Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 7. Jepang-Inggris


__ADS_3

Dua murid kelas dua belas sedang duduk hanya berdua di dalam ruang kelas mereka mengikuti UTS susulan, Brill dan Rilly. Teman mereka yang lain sudah pulang lebih dahulu.


Sensei Reinny yang menjadi wali kelas mereka duduk mengawasi ujian mata pelajaran bahasa Jepang dan ujian mata pelajaran bahasa Inggris.


"Sensei..."


Miss Sherly guru mapel bahasa Inggris muncul di ambang pintu kelas.


"When they are done, please tell them to come to the teacher's office, okay? I'll wait in there..."


"Wait a minute miss Sher, I have something to tell you..."


Sensei Reinny mengikuti Miss Sherly keluar ruangan.


Brill melirik sebentar ke arah dua guru mereka, sedangkan Rilly menatap lesu kertas jawaban kosong miliknya, dia tidak tahu apapun soal bahasa Inggris, dia lemah di pelajaran ini ditambah dia tidak belajar sedikitpun.


Brill melirik kertas jawaban milik Rilly, lalu dia mengangsurkan kertas jawaban miliknya.


"Tukeran... aku gak bisa bahasa Jepang..."


Brill berbisik sambil menunjukkan kertas jawaban ujian bahasa Inggris miliknya yang sudah selesai. Rilly menatap ragu tapi dengan cepat Brill menukar kertas di tangannya dengan lembaran jawaban bahasa Jepang milik Rilly. Dengan tatapannya dia meminta Rilly segera mengerjakan ujian bahasa Inggris yang sudah terletak di meja Rilly.


Dan sebelum Sensei Reinny masuk di ruangan kelas lagi Rilly sudah selesai menyalin jawaban lalu mengembalikan kertas ujian milik Brill. Dengan isyarat Brill membalas bahwa dia belum selesai.


Rilly menunggu Brill selesai dengan dada berdebar, dia takut Sensei Reinny datang dan mengetahui perbuatan mereka berdua. Selain itu ada debaran karena pertama kali berinteraksi dengan Brill, sosok yang dia amati dalam diam.


Tak ada perasaan suka dia tidak berani jika tentang itu, hanya sedikit penasaran dengan sosok anak bupati daerah ini dan juga wataknya yang begitu tak acuh dengan apapun, memang sih dia terlihat sangat sempurna, wajah ganteng tubuh yang proporsional tinggi kurus seperti cowok-cowok idola di poster-poster yang banyak ditempel di kamar Manda.


Seperti dirinya, Brill nampak tak pernah dekat dengan siapapun baik para cowok atau cewek di kelas mereka apalagi di kelas lain. Bedanya, tetap saja banyak yang sok dekat dengan Brill, tetap mencoba berteman meskipun selalu ditanggapi hambar. Rilly tentu saja kebalikannya, tak ada satu pun yang mau bertegur sapa dengannya kecuali terpaksa.


Setelah kertas ujian diambil Sensei Reinny dan Miss Sherly Rilly bergegas pulang, ini sudah sangat terlambat, dia dapat membayangkan apa yang menunggunya di rumah.


Di halaman kosong yang luas, tempat biasa dia memintas untuk rute terdekat ke rumah oma Betsy, sebuah teriakan terdengar di telinganya.


"Hei..."


Itu suara Brill. Rilly tetap berjalan dengan cepat, bahkan setengah berlari.


"Hei... hei..."


Teriakan yang sama, mungkin cowok itu sedang bersama pengawalnya. Rilly memperhatikan jalan setapak yang dia lalui.


"Hei..."


Suara itu terdengar lagi kali ini sangat dekat jaraknya hingga Rilly menoleh walau tak merasa bahwa dirinya yang dipanggil dengan hei, hei... hanya sebuah rasa penasaran, apalagi yang sedang dikejar cowok itu.


Rilly menemukan pandangan Brill padanya, dan tak ada orang lain yang dikejar oleh Brill. Rilly mendongak menatap langit, tak ada layangan putus. Rilly kembali menghadap ke depan dan semakin mempercepat langkahnya.

__ADS_1


"Hei... kamu, kita sekelas, Jepang-Inggris?"


Karena tidak melihat orang lain di halaman luas yang penuh rerumputan liar, juga clue dalam frasa 'kita sekelas' dan 'Jepang-Inggris' membuat Rilly melambatkan langkahnya.


Apa aku yang Brill maksud? Brill tidak tahu namaku? Kita sekelas oke tapi Jepang-Inggris? Apakah karena ujian tadi?


Rilly ragu, tapi dia menunggu dengan semakin melambatkan langkahnya. Sesaat kemudian Brill sudah menjajari langkahnya. Jalan setapak yang tak ditumbuhi rumput liar ini hanya untuk satu orang, hingga Brill melangkah sambil mengangkat tinggi kakinya melewati rerumputan yang setinggi pahanya.


"Makasih untuk yang tadi..."


Brill bicara padanya. Ini aneh tapi cowok idaman rata-rata cewek di sekolah mereka benar-benar mengucapkan terima kasih dan masih berjalan di sampingnya dengan langkah tinggi.


"Makasih udah ngasih contekan..."


Rilly mengigit bibir bawahnya, sakiiit... berarti ini realita.


"Eh... aku juga makasih untuk contekan bahasa Inggrisnya..."


"Ehh? Bicaramu normal ternyata?"


Brill tak menoleh saat mengatakan kalimat itu, terlihat dia menikmati berjalan dengan caranya sekarang. Rilly mengamati sejenak dan penasaran dengan pernyataan Brill barusan.


"Maksudnya?"


Rasa penasaran terlontar begitu saja.


"Kamu... ternyata cara bicaramu tidak seperti yang suka mereka tirukan setiap bicara denganmu..."


"Hei... jangan terlalu cepat..."


Rilly menoleh heran.


"Kenapa?"


"Aku gak suka jalan sendirian..."


Tatapan meminta terbaca oleh Rilly, hingga akhirnya dia mengikuti kemauan Brill.


"Mana pengawalmu?"


Lagi-lagi pertanyaan lolos dari bibir Rilly.


"Masih di depan sekolah, aku melompati pagar samping..."


Rilly tersenyum samar, masih tidak percaya bahwa cowok paling populer di sekolah sedang berjalan berdua dengannya, dan cara dia bicara seolah mereka adalah teman dekat. Beberapa menit mereka berjalan dalam diam dengan posisi yang sama, sejajar, dengan ritme langkah yang sama.


Saat Brill harusnya berbelok ke arah rumah dinas bupati, Rilly melirik karena Brill tidak berbelok.

__ADS_1


Apa Brill mau menemaninya pulang atau?


Rilly menggeleng pelan mengusir lintasan pikiran yang terasa berlebihan, mana mungkin seperti itu. Hingga masuk ke jalan besar mereka masih berjalan bersisian. Rilly menunduk sekarang karena di jalan ini mobil dan orang banyak yang lalu lalang. Rilly melihat di celana seragam Brill menempel bagian-bagian rumput liar.


"Mmm celanamu..."


Rilly berkata pelan, masih ragu dan tidak percaya diri, tapi lagi-lagi dia tidak bisa menahan perkataannya sendiri, tercetus begitu saja.


Brill berhenti, Rilly hanya menoleh sebentar lalu meneruskan langkahnya, apalagi ada beberapa orang yang dia kenal sedang menatap mereka berdua. Tentu mereka mengenal Brill, wajah Brill sering muncul di jalan-jalan terpampang di baliho bersama keluarga ibu bupati untuk ucapan selamat hari raya atau hal lainnya.


"Hei... kamu... hei..."


Hei hei kamu... beneran ternyata Brill gak tahu namaku.


Dengan perasaan sedih Rilly berhenti dan menoleh. Pandangannya menangkap telunjuk Brill mengarah di bagian yang banyak menempel kelopak bunga liar.


"Bersihkan..."


Ehhh?


Mereka bertatapan sejenak, dan tatapan Brill seperti menghipnotis Rilly sesaat...


"Bersihkan..."


"Ehh?"


"Bersihkan..."


Tiga kali mengulang kata yang sama dengan nada yang sama, terdengar sedikit arogan. Rilly dengan perasaan enggan harus menyentuh bagian dari cowok itu, walaupun hanya di pakaiannya, dengan perlahan berjongkok dan melakukan permintaan Brill.


Dalam hati entah perasaannya seperti apa... dia terbiasa melayani oma Betsy sampai pada hal-hal yang kotor, terbiasa meladeni keinginan anak-anak tante Ine... dan ini... cowok yang baru satu atau dua jam berinteraksi dengannya seperti memerintah dirinya... hatinya sedikit sakit di sini, tapi dia melakukannya juga.


Perasaan hati yang baik datang, mungkin dia digariskan untuk melayani orang, setidaknya hidupnya bermanfaat untuk orang lain... Rilly tersenyum samar, setidaknya pernah melakukan sesuatu untuk seorang anak bupati, cowok terkeren di kelasnya bahkan di sekolahnya. Terlebih tadi dia sudah berbaik hati, walaupun sama-sama untung tadi tapi itu atas inisiatif Brill. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih.


Setelah selesai dan memastikan tak ada lagi rumput liar yang menempel, Rilly berdiri.


"Sudah..."


Rilly berkata dan segera melangkah meninggalkan Brill. Tak terlihat di matanya bahwa cowok itu kembali menjejeri langkahnya seperti sebelumnya. Rilly mempercepat langkahnya, pikirannya mengingatkan dia sudah sangat terlambat pulang.


Sebelum dia berbelok ke rumah oma Betsy, sebuah mobil sedan mewah warna hitam berplat nomor cantik, yang dia kenali sebagai mobil Brill melesat melewati dirinya.


Rilly menarik nafasnya, sesaat dia sempat merasa gembira bisa berinteraksi dengan Brill, tapi sorot mata Brill yang dia lihat terakhir kali, hati kecilnya mengatakan itu bukan sorot mata yang ramah. Ini hanya sebuah peristiwa random yang biasa. Tidak mungkin juga Brill menganggap dia teman, bahkan namanya saja tidak diingat Brill padahal di absen nama mereka berurutan.


Di dalam mobil, saat mobil melewati Rilly, sekilas Brill memandang sosok cewek yang sempat bersama dirinya beberapa jam terakhir... Mungkin memang tak ada yang luar biasa.


.

__ADS_1


🌿


.


__ADS_2