebar di ruangan itu.
Oma Susan berdecak, rumahnya bakal berubah lagi jadi kantor anaknya, pasti Inggrid akan datang ke sini tetapi membawa setumpuk pekerjaannya di sini.
"Selamat siang bu..."
Beberapa orang berseragam khaki muncul di ruangan dengan menenteng entah apa.
"Ya... ya... siang... masuk saja..."
"Kami disuruh Ibu bupati datang ke sini, bu..."
"Ya... ya... umurmu berapa?"
Oma Susan bertanya pada lelaki yang menjadi juru bicara di antara mereka.
"Saya tiga puluh tiga, bu..."
"Panggil oma Susan kalau begitu, jangan ibu... itu untuk atasanmu saja..."
"Ehh... baik oma..."
"Kalian masuk saja, sudah tahu ruangan yang biasa kalian pakai kan? Gedung kantor kalian megah dan masih baru, jadi mubazir... begini ternyata punya anak bupati, ke mana-mana ke rumah oma pun urusan kantor selalu mengikutinya..."
Oma Susan berbicara dengan nada ramah tapi sebenarnya menyimpan kekesalan pada putri bungsunya.
"Ibu mau mengunjungi keluarga, sekalian menyelesaikan beberapa hal..."
Si lelaki PNS tersebut menjawab taktis.
"Berkunjung ke keluarga tapi membawa kerjaan... ehh kalian langsung masuk saja jangan berdiri di depan pintu seperti itu... kalau lapar atau haus, kalian bisa mengambilnya sendiri, jangan sungkan ya..."
Oma Susan masih menjawab dengan intonasi terjaga, walau tetap saja kalimatnya tajam. Bukan pada tempatnya melepaskan kejengkelan pada bawahan putrinya.
Sejak remaja Inggrid memang menjadi bintang dalam banyak hal, pernah menjadi siswa teladan mewakili provinsi ini, pernah jadi anggota paskibraka dan menjadi siswa pembawa bendera pada upacara tujuh belas agustus di istana negara, sejak itu kiprahnya tak tertahankan lagi. Menjadi Noni Sulut di jamannya, mengikuti kontes putri Indonesia dan jadi pemenang, membuat putrinya semakin bersinar. Sempat wara-wiri di layar kaca menjadi host atau mengisi acara, sempat menjadi pembaca berita di sebuah stasion TV terkenal, lalu setelah menikah mengikuti putranya terjun di dunia politik menjadi pengurus partai dan akhirnya memenangkan dua kali Pilkada kabupaten ini.
Tapi rasa bangga di hati oma Susan tak bersisa sekarang. Dia dulu adalah ibu yang sangat peduli dan perhatian terhadap anak-anaknya, mendukung penuh serta mengurus semua hal tentang mereka, mengikuti putri semata wayang anak bungsunya yang mengikuti kontes dan kegiatan lain mendampingi dia mengejar semua obsesi pengaktualisasian diri dan mewujudkan mimpi.
Tapi putrinya yang sekarang adalah sosok yang mengabaikan anak satu-satunya demi semua hal tentang dirinya, itu yang oma Susan sesalkan.
Sejam kemudian, sebuah mobil patwal dan mobil hitam Al*phard dengan plat nomor berangka satu di belakangnya beriringan masuk ke halaman rumah oma Susan yang luas. Bunyi klakson khusus menjadi tanda bahwa orang nomor satu di kabupaten ini sedang melewati atau singgah di suatu tempat.
Iring-iringan orang kemudian masuk dengan protokoler wajib, meskipun datang ke rumah mamanya sendiri. Hal itu sering menjadi bahan cibiran oma Susan.
Seperti kali ini...
"Kalian duduk santai saja di dalam ruangan, jangan berdiri di depan pintu seperti itu, tidak ada orang yang akan menyerbu tempat ini dan mengganggu bupati kalian..."
Oma Susan bicara pada dua orang berseragam yang berdiri dengan sikap waspada di ambang pintu ruang depan, ibu bupati terhormat diiringi dua sesprinya sudah masuk ke ruang dalam.
"Tidak apa-apa oma, itu aturan buat kami..."
"Itu tugas mereka ma... apa kabar mama?"
Inggrid, si bupati yang dicintai masyarakat itu dapat memeluk oma Susan, lalu cipika-cipiki dan segera berlalu tanpa menunggu jawaban oma Susan.
Oma Susan ingin meledakkan rasa jengkelnya tapi tertahan karena tidak ingin menodai citra ibu bupati.
Tak ada kehangatan, bahkan pelukan tadi mungkin sudah jadi salah satu bagian protokol yang harus dilakukan? Anak sendiri tidak ditanyai, padahal jika menilik percakapan di telpon sebelum ini oma Susan berpikir Inggrid datang karena Brill. Mungkin dia lupa lagi tujuannya ke sini.
"Jangan sungkan kalau di sini... minta dibuatkan kopi atau mau makan, ambil sendiri di dapur ya..."
__ADS_1
Oma Susan berbicara kembali pada dua orang berseragam dengan sepatu boot kulit bersol tinggi itu.
"Baik oma..."
Oma Susan menuju studio cucunya, Brill pasti mengurung diri di sana. Alat musik sudah diganti oma Susan, meskipun ditentang ibu bupati oma Susan tidak mengacuhkan, oma Susan lebih mementingkan perasaan Brill, dia mendukung sepenuhnya hobi dan bakat Brill di bidang ini. Sejak kejadian Brill meninggalkan rumah dinas karena musiknya disumbangkan sang mami, Brill menetap di rumah Oma Susan. Dan setelah selesai Ujian Nasional Brill lebih banyak di ruangan ini.
"Brill... ada mami di sini..."
"Tahu oma... aku denger raungan mobilnya tadi..."
"Raungan mobil?"
Oma Susan mengernyitkan dahi menatap cucunya yang sedang memasang senar di sebuah quitar.
"Itu.. klaksonnya, angkuh banget, semacam perintah... hei minggir, ada orang penting mau lewat... neg aku denger bunyi itu."
"Oma kira apa... itu dibutuhkan juga Brill, dan lagi memang yang di dalam mobil orang penting kan?"
Brill hanya mendengus, tak menjawab omanya.
"Memangnya suara dari luar masih tembus ke dalam sini? Berarti pemasangan kedap suaranya kurang bagus, nanti oma panggil tukangnya lagi..."
"Gak kok... tuh jendelanya aku buka..."
"Oh ya... ya... oma gak perhatiin itu..."
Oma Susan melanjutkan kemudian....
"Mami pasti mencarimu Brill... berulang-ulang mamimu menelpon..."
Brill diam saja meneruskan kegiatannya. Oma Susan memperhatikan garis wajah cucunya, di wajah itu jarang ada senyuman. Hanya berada di ruangan ini saja oma Susan bisa melihat Brill yang berbeda, setiap kali dia bernyanyi sendiri, dia terlihat hepi. Karenanya sebelum tidur oma Susan akan menghabiskan waktu bersama cucunya sambil bernyanyi, kadang hanya sendiri kadang menyanyi berdua.
"Makan siang dulu, Brill..."
"Iya..."
Oma Susan ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak ingin menekan Brill. Dia terganggu dengan sikap Brill yang untuk ukuran nilai yang dia pegang sikap cucunya terhadap orang tua boleh dikata tidak hormat.
Tapi Brill seperti itu punya alasan, dan jika diurut ke atas, anaknya Inggrid yang menunjukkan sikap seperti itu lebih dahulu. Memang anaknya tidak terang-terangan seperti Brill, tapi secara eksplisit dalam semua tindakannya yang selalu mengatur oma Susan sering merasa anaknya suka melangkahi dirinya sebagai orangtua.
.
.
"Nak Brill... siap-siap ya, kepala sekolah dan guru-guru sekolah nak Brill mau audiensi sama ibu, jadwalnya pagi ini, nak Brill diminta ibu pulang ke rumah..."
Om Markus masuk ke kamar yang jadi studio mini Brill. Beberapa waktu yang lalu, sang mami datang ke rumah oma Susan dan dia tidak mau menemui.
"Itu bukan rumah om... rumahku di sini..."
"Sama aja nak... hampir sepuluh tahun tinggal di sana, ya jadi rumah kedua nak Brill... ayo kasihan ibu bisa malu kalau nak Brill gak datang..."
"Bosan om... harus menjaga nama mami papi terus selama ini, om tahu aku gak suka dengerin kalimat jangan buat mami papi malu..."
Brill menjawab ketus.
"Maaf ya nak... om kelepasan omong, tapi kali ini ada hubungannya sama nak Brill, jadi om sarankan nak Bril ikut ke rumah ya?"
Om Markus yang sudah hapal watak boss kecilnya berkata hati-hati sekarang.
"Kenapa di rumah bukan di kantor?"
"Kan itu urusan nak Brill..."
"Kenapa mereka harus dateng sih?"
"Nak Brill gak dateng ke sekolah waktu pengumuman kelulusan, makanya mereka dateng... tapi ini masuk jadwal resmi ibu... sekalian mau minta ibu hadiri acara kelulusan katanya..."
"Itu gak penting buatku om... lulus gak lulus bodo amat..."
"Loh... anak-anak lain antusias loh, udah lepas putih abu-abu... udah mau pindah ke Manado untuk kuliah... jadi mahasiswa... om jadi kangen masa-masa om kuliah... pengen jadi mahasiswa lagi..."
Brill memperhatikan om Markus sekarang.
"Nak Brill gak kepengen kuliah gitu? Seru loh jadi mahasiswa, rasanya beda jauh dengan saat murid SMA."
"Emang gimana rasanya?"
Brill bersandar di sofa kulit tunggal berwarna krem, dia sedang duduk di lantai. Om Markus duduk dengan santai juga di hadapan Brill di sofa yang lain. Kaki sebelahnya dia angkat dilipat ke dalam dengan sebelah tangan bersandar di lengan sofa menopang dagunya. Mata om Markus menerawang saat bernostalgia mengingat sejarah hidupnya sendiri dua puluh tahun silam.
"Kayaknya menyenangkan di awal jadi mahasiswa baru sekaligus menegangkan. Lebih bebas karena tinggal sendiri kan, om Markus ngekos... terus kuliah bebas mau pakai baju apa terserah yang penting sopan... terus ceritanya udah bermetamorfosis jadi mahasiswa kan, kayak bangga gitu... kayak dipandang orang sebagai manusia dewasa, apalagi di kampung om waktu itu jarang ada teman yang bisa kuliah karena biaya... om sedikit sombong jadinya hehe..."
__ADS_1
Brill masih memandangi om Markus, terlihat masih tertarik untuk menyimak. Om Markus tahu jika Brill sudah melengos dan sibuk dengan hpnya dia pasti tidak peduli. Om Markus jadi melanjutkan acara nostalgianya.
"Suasana belajarnya beda banget, mahasiswa itu lebih mandiri dan gak terkekang sama dosen. Terus dengan sesama mahasiswa kayak lebih terbuka lebih bebas untuk berteman, lebih akrab... percaya om deh... nak Brill pasti lebih menikmati berteman dengan siapa aja saat jadi mahasiswa..."
Berteman? Brill malas jika tentang teman, semua ingin menjadi temannya karena dia anak bupati, hanya ada satu orang rasanya yang menurut kata hatinya tidak seperti itu...
"Gimana masa orientasinya om... kayak ngeri gitu dengernya... kakak tingkat yang gak bersahabat katanya... terus katanya pelajaran yang lebih susah..."
"Denger dari mana? Di zaman om udah gak kayak gitu kok... setelah reformasi udah gak ada penyiksaan di masa orientasi, dosen itu wajib mendorong mahasiswa untuk kuliah bukan jadi hakim yang selalu memberi hukuman... gak Brill, gak ada yang kayak gitu."
"Bener?"
"Iya... temen om ada yang jadi dosen, sering cerita tentang kerjaannya, sering cerita soal mahasiswanya..."
Brill diam sekarang. Apa kuliah saja? Dia gak punya niatan apapun untuk masa depannya.
"Siap-siap sekarang?"
Om Markus bertanya sambil senyum, tidak ingin mendesak tapi tetap harus mengerjakan titah ibu bupati.
"Gak ah om...mami aja yang ketemu mereka..."
"Nak Brill...mereka mau serahkan raport sama ijazah, nak Brill belum tanda tangan ijazahnya loh..."
Brill berdiri tapi bukan berniat untuk siap-siap, dia malah menyalahkan tombol on di speaker monitor quitarnya.
"Nak Brill... please, om loh yang kena marah ibu..."
Om Markus akhirnya mengeluarkan senjata pamungkasnya, Brill selalu merasa tidak enak bila om Markus yang kena damprat sang mami akibat ulahnya.
"Iya... iya... iya... tapi hanya kali ini aja ya... acara penamatan aku gak mau, jangan paksa aku om meskipun mami hadir di acara itu..."
"Itu terakhir kalinya ketemu teman-teman nak Brill loh..."
"Aku gak punya teman..."
"Gadis itu... apa bukan teman? Sampai dianterin ke rumah tuh..."
Wajah Brill memerah saat memandang om Markus, saat bersamaan mengingat siapa yang om Markus maksudkan.
"Romantis banget loh..."
"Apanya?"
"Itu... ada gadis yang bersihin celana nak Brill... hehe, dibersihin dengan teliti sampai muter berapa kali ngeliatin masin ada rumput yang nempel di celananya hehehe..."
"Om ahh... masa itu disebut romantis, aneh ahh..."
"Tapi... lain kali ngomongnya jangan kayak gitu... bersihkan! Apa sih... kayak ibu deh kalau ngomong ke kita..."
Bril melengos tidak ingin membahas lagi, walau dalam hati tiba-tiba muncul keinginan untuk bertemu.
Rilly... Brill membatin.
Gimana kabarnya ya?
"Om... operasi masal bibir sumbing... apa udah dilaksanakan ya?"
"Om gak tahu nak Brill... itu bukan urusan om kan... urusannya Deisi itu... lagian om sehari-hari nongkrong di sini sekarang..."
"Deisi?"
"Itu loh... sesprinya ibu... yang rambutnya merah..."
Jangan suruh Brill mengingat nama, percuma. Tapi sepertinya beda jika nama itu Rilly, sebab tak perlu berlama-lama untuk mengingat nama gadis itu, seperti menempel dengan baik di otak Brill.
"Ayo om..."
"Ke mana?"
"Ke rumah lah..."
Jika bukan karena penasaran terhadap sesuatu Brill tidak akan mau kembali ke rumah dinas bupati. Om Markus menyimpan senyum, bisa membaca gelagat anak asuhnya. Banyak cewek cantik di sekolah yang sering titip salam, tapi cewek berbibir sumbing itu yang bisa menggerakkan Brill untuk melakukan sesuatu, seperti kali ini, dia gak perlu berlama-lama membujuk Brill ke rumah dinas.
.
🎸
.
.
__ADS_1