
Jangan tanya lagi soal motivasi belajar seorang Brill, tidak berbeda atau tidak berubah, hanya berganti kulit meninggalkan masa putih abu-abu, sekarang dirinya sudah mahasiswa.
Tapi sayangnya Brill ke kampus suka-suka dia saja, karena sekarang jauh lebih bebas. Absen kadang dia manipulasi dititipkan pada teman dengan imbalan sesuatu jika dosennya kurang memperhatikan mahasiswanya, atau dia masuk ke kelas sebentar lalu keluar dan muncul lagi saat pembelajaran hampir selesai mendekati tanda-tangan absen.
“Nak Brill, ayo bangun sekarang…”
“Brill om… Brill!!”
Brill yang akhirnya terbangun karena tubuhnya diguncangkan om Markus auto protes dengan cara om Markus menyebut dirinya.
“Iya… iya… ayo bangun Brill, hari ini ada ujian semester…”
“Males…”
“Astaga, Brill… nilai-nilaimu di mid semester C minus semua, nanti IPmu berapa?”
“Bodoh amat..."
"Brill, ayolah, berpikir serius sedikit aja untuk masa depanmu sendiri..."
"Om aja yang pikirin itu, aku mau tidur lagi, jangan gangguin om!"
Suara Brill mirip teriakan dan bernada kasar, tapi om Markus sudah menganggapnya sebagai rengekan seorang anak manja, anak sendiri tidak bermanja padanya karena diurus mertua, justru anak orang lain yang diurusi semua hal, merupakan konsekuensi dari pekerjaannya yang harus mengurusi Brill satu kali dua puluh empat jam.
"Brill..."
Tak ada sahutan, tak ada gerakan.
"Brill, om punya informasi soal Rilly..."
Selimut tersibak, mata hitam itu memandang beberapa detik wajah om Markus yang sedang berdiri di samping tempat tidurnya. Tapi...
"Gak pengen tahu, bodoh ahh."
Tidak ingin tahu tapi reaksinya seperti itu, masih membuka mata seperti menunggu kelanjutan kalimat om Markus. Ada sesuatu yang tidak bisa ditutupi di riak wajah itu, rasa ingin tahu yang besar menunjukkan otak cowok ini masih menyimpan memori tentang Rilly, Brill masih peduli soal Rilly meskipun sudah enam bulan berlalu sejak mereka gagal bertemu di Jakarta.
"Rilly sekolah lagi melanjutkan SMAnya di Jakarta..."
"Itu aku udah tahu."
"Ada lagi... om kasih tahu lebih banyak tapi harus bangun dulu."
"Gak, udah gak pengen tahu."
Brill menutup matanya dia tahu bahwa info mengenai Rilly gak ada yang baru, itu akal-akalan om saja, tubuhnya tengkurap sekarang. Om Markus duduk di tempat tidur besar milik Brill. Dia harus berhasil membujuk Brill untuk kuliah jika tidak ingin diomeli ibu Inggrid.
Ada bapak dan ibu di rumah ini sekarang, setelah masa jabatan ibu berakhir baik ibu maupun bapak lebih banyak tinggal di rumah ini, rumah yang ada di sebuah bukit di pinggiran kota Manado di daerah kelurahan Batu Kota dengan view pantai dan pulau Manado Tua yang selalu terlihat eksotis saat sunset dari puncak bukit ini.
Hari ini tidak ada lagi jadwal kampanye dan sosialisasi program untuk bapak James Ratulangi yang maju pilwako Manado, sudah memasuki masa tenang. Jika ada di rumah pasti arah perhatian sang ibu mantan bupati terbaik versi sebuah lembaga resmi di negara ini adalah anak semata wayangnya.
Om Markus mengganti cara... anak ini benar-benar punya pertahanan berlapis-lapis untuk sikap pasif dan tak peduli terhadap apapun, terlebih jika dia tidak ingin melakukan sesuatu.
"Brill... Om gak selamanya ada bersama kamu loh, sekalipun om sering beranggapan kamu itu jadi seperti anak sendiri... tapi suatu saat om gak akan mengurusi kamu lagi, berarti kamu harus bisa mengurus dirimu sendiri."
Tubuh besar di bawah selimut hitam itu sedikit bergerak, itu pertanda kalimatnya barusan didengarkan anak asuhnya. Om Markus melanjutkan 'ceramahnya', entah bagaimana membangkitkan semangat anak asuhnya untuk setidaknya punya satu saja tujuan hidup, tidak bermasa bodoh dan bersikap apatis terus-menerus.
"Sekarang, ibu dan bapak masih kuat masih bisa menghasilkan uang, bisnis berjalan lancar, mungkin juga bapak menang pilwako... jadi uang masih banyak. Tapi siapa yang tahu hidup lima tahun ke depan? Kamu cuma anak satu-satunya, bagaimana mau terusin bisnis bapak kalau kamu gak tahu apa-apa... gak mempersiapkan diri, gak punya keahlian... uang walaupun banyak kalau digunakan terus bakal habis..."
"Berhenti kuliahin aku om, ini bukan kampus, mau tunjukin om pintar juga ya?"
Brill membanting satu kakinya, kepalanya masih melekat dengan bantal empuknya dengan mata hanya membuka sedikit. Bukannya bangun Brill justru menarik bedcover warna hitam menutupi hingga kepalanya.
"Iya om jadi pintar setelah jadi asistennya ibu Bupati dan bapak ketua Dewan Provinsi... mereka orang pintar, tapi sayangnya anak mereka satu-satunya gak seberapa pintar... bukan gak pintar tapi terlalu masa bodo dengan hidup sendiri..."
"Om ahhh! Om ngatain aku apa? Sana keluar!"
Brill membuka bedcover lalu tidur telentang sambil menatap marah pada om Markus. Om Markus sudah kebal dengan tatapan mengancam itu.
"Om hanya berkata jujur, kamu gak mau kan nasibmu sama seperti seorang anak pejabat di daerah ini yang viral karena hidup hedonnya, IPnya sampai disebutkan gak sampai 2, berarti sama denganmu Brill, malas kuliah."
"Aku gak terlibat kasus om, gak mungkin ada berita tentang aku, lagi pula apa peduliku IP aku satu atau dua, aku gak pernah mau kuliah, kalian yang memaksaku."
__ADS_1
Brill menutup matanya lagi lalu mengganti posisi tidurnya memeluk guling.
"Tapi om peduli, Brill... Om gak ingin kamu menyesali ini lima tahun ke depan, melewatkan waktu kuliah dengan sia-sia, menjadi orang bodoh dan gak berguna untuk diri sendiri apalagi untuk orang lain."
"Om gak usah peduli kalau gitu, sana keluar!"
Mendengar kalimat Brill tiba-tiba di otak om Markus melintas sebuah kalimat, dia tersenyum sesaat lalu berbicara kemudian dengan intonasi yang diatur sedikit lebay untuk memanipulasi anak asuhnya...
"Allright... baiklah... kamu gak mau om peduli lagi tentang hidupnya... oke, oke... kebetulan ada ibu dan bapak di sini... om mau minta resign aja..."
Om Markus berdiri dari tempat tidur dan meninggalkan kamar dengan langkah yang sengaja dibuat berbunyi.
Lima detik kemudian...
"Om??? Om ngomong apa barusan?"
Om Markus berhenti lalu berbalik saling bertatapan dengan anak asuhnya. Brill mengacak rambut gondrongnya dengan malas, matanya sedikit menyipit masih terlalu enggan untuk dibuka sebenarnya.
"Om mau resign, mau berhenti. Gaji om selama ini udah cukup buat modal usaha, om gak mau urusin kamu lagi..."
Om Markus merubah ekspresinya. Semua orang di lingkungan ini jadi pintar bermain sinetron... om Markus selalu melihat perangai Brill yang bisa berubah menjadi 'Brill' yang lain saat hidupnya butuh drama. Sekarang giliran om Markus.
"Jangan becanda om..."
Brill duduk di tempat tidur sekarang.
"Om gak becanda, om gak mau lagi dimarahin ibu karena gak becus ngurusin kamu..."
"Kenapa mami melakukan itu? Om mengurusku dengan baik, mami yang gak pernah mengurusku, mami gak punya hak marahin om."
Brill dengan cepat menjadi marah pada sang mami.
"Makanya supaya om gak kena marah ibu lagi, ayo bersiap untuk berangkat kuliah, tunjukkan sama ibu bahwa kamu itu bisa dibanggakan, bisa sukses..."
"Untuk sukses gak cuma melalui kuliah kali om, banyak cara yang lain."
"Iya om tahu, tapi kamu kuliah aja gak becus gimana cara yang lain... ayo"
"Tergantung kamu... kalau kamu kooperatif, mau om atur... mungkin om akan bertahan..."
"Apa sih... om dan tante Rina gak boleh berhenti, kalau om berhenti aku bakal ikut om pulang ke kampung om..."
Ini seperti perkataan seorang anak kecil, ya om Markus jadi merasa sedang membujuk anak kecil sejak tadi, padahal orangnya secara fisik sudah dewasa. Hanya, bisa dipahami kenapa Brill sampai mengatakan itu, dia begitu bergantung pada om Markus dan tante Rina yang sudah ada bersamanya sepuluh tahun lebih, dia terlihat takut kehilangan sosok yang menjadi orang tua yang sebenarnya untuk dirinya.
"Hahaha, memang kamu bisa seperti itu? Ayo ahh, mandi sana."
Om Markus segera berlalu dari kamar Brill, ancamannya berhasil kali ini. Mencapai ambang pintu keluar...
"Om... buatin semua tugas-tugasku."
"Hah??"
"Tugas kuliah, ada di wa grup angkatanku..."
"Kapan batas akhirnya, hari ini udah mau ujian semester, astaga Brill apa masih keburu?"
"Aku gak tahu, om cek sendiri di hpku."
Brill bangkit dan menuju kamar mandi.
"Astaga Brill?"
Om Markus terbelalak saat melihat banyaknya tugas di chat grup angkatan, sudah lewat batas akhir dan tak ada satupun yang dibuat oleh anak asuhnya. Mengingat seringnya Brill bolos kuliah ini pertanda anak asuhnya ini bakalan mendapat banyak nilai E. Mendadak om Markus segera merasakan kulit kepalanya gatal seluruhnya.
"Astaga anak ini..."
.
🐬
.
__ADS_1
Dalam sebuah kehidupan yang lain, di seberang lautan di bawah langit yang berbeda, Rilly tersenyum dengan senyum secerah mentari, betapa tidak... hari ini dia baru saja melihat sebuah keajaiban... angka-angka di raportnya tercetak dengan hasil yang jauh di atas Ketentuan Ketuntasan Minimal, tidak ada remedial, untuk pertama kalinya. Walaupun angka rangking kelas adalah 12 dari 39 siswa, itu lebih dari lumayan jika dibanding dengan urutan 3 dari bawah.
"Tante langsung ke kantor lagi ya? Tante buru-buru untuk hadir meeting, kamu pulang sendiri Rilly."
Tante Isye yang berjalan di sisinya berkata setelah selesai berbicara di hpnya.
"Iya... Makasih tante menyempatkan datang mengambil raport Rilly... padahal tante begitu sibuk kan..."
"Kenapa kamu masih sungkan sih, itu kewajiban tante..."
Rilly tersenyum, hatinya begitu berbunga-bunga karena nilai rapornya, ternyata dia tidak bodoh seperti anggapannya selama ini, dan karena merasakan perhatian tante Isye padanya. Perhatian demi perhatian yang memicu semangatnya untuk belajar dengan giat dan itu membuahkan hasil yang memuaskan.
"Rill!!"
Suara Giveel yang berdiri di samping sebuah mobil menyapa gendang telinga Rilly saat dia dan tante Isye mencapai lapangan parkir sekolah.
"Itu temanmu Ril, tante langsung berangkat."
"Iya... tapi apa boleh aku minta ijin, temanku mengajak aku ke rumahnya, hari ini. Mereka orang Manado tante..."
"Oh ya? Wah kapan-kapan tante pengen kenalan... Ya sudah kamu boleh ke sana tapi jangan lupa telpon oma, biar oma gak khawatir..."
"Iya tante... makasih ya..."
Tante Isye melambai pada Rilly lalu menuju mobilnya yang sudah dihidupkan oleh sang sopir, lalu tznte Isye yang selalu baik untuk Rilly itu segera pergi dari sekolah Rilly. Rilly kemudian mendekati Giveel.
"Gimana, kamu udah ijin ke rumahku?"
"Udah... tapi aku gak bisa sampai sore ya, kasihan oma, di rumah itu hanya bersama suster dan ART..."
"Iya... iya, yuk kita berangkat sekarang..."
"Eh... kamu bawa mobil sendiri sekarang?"
"Iya... papi aku lagi baik hati, jadi dia ngasih aku ijin tapi hari ini aja. Percuma aku dibeliin mobil sebenernya, papi aku terlalu protektif jadi sehari-harinya aku diantar jemput sopir. Ya gitu deh..."
Dua cewek yang kini bersahabat baik itu naik ke city car yang terlihat mewah. Giveel ternyata lumayan lincah mengendarai mobilnya.
"Mamimu mana?"
"Mami aku udah ke kampus lagi, ada matkul siang ini..."
"Mamimu masih kuliah?"
"Memberi kuliah tepatnya, mami aku dosen, dia dikit lagi selesai S3. Mami aku doyan banget belajar, jadi cocok sama profesi itu..."
"Kamu anak bungsu ya Veel?"
"Aku anak kedua, Rill... aku punya kakak cowok, udah kuliah di kedokteran, aku masih punya adik cowok juga baru kelas dua SD..."
"Oh... Jadi kamu cewek sendiri, pantesan papimu protektif sama kamu..."
"Iya mungkin juga, hehehe... eh kebetulan kakak aku hari ini pulang ke sini, mungkin udah ada di rumah, entar aku kenalin kamu ke kakak aku deh, ganteng loh orangnya, tapi kaku dan terlalu serius... dan satu lagi, belum pernah pacaran... hehe, siapa tahu kakak aku kepincut sama kamu, seru kali ya hehehe..."
"Apa sih Veel..."
"Kamu belum punya pacar kan, Rill? Yang waktu itu menelpon bukan pacar kamu kan?"
"Veel... bukan... tapi jangan bahas soal pacar atau pacaran ah... sama seperti kamu aku juga gak boleh pacaran sebelum selesai sekolah..."
"Dilarang sama tante kamu juga?"
"Gak... Aku yang melarang diriku."
"Eh???"
Membahas tentang hal seperti ini selalu membuat ingatan Rilly memunculkan nama seseorang yang ada jauh di provinsi asalnya...
.
🌻
__ADS_1
.