
Brill sedang melamun duduk di selasar beton depan ruang kuliah, di sampingnya ada Tory, Beno dan Pascal. Mereka sedang menunggu kuliah selanjutnya yang hanya selisih waktu tiga puluh menit.
Brill sedang tidak bersemangat, akibat rasa sukanya pada seorang gadis yang tidak kesampaian, itu berdampak pada keseriusannya belajar.
“Boss…”
Brill hanya mengangkat mukanya sejenak menatap Tory yang memanggil dirinya.
“Ada yang mandangin dari tadi loh… cantik.”
Ekspresi sinis segera muncul di wajah Brill, tak ingin menggubris perkataan Tory.
“Di otak Brill mah hanya ada Holly kayaknya. Move on Brill, udah lihat segitu posesifnya pacar Holly, udah gak mungkin dapetin Holly, kamu datang belakangan kayaknya Brill…”
Si Pascal berbicara pelan takut membuat Brill tersinggung. Brill memang hanya punya beberapa teman tapi bukan berarti dia sepenuhnya tertutup, dia suka juga membicarakan tentang dirinya di dalam percakapan mereka.
“Iya Brill, kenapa gak buka mata terus lihat yang lain, pasti ada lah yang bisa menggerakkan hati kamu…”
Brill mengganti posisi duduknya. Siapa yang bisa menggerakkan hatinya, rasanya semua cewek di sekitarnya sama, punya keinginan dan obsesi yang sama. Dia tidak menginginkan gadis yang melihat sinar dirinya hanya karena keberadaan fisik dan materi yang melekat padanya. Hatinya hanya tergerak justru ketika seorang cewek itu sikapnya seperti Holly.
“Gak ada yang seperti Holly.”
Brill menimpali dengan suara pelan.
“Holly kayak apa sih? Jangan jadikan Holly patokan dong. Masa gak ada cewek lain sih yang bisa menggetarkan hatimu, boss…”
Tory berkata sekarang. Akhirnya semua terbiasa menyebut Brill dengan kata boss. Brill teringat seseorang. Kenapa setiap kali dia buntu tentang Holly, nama itu segera melintas?
“Sebenarnya ada sih, sebelum Holly ada seorang cewek…”
“Ya udah… kenapa bukan dia aja sih? Apa udah punya pacar juga?”
“Aku gak tahu…”
“Siapa sih? Teman seangkatan kamu ya? Si Aldea bukan? Dia sering bangen nanyain soal kamu…”
“Aldea yang mana?”
Brill balik bertanya.
“Yang jadi sekretaris Himaju, yang jadi ketua kelas angkatanmu.”
“Oh dia. Bukan… gak. Aku gak suka, dia terlalu atraktif.”
“Ya iyalah mau menarik perhatian seorang Brill kan…”
Brill melengos.
“Siapa dong Brill?”
Beno sekarang yang penasaran.
“Dia, teman sekelas di SMA dulu…”
“Hei… cewek yang kamu bicarakan waktu itu? Yang anak FEKON kan?”
Tory segera mengingat beberapa waktu lalu saat berdua di mall Brill sempat menyinggung seorang gadis, dia lupa namanya.
“Iya…”
Brill berkata singkat sambil menarik satu bagian dari rumput yang ada di kakinya, memilin-milin batang rumput dengan jarinya.
“Jangan-jangan cewek yang selalu mandangin kamu dari gedung sebelah, udah lama aku perhatiin sih, tapi karena anak fakultas lain jadi aku gak bilang ke kamu. Tadi dia duduk di depan kita.”
“Mana?”
Brill jadi tertarik, Holly telah mengalihkan semua perhatiannya dari Rilly. Waktu itu dia begitu senang menemukan informasi tentang Rilly melalui akun fbnya, lalu segera lupa kemudian karena Holly.
“Udah masuk ke ruang kuliah di depan sana.”
“Kamu kenal Rilly Tor?”
“Gak, kenal dari mana? Hanya menduga aja, kali aja dia beneran cewek FEKON teman SMAmu. Tapi bukan dia kali, kalau gak salah gedung depan itu tempat kuliah anak FEKON semester bawah. Dia udah semester empat kan kayak kamu?”
“Dia baru tahun kemaren, di angkatanku dia gak lulus karena gak ikut ujian…”
“Ya berarti mungkin aja dia orangnya… coba lihat fotonya, ada gak?”
“Bentar aku buka fb dia…”
Brill menyodorkan hpnya sendiri dan Tory melihat wajah yang ada di sana. Ada sebuah postingan terbaru, cewek itu bersama temannya dalam ruangan kuliah.
“Fix dia boss… ini baru aja diposting, bajunya aku hafal, kemeja warna kuning sama celana jeans, rambutnya coklat panjang bergelombang… dia yang tadi ngeliatin kamu lama…”
“Serius Tor?”
“Duarius… beberapa kali aku dapatin dia di gedung seberang itu berdiri sambil liatin kamu…”
“Jadi dia di dalam ruangan itu?”
“Iya, yang pintu tengah…”
Brill berdiri dan bergegas menyeberang ke salah satu gedung FEKON.
“Eh boss mereka udah mulai, kelas kita juga dikit lagi mulai…”
Brill menulikan telinga, dia ingin memastikan keberadaan Rilly, cewek yang sempat dilupakannya. Pintu ruangan kuliah itu sudah tertutup. Ada banyak jendela di sisi gedung itu. Brill melihat ke dalam dengan menempelkan wajahnya di kaca, karena silau siang hari kaca bening itu berbayang.
Brill mulai mencari gadis berambut coklat dan berbaju warna kuning. Ada beberapa cewek yang menggunakan atasan warna kuning, di dalam mahasiswa penuh dari muka sampai belakang kemungkinan di atas empat puluh orang.
__ADS_1
Brill mengangkat hpnya dan melihat akun yang belum tertutup milik Rilly, mencermati foto Rilly, mencari ciri yang bisa dia pakai untuk menemukan Rilly di tengah banyaknya mahasiswa di dalam ruang kuliah yang lumayan panjang ini.
Setelah melihat lalu memperkirakan di bagian mana foto itu diambil, Brill menemukan sosok yang dia cari, sedang serius mengikuti pembelajaran. Rilly duduk di baris ketiga dari depan dan agak jauh dari jendela dan tidak mungkin melihat padanya. Ini Posisi Brill tidak mungkin berpindah lagi untuk melihat wajah Rilly.
“Brill, kelas kita udah mulai… dosen udah dateng…”
Bahunya dipukul pelan oleh Pascal. Brill hanya melirik lalu…
“Aku gak masuk, aku mau tungguin dia…”
“Hah? Mau bolos kuliah?”
Brill tidak menjawab, dia fokus memandangi Rilly. Beno segera menarik tangan Pascal, mereka berdua meninggalkan Brill gak ingin terlambat masuk kelas karena kadang Mner Sondakh suka tutupin pintu, sementara Tory harus lebih dahulu ada di dalam ruang kuliah.
“Biarin aja dia, dari pada galau terus liatin Holly nanti, sama aja dia di dalam ruangan tapi gak konsen sama kuliahnya…”
Pascal mempercepat langkah menuju gedung mereka sendiri.
“Lucu juga dia, sama Holly juga gitu, di matkul yang dia gak kontrak, suka tungguin sampai Holly selesai kuliah.”
“Ya berharap dia teralih aja sama cewek itu dan cewek itu belum punya pasangan…”
“Eh tapi cepet banget ya perasaannya berpindah gitu, tadi galau karena Holly, sekarang udah fokus ke cewek FEKON itu…”
"Haha iya bener, gampang berubah kayak bunglon..."
.
Dan di tempatnya Brill sekarang tidak peduli mulai ada mahasiswa di dalam yang melirik-lirik ke arah dirinya yang menempelkan wajah ke jendela itu dengan dua tangan menghalau sinar matahari si samping kiri kanan matanya.
Ternyata di dalam kelas sedang presentasi tugas. Dan yang mendapatkan giliran pertama adalah kelompoknya Rilly.
Brill memperhatikan Rilly, cewek itu berdiri paling awal meletakkan laptop miliknya, menyambungkan ke LCD dan seterusnya kemudian seperti memberi instruksi pada teman-teman yang lain… lalu rupanya Rilly yang akan bertugas mempresentasikan tugas mereka karena dia yang memegang mic.
Dan… Rilly berbicara lancar dan terlihat sangat percaya diri. Brill tidak mengalihkan pandangannya, jujur dia tidak menyangka melihat Rilly bisa berubah sangat banyak seperti sekarang. Dari sisi jendela ini dia bisa melihat Rilly yang baru, Rilly dengan fisik yang begitu menarik untuk dilihat dan juga Rilly yang terlihat pintar.
Brill terpesona memperhatikan cara Rilly menjawab semua pertanyaan, memperhatikan Rilly yang tersenyum, memperhatikan Rilly yang berbicara dengan lugas dan berani.
Suara yang sama dengan yang dia ingat, masih mengalun lembut tapi cirinya berbeda sekarang, ada keyakinan diri yang kuat dalam suara itu.
Setelah kelompok yang berdiri di depan berganti, Brill memilih untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk duduk menunggu. Dia memang bertekad menunggu Rilly. Sambil menunggu Brill membuka linimasa Rilly, melihat semua postingan Rilly, memberi jempol juga emoticon love pada semua postingan itu.
Lama menunggu, Brill tidak merasa bosan justru semakin dekat waktu kuliah berakhir dia merasa mulai ada debar di dadanya. Dia coba mencari tahu apa yang terjadi dengan dirinya, jujur dia merasa senang sekarang.
Saat pintu terbuka, mahasiswa mulai keluar dari ruangan sambil membahas tugas mereka. Brill berdiri menunggu, lalu dia melihat sosok Rilly yang keluar bersama beberapa temannya.
Brill mendekat, lalu…
“Rilly…”
Karena serius mendengarkan temannya, Rilly tidak mendengarkan panggilan pertama, terlebih dia keluar dari ruangan dengan sekumpulan mahasiswa. Dengan sedikit tidak sabar Brill lebih mendekat lalu menarik sebelah tangan Rilly untuk keluar dari kumpulan mahasiswa itu.
Setelah mencapai tempat yang sepi Brill berhenti lalu memandang Rilly sekarang. Brill tersenyum.
“Rilly…”
Rilly menarik tangannya dengan lembut, merasa risih bertemu Brill dengan cara ini, ditarik dari antara teman-temannya oleh cowok dari fakultas tetangga yang juga dikenali teman-temannya. Tapi segera rasa risih menghilang karena memandangi senyum Brill.
“Iya… helo Brill…”
Rilly tersenyum, jujur ada rasa senang dalam hatinya sekarang, walau tidak menyangka Brill melakukan ini, ternyata ada hari yang seperti ini, berdiri bersama Brill dan saling tersenyum lagi, pernah menepis harap Brill akan menyapanya.
“Kamu kuliah di FEKON?”
Brill yang tiba-tiba merasa grogi menanyakan sesuatu yang tidak perlu. Rilly tertawa pelan.
“Iya, Brill… dan Brill di FISIP kan?”
Sebuah jawaban yang tidak perlu juga membuat Rilly melanjutkan tawanya. Suara tawa Rilly menyusup indah di hati Brill. Brill mengangguk.
“Sudah selesai kuliah?”
“Iya, tadi Brill lihat sendiri kan kelas udah bubar.”
Rilly sekarang tersenyum karena pertanyaan Brill dan Brill merasakan sesuatu di sini, aura Rilly sekarang begitu berbeda, cara dia berdiri, cara dia berkata-kata, cara dia tertawa, cara dia tersenyum… Brill merasakan debarannya bertambah, selain karena memang grogi menghadapi Rilly yang sekarang juga dia merasakan sesuatu sementara terjadi di hatinya.
“Maksudku eh… apa, apa masih ada kuliah lagi?”
“Gak… Rilly ada dua MK hari ini tapi tadi yang terakhir. Brill sendiri?”
“Hahh?? Eh… ada sihh…”
Brill malu untuk mengakui dia bolos kuliah setelah tahu tentang Rilly tadi, malu untuk mengakui dia sengaja menunggu Rilly.
“Oh begitu. Lagi menunggu waktu kuliah?”
“Hah? Iya… iya… sebentar lagi…”
Padahal kuliah sudah hampir selesai juga.
“Oh? Ya udah… Rilly mau balik ya… sampai ketemu lagi ya Brill.”
Rilly tersenyum lalu berputar hendak pergi meninggalkan Brill. Sesungguhnya dalam hati Rilly juga sedang terjadi sesuatu, rasa senang yang terjadi karena bukan hanya melihat Brill dari jauh tetapi sekarang kerinduannya sejak lama untuk bisa saling bertegur sapa telah terwujud.
“Rilly… ikut aku ya…”
“Hah?”
Brill kembali meraih pergelangan tangan Rilly dan menarik lembut Rilly menuju mobilnya.
__ADS_1
“Eh? Mau ke mana Brill?”
“Ikut aja, masih pengen ngobrol sama kamu… udah lama sekali gak ketemu, masa langsung pergi gitu aja…”
“Oh? Bukannya Brill masih ada kuliah?”
“Udah hampir selesai…”
“Jadi Brill bolos tadi?”
“Iya…”
Brill tersenyum sambil membukakan pintu mobilnya untuk Rilly. Di dalam mobil setelah mobil berjalan hp Rilly berbunyi, dari Tere…
.
“Iya…”
“Di mana?”
“Aku lagi sama temenku…”
“Brill?”
“Iya…”
Semua temannya tentu melihat adegan tadi, termasuk Tere.
“Jadi pulang bareng aku?”
“Aku pulang sendiri… kamu duluan deh…”
“Ya udah…”
.
“Ditungguin temanmu?”
“Gak, biasanya Rilly pulang bareng dia… makanya dia telpon untuk memastikan.”
“Pacar?”
“Eh? Bukan Brill, temen cewek kok.”
“Belum punya?”
“Apa? Pacar?”
“Iya.”
“Belum… Rilly belum punya.”
Jawaban Rilly menghadirkan perasaan nyaman di hati Brill, dia trauma mendekati Holly dan langsung ditolak karena Holly sudah punya pacar. Hah, apa sekarang judulnya pdkt ya Brill? Baru aja ketemu…
Brill senyum lalu memperhatikan jalanan dan otaknya mulai mencari tempat tujuan hendak ke mana sekarang membawa Rilly.
“Brill udah punya pacar kan, apa dia gak keberatan Brill pergi berdua Rilly aja?”
Hati-hati Rilly bertanya, dia beberapa kali melihat Brill dengan seorang gadis mungil yang dia tahu teman kuliah Brill.
“Eh bukan… bukan, aku gak punya juga, dia pacar orang…”
Brill segera menepis perkataan Rilly. Dalam hati dia kemudian menyadari bahwa ada kemungkinan Rilly melihatnya bersama Holly jika benar info dari Tory bahwa Rilly sering memperhatikan dirinya.
“Oh begitu… berarti Rilly gak perlu khawatir dong dicemburui saat berteman dengan Brill. Eh… kita masih teman kan?”
“Iya lah… kita masih teman Rilly, siapa coba yang menolak berteman denganku dulu?”
“Hehe, kondisi Rilly gak memungkinkan waktu itu… Brill masih mengingat hal itu ya?”
“Ingat. Masih ingat, aku marah juga karena kamu gak mau ketemu aku waktu itu.”
“Oh?? Sekarang Brill masih marah?”
“Udah gak… gak mungkin marah sama cewek secantik kamu…”
“Hehe… cantik apanya Brill, Brill belum lupa kan wajah Rilly dulu seperti apa… ini hanya sedikit perbaikan aja…”
“Dari dulu… dari dulu kamu udah cantik kok…”
“Brill ngomong apa… hehe Rilly jadi malu…”
“Aku ngomong kenyataan, dulu kamu cantik karena hatimu baik, sekarang semakin cantik aja…”
“Eh? Brill udah bisa ngomong kayak gini ya… baru bertemu udah gombalin Rilly, hehehe…”
Keduanya tertawa di dalam mobil itu. Dulu pernah dekat, jadi saat bertemu seolah langsung menemukan frekuensi yang sama yang menghubungkan hati mereka berdua, hanya beberapa menit awal saja terasa ada kecanggungan, tapi sekarang Brill telah tertawa-tawa di samping Rilly. Dan Brill segera melupakan Holly.
.
Ahh Brill, jangan-jangan besok ketemu Holly segera berubah juga hatimu… tapi seneng aja akhirnya kalian ketemu, entah seperti apa besok… yang penting saat ini kalian bertemu dan bisa tertawa bareng, hepi kan kalian.... Jiaaaaaaaah
Semoga pemirsa bisa paham ttg Brill dan ikutan hepi saat membaca part ini 😍
.
🐳
.
__ADS_1