
Rilly menyimpan resahnya tentang sebuah nama jauh ke bagian paling dalam di hatinya. Dia sengaja menganti nomornya biar tak terhubung dengan Brill lagi. Bukan tak ingin berteman lagi, dia hanya ingin menetralkan hatinya dari rasa sukanya yang terlanjur tumbuh dengan indah. Berharap di kemudian hari saat berjumpa hatinya bisa murni untuk hanya berteman saja.
Dia memang terbawa perlakuan Brill, hatinya entah kenapa bisa merespon dengan cepat keberadaan Brill di sisinya. Apa karena Brill ganteng? Ada teman semisal Tama, dia juga good looking dan terlihat juga berusaha mendekati tapi dia selalu dengan halus menolak dan kemudian Tama menyerah saat melihat kehadiran Brill.
Sehari setelah Brill datang ke rumah di nas tante Irma, Rilly dan keluarga tante Irma berangkat ke Jakarta karena anak bungsu tante Irma menikah dengan orang Medan dan pernikahan itu dilaksanakan di Jakarta. Kemudian setelah acara justru gak bisa kembali ke Manado karena ancaman wabah, maka Rilly dan oma Betsy tertinggal di Jakarta di rumah tante Isye.
"Selamat pagi, tante..."
Rilly menyapa tante Irma yang baru keluar dari kamarnya. Semua orang ada di rumah sepanjang hari karena aktifitas mereka WFH saja.
"Pagi Ril, mami udah sarapan?"
"Udah tante, lagi di ajak suster ke depan rumah..."
Tante Isye duduk di depan Rilly.
"Kamu minum apa?"
"Coklat panas tan... Tante mau?"
"Iya boleh, minta mbak aja yang buatin. Aduh tante bosan sama makanan kita, itu-itu aja selama ini. Eh... Beli roti sama kue aja buat sarapan, gerai roti di depan udah dibuka kan..."
"Udah tan... beberapa hari lalu Rilly ke sana..." Rilly bergegas ke dapur mencari si mbak.
"Bangunin kak Ando minta dia beliin kita roti..."
Rilly yang baru dari dapur langsung naik ke lantai atas, tapi kemudian mendengar namanya dipanggil tante Isye.
"Iya tan..."
"Kamu aja deh yang ke sana, pakai mobil aja jangan jalan kaki entar lama..."
"Tapi... Rilly belum terlalu lancar nyetirnya, tan..."
"Makanya harus berani biar semakin lancar..."
Tante Isye menyodorkan sebuah kartu sambil menyebutkan pin dua kali.
"Udah inget?"
"Iya tan... tanggal lahir tante kan?"
"Iya... Iya, beli yang banyak ya, kesukaannya mami, Ando sama om... kamu masih inget kan..."
"Iya tan..."
Dengan sedikit rasa takut Rilly mengendarai mobil tante Isye. Waktu luang yang banyak membuat dia diajari menyetir oleh si kak Ando dan hanya mengitari kompleks ini aja.
Di gerai roti, Rilly memilih sesuai kesukaan semua orang rumah masing-masing lima buah, khusus kesukaannya dia hanya mengambil dua. Saat mengantri di kasir, bahunya ditepuk seseorang. Rilly yang kaget menoleh cepat...
Seorang gadis bermasker menggoyangkan kepala dengan cara yang lucu, Rilly segera tahu itu siapa.
__ADS_1
"Veel... hai..."
Suara Giveel terdengar dalam tawanya di balik masker. Giveel menarik Rilly untuk keluar dan menjauh dari antrian. Giveel membuka masker dan langsung terlihat wajah riangnya.
"Kangen Ril... ada setahun lebih loh gak ketemu..."
"Veel... lepasin tanganku, gak boleh loh bersentuhan..."
"Udah aman kok sekarang... gak usah takut ya, aku sehat kok... kamu juga kan?" Giveel auto melepaskan tangannya yang memegang lengan Rilly.
"Iya sih..." Rilly menjawab canggung takut menyinggung Giveel.
"Eh, ngobrol dulu yuk... aku seneng banget tau gak ketemu kamu lagi..." Giveel kembali menarik lengan Rilly.
"Veel, aku ditungguin orang rumah, pada belum sarapan nungguin roti..."
"Yaaa... iya deh, tapi ketemuan ya nanti... ah aku jemput kamu entar siang ya?" Giveel menggoyangkan lengan Rilly, dia memaksa.
"Hehehe... emang mau ke mana saat seperti ini, Veel..."
"Ke rumahku aja... pengen ngobrol banyak hal denganmu, Ril... ceritaku udah segudang tau gak..."
"Hehehe... iya boleh..."
"Aku jemput ya, nanti aku wa..." Giveel merangkul Rilly sesaat lalu mulai mengitari rak-rak roti.
Rilly tersenyum dan masuk dalam antrian lagi. Beberapa bulan di sini, sempat lupa punya teman baik. Terakhir saling berkirim kabar yang dia tahu Giveel akhirnya kuliah di luar negeri sesuai keinginan orang tuanya.
.
.
"Gak papa aku berkunjung ke ruman kalian..." Rilly masih sungkan, karena banyak orang yang takut berinteraksi dengan orang luar sebagai dampak dari wabah ini.
"Gak papa, jangan khawatir... kamu udah divaksin kan?"
"Iya..." Rilly menjawab singkat.
"Ya udah... tenang aja, Ril... menurut mami aku kalau kamu udah vaksin gak masalah..."
Di rumah teman baiknya Rilly dikenalkan Giveel sama mami papi, kakak serta oma-opa. Rilly sempat bingung melihat rumah si Giveel, baru tahu ternyata keluarga Giveel punya rumah yang paling besar di kompleks ini. Sangat nyata bahwa mereka ada di deretan orang-orang terkaya di negara ini.
Di masa sekolah dia tidak pernah mengiyakan ajakan Giveel karena terikat dengan rasa sungkannya tinggal di rumah orang, dia takut salah. Sekarang situasi sedikitnya telah berubah, om Armando masih tak acuh tapi tidak pernah terdengar lagi mengeluhkan tentang dirinya.
Makan siang bersama keluarga temannya sungguh sangat tidak nyaman, berada di ruang makan yang sangat mewah untuk ukurannya dengan peralatan makan yang juga sama mewahnya membuat Rilly canggung tapi untungnya tante Kharis sudah mengenal dirinya lebih dahulu dan berbicara dengan akrab padanya, membuat Rilly merasa nyaman.
"Rilly... cicip semua masakannya ya... tante sengaja minta mbak masak ini karena tahu temannya Ayin akan datang..."
"Iya tante..." Rilly menjawab dengan rasa malu yang masih menguasai hatinya sehingga dia belum bebas berinteraksi dengan keluarganya Giveel.
"Mami itu aneh, orang Manado kok disuguhin makanan Manado... mami sih yang kepengen sebenernya, ya kan?"
__ADS_1
Si om Lewi menghentikan kegiatan makannya dan terlihat menepuk-nepuk punggung istri yang duduk di sampingnya.
"Papi kayak gak tahu aja, mami udah kangen kampung halaman kalau udah muncul masakan Manado di meja ini..." Giveel bersuara menimpali papinya.
"Tahu kok... papi paling tahu mami kalian ini..." Om Lewi memutar kepalanya lalu menepis jarak dengan tante Kharis.
Beberapa ciuman dari om Lewi mampir di kepala tante Kharis. Rilly tersenyum melihat pemandangan romantis itu.
"Papi, di sini ada tamu, papi mulai deh gak tahu tempat."
Suara yang mengalun tegas keluar dari kakak si Giveel yang duduk di dekat Rilly. Rilly melirik, si kakak menatap serius pada orang tuanya dan Rilly memperhatikan om Lewi terlihat sedikit salah tingkah, hanya melemparkan senyum pada anaknya lalu melihat kepada Rilly. Sementara tante Kharis terlihat malu juga.
"Makan ya Rilly, jangan terganggu... makan yang banyak..." Suara om Lewi terdengar sangat ramah.
"Iya om, terima kasih..." Rilly mulai bisa melepaskan rasa sungkannya berada di sekeliling meja makan yang besar ini.
Ada oma dan opa si Giveel, mereka makan dengan tenang di sisi yang lain meja makan, hanya sesekali pasangan lansia itu terdengar mengomentari atau menanyakan tentang makanan di meja.
"Jangan sungkan ya, Rilly... Tapi om pikir kamu bukan dari Manado, karena cara bicaramu tidak menunjukkan itu. Kamu tahu, tante Kharis itu dulu ngomongnya belepotan, suka canggung menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, dialek Manadonya dangat kental..."
Om Lewi berkata lagi sambil mengangkat dua alisnya terlihat sekali sedang menggoda istrinya karena mereka sekarang sedang saling tatap.
"Papi ihh..." Suara manja si tante Kharis menimpali suaminya, memukul-mukul lengan suaminya
"Bener kok... untung aja sekarang udah gak seperti dulu..." Om Lewi menganggu istrinya dengan mimik yang lucu.
"Papi... lanjutin makannya dulu pi..." Cowok di sebelah Rilly bersuara lagi.
"Iya Muel... iya... Ehmm... Rilly, maafkan anak om ya, dia terlalu serius..."
"Pi?" Si cowok yang dipanggil Muel itu terdengar protes.
"Hehehe..." Om Lewi hanya tertawa lalu melanjutkan makannya.
Rilly tersenyum simpul, keluarga ini begitu hangat. Dia suka terpaku pada Giveel yang dimanja semua orang termasuk kakaknya. Hal itu hanya bisa menjadi angan untuknya. Tapi dia senang bisa melihat sesuatu yang indah dalam hubungan keluarga Giveel.
"Ehm... Nanti Rilly pulang dianterin Muel aja. mau ya Muel?"
Rilly terkejut saat tante Kharis mengatakan kalimat itu di sela-sela makannya.
"Iya ma..."
Dan Rilly lebih terkejut lagi cowok di sebelahnya ini hanya menjawab patuh, Rilly yang melihat ke samping menemukan cowok bertampang serius itu juga sedang menatap padanya.
Di sementara itu, Giveel dan mami papinya tersenyum misterius. Mmmh... mungkin sedang merencanakan sesuatu, atau kebetulan aja?
.
Hi... Kita tinggalin Brill aja dulu, mungkin Rilly perlu melihat ke tempat yang lain... Hehe 😜
.
__ADS_1