
📱
"Halo..."
Sebuah suara lembut menyapa telinga Brill. Tak sadar Brill tersenyum sambil menegakkan tubuhnya.
"Ril... kamu pergi gak bilang-bilang..."
"Ini siapa?"
Rilly memandang gawai di tangannya mencari id penelpon, tak ada nama, suara tadi masih asing di telinga, tapi pikirannya segera memunculkan satu nama, siapa lagi yang punya kemungkinan mencari dirinya, hanya satu orang... Rilly mendekatkan hp oma Betsy ke telinganya.
"Halo... Ril?"
'Ril'... panggilan yang menghangatkan hatinya, dan baru satu orang yang memanggilnya dengan nama itu... banyak orang biasa menyapa dengan 'mbing', dia suka sedih karena seperti menyebut nama seekor hewan. Di rumah juga orang selalu menyebut 'Rilly' dengan cara kasar, kecuali oma Betsy tentu saja.
"Ehh... iya, ini Brill?"
"Iya... aku..."
Hati Brill bersorak karena Rilly segera mengenali dirinya. Emosi baik langsung terpancar di wajah maupun di gesture tubuh seorang Brill. Brill bersandar santai di jok mobilnya. Dengan mata serta gerakan dagunya Brill meminta om Markus menjalankan mobil. Om Markus menyimpan senyumnya, anak asuhnya terlihat begitu bersemangat.
"Dapet nomor hp oma dari mana?"
"Aku datang ke rumah... kamu udah gak ada... pindah gak bilang-bilang..."
Seseorang seperti sedang komplain dengan sikap teman dekatnya, ya seperti teman dekat saja.
"Rilly mendadak harus ikut tante Isye... Ehh... Rilly harus pamit ke Brill ya?"
Suara Rilly lembut tapi membuat Brill salah tingkah, iya memang apa alasannya hingga Rilly harus pamit padanya.
"Ehh iya... kita teman kan?"
Rilly tersenyum mendengar pernyataan Brill, senyum kali ini begitu lebar dan tak dia tutupi dengan lima jarinya. Ahh... siapa yang menyangka dia siswa terkuper bahkan terjelek di sekolah karena kekurangannya yang begitu jelas, bisa menerima telpon dari siswa tertampan dan terkeren di sekolah. Di dunia yang random dengan berbagai kemungkinan, sesuatu bisa berjalan di luar jalur yang sudah ada.
Ini bukan cerita upik abu dan pangeran dari dunia yang berbeda bertemu karena cinta, tapi sesungguhnya ini tentang dua orang yang terkotak oleh keadaan, sama-sama terasing dan sendiri di dunianya lalu menemukan jalan yang sama untuk saling membuka diri, membuka tutup kotak kebiasaan masing-masing, saling menemukan kesamaan dan mulai merasa nyaman.
"Maaf... Rilly gak pamit, Rilly gak mikir seperti itu..."
Brill sedikit kecewa mendengar jawaban Rilly, padahal dia setiap hari memikirkan Rilly. Tapi sudahlah, mereka baru saja saling menyapa sebagai teman, Brill menyimpan kecewanya.
"Kamu baik, Ril?"
"Iya... Brill juga baik?"
"Iya, sekarang baik..."
Setelah ngobrol denganmu... Brill menyambung dalam hati.
"Kamu di Jakarta... di mana?"
"Ehh? Rilly gak tahu ini di mana... Rilly baru sekali ini ke Jakarta..."
"Apartemen atau rumah?"
"Apartemen? Maksudnya?"
__ADS_1
"Itu... tempat tinggal di gedung bertingkat..."
"Ohh... gedung tinggi? Ini rumah tingkat dua sih... tapi bukan gedung..."
Brill tertawa pelan mendengar jawaban Rilly, jadi ingat istilah 'rumah gedongan'. Om Markus sempat menoleh lama mendengar suara tawa anak asuhnya, terpana dengan sebuah ekspresi sangat langka itu. Suara klakson dari mobil dari arah depan menyadarkan om Markus untuk konsentrasi di setirnya.
Luar biasa gadis sumbing itu...
"Kenapa Brill ketawa?"
"Ehh? Kamu lucu..."
"Ehh? Apa Rilly salah ngomong?"
"Oh bukan Ril... bukan, lucu aja denger suara kamu..."
Tiga orang terpaku dengan rasa yang berbeda...
Om Markus seperti baru mendengarkan pengakuan cinta, bukan sebuah penilaian dini tapi dia tahu ke arah mana perasaan Brill akan bermuara, sikap Brill menunjukkan itu. Om Markus tersenyum senang seperti turut merasakan kebahagiaan Brill.
Brill terdiam karena baru sekarang dia terbuka tentang apa yang dia rasakan, merasa aneh tapi memang itu suara hatinya sendiri, dan memang dia sedang terpesona dengan suara lembut Rilly, sangat menyenangkan dan membangkitkan semua emosi baik dalam dirinya.
Rilly baper... ungkapan Brill membangkit sesuatu yang indah dalam hatinya, begitu menyejukkan saat seseorang mengatakan sesuatu yang baik tentang dirinya, bukan ungkapan menyedihkan tentang dirinya dan kekurangannya.
"Cariin alamat rumahmu ya... kirim ke aku... wa aja..."
"Kenapa? Ini bukan rumah Rilly..."
"Ehh... aku pengen ketemu kamu."
"Rill... bagi alamatmu..."
"Ehh? Brill mau ke Jakarta ya?"
"Iya..."
"Kapan?"
"Besok..."
"Brill ada acara di sini?"
"Ehh... gak, pengen ketemu aja..."
"Ehh?? Ket... ketemu Rilly aja?"
"Iya..."
Rilly terhenyak... ini di luar dugaan. Mungkin bibirnya cacat tapi telinganya tidak, dia tidak salah mendengar, tapi otaknya agak susah mencerna sepotong informasi penting itu, antara meyakini itu benar tapi hati tetap menolak.
"Ril..."
Suara Brill terdengar lagi...
"Ehh iya... nanti Rilly carikan ya, tapi Rilly tutup ya... oma Betsy perlu Rilly sekarang..."
Hati Rilly tidak kuat melanjutkan percakapan dengan Brill, sekalipun hatinya senang bisa saling bertukar kabar, tapi mendengar keinginan Brill untuk khusus datang bertemu dirinya, tiba-tiba hati Rilly merasa tak pantas. Jika hanya dari rumah dinas ke rumah oma Betsy rasanya tak masalah, tapi ini harus menyeberang lautan atau melintasi langit biru. Rilly juga belum mengenal dengan baik orang-orang di rumah ini, dia takut melakukan sesuatu yang bisa mengganggu. Lagipula, dia takut terhadap sesuatu di balik sikap Brill, siapa dirinya dan siapa Brill segera muncul di otaknya.
__ADS_1
"Ril?"
Brill mengayunkan tangan yang memegang ponsel saat menyadari sambungan telah terputus, Brill kecewa karena masih ingin berlama-lama ngobrol. Dengan cepat jemarinya mengetikkan beberapa chat memastikan kunjungannya dan mengingatkan tentang alamat yang dia butuhkan. Chat dibaca tapi tidak dibalas. Brill menunggu berapa saat lalu melakukan panggilan ulang, telpon sudah di luar jangkauan.
.
🌿
.
"Kamu sudah melewatkan seleksi masuk yang lalu, ini seleksi terakhir Brill... pokoknya mami melarangmu ke Jakarta..."
"Aku harus ke sana mam..."
"Untuk apa? Kamu mau melarikan diri biar tidak mengikuti seleksi ini kan? Biar pun om kamu rektor universitas itu tapi tetap aja kamu harus ikut test masuk... jangan melawan mami, mau jadi apa kamu kalau tidak kuliah..."
"Aku gak mau kuliah mam, aku bosan mami mengatur hidupku menurut kemauan mami!"
"Bagaimana bisa punya masa depan yang baik, kalau kamu tidak kuliah, kamu harus punya cita-cita, kamu harus punya keinginan untuk maju... mami sama papi S2 masa kamu hanya lulus SMA?"
"Jangan membandingkan hidupku dengan hidup kalian dan jangan paksa aku!"
Brill beranjak dan bergerak kemudian meninggalkan ruangan tengah yang selalu digunakan sang mami di rumah oma Susan ini.
"Brill! Apa mami tidak mengajarkan sopan-santun padamu? Berhenti di situ, mami masih bicara! Semakin lama kamu semakin tak tahu cara bersikap hormat terhadap orang tua..."
Ibu bupati bersuara sangat keras terhadap anakmya, hampir mirip teriakan. Brill melemparkan tatapan penolakan dengan amarah yang menguasai hatinya... Brill keluar dari sana, bertemu oma Susan yang mendengar pertengkaran itu dengan prihatin. Komunikasi anak dan cucunya begitu buruk, semakin lama hubungan mereka semakin jauh.
"Kenapa susah sekali bicara dengan anak itu?"
Ibu bupati masih mengomel di tempat dia berdiri saat oma Susan masuk.
"Kalian selalu menekan dia, selalu memojokkan dia, kenapa? Apa kamu juga tidak bisa berbicara dengan baik? Kamu yang selalu memulai pertengkarang Inggried..."
"Dan mama selalu membela dia, dia tidak mau kuliah ma, itu masalahnya... masa dia anak bupati hanya tamatan SMA, itu tidak lucu, bisa jadi bahan gunjingan orang..."
"Itulah masalahmu sekarang Inggried, apa-apa takut penilaian orang... dan selagi kamu marah-marah dan keras seperti tadi kamu tidak akan pernah bisa bicara dengan anakmu, Brill bukan anak-anak lagi yang bisa kamu atur menurut keinginanmu, anakmu sudah semakin besar, dia ingin didengar juga..."
"Dia berubah ma..."
"Kalian yang membuat Brill seperti itu... luangkan waktu untuknya, raih kembali hatinya, bicara dengan penuh kasih sayang... kalian telah menyerahkan sepenuhnya urusan Brill pada Markus, itu tidak sama... bagaimana bisa kamu meminta dia mendengarkanmu sebagai orang tua sementara kamu tidak pernah hadir lagi dalam hidupnya sebagai mami?"
Ibu bupati terdiam sekarang, oma Susan yang biasanya bicara dengan suara lantang jika tentang Brill kali ini berbicara dengan kelembutan seorang ibu yang menasehati putrinya, tak mengenal status atau jabatan, nasehat orang tua selalu dibutuhkan.
"Ma... tolong mama yang berbicara dulu pada Brill... bujuk dia untuk kuliah ma, ini demi masa depannya..."
"Kamu yang harus melakukannya..."
"Iya... pasti ma, setelah kondisinya baik..."
"Ingat apa yang mama katakan tadi... dia anakmu Inggried, dia masih anak manis milikmu sendiri hanya sekarang posturnya yang berubah, kenali lagi anakmu... dia butuh kamu, jangan jadi musuhnya..."
.
🎸
.
__ADS_1