Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 34. Rilly Jean Tendean, Apakah Kamu Masih Mengingatku?


__ADS_3

Rilly sudah selesai ujian akhir, dia tidak ke sekolah lagi sementara menunggu pengumuman kelulusan. Dia tidak termasuk siswa yang eligible untuk jalur masuk perguruan tinggi berdasarkan prestasi, walau sebenarnya nilainya di kelas dua belas ini baik, tapi nilai rapornya dari Amurang di bawah standar membuat dia tidak masuk kategori ini. Berbeda dengan temannya Giveel yang lulus di sebuah universitas negeri ternama di Indonesia ini.


Rilly dan oma Betsy masih ada di Jakarta menunggu Rilly memperoleh pengumuman kelulusan dan acara penamatan. Akhirnya oma Betsy setuju pindah tetapi tinggal bersama tante Irma di rumah dinas perwira di Tomohon, dan Rilly akan mencari rumah kos di Manado jika dia bisa lolos seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri yang diincarnya.


Rilly sedang belajar di ruang makan, dia pindah kamar sejak kak Ando kembali tinggal di rumah ini. Kak Ando datang lalu duduk di depan Rilly dan meletakkan sepiring penuh makanan di atas meja.


“Udah makan Ril?”


Kak Ando sudah tidak sekaku awal-awal Rilly di sini, sudah sering mengajak Rilly mengobrol. Rilly mengalihkan perhatian, sejenak menatap kak Ando yang juga sedang menatapnya.


“Oh… udah kak…”


“Masih belajar? Bukannya ujian sudah selesai?”


“Oh… ini untuk persiapan seleksi masuk perguruan tinggi…”


Rilly mengangkat buku tebal yang sedang dipelajarinya, menunjukkan cover depan pada kak Ando. Cowok itu menganggukkan kepala tanda paham.


“Kapan pengumuman lulus SMA?”


“Minggu depan kak…”


Beberapa menit berlangsung dua orang duduk berhadapan dengan kegiatan masing-masing.


“Rill… buatin aku mie cekalang…”


“Hahh?”


Rilly menatap lagi cowok yang rambutnya berpotongan buzz cut di depannya, yang terlihat sangat maskulin karena dua rahangnya begitu menonjol seimbang dengan hidung yang tidak terlalu tinggi tapi tidak terlalu lebar juga.


“Masakin mie instant…”


“Oh? Itu?”


Rilly menunjuk piring yang terlihat baru dimakan beberapa sendok.


“Gak enak makan ini, udah dingin sayurnya… pengen nambah dengan yang berkuah biar enak masuk tenggorokan. Mie instannya aku simpan di lemari atas paling kanan… buatkan empat bungkus ya?”


“Oh iya kak… sebentar…”


Rilly segera ke dapur, membuatkan permintaan cowok ini. Entah bagaimana pertalian mereka berdua, jika mengikuti perkataan oma Betsy yang mengakui Rilly sebagai anaknya, maka status Fernando adalah ponakan Rilly, tapi itu tak ada keabsahannya dan lagi agak lucu jika kak Ando jadi keponakan Rilly karena kak Ando lebih tua, umurnya mungkin berbeda sepuluh tahun dengan Rilly.


Beberapa menit sesudahnya…


“Ini kak…”


Rilly meletakkan sebuah wadah bowl dengan ukuran besar yang terbuat dari kaca, berisi mie instan rebus yang mengepulkan uap panas. Ando yang sedang memainkan hpnya segera tersenyum menyambut makanan berkuah yang jadi makanan wajib untuknya. Rilly berbalik ke dapur mengambil sebuah mangkok lebih kecil dan sumpit, dia tahu kakak penggemar mie instan ini selalu menggunakan sumpit bila makan mie.


“Ini kak…”


Rilly meletakkan mangkok dan sumpit di meja tapi kak Ando ternyata sudah makan langsung dari bowl besar itu, memutar mie menggunakan garpu.


“Enak mienya… kamu pakai apa?”


“Biasa aja, hanya nambahin tahu, sawi, daun bawang sama 1 butir telur, biar ada nutrisinya, kak…”


“Tapi rasanya beda…”


Kak Ando makan dan terlihat lahap, menyeruput kuah sambil berbunyi.


“Oh… itu karena Rilly gak menggunakan bumbunya, Rilly pakai bawang putih sama abon cekalang yang ada…”


“Enak… enak…”


Rilly senyam-senyum, senang rasanya mie buatannya dinikmati dengan lahap oleh kak Ando. Sementara kak Ando makan, Rilly beberapa kali melirik terutama saat mendengar suara yang ditimbulkan saat kak Ando menyeruput kuah mie itu. Saat hampir habis isi bowl itu…


“Kamu mau Ril?”


Rilly tertawa…


“Sudah habis baru nawarin… hehehe, kak Ando aja, Rilly gak suka mie instan. Lagi pula Rilly tahu kak Ando itu porsi mienya harus empat bungkus sekali makan…”


Fernando menghabiskan mienya, dia tidak serius menawarkan bagian terakhir mie itu karena masih menginginkannya. Rilly menunduk dalam senyumnya, mencoba berkonsentrasi lagi pada buku di hadapannya.


“Mie terenak yang aku makan… mie buatanmu enak, Rill…”


“Hehehe hanya mi instan kak… semua orang bisa membuatnya…”


Kedua orang yang mulai masuk dalam hubungan yang lebih leluasa itu sama-sama tersenyum.


“Ando? Sudah pulang?”


Suara berat om Armando tiba-tiba mengusik interaksi kedua insan di meja makan ini. Om Armando baru pulang dan masuk ke rumah lewat pintu samping, ruangan makan ini harus dilewati om Armando untuk ke kamarnya.


“Pi? Baru aja… baru makan juga…”


Rilly mendadak takut langsung berdiri dan segera masuk ke kamar, bekas makan kak Ando akan dibereskannya nanti setelah om Armando tidur. Setahun di sini tak merubah pandangan dan sikap om Armando, padahal Rilly telah sungguh-sungguh berusaha bersikap baik.

__ADS_1


.


🐬


.


Di bagian tengah negara ini, oma Susan datang ke rumah dan ini membuat Brill begitu senang, dia kangen masakan oma Susan. Dulu waktu di Amurang sesekali oma akan memasak untuknya.


"Oma nginap ya, jangan langsung pulang."


Brill yang turun dari ruang atas dengan hati riang menyambut oma dengan senyum lebar.


"Wah, oma gak bisa Brill... oma hanya mampir sebentar..."


Oma Susan menyimpan senyumnya, cucu yang satu ini yang paling bisa bermanja padanya dibandingkan cucunya yang lain, bahkan dua cucu perempuan dari anak tertuanya tidak melakukan itu karena sejak kecil jarang bersamanya.


Ekspresi Brill segera berubah. Tapi...


"Aku ikut oma deh..."


"Wah, gak bisa... Oma gak pulang ke Amurang, oma mau ke Jakarta..."


Oma masih menyimpan senyum.


"Mau ikut oma ke Jakarta?"


"Buat apa? Malas ah..."


"Oh... malas ya, gak ingin bertemu temanmu? Siapa namanya? Cucunya Betsy teman oma... Siapa namanya? Dulu kamu pengen banget ketemu dia..."


Rilly.


Brill hanya menjawab pertanyaan oma di dalam hatinya. Dia masih mengingat nama itu walau setahun sudah berlalu, tapi dia juga masih mengingat dengan baik rasa kecewanya karena gadis itu menolak bertemu.


"Kenapa mukanya seperti itu? Hehehe..."


Oma Susan tertawa sekarang.


"Oma bercanda Brill, oma gak akan ke mana-mana, oma justru mau tinggal di sini sebulan ini, rumah kita di Amurang mau direnovasi, mau ganti seng dan plafon, itu rumah tua kan..."


"Serius oma mau tinggal di sini?"


"Iya... Om Dicky sama mamimu minta oma tinggal bersama mereka aja, tapi oma lebih tenang di sini, oma kurang nyaman tinggal di rumah dinas.,."


"Oh... bagus oma, aku punya teman di sini..."


"Maksudku bukan seperti itu, oma ahh..."


"Hehehe..."


"Oma pakai kamar mami aja..."


"Gak, oma di kamar oma aja seperti biasa..."


"Masak ya oma... kangen masakan oma."


"Besok ya... hari ini oma capek..."


"Iya... aku gak minta hari ini kok..."


"Iya... iya... oma ke kamar sekarang."


Belum sempat oma berdiri dari sofa, tante Nellie dan seorang tante lagi yang sehari-hari jadi asisten di rumah oma keluar dari kamar yang memang diperuntukkan untuk oma Susan di rumah besar ini.


"Pakaianku sudah dirapikan Nellie?"


"Sudah..."


"Kalian tanya ke Rina, kamar kalian di mana ya... bantu Rina masak ya, cucu yang lain mau ngumpul di sini nanti malam..."


"Iya..."


Dua asisten oma menuju area belakang.


"Siapa yang akan ke sini?"


Brill bertanya sambil, membantu oma berdiri dari sofa.


"Semua kayaknya, masih libur kan... tadi pagi mereka mau ke Amurang oma bilang ke sini aja, siang oma sudah di sini..."


.


Menjelang malam, rumah besar yang sehari-harinya sepi karena hanya ditinggali Brill bersama om Markus dan tante Rina serta tiga ART yang lain, sekarang menjadi lebih ramai karena semua cucu oma Susan berkumpul di sini.


Brill tidak lagi terlalu jengah berada di antara mereka walau masih cenderung diam.


Briana, adik Bierna yang paling kecil, seumuran Brill, datang duduk dengan raut riang di samping Brill.

__ADS_1


"Brill, selfie yuk..."


"Hah?"


"Selfie, mau pamer sepupu ganteng dulu di IG aku...."


Briana sudah mengambil sebuah foto dengan senyum tanggung seorang Brill. Briana melihat sejenak.


"Ah, hasilnya kurang bagus, kamu gak lihat ke kamera... kamu yang ambil fotonya deh..."


Briana menyodorkan hp canggihnya pada Brill. Mau tidak mau Brill melakukan permintaan Briana, masih agak kaku karena belum terlalu akrab, sedangkan Briana justru melingkarkan dua tangannya di bahu Brill.


"Senyum dong Brill..."


Akhirnya foto bareng sepupu-sepupu berlanjut dengan yang lain. Suasana semakin akrab saat makan malam, mereka makan di teras samping sambil barbeque, oma Susan hanya bergabung sesaat lalu masuk lagi ke kamarnya.


Sebenarnya oma Susan yang memprakarsai cucu-cucunya bertemu lagi si sini, dia ingin ikatan keluarga di antara mereka menjadi erat, jadi walau tinggal di negara yang berbeda mereka tetap akan saling merasakan ikatan keluarga yang kuat, suatu saat mereka bisa saling mendukung dan saling membantu.


"Brill nama IG kamu apa? Aku mau follow..."


"Hah? Aku gak punya..."


"Serius gak punya? Fb aja kalau gitu... aku cariin namamu gak ketemu..."


"Gak punya juga..."


"Ya ampun Brill... Kenapa gak ada?"


Bierna dengan cepat menyela.


"Malas aja..."


"Aku juga punya akun tapi malas bersosial media..."


Joel bersuara menanggapi Bierna yang terbelalak memandang Brill.


"Aku buatin akun mau?"


Briana yang paling senang berakrab-akrab dengan Brill dari antara semua sepupu menawarkan jasa.


"Terserah..."


Brill sungkan untuk menolak.


"Sini hpmu..."


Lalu Briana mulai menanyakan beberapa data pribadi.


"Nih... udah jadi. Semuanya... confirm permintaan pertemanan ya..."


Briana mengembalikan hp Brill.


"Kamu tinggal mencari temen-temenmu sendiri Brill. Lucu deh kamu, malahan mami Inggrid sama papi James yang punya akun Fb... Eh Ignya sekalian deh... sini aku buatin."


Hp Brill kembali berpindah tangan.


Beberapa jam kemudian setelah keseruan bersama sepupu-sepupunya, Brill semakin membuka ruang hatinya untuk bersosialisasi. Tidak ada ruginya ternyata, justru dia yang tadinya merasa sepupu-sepupunya lebih dari dirinya, ternyata percakapan bisa nyambung aja, jika dia berbicara, mereka mendengarkan dan menyimak, dan reaksi mereka terasa tulus. Hubungan darah ternyata begitu kental, Brill merasa nyaman saja berada di antara mereka.


Saat di kamarnya, ada sesuatu yang ingin dia lakukan sejak tadi. Dengan berselonjor bersandar di headboard tempat tidur, Brill mencari nama seseorang di kolom percaharian di akun fb baru miliknya. Ada beberapa nama yang sama dengan marga yang sama, satu demi satu Brill membuka yang paling mirip dengan nama yang dicarinya.


Mencoba beberapa kali dengan nama panjang tidak ada yang cocok. Brill mencoba dengan nama pendek, ketemu. Tapi ada dua nama yang mirip, nama Rilly Jean Tendean dan Rilly Tendean. Brill membuka akun Rilly Tendean, dia menyimak info lain, dari Manado tapi bertempat tinggal di kota Bitung.


Lalu Brill membuka akun bernama Rilly Jean Tendean, hatinya berdebar, ini nama yang mirip, semoga ini Rilly yang dia cari. Saat Brill membuka akun tersebut, sebuah foto profil gadis manis sedang tersenyum muncul.


Brill memperhatikan dan tertegun...


Apa ini Rilly?


Brill mencari kemiripan dengan Rilly yang ada di ingatannya. Brill berulang-ulang membaca sedikit informasi yang tertera, hanya ada dua petunjuk tentang Rilly Jean Tendean ini yang membuat Brill sedikit yakin... Tinggal di Jakarta, dari Amurang. Brill tidak dapat melihat lebih banyak, yang bisa dilihatnya hanya sebuah foto itu, dan apakah mirip?


Brill meminta pertemanan dan menunggu dengan tidak sabar... Berharap mereka bisa terhubung meskipun hanya lewat media sosial, sehingga dia bisa memperoleh kepastian bahwa ini Rilly yang dikenalnya.


"Apa kabarmu Rill? Apa kamu masih mengingatku?"


Brill mengguman sambil mencermati foto yang ada di layarnya.


"Apa ini kamu yang sekarang?"


.


.


Hi....


Pa kabar?


Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang sedang menjalankannya.

__ADS_1


.


__ADS_2