Jika Kamu Cinta

Jika Kamu Cinta
Eps. 37. Buat Kamu Aja


__ADS_3

Di area parkir Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang lengang karena belum banyak mahasiswa yang datang Brill masih ragu untuk keluar dari mobilnya. Sudah setengah jam dia di sini, dan tidak tahu harus melakukan apa.


Kaca mobil diketuk seseorang, Brill mengenali itu asisten si pak Rektor yang tadi ikut berangkat dari kantor pusat.


Brill membuka kaca mobil dan hanya menatap pria yang berdiri dekat jendela mobilnya, Brill melirik nama di nametag persegi panjang berwarna hitam dengan baris nama dan baris angka mungkin nomor induk atau apa, suatu tanda dia adalah pegawai, namanya Stive. Si Stive tersenyum ramah padanya.


“Bapak meminta saya menemanimu masuk ke Aula.”


“Masuk ke Aula? Untuk apa?”


“Bapak sedang memberi sesi, mungkin bapak ingin kamu ikut mendengarkan.”


“Tapi itu untuk mahasiswa baru aja kan?”


“Memang seperti itu, tapi di Aula banyak juga mahasiswa semester atas yang duduk, mungkin ada teman angkatanmu…”


Brill diam, berapa banyak teman seangkatan yang dia kenal? Mungkin hanya satu dua yang suka dia manfaatkan untuk menitipkan absen, itupun dia lupa nama mereka. Brill kembali menoleh pada Stive yang kelihatan sedang menunggunya.


Brill kemudian mengambil kacamata hitam dan topi yang ada di jok samping dirinya lalu mengenakan dua benda itu dan akhirnya turun dari mobilnya dan mulai berjalan mengikuti Stive. Saat berada di dekat Aula Brill melambatkan langkahnya, Stive nampaknya paham Brill tidak ingin tampak bersama dirinya.


Brill akhirnya duduk di salah satu kursi paling belakang. Benar saja, Aula itu tidak hanya berisi para mahasiswa baru yang terlihat aneh di matanya, ratusan orang yang mengenakan kaos oblong warna orange dengan bawahan hitam, yang cewek ditandai dengan banyak kuncir di kepala berpita orange juga.


Di bagian belakang sini ada banyak yang tanpa atribut mahasiswa baru, ada yang di dadanya tergantung nametag, entahlah dia sesungguhnya tidak terlalu peduli dengan mereka yang duduk di bagian belakang aula ini.


Beberapa tampak mengenalinya, terdengar dari percakapan bernada pelan yang sampai ke telinganya. Brill mencoba fokus mendengarkan omnya yang terlihat begitu menguasai audiensnya, berbicara dengan lugas dan kadang diselipkan hal-hal yang lucu. Kadang Brill tidak dapat menahan ekspresinya dan ikut tertawa pelan.


Sebuah kalimat panjang dari omnya menancap tajam di hati Brill, sepertinya sedang closing sesinya.


“Kalian harus punya mimpi karena keberhasilan berasal dari sebuah mimpi, kalian harus mengembangkan suatu sikap can do, kalian bisa melakukan sesuatu, jangan berhenti karena mengira kalian telah mencapai sebuah batas.”


“Kalian harus rentangkan pengharapan, terus tingkatkan potensi, lalu naiklah ke level selanjutnya, kalian harus tahu bahwa kalian itu kreatif, punya potensi, generasi yang smart… ikuti impian kalian, tapi mulailah dengan belajar segiat-giatnya di kampus ini. Mau belajar segiat-giatnya?”


“Siap, mau pak Rektor!!”


Seruan ratusan mahasiswa baru di dalam aula itu menggema.


“Saya sudah memasuki dua periode menjabat Rektor universiatas ini… dan saya mulai dari sini Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik… aktif kuliah dan aktif kegiatan lainnya, jadi ketua BEM, lalu jadi dosen, jadi ketua jurusan lalu dua kali jadi Dekan… ini karena saya mulai sebagai mahasiswa yang serius belajar. Kelak saya ingin mendengar dari kalian semua… ada yang jadi gubernur, jadi Menteri, jadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat.... apalagi yang bisa kalian capai bahkan lebih tinggi dari yang saya sebutkan tadi…”


“Jadi kepala lingkungan, pak Rektor…”


Suara seorang mahasiswa membuat Aula itu seolah mau meledak dengan tawa.


“Terserah jika cita-citamu ingin jadi pak Pala di lingkungan rumahmu… itu sangat bagus yang penting jadi pemimpin. Bahkan jadi Camat atau Lurah… itu juga mantap. Kamu tahu walikota yang sekarang? Dia dari almamater ini… banyak sekali dari almamater yang kita cintai ini yang sudah berhasil sekarang ada yang jadi Wakil Menteri, gubernur periode yang lalu juga dari almamater ini, tidak terhitung yang sudah berhasil. Kalian pun bisa sama seperti mereka nanti, banyak profesi yang bisa membuat kalian berguna bagi diri sendiri, bagi orang lain, dan bagi nusa dan bangsa. Sekian dari saya.”


Tepuk tangan bergema di Aula itu. Pak Rektor mengambil tempat di kursi yang disediakan lalu terlihat berbicara dengan seorang Dosen yang duduk di sampingnya, sementara yang menjadi moderator mengarahkan mahasiswa untuk memberi pertanyaan.


“Martin… kamu panitia penerimaan mahasiswa baru kan? Sebagai apa?”


“Saya sekretaris panitia, Prof…”


“Oh… begitu. Ah iya… saya baru ingat, saya minta bantuanmu…”


“Mengenai apa Prof, saya siap bantu…”


“Keponakan saya…”


“Oh… iya Prof…”


Mner Martin tersenyum penuh arti.


“Saya tidak meminta untuk memperlakukan dirinya dengan istimewa, hanya memang dia butuh diperlakukan sedikit berbeda saja, maksudnya dia perlu didorong untuk kuliah. Situasinya tidak terlalu baik makanya dia belum bersemangat untuk kuliah di dua semester lalu. Saya berharap kamu sedikit memberi perhatian… sedikit saja supaya dia tidak curiga, dia kurang menyukai kuliah di sini karena nama saya dan papinya terlalu besar di sini…”


“Oh… baik Prof…”


“Kamu tahu apa yang akan kamu lakukan, saya percaya padamu Martin, dia ada di sini sekarang, mungkin kamu bisa libatkan dia untuk melakukan sesuatu, terserah padamu… oh iya… dia bisa menyanyi dan bermain musik.”


“Siap Prof…”

__ADS_1


Setelah sesi tanya jawab berakhir, pak Rektor minta diri. Belum sempat Brill bangkit dari tempat duduknya untuk ikut keluar dari ruangan ini, tiba-tiba dia mendengar namanya dipanggil untuk maju ke depan. Brill kaget dan yang terpikirkan adalah segera kabur saja. Dia langsung tahu ini ulah sang om Rektor pastinya. Untuk apa dia dipanggil di depan ratusan orang ini?


Brill berdiri dengan niat menuju pintu keluar tapi seorang cowok yang duduk di dekatnya sejak tadi sekarang sudah menghampirinya.


“Brill… diminta ke depan oleh Mner Martin.”


Brill mati langkah, beberapa mahasiswa senior di belakang sini sedang menatapnya, demikian juga dengan ratusan kepala mahasiswa baru yang terlihat sedang mencari siapa yang diundang ke depan. Tangan Brill segera berkeringat.


“Om Man… awas ya… sialan.”


“Ayo Brill…”


Cowok salah satu mahasiswa senior yang tadi masih senyum lebar. Terdesak oleh situasi, meskipun sangat canggung dan sangat gugup akhirnya Brill melangkah mengikuti cowok itu menuju bagian depan, cowok ini mungkin termasuk panitia penerimaan Mahasiswa Baru.


“Kita break sekarang menunggu pembicara selanjutkan. Kalian akan belajar lagu yel-yel Fakultas… saya serahkan kepada BEM untuk menangani acara break kali ini…”


Mner Martin menyerahkan mic kepada seorang mahasiswa senior yang menggunakan nametag juga. Brill segera menyimpulkan semua mahasiswa senior yang menggunakan nametag dan menggunakan jas universitas berwarna abu-abu sebagai bagian dari panitia yang mengatur kegiatan orientasi kampus ini.


Mner Martin hanya tersenyum tipis pada Brill lalu keluar dari Aula. Brill berdiri dengan bingung dan jujur ini situasi yang tidak dia inginkan, dia merasa om Man sudah menjebak dirinya. Dan ada mahasiswa cewek sedang berkata-kata entah apa di depan para mahasiswa baru.


“Brill, aku Erwin… aku ketua BEM di sini, kamu ingat kan?”


Brill hanya mengangguk, sebenarnya dia tidak mengingat si ketua BEM ini, ironinya semua orang mengetahui siapa dia.


“Kamu bisa lagu yel-yel fakultas kan?”


“Hahh? Aku gak tahu.”


“Ohh? Ya udah… gampang kok, dengerin ya…”


Si ketua BEM ini mulai bernyanyi pelan. Otak Brill yang sangat peka dengan nada dan sangat mudah mengingat rangkaian lirik segera bisa mengikuti dalam hati saat si ketua BEM mengulangi yang kedua kali.


“Kamu bisa?”


Sedikit heran si ketua BEM saat Brill spontan mulai mengikuti dirinya menyanyi saat dia mengulangi menyanyi ketiga kalinya. Brill hanya mengangguk. Sesuai instruksi yang ditinggalkan Mner Martin tadi ketua BEM ini meminta Brill yang mengajarkan yel-yel fakultas ini kepada mahasiswa baru.


Si Erwin berkata sambil tertawa, mungkin ragu meminta itu. Dia tentu saja sangat kenal cowok ganteng ini, di fakultas ini banyak cerita seputaran sang Rektor, si keponakan dan sang walikota.


“Gak… aku nyaman begini.”


Brill menjawab tegas, dia gak percaya diri ada di depan banyak orang, tapi dia terpaksa ada di sini dan diberikan tugas yang berat untuknya. Bernyanyi enteng saja tapi mengajari orang bernyanyi gimana caranya? Menggunakan kacamata akan banyak menolong dirinya, karena dia tak ingin menatap langsung banyak mahasiswa baru di depannya. Dalam sekali sapuan pandangan dia sudah melihat banyak mata sedang tertuju padanya.


“Oke… terserah kamu.”


Si ketua BEM tidak memaksa.


“Mmh… ada alat musik gak?”


“Gitar akustik aja…”


Erwin menunjukkan perangkat alat musik yang dimaksud. Brill lega, karena gitar itu tersambung dengan speaker, di ruangan yang besar ini dengan banyak orang gitar itu sangat lumayan kelihatannya. Memainkan gitar akan lebih menolong dirinya sekarang untuk memusatkan perhatian pada kegiatannya menyanyi nanti.


Erwin kemudian mengatur sebuah standing mic lalu mengambil gitar yang sudah siap dimainkan, Brill kemudian mengalungkan strap gitar itu di lehernya, mencoba gitarnya dan mengatur volumenya, karena suara gitar segera bergema di ruangan itu. Brill kemudian berdiri di depan standing mic.


Lalu Brill diminta mulai bernyanyi. Sempat ragu untuk memulai, tapi kemudian karena si mahasiswa cewek yang jadi pengarah kegiatan ini ikut bernyanyi juga, akhirnya Brill kemudian mengeluarkan suaranya, bernyanyi dengan suara yang begitu indah.


Lagu itu bernada riang, dan dua kali mengulang Brill sudah menyatu dengan lagu itu.


“Woow… suara kak Brill gimana… keren kan?”


Si mahasiswi cewek itu pintar mengatur suasana.


“Kereeennnn… lagi kak Brill.”


Mahasiswa baru bersorak untuk Brill. Brill berlagak cool saja karena pada akhirnya dia menikmati kegiatan ini.


“Sekarang, saya akan meminta beberapa orang menyanyi di sini, sudah hafal harusnya karena kak Brill sudah menyanyikan beberapa kali tadi. Mmhmm… kamu…”

__ADS_1


Mahasiswa cewek itu menunjuk seseorang. Di sini, tidak boleh ada Mahasiswa baru yang menolak jika diminta melakukan sesuatu, begitu aturannya. Dan mahasiswi baru yang bertubuh mungil terpaksa maju tentu saja dengan gugup yang tak terkatakan.


“Hei… ada anak SMP nyasar di sini ya…”


Tubuh mungil itu terlihat semakin gugup dan di matanya seperti tergenang airmata.


“Gak nyasar kan kamu…”


Si kakak mahasiswa cewek mengulangi dan sedikit mendorong tubuh munggil itu lebih dekat dengan Brill.


“Sebutkan siapa namamu, dari SMA mana, berapa umurmu, dan diterima di jurusan mana… sebutkan dengan lantang.”


Mahasiswi baru itu berdiri dekat Brill, dengan tinggi Brill yang sekarang mahasiswi baru ini memang terlihat mungil.


“Hei jangan menangis dong, hanya disuruh menyanyi loh… jadi mahasiswi harus berani bukan lagi seperti anak SMA ya, harus punya mental kuat, calon pemimpin harus mampu berdiri di depan banyak orang.”


Si mahasiswa cewek ini tidak memahami situasi.


“Hei… kamu diminta bernyanyi bukan menangis. Ayo sebutkan namamu. Kamu gak akan turun dari sini sebelum kamu bernyanyikan yel-yel kita.”


Mahasiswi baru itu semakin malu karena jadi pusat perhatian akhirnya berdiri membelakangi banyak orang dan mulai menangis. Sejak tadi Brill memperhatikan, dan saat si mahasiswa cewek mau berbicara lagi. Brill spontan mendekati dan berbisik.


“Gak lihat anaknya sudah tertekan karena gugup? Kenapa memaksa orang? Gak mungkin juga dia menyanyi dengan emosi seperti itu.“


“Maaf Brill, mereka diharuskan melakukan apa yang diminta, ini bukan hal yang berat, mereka dilatih di sini… itu aturannya.”


Brill ingin mendebat, tapi dia segera sadar, dia baru muncul, dia hanya terlibat karena disengaja si om Rektor. Brill kembali ke posisinya semula dan si mahasiswa baru bertubuh mungil sedang ditenangkan oleh Erwin.


“Udah bisa nyanyi sekarang?”


Si mungil mengangguk pelan, mungkin ragu tapi dia wajib melakukan apapun yang diminta kakak senior.


“Oke… silahkan bernyanyi.”


Erwin bersuara lembut sekarang, lalu Brill lebih mendekat, entah kenapa tiba-tiba saja hatinya tergugah melihat sosok gadis ini, saat pertama melihat dia naik ke panggung ini tampangnya sudah begitu penuh emosi.


“Bener udah bisa nyanyi?”


Brill bertanya pelan. Sekarang kepala itu tidak mengangguk, ada sorot tak berdaya terpancar dari mata itu.


“Sebenarnya aku… aku belum hapal semuanya kak, su.. suaraku jelek juga, aaaku malu kak…”


Suara si mungil terbata dan bergetar. Brill meminta mic pada si mahasiswa cewek senior lalu menyerahkan pada si mungil lalu bukan hanya itu, dia kemudian membuka kacamata hitamnya dan memakaikan pada si mungil. Ada sorakan didominasi suara cewek di bawah sana. Brill tidak terpengaruh.


“Kamu gak melihat apapun… gak usah merasa malu sekarang, nyanyi aja bersamaku, gak masalah suaramu jelek, oke?”


Brill berbisik pada si mungil dan mulai memainkan sebuah intro, diiringi suitan dan sorak mahasiswa baru yang ada di ruangan itu.


Akhirnya si mungil bisa melakukan permintaan seniornya walau disertai sedikit drama dari seorang Brill. Ya.. selama ini Brill biasa memainkan sebuah drama untuk memanipulasi keadaan hatinya, dan hari ini dia tergugah untuk membantu seseorang padahal dia sendiri sedikit kesulitan berdiri di depan sini.


“Hei… jangan turun dulu, kamu belum menyebutkan namamu, umurmu, dan jurusan apa…”


Si mungil kemudian bersuara.


“Nama saya Holly Yulvyana Chandra, umur saya tujuh belas, jurusan Administrasi Negara…”


Suara lembut dengan kepala tertunduk didengar Brill dengan seksama.


“Oh… satu jurusan dengan Brill… jangan lupa berterima kasih pada kak Brill dan kembalikan kacamata yang kamu gunakan…”


Si mungil seperti tersenyum di mata Brill, menyodorkan kacamata hitam yang sudah membantunya mengatasi emosinya tadi.


“Terima kasih kak Brill…”


“Buat kamu aja…”


“Hahh??”

__ADS_1


.


__ADS_2