
Di sebuah tempat yang tenang di pinggiran pantai...
"Om tinggal dulu ya..."
Om Markus mengedipkan mata pada Brill. Brill tambah gugup, Rilly juga...
Berdua aja?
Rilly mengedarkan pandangannya. Ada banyak perahu di sini, di kejauhan ada juga beberapa perahu dan orang-orang yang entah melakukan apa di sekitarnya, nampak juga ada sekumpulan orang yang duduk lesehan di dipan pendek dari bambu di bawah pohon ketapang.
Tempat ini bukan lokasi wisata, merupakan bagian belakang dari kelurahan Lopana, masuk sekitar tiga ratus meter dari jalan utama. Tapi tempat ini nampak sangat terjaga kebersihannya, yang terlihat di hamparan pasir hanyalah dedaunan yang jatuh, di beberapa pohon ada jala besar untuk menampung sampah plastik. Ada banyak pohon ketapang yang melebar menjadi peneduh membuat pantai ini sangat adem. Hanya tempat ini kurang bagus untuk berenang, karena di bagian pantai yang mulai surut airnya nampak bebatuan besar kecoklatan menghampar.
Baik Brill maupun Rilly belum pernah ke tempat ini.
"Om mau ke mana?"
Brill jika mau jujur perasaannya campur-aduk, senang saja ditinggal berdua tapi masih grogi harus seperti apa dan melakukan apa saat hanya berdua Rilly.
"Om asal sini... yang di sana itu teman-teman om... kalian di sini aja, nyaman kan di sini, teduh... kalau cape ke pondok sana aja duduk-duduk di sana... atau ke dipan sana... bisa tiduran di sana..."
Masih pagi tiduran hehe...
Om Markus meneruskan dalam hati.
"Gak ahh... itu milik orang..."
Brill langsung menyambar perkataan om Markus.
"Pondok itu bukan milik siapa-siapa, itu dibangun bersama swadaya masyarakat kelurahan ini... bersih terawat dan bebas digunakan siapa aja... tapi tinggalin sumbangan buat dana kebersihan, ada kotak di tiang, masukin situ aja..."
Om Markus memandang geli dua anak yang sebentar lagi melepas masa remaja, berdiri kaku dengan jarak yang jauh. Om Markus jadi ingat masa remaja dulu suka bawa pacarnya di tempat ini.
"Nanti siang om bawain makanan..."
Wahh sekalian piknik di pantai... Ini karena Om Markus tahu Brill tidak akan mau makan di kafe-kafe atau resto di ibu kota kabupaten ini.
Sepeninggal om Markus, beberapa kali Brill dan Rilly hanya saling curi pandang. Rilly sebenarnya tidak nyaman jika ada orang lain melihat mereka berdua, dia tidak percaya diri berjalan bersama Brill yang terlihat keren.
Waktu berlalu sangat lambat dan tegang untuk mereka, tak ada yang memulai percakapan.
Rilly menghembuskan napasnya, seolah melepas penat jiwanya selama ini. Berdiri memandang pantai dalam diam, pandangan matanya kemudian mengikuti sebuah perahu yang melintas. Sejauh mata memandang hingga langit cakrawala yang terekam mata hanyalah warna biru air laut, matanya jadi bebas berkelana, sebebas hatinya sekarang. Hembusan angin pantai memberi kesejukan di kulitnya, Rilly akhirnya jadi lebih santai.
Brill pun mulai bisa mengendalikan perasaannya, rasa grogi perlahan menghilang, dia kemudian duduk santai di pasir, bahkan melepas sneakers berlogo merk terkenal dari kakinya.
"Ril..."
Rill secepatnya melihat ke arah Brill, sepi di sini hanya ada suara ombak yang sesekali pecah serta sayup percakapan orang nun jauh di sana. Suara Brill langsung masuk gendang telinganya.
Tangan Brill menunjuk sisi kanannya dan memberi isyarat untuk ikut duduk bersamanya. Rilly melangkah lambat, enam langkah saja sudah ada di dekat Brill. Debaran datang lagi di dada Rilly.
Sebenarnya di kelas jarak duduk mereka tidak terlalu jauh, tapi Rilly tidak pernah berdebar seperti sekarang karena Brill bukan siswa yang mempedulikan sekeliling, sedangkan Rilly terbiasa tidak diperhatikan siswa di sekelilingnya.
Tapi kali ini sangat berbeda, mereka hanya berdua dan telah saling menyadari keberadaan satu sama lain. Rilly duduk hati-hati dengan mengambil jarak. Untung saja dia menggunakan kulot panjang warna navy, jadi nyaman untuk duduk di atas pasir. Sisi yang ditunjuk Brill adalah posisi terbaik, di sisi itu Brill tak akan sering melihat celah di bibir sisi kanannya.
Sebelum berinteraksi dengan Brill dia telah menekan sampai ke dasar hati rasa malunya walau tetap saja rasa tidak percaya diri menjadi bagian dari pembawaannya. Tapi sekarang, mulai muncul rasa insecure bila Brill menatap wajahnya, refleks lima jari tangannya terangkat menutupi bibirnya atau memegang hidungnya menyembunyikan celah yang sering dibully teman sekelas.
"Kamu ke mana aja, Ril?"
Brill bertanya sambil menunduk memperhatikan kakinya sendiri, tangan terkunci di atas paha.
"Maksudnya?"
Rilly menjawab dengan sebuah pertanyaan... perasaan tenang tadi kini mulai berubah sesaat setelah duduk dekat Brill, otaknya belum konek dengan baik.
"Gak kelihatan di sekolah..."
"Ehh... Ohh... Rilly... Rilly di rumah aja..."
Rilly ikut menunduk. Ya... dia tidak ke mana-mana.
"Kamu melewatkan ujian-ujian..."
Sekarang Brill melirik sebentar karena Rilly tidak menjawab lagi. Brill mulai lepas, semua yang ingin ditanyakan sudah berbaris rapih di kepala menunggu antrian di bibirnya.
"Kenapa?"
"Ya?"
"Kenapa gak ikut ujian?"
Sekarang Brill menatap lebih lama, Rilly masih menunduk.
"Gak apa-apa..."
__ADS_1
Rilly menjawab sangat pelan, ada kekecewaan yang masih tersimpan karena hal itu.
"Tadi aku denger dari kepala sekolah, dari lima ratusan siswa, satu yang gak lulus karena gak ikut ujian..."
"Itu... Rilly... pasti Rilly..."
Gadis itu menjawab lirih masih menunduk, memilin jarinya sendiri. Tatapan Brill belum beralih, dia sebenarnya penasaran tentang hal ini, apa Rilly sendiri yang tidak punya keinginan atau karena tante yang itu?
"Apa kamu gak punya keinginan lulus SMA? Sayang aja..."
"Punya sih... tapi udahlah... udah lewat..."
Ada nada tak berdaya dalam jawaban itu, sedikitnya Brill tahu bahwa keadaanlah yang memaksa Rilly untuk berhenti sekolah.
"Gak punya cita-cita?"
"Rilly? Gak tahu..."
Gadis itu mengangkat bahunya lalu mengangkat kepala menatap jauh, matanya menerawang tak tahu apa yang ada di kedalaman lautan yang dia lihat, sama halnya dia tak tahu seperti apa hidupnya di depan.
"Brill punya?"
"Cita-cita?"
Rilly menatap Brill, sesaat saling memandang lalu sesaat kemudian dua-dua segera memalingkan muka, sama-sama tidak kuat melakukan itu.
"Sama... gak tahu..."
"Brill mau lanjut kuliah?"
"Gak tahu..."
Sekarang atmosfir di antara mereka semakin berubah, mulai nyaman dan tidak canggung lagi. Sekarang Brill duduk dengan dua tangan di samping menopang tubuhnya, kaki bersilang selonjor ke depan.
"Kamu pernah punya keinginan untuk kuliah?"
"Udah gak bisa kan..."
"Tapi apa punya keinginan itu?"
"Pernah sih, tapi Rilly takut berharap..."
"Kenapa?"
"Untuk apa? Gak ada gunanya buatku..."
"Ada pastinya, untuk hidup Brill sendiri... gak ada yang tahu masa depan kan..."
"Kalau ada kesempatan kamu mau kuliah, Ril?"
"Iya... mau..."
Angin laut yang hangat bertiup di sekeliling mereka. Kehangatan juga melingkupi perasaan dua anak manusia yang baru sekarang menjalin percakapan intens dengan durasi yang lama. Dan semakin lama hati semakin bebas dan semakin ingin mengutarakan apa yang ada dalam hati.
"Kenapa melewatkan jadwal operasi?"
"Itu ya... maaf Brill..."
"Tapi kenapa, apa memang takut untuk dioperasi?"
"Gak... tapi Rilly gak bisa cerita..."
Tante itu bohong! Brill mulai menghubung-hubungkan sikap tante Ine.
"Lalu apa? Waktu verifikasi, kamu ketemu timnya?"
"Iya..."
"Jadi, kamu tahu jadwal operasinya..."
"Rilly tahu... tapi gak bisa ke sana."
"Jadi apa, Ril... Mereka menghalangi?"
Rilly diam, tak menyanggah dan tak menyangka Brill bisa tepat sekali menyimpulkan. Dan Brill memang teringat tante yang itu, jadi ingat sikapnya yang ketus pada Rilly, katanya bawahan sang mami.
"Harusnya mereka gak boleh seperti itu..."
Brill mendadak merasakan amarah menguasai hatinya, bibirnya mengatup dengan rahang terlihat mengeras. Rilly memperhatikan itu.
"Bukan seperti itu Brill... tapi maaf Rilly gak bisa cerita..."
Rilly terpaksa membela tante Ine dan Manda, karena kalimat Brill pasti merujuk pada mereka, walau Brill tak mengenal mereka tapi Brill pernah bertemu mereka, Rilly sedikit khawatir di sini.
__ADS_1
"Tapi bener... mereka menghalangi? Mereka gak keluar uang, kenapa bisa bersikap seperti itu?"
Suara Brill naik menunjukkan emosi semakin jelas.
"Ini masalah Rilly sendiri... Brill gak usah marah ya..."
Rilly berbicara lembut sambil menatap Brill, suara yang tiba-tiba menenggelamkan amarahnya langsung ke dasar hati. Mereka berdua diam akhirnya. Tapi Brill masih tidak terima apa yang dia usahakan digagalkan orang lain, karena Rilly kan maka operasi masal bibir sumbing diadakan maminya, justru gadis yang menjadi alasan malah tidak dioperasi.
Tiba-tiba Brill bersuara masih membahas operasi Rilly....
"Oke... jadi... begini, jadi kamu tahu jadwal operasinya kan? Tapi mereka sengaja membuat kamu tidak datang ke rumah sakit?"
Brill masih mengejar ingin mencari tahu yang sebenarnya.
"Apa pun itu... Rilly tidak mempermasalahkan Rilly batal operasi, walau Rilly sakit hati tapi Rilly menganggap belum waktunya Rilly mendapatkan operasi... "
"Segampang itu menerima? Mereka sengaja loh?"
"Apa aja dan siapa aja bisa jadi penghalang... jika belum waktunya..."
"Ril... orang memperlakukan kamu dengan tidak adil, merampas hak kamu... kamu gak marah? Aku bakal kasih tahu tante itu, dia salah!"
"Jangan Brill... biarkan aja... Rilly tinggal di rumah mereka..."
"Tapi dia harus bertanggung jawab, karena dia kamu gak bisa operasi, aku bakal minta tante itu yang biayai operasi kamu... dia harus lakukan itu."
Hmm ada yang mau memaksakan kehendaknya.
"Brill... apa kita teman?"
Suara lembut Rilly mengalihkan pembicaraan. Mereka bertatapan sejenak, Brill mengernyitkan keningnya tanda bertanya.
"Apa... Brill menganggap Rilly teman Brill?"
Rilly bertanya lirih dengan kekhawatiran melintas bahwa dia akan mendapatkan jawaban di luar keinginannya.
"Iya... kamu temanku Ril..."
Jawaban lugas dengan suara menyakinkan sampai ke gendang telinga Rilly. Rilly tersenyum, dalam hati ada yang hendak meluap, bangga bisa menjadi teman seorang anak bupati yang tampan.
"Kamu temanku, kamu satu-satunya temanku..."
Tawa Rilly terdengar, Rilly menutup mulutnya karena menyadari bentuk mulutnya pasti aneh, dia tak suka dengan garis tawa yang terbentuk di wajahnya. Cepat-cepat dia menguasai dirinya, menekan emosi baiknya tersebut.
"Kenapa tertawa?"
"Itu... ehm ekhm..."
Rilly berdehem untuk menghabiskan tawa yang masih tersisa.
"Brill juga satu-satunya teman buat Rilly..."
"Oh? Sama..."
Mereka saling melempar tatapan hangat, pengakuan yang membahagiakan keduanya.
"Brill... emm... Brill gak malu punya teman seperti Rilly?"
Ini pertanyaan yang ingin diutarakan Rilly sejak mereka berdua duduk bersisian di mobil tadi.
"Karena keadaan bibirmu?"
"Iya..."
"Kalau aku malu, aku gak akan ngajak kamu jalan hari ini..."
Keduanya lama saling bertukar tatapan. Jarak yang sekarang adalah yang terdekat di antara mereka selama ini, Rilly bisa melihat detil wajah Brill... hidungnya tinggi dengan tulang yang lurus, bentuk mata yang bagus, kelopak mata Brill mengerjap sekali dan itu menonjolkan bulu matanya yang agak panjang, ada tahi lalat kecil di atas bibir tipis itu terlihat manis membuat Brill semakin tampan. Rambutnya yang dibiarkan panjang membuat Brill sangat keren.
Rilly mengalihkan pandangannya, perasaan malu tiba-tiba menyerbu karena telah mengagumi wajah Brill, dia merasa tidak layak dan sekarang mulai tidak nyaman. Dadanya berdesir aneh, dan ingin segera pergi saja jika boleh. Tapi justru gravitasi bumi terasa seperti memaku dirinya untuk diam di tempat.
Brill juga punya desiran yang sama. Jika dilihat dari sisi ini bentuk dagu, pipi dan hidung, serta mata Rilly terlihat manis,
Ahh... ini rasa apa sih, kenapa jadi ingin mandangin dia terus?
Brill menarik sebuah garis samar di dua sudut bibirnya.
.
๐ถ
.
Mmm semoga suka ya bab ini ๐
__ADS_1
,