
Sebuah chat singkat dari om Manuel...
“Bertemu di kampus ya?”
Apa maksud om Manuel? Apa dia meminta Brill datang ke gedung kantor pusat UNSRAT untuk bertemu? Brill menjawab kemudian.
“Hari ini?”
“Yup.”
“Ngapain om?”
“Datang aja.”
“Untuk?”
Tidak ada balasan lagi setelah itu, dan dua panggilan dari Brill tidak dijawab, dan Brill lupa menanyakan bertemu di mana.
Akhirnya di sinilah Brill, di lantai enam gedung tujuh lantai yang menjadi tempat omnya berkantor sebagai Rektor. Duduk di salah satu sofa warna hitam di ruang tunggu dan sepertinya menjadi ruang tamu juga, sesuai pesan om tersayang pada staff omnya di gedung rektorat ini karena omnya sedang ada pertemuan penting. Dia sudah memberitahu sendiri kedatangannya lewat sebuah chat.
Brill duduk dengan jengah karena mengetahui dia dilirik-lirik oleh beberapa staff yang menggunakan seragam kemeja putih berbis batik di beberapa bagian dan ada tulisan nama serta lambang universitas ini di dada kiri dan kanan.
Kesabaran Brill sangat tipis, hampir saja dia berdiri dengan niat mau pulang saja tapi datang sebuah pemikiran baik. Dia sangat menghormati om yang satu ini, dan boleh dibilang lebih dekat dengan om ini ketimbang sang papi. Jadi Brill memutuskan menunggu sedikit lebih lama tapi mengirim chat bernama mengancam… begitulah si Brill.
“Om, aku akan menunggu sepuluh menit lagi!”
Chat sudah dibaca pak Rektor. Dan sepuluh menit kemudian pintu kantor pak Rektor terbuka, beberapa tamu yang terlihat sangat rapih menggunakan batik keluar dari sana, mungkinkah pak Rektor mengakhiri pertemuannya sesuai tenggat waktu yang diberikan si ponakan yang hanyalah seorang mahasiswa dengan IP tidak membanggakan?
Setelah sepuluh menit tambahan perbincangan di ruangan staff itu, akhirnya para tamu benar-benar pergi. Dengan dua kening diangkat tinggi dan bibir sedikit dimajukan pak Rektor mengirim isyarat untuk ponakan gantengnya masuk ke dalam ruangan.
“Pak Rektor, jam satu siang ada pertemuan dengan para Dekan…”
“Saya tahu…”
“Hanya mengingatkan, pak Rektor…”
Staff yang memegang sebuah map itu menjawab santun.
“Saya belum pikun, Fauziah… Dan itu madih tiga jam lagi...”
“Saya hanya melakukan tugas saya pak…”
“Saya tahu Fauziah…”
“Ziah yang pikun sepertinya, pak…”
“Jangan mengatai orang, Rossy…”
Cewek yang terlihat paling muda itu hanya cengengesan di depan mejanya dan langsung meneruskan aktivitasnya langsung menatap monitor dan mengetik di keyboard warna putih itu.
Brill hanya mendengarkan, terlihat sekali staff di sini tidak ragu menjawab bahkan menyanggah sang pak Rektor, padahal bila menilik otoritasnya seharusnya tidak seperti itu. Tidak ada indikasi bahwa kantor yang menjadi jantung universitas ini terlalu serius atau kaku apalagi resmi, suasana lebih terasa santai saja.
“Mana Stive?”
“Ke toilet pak…”
“Rossy saja, kamu buatkan minum untuk ponakan saya yang ganteng ini… sejak tadi kalian tidak menyuguhkan sesuatu untuknya?”
“Ada kok pak, ponakan bapak hanya meminta air mineral… kenalin ke kita dong pak, siapa tahu masih available…”
Rossy menjawab dan menjadi malu-malu melirik Brill.
“Dari tadi kalian tidak berkenalan? Kalian memang kurang inisiatif juga tidak punya kemampuan untuk mengambil peluang yang sangat bagus, masa saya seorang Rektor harus membantu kalian hanya untuk berkenalan dengan cowok ganteng ini? Ayo masuk Brill, nanti mereka tidak konsentrasi bekerja kamu terus berdiri di sini…”
Brill mengikuti omnya masuk ruangan, omnya benar-benar berbeda dengan papinya saat bicara dengan bawahannya, menurut Brill om yang bergelar professor ini terlalu ramah.
__ADS_1
“Pilih tempat duduk yang kamu sukai…”
Om Rektor segera menuju ke kursi kebesarannya, duduk di sana dan terlihat langsung serius menekuni sebuah berkas di meja.
Brill mengedarkan pandangan ke sekililing ruangan, ruangan terlihat sangat kaku dan berkesan angker mungkin sesuai dengan apa otoritas pemilik ruangan ini, ada dua bendera di sisi kanan dan kiri dengan posisi agak di belakang meja dan kursi kebesaran omnya. Satu tentu saja bendera nasional dan satu lagi panji universitas.
Di dinding tengah bagian atas bendera itu ada gambar Presiden lengkap dengan awapres dan Lambang Negara. Di bagian dinding yang lain tergantung beberapa bingkai entah apa isinya yang terlihat adalah tulisan-tulisan emas.
Dan yang paling menonjol di ruangan ini adalah lemari besar menjulang menutupi satu bagian dinding ruangan ini berisi banyak sekali buku yang tertata rapih. Warna gelap lemari dan warna gelap dua set sofa ukir jepara yang diatur berbentuk huruf U menambah kekakuan ruangan ini, Brill jadi merasa ruangan ini tidak cocok dengan karakter omnya.
Brill memilih duduk di sebuah kursi di depan meja omnya. Beberapa menit melihat omnya yang begitu serius, akhirnya dengan tak sabar Brill meluncurkan kalimat bernada jengkel...
“Om menyuruhku datang hanya untuk melihat om bekerja? Aku sudah melihatnya dan aku mau pulang aja…”
“Hahaha…”
Om Manuel tertawa tapi masih memperhatikan berkas di mejanya.
“Seharusnya kamu bersyukur karena kamu satu-satunya mahasiswa yang bisa masuk ke ruangan Rektor Universitas Sam Ratulangi. Mahasiswa yang berprestasi dan yang membanggakan universitas ini hanya om terima di tempatmu duduk tadi di luar sana…”
“Itu karena mereka mahasiswa, sementara aku keponakan yang paling om sayang…”
“Hahaha… kamu sangat percaya diri.”
“Om sendiri yang mengatakan itu…”
“Hahaha… oke oke, itu memang benar, itu juga karena hanya kamu yang mau kuliah di sini. Bram, Bierna, Briana bahkan anak-anak om si Joel dan Jeremia menolak kuliah di sini… mereka benar-benar tidak menghargai om sepertinya… hahaha.”
Entah apakah om ini serius dengan kalimatnya barusan.
“Aku juga kuliah di sini karena om yang memaksa kok…”
“Hahaha… sampai sekarang masih merasa terpaksa eh?”
Brill mengangkat bahu bersamaan dengan ketukan di pintu. Salah satu staff yang diperintahkan pak Rektor tadi membawa masuk nampan berisi segelas teh yang mengepul serta sebuah stoples berisi kue kering.
Om Manuel menatap wajah tidak antusias ponakannya sambil tersenyum. Brill hanya melihat sejenak tanpa niat menyentuh baik minuman maupun penganan yang disajikan untuknya. Om Manuel bicara kemudian saat melihat sikap diam Brill…
“Waktu itu om hanya memberi masukan, ya mengarahkanmu… karena kamu juga tidak punya pilihan yang lain. Dan hari ini om memintamu datang hanya untuk mengingatkanmu, kita berdua punya sebuah perjanjian…”
“Perjanjian?”
“Jangan berlagak lupa...”
Brill menatap omnya lalu mengingat percakapan terakhir mereka.
“Oh… itu…”
“Iya… kamu sudah menerima tantangan yang om berikan loh… kamu bisa memulainya sekarang.”
“Om… ini belum waktunya kuliah kan?”
“Kegiatan di kampus sudah mulai, sekarang sedang masa Orientasi Mahasiswa Baru.”
“Lalu? Om mau aku melakukan apa sih?”
Om Manuel melihat jam ukir standing setinggi hampir dua meter.
“Ayo, ikut om…”
“Ke mana?”
“Ke Fakultasmu, om biasa mendatangi setiap fakultas di saat masa orientasi seperti ini… ah om ingat, tahun lalu kamu tidak ada, om sengaja mencarimu waktu itu.”
“Aku gak ikut ospek om…”
__ADS_1
“Hahaha… benar-benar nih mahasiswa yang perlu diluruskan otaknya… ayo ikut…”
“Om, aku gak perlu ke sana kan? Ngapain aku di sana?”
“Banyak yang bisa kamu lakukan Brill, om ingin kamu mulai menjadi mahasiswa yang seharusnya.”
“Om Man… aku… aku akan melakukan sesuai janjiku, tapi kan gak harus muncul di sana bersama om, gak ah… aku gak mau kayak gitu.”
“Om gak akan menyuruhmu mengekori om juga… sengaja om suruh kamu ke sini supaya kamu mulai melakukan sesuatu…”
Brill memberengut, menolak om ini memang terlalu segan.
“Kamu harus tahu Brill, om tertantang untuk membuat kamu berhasil diwisuda sebagai sarjana, kenapa? Karena selama om menjabat rektor sudah ribuan mahasiswa yang diwisuda, dan… kamu, satu-satunya keluarga rektor universitas ini yang kuliah di sini, dan bukan kebetulan kamu membawa nama besar Ratulangi di belakang namamu… om harus melihat kamu sarjana, itu aja… saat kamu diwisuda nanti om bukan lagi Rektor… tapi om akan merasa gagal mengemban tugas ini kalau kamu gak lanjutin kuliah.”
Om Rektor panjang lebar berbicara kali ini dengan mimik yang serius. Nadanya melantun lembut tapi Brill tahu bahwa bahwa suara itu penuh kesungguhan.
“Jangan salah mengerti loh, ini bukan semata obsesi ommu ya… tapi om rasa kamu perlu dorongan, kamu bisa menyelesaikan apa yang sudah kamu mulai…”
Brill masih diam, tapi mulai mengikuti cara berpikir omnya. Dia harus mulai meruntuhkan sikap negatifnya dalam memandang hidup. Dia perlu tujuan hidup dan dia perlu mengembangkan hidupnya sendiri. Om ini, terlihat sekali ingin dia maju dan keluar dari keadaannya yang dikuasai apatisme akut.
“Bagaimana? Berangkat sekarang ya? Om hampir terlambat, om harus memberi satu sesi untuk mahasiswa baru.”
“Aku ngapain di sana?”
“Lihat-lihat aja dulu, mau duduk-duduk aja pun boleh, kamu pasti menemukan sesuatu yang bisa kamu lakukan jika memang kamu serius mau melakukan sesuatu… ayo.”
Om Manuel berdiri lalu keluar ruangannya. Brill mengikuti dengan wajah masih menggantung rasa enggan mengikuti omnya ke fakultasnya.
“Aku naik mobilku aja ya…”
“Iya lah… kamu juga pasti gak mau naik mobil plat merah sejenis in nova… om malah iri Markus yang hanya asistenmu bisa mengendarai mobil paling mahal di provinsi ini.”
“Om bisa mengambil salah satu mobilku kok…”
“Kamu ngasih?”
“Iya… mobilku ada lima, jarang aku pakai juga yang lain.”
“Hahaha… om akan langsung dicurigai korupsi jika menggunakan mobilmu ke kantor ini…”
“Jangan digunakan ke kantor dong… aku ngasih kok, bener om…”
“Kamu seperti mau ngasih permen aja, hahaha. Brill… saran om ya… jangan ke kampus menggunakan mobil yang milyar-milyar itu, sekalipun papimu seorang pengusaha kaya, tapi dia dan mamimu adalah pejabat publik, itu kurang bijak, seperti pamer hidup mewah dan hedon.”
“Gak ada mobil murah di rumah om…”
Mereka sudah keluar dari lift, sekarang ada di area entrance gedung termegah di kampus ini, menunggu sopir om Manuel mengambil mobil in nova yang sehari-hari jadi mobil dinas pak rektor.
“Jual salah satu bisa dapat lima mobil baru… itu pun udah setengah M, lebih merakyatlah Brill… meskipun di umur kalian kadang barang mewah sepertinya jadi atribut untuk eksis, tapi dengarkan om… itu baik buatmu…”
“Iya om… iya.”
“Mana mobilmu?”
Brill menunjuk mobil jeep yang parkir di bagian yang ada papan bertuliskan “Tamu Rektor”.
“Hahaha… bayangkan aja Brill, bahkan untuk parkir aja kamu mendapatkan prioritas… hidupmu sebenarnya istimewa, hanya kamu tidak menyadarinya.”
“Pak satpam kok yang nyuruh aku parkir di situ saat aku buka jendela dan bilang mau ketemu om.”
“Ya iyalah… dari mobilmu aja orang sudah segan, apalagi setelah melihat wajahmu yang begitu populer, hahaha… sampai bertemu di Fakultasmu… om tungguin loh.”
“Iya… iya…”
Brill menghembuskan napas berat, apakah dia siap untuk menjalani sebuah kehidupan dengan cara yang berbeda? Brill naik ke mobilnya lalu menetapkan hati untuk mengikuti saran om Rektor yang begitu peduli dengannya, yang masih mau meluangkan waktu untuk memikirkan dirinya di tengah padatnya kesibukannya.
__ADS_1
.
.