Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 23. Kangen


__ADS_3

Rilly memandang dari kisi-kisi jendela di kamarnya di lantai dua, beberapa waktu berada di sini dia merasakan hidup yang terkurung sebatas di dalam pagar tembok.


Rumah ini lumayan besar tapi dengan halaman yang sempit, pagar menjulang setinggi hampir tiga meter, hanya bisa memandang ke jalan dari lantai dua. Semua pintu ke arah luar selalu terkunci.


Pemilik rumah ini seharian tidak ada di rumah. Tante Isye dan suaminya Om Armando punya bisnis masing-masing. Otomatis sepanjang hari Rilly dan oma hanya bersama tiga orang ART dan seorang perawat yang mengurus oma Betsy. Anak-anak tante Isye sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Fiorenza si anak tertua sudah menikah punya anak satu, sekarang sedang menanti kelahiran anak kedua, rumahnya masih satu kompleks tapi hanya datang ke sini di hari minggu. Fernando si anak bungsu sedang merintis bisnis sendiri tinggal di salah satu apartemen milik tante Isye.


Hidup Rilly di sini boleh dikata lebih baik dari sebelumnya. Sesuai janji tante Isye yang pertama dilakukan tante Isye untuknya adalah mengoperasi bibirnya. Dia telah melewati tahap pertama operasi yaitu memperbaiki celah bibirnya. Masih ada satu tahap lagi yaitu untuk menyamarkan bekas luka sehingga bagian bibirnya sampai ke bawah hidung akan terlihat normal. Tapi itu masih menunggu beberapa waktu.


Dan yang terpenting, tante Isye telah memasukkannya ke sebuah sekolah SMA Swasta, berbekal surat pindah yang diurus oleh anaknya tante Irma, dari SMA asalnya. Tak apa mengulang kelas duabelas yang penting bisa menamatkan SMA, bahkan ada janji dia akan dikuliahkan.


Dina, Perawat yang mengurus oma Betsy membuka pintu kamarnya.


"Rilly... tolong temani oma sebentar... aku mau beli kuota di depan kompleks..."


"Iya kak..."


Rilly keluar dari kamar dan turun ke kamar oma di lantai bawah.


"Oma di mana?"


"Di kamar... udah di tempat tidur..."


Ini sudah jam sembilan malam, jam tidur oma Betsy masih lama. Rilly membuka pintu dan langsung tersenyum pada oma.


Di sini dia punya kamar sendiri, kamar bekas anak lelaki tante Isye yang dipanggil Ando karena dia tidak pernah lagi menginap di sini, berbeda dengan putri tertua yang biasa dipanggil Oyen, sewaktu-waktu masih suka menginap karenanya kamarnya tak bisa digunakan orang lain.


Dan Rilly memang merasakan perlakuan yang berbeda, yang lebih manusiawi dibanding saat masih di Amurang dulu, dia bisa menikmati banyak fasilitas yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya. Dia sebenarnya lebih suka sekamar dengan oma Betsy, tapi ada perawat yang wajib mengawasi oma selama dua puluh empat jam, sementara kamar oma Betsy tidak terlalu besar, hanya bisa diisi double bed susun berukuran single serta sebuah lemari pakaian dan sebuah meja kecil. Kamar yang besar-besar justru ada di ruang atas, di bawah sini hanya kamar utama yaitu kamar tante Isye yang berukuran besar.


"Rilly... oma merasa tidak kerasan di sini... oma pengen pulang ke Manado saja..."


Hanya seminggu oma Betsy bisa menikmati berada di sini, setelahnya dia selalu mengeluh, hampir setiap hari.


"Kenapa oma... di sini oma lebih nyaman kan, kebutuhan oma terjamin... jadi deketan sama tante Isye... tante Irma juga udah berapa kali datang ngelihat oma..."


"Iya... oma tahu, tapi oma merasa sumpek di sini... hanya melihat tembok di mana-mana, gak ada halaman, gak ada tempat untuk oma berjemur..."


Di kamar oma jendela langsung berhadapan dengan tembok rumah sebelah, di ruang tamu hanya ada pemandangan tembok pagar yang tinggi, ada taman kering di teras depan rumah tapi karena terbatas hanya ada di satu sudut kecil, bagian depan itu jadi garasi untuk empat mobil tante Isye.


Sementara oma Betsy jika di Amurang terbiasa melihat pemandangan hijau di halamannya yang luas di bagian samping dan belakang.


"Rilly udah kasih tahu kak Dina, oma biasa berjemur sehabis mandi... kata kak Dina di jalan depan boleh oma... besok kak Dina akan lakukan itu..."


"Tapi... oma juga tidak suka masakan mereka..."


"Nanti Rilly masak masakan Manado..."


"Tidak Rilly, tidak sama, ini bukan tempat oma. Rilly hanya mengantar oma pulang, setelah itu Rilly boleh balik ke sini lagi karena Rilly harus sekolah..."


"Terus oma siapa yang urus di sana?"


"Nanti oma minta suster Anti, sewa jasanya, di rumah ada Ben sama istrinya kan..."

__ADS_1


Oma Betsy menyebutkan salah satu cucunya dari Irma yang sekarang menempati rumahnya.


"Tapi mereka seharian di kafe mereka, oma... suster Anti juga masih dinas di puskes, gak mungkin menjaga oma..."


"Tidak apa-apa, yang terpenting oma di tempat oma sendiri, di rumah oma sendiri..."


"Kalau oma pulang, Rilly juga ikut oma... Rilly gak mau pisah sama oma..."


"Jangan... kamu harus selesai sekolah Rilly..."


"Gak papa Rilly gak sekolah, Rilly pengen terus merawat oma, Rilly... Rilly juga gak punya siapa-siapa kan selain oma..."


"Atau Rilly batalin sekolah di sini, pindah sekolah lain di Amurang... bagaimana?"


"Oma yang bilang sendiri keinginan oma sama tante Isye ya..."


"Isye tidak akan setuju..."


Itu pasti, tante Isye sudah mengatakan hal itu beberapa kali dan didukung tante Irma. Masalah pembagian aset oma Betsy masih bergulir, tante Ine yang tidak setuju menghambat semua proses. Perselisihan masih tajam di antara kakak beradik, makanya tante Isye dan tante Irma membuat kesepakatan memboyong mami mereka untuk menghindari tindakan manipulatif adik mereka.


Sesungguhnya dalam hati Rilly mengakui tante Isye baik, tapi ini tempat yang masih asing dan dia masih canggung untuk menempatkan diri di tengah keluarga ini, belum bisa memastikan sejauh mana penerimaan mereka terhadap kehadirannya di sini.


Om Arman nampak tak peduli, hanya melihat begitu saja dan tak menunjukkan keramahan. Telah dua kali Rilly bertemu anak-anak tante Isye, Kak Oyen kelihatan baik tapi tampak tak suka berbasa-basi. Kak Ando beberapa kali masuk ke kamar ini untuk mengambil barang, hanya senyum segaris tapi tak bicara.


"Hp oma berdering... itu mungkin dari orang yang sama, dia mencarimu Rilly... tadi pagi Dina yang menjawab saat kamu di sekolah... jawab Ril... lalu beritahu nomor hpmu, kamu sudah punya sendiri..."


Rilly mengambil hp oma Betsy, di layar hp itu ada panggilan dari nomor yang tidak tersimpan di hp oma, yang semakin sering menghubungi mencari dirinya.


"Eh... iya iya..."


Tanpa berpikir lebih karena didesak oma Betsy Rilly menjawab panggilan...


.


📱


"Halo... bisa bicara dengan Rilly?"


Beberapa second Rilly tidak bersuara, itu memang Brill. Kenapa Brill intens memghubungi dan tidak menyerah meskipun berkali-kali Rilly tidak menjawab, apalagi setelah Dina mulai bekerja dan dia mulai sekolah, Dinalah yang menjawab semua telpon yang masuk ke hp oma Betsy.


"Halo..."


Di seberang, Brill melihat layar hpnya, panggilan masih terhubung.


"Halo... saya ingin bicara dengan Rilly..."


"Ehh ini Rilly..."


"Rill... akhirnya... Rill, ini Brill..."


"Iya Brill... Rilly tahu..."

__ADS_1


Suara di seberang begitu antusias, senang kah?... Rilly sebenarnya senang juga tapi dia terlalu rendah diri sehingga tidak dapat menganggap ini sebagai hal yang wajar jika dia terhubung dengan seseorang... Brill mencari dirinya itu mungkin bagi orang lain biasa aja dan wajar, hanya rasa insecure mencuat begitu saja saat Brill memberitahu keinginannya untuk datang menemui Rilly di Jakarta. Rilly merasa tidak layak, itu terlalu baik dan terlalu indah untuk menjadi nyata buat dirinya.


"Susah sekali bicara denganmu Rill, berkali-kali aku menelpon..."


"Maaf ya Brill... ini bukan hpnya Rilly..."


"Hanya nomor ini yang aku tahu... bener Rilly gak punya hp sendiri?"


"Ehh? Ehh... Rilly punya sekarang..."


"Oh great... berapa nomornya? chat aja ya? Sekarang ya? Biar kita lebih bebas ngobrol..."


"Ehh?"


"Ril... wa nomor hpmu, ok?"


"Iya..."


.


Rilly menutup panggilan, menuliskan nomornya di kolom chat lalu mengirimkan pada Brill. Dia gamang dengan semua yang sedang terjadi, tapi akhirnya hatinya sendiri yang mengarahkan tindakannya, dia suka terhubung dengan Brill, itu yang ada di hati sekarang.


"Oma... Rilly ke atas sebentar ya... mau mengambil hp Rilly..."


"Iya...iya..."


Rilly secepatnya naik ke ruang atas dan seperti dugaannya hpnya telah berbunyi, hp yang dibelikan tante Isye untuknya, bukan hp yang mahal tapi itu sangat berharga untuknya, pertama kali dia memiliki benda ini, dan sekarang menjadi lebih berharga lagi karena menjadi penghubung dirinya dengan Brill.


Hatinya melambung saat melihat nomor yang sudah dihafalnya sedang mode memanggil...


"Iya Brill..."


"Rill... aku kangen kamu..."


"Hahh???"


.


🌻


.


Reader tersayang...


Di bab awal alurnya masih sangat jauh dengan sosok Brill yang ada di Musim Akan Selalu Berganti...


Semoga bisa mengikutinya yaaa, jangan buru-buru pengen Brill dan Rilly jadian... oke?


.


.

__ADS_1


__ADS_2